Oct 20, 2012

MANUSIA DALAM EKSISTENSIALISME SARTRE

Hampir seluruh persoalan penting dalam filsafat, psikologi, agama maupun urusan sehari-hari, mengandung persolan watak manusia. Kebanyakan ahli pikir Yunani Kuno dan ahli pikir Abad pertengahan sampai pada periode pencerahan pada abad ke-18, mempunyai asumsi bahwa memang ada sesuatu yang dinamakan ”watak manusia”, sesuatu yang dalam pembiacaraan filsafat membentuk ”esensi manusia itu seperti apa”, akan tetapi terdapat kesepakatan bahwa memang ada sesuatu yang menjadikan manusia berbeda dengan yang bukan manusia. Faktor-faktor lingkungan adlah sangat kuat dalam perkembangan kepribadian sehingga diantara ahli antropologi ada yang mempersoalkan; apakah betul ada sesuatu esensi manusia yang umum bagi tiap-tiap pribadi tanpa melihat kepada lingkungan kebudayaannya? Menurut pandangan mereka seseorang itu menjelma menurut lingkungan dimana tempat seseorang itu berasal. Bagaimana konsep evolusi mempengaruhi pandangan tentang watak manusia? Dalam arti biologis, evolusi berarti bahwa semua kehidupan berkembang dari bentuk yang lebih tinggi dan lebih kompleks. Dalam mata seorang penganut teori evolusi manusia berkembang dari binatang-binatang yang terdiri atas satu sel, karena manusia selalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan, maka manusia sekarang tentu akan berlainan dengan manusia pada lima juta tahun mendatang. Kalau memang begitu keadaannya, maka apakah khas manusia itu?. Filsuf Perancis Jean Paul Sartre, adalah juru bicara filsafat eksistensialis yang mengingkari adanya watak esensi manusia. Bagi Sartre eksistensi manusia mendahului esensinya. Setiap manusia yang lahir adalah manusia yang terlempar ke dunia yang tanpa isi dan tanpa arah. Pada permulaan wujudnya manusia itu bukan apa-apa dan ia tidak akan menjadi sesuatu kecuali setelah menjadi apa yang menjadi pilihannya. Walaupun Sartre mengingkari watak manusia, pandangannya tentang manusia mengundang hal-hal tertentu yang dimiliki oleh semua orang seperti ”keperluan berada di dunia ”, atau ”terpaksa bekerja dan mati di Bumi”. Walaupun adalah mustahil untuk menemukan dalam setiap orang suatu esensi yang universal yang dapat dinamai watak manusia, namun ada persamaan diantara mereka, yaitu kondisi kemanusiaan. (Harold H.&Titus,1984;30) Manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial, dampak lingkungan sosial masuk sampai kepada inti kepribadian setiap orang. Manusia secara hakiki tergantung satu sama lain. Tidak ada orang masuk kedalam kehidupan kecuali berkat manusia lain.
https://philosophyforchange.files.wordpress.com/2013/06/sartre.jpeg

Oleh karena itu hakikatnya sebagai manusia hanya dapat tercapai melalui rasa kesetiakawanan dengan sesama manusia disemua tingkat kehidupannya, dari lingkungan keluarga sampai ketingkat nasional dan bahkan sampai ke solidaritas seluruh umat manusia. (Frans Magnis Suseno,1991;99) 
Sartre beranggapan bahwa memang hidup bersama orang adalah suatu kenyataan yang harus ada supaya orang dapat hidup. Akan tetapi semua usaha untuk bertemu dengan orang lain dalam kepribadiannya adalah sia-sia saja.

“sebab bila aku ingin berkontak dengan orang lain serentak aku menjadikannya objek keinginanku, sehingga pada pertemuan yang menyusul kepribadiannya  sudah tidak muncul lagi. Itu berarti bahwa dimana saja dua orang saling bertemu, mereka saling mendorong satu terhadap yang lain kembali kepada kesepian. Tidak pernah mereka akan berhasil dalam menghayati kesatuan yang sungguh antar pribadi”. (Soejanto Poespowardojo,1979;47)

Boleh jadi bahwa salah satu dari antara dua orang saling bertemu, tidak berkeberatan untuk dijadikan objek. Tetapi sikap yang demikian tidak menghasilkan pertemuan yang sungguh, karena pertemuan diartikan sebagai hubungan antar dua pribadi, padahal disini salah satu dari kedua orang itu sudah kehilangan kepribadiannya. Apa yang tinggal adalah kejasmanian orang sebagai objek pengamatan dan kenikmatan.

Kalau mustahil aku menghubungkan diri dengan orang lain dalam kontak yang sungguh, maka orang lain tidak berhasil mengangkat kekuranganku sebagai pribadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa orang lain merugikan aku, sebab adanya orang lain menyoroti kekuranganku sebagai pribadi. (Soejanto Poespowardojo,1979;48)

Kebenaran dirumuskan oleh Sartre dalam pernyataan-pernyataan terkenal: “Adanya orang-orang lain merupakan dasar kedosaan manusia”, lagi “Neraka adalah orang-orang lain. Namun kata Sartre, pergaulan dengan orang lain sekali-kali dapat menghasilkan pengalaman yang terkandung dalam kata ”kita” yakni bilamana orang ketiga melawan kita. Inilah yang terjadi umpamanya pada kaum buruh. Buruh-buruh dapat menjadi kawan-kawan yang sejati, sebab mereka diancam kaum kapitalis. Dalam menentang mereka, mereka menghayati kesatuan yang diungkapkan dalam kata ”kita”. nyatalah pengalaman ”kita” itu akhirnya berdasarkan pertentangan juga. Tak pernah terdapat suatu kesatuan tanpa ada pertentangan yang mendahului. Kesimpulannya dalam filsafat Sartre inti hubungan antara orang lain : adalah saling menentang.

Oct 5, 2012

MENCARI SOLUSI DUNIA PENDIDIKAN KITA


Berbagai macam permasalahan pelajar yang terjadi di Ibukota belakangan ini  amat sangat memprihatinkan dunia pendidikan kita. Aksi tawuran  yang telah merenggut nyawa beberapa orang pelajar, seolah mensiratkan  dunia pendidikan kita sudah tidak mampu lagi berbuat banyak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pertanyaan kemudian, apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?, Kurikulumkah? atau lemahnya pengawasan antara pihak sekolah dan orang tua sehingga setiap kali kekerasan yang sudah menjurus ke tindak kriminalitas ini masih saja terus  terjadi. Aksi sweeping  dari aparat keamanan pun sudah berkali-kali menggeledah para pelajar yang ketahuan membawa senjata tajam dibalik seragam ataupun dalam tas sekolahnya, namun tidak pernah menciutkankan nyali para pelajar itu. Membaca realitas dunia pendidikan kita dengan aksi kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini sudah saatnyalah  semua pihak yang terkait tidak sekadar mengelus dada atau hanya sebatas menyayangkan atas semua kejadian ini. Sudah saatnya Stakeholder pendidikan (pemangku kepentingan) harus turun tangan mencari solusi atas kejadian ini. Wacana mengenai  urusan kepemudaan atau pelajar dalam hal ini tidak lagi semata menjadi tanggung jawab dinas pendidikan, melainkan kementrian pemuda dan olah raga pun harus ambil bagian untuk penyelesaian masalah ini. Tidak hanya menggelar ivent kepemudaan atau ajang pertukaran pelajar melainkan diminta juga untuk dapat merumuskan solusi atas berbagai  masalah krusial para pelajar yang nota bene menjadi aset bangsa dimasa depan ini. Bila perlu Departemen Agama  bahkan aparat kepolisian pun turut diminta peran aktif  sebagai partner pendidik disamping para guru dan orang tua. Dalam hal ini peran orang tua juga harus diposisikan sebagai partner ketimbang “pengawas” ketika mereka berada diluar lingkungan sekolah. Tentu melalui pendekatan-pendekatan psiko-humanis yang lebih memartabatkan eksistensi diri mereka sebagai peserta didik.


Perlukah Mereview Kurikulum Yang Ada?
Kecenderungan globalisasi dan derasnya arus informasi di era teknologi ini kerap menjadi kambing hitam dan saling melempar tanggung jawab antara pihak sekolah dan keluarga jika ada peserta didiknya yang dinilai gagal untuk mengemban nilai-nilai dari tujuan pendidikan yang diacu. Sementara fakta yang ada,  menyangkut kondisi maupun situasional peserta didik kita sekarang ini, sudah jauh berbeda tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Bahkan tanpa disadari pihak sekolah dan orang tuapun tertatih-tatih mengamini perubahan paradigma pendidikan yang pragmatis dan cenderung mengedepankan nilai-nilai kognitif semata. Disisi lain, peserta didik kita sekarang ini sudah tidak sukar lagi atau gagap teknologi dalam mengakses berbagai hal atau sekadar untuk mendapatkan informasi terbaru pada era yang serba digital ini. Apalagi Dengan lemahnya kontrol orang tua, lingkungan sosial yang cenderung apatis serta sistem pendidikan yang lebih menitik beratkan pada aspek intelektualitasnya saja, bukan tidak mungkin akan menciptakan karakter peserta didik kita yang bersikap serba permisif serta mudah menyerap apa saja tanpa adanya filterisasi dari sistem kurikulum yang terus-menerus diberdaya gunakan demi kepentingan pendidikan yang tepat sasaran. Kurikulum pendidikan yang berbasis pada life-skils untuk mengembangkan kepribadian serta kemandirian peserta didik tergeser oleh kepentingan mengejar prestasi individual melalui  lembaga-lembaga privat semacam kursus ataupun les yang sebenarnya tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama. Sehingga tanpa disadari inilah salah satu bentuk kesenjangan sosial yang sebenarnya dimunculkan oleh lembaga pendidikan itu sendiri. Apabila instansi terkait tidak jeli melihat ini sebagai sebuah potensi yang dapat memecah belah antar sesama peserta didik. Padahal semestinya arah kurikulum yang  dicetuskan oleh dunia pendidikan kita, semisal kurikulum berbasis kompetensi atau life skils harus mampu diadaptasikan dengan tantangan perkembangan zaman yang ada, dimana tujuan dari kurikulum pendidikan tidak semata mengasah kemampuan IQ sang peserta didik saja, tetapi pihak sekolah maupun orang tua juga harus mampu mengembangkan alur pendidikan yang lebih bermakna dengan tidak mengesampingkan pendidikan budi pekerti yang memang kini menjadi harga mati untuk peserta didik kita.
Pendidikan Untuk siapa?
Idealnya arah dari kebijakan pendidikan nasional harus secara substantif  menjadi medium untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga berbagai macam polemik yang menerpa wajah pendidikan kita dari tawuran pelajar hingga remaja putus sekolah ataupun pendidikan kewirausahaan yang menjadi program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan, harus terintegrasi dan selaras dengan pertanyaan untuk apa pendidikan  dan bagi siapakah sesungguhnya pendidikan itu?.  Namun jika pendidikan hanya sebagai pemenuhan program kerja dengan berbagai rencana jangka panjang maupun menengah dari pemerintah. Begitupun  ide-ide cemerlang yang berhubungan dengan pendidikan berkarakter ataupun pendidikan berbasis kearifan lokal hanya berhenti pada tahapan visi dan misi saja sementara permasalahan didepan mata belum mampu teratasi, maka bisa dikatakan bahwa ada yang belum sinkron dengan arah dan kebijakan sistem pendidikan kita. Dan sudah selayaknya pembelajaran terhadap kasus-kasus kekerasan di dunia pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi tidak selalu dipahami sebagai sebuah kebijakan yang mandeg dari lembaga yang diberi wewenang maupun tanggun jawab semisal sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan saja. Melainkan pada skala yang lebih besar, Negara juga mutlak mempunyai peran aktif serta berkepentingan untuk  meningkatkan kualitas pendidikan yang ada, sebab ukuran kualitas pendidikan pada suatu negara maupun bangsa akan selalu berbanding lurus dengan dimilikinya sumber daya manusia yang berkualitas unggul. Selain itu pemahaman tentang pendidikan juga harus  menjadi bagian serta berintegrasi dan memiliki tanggung jawab dengan masyarakat luas. Agar fungsi dan tujuan pendidikan yang didapat dari sekolah dapat bersinergis dengan lingkungan sekitar dengan tidak mengesampingkan dimensi religius maupun nilai-nilai moral sebagai satu kesatuan dari hakikat pendidikan yang dituju. 

Oct 3, 2012

MENAKAR KEKUATAN IMAJINASI DALAM FILSAFAT


Apakah tindakan berfilsafat  selalu mengarah pada suatu kesadaran murni bahwa yang namanya berfilsafat  itu selalu bersifat independent dan terlepas dengan imajinasi?.  Meskipun sekadar merepresentasi objek filsafat sebagai medium “ide” agar makna yang terkandung dalam filsafat dapat disimpulkan melalui bahasa?. Ataukah antara imajinasi dan berfilsafat memang mempunyai batas-batas tegas dan tidak bisa dikacaukan antara satu dengan yang lainnya. Narasi pengantar ini hanya ingin mewacanakan sejauh mana hubungan antara peran gambar sebagai media imajinasi yang sering direpresentasi dalam bidang filsafat dan sejauh mana otoritas filsafat dalam mendeskripsikan ide berfilsafat itu benar-benar radikal, komprehensif  maupun yang “Clear And Distingly”. Bisa jadi Plato tidak menyangka bahwa penggambaran ide yang ia representasikan melalui mitos “gua” tidak sesederhana ketika ia ingin menjelaskan ide-ide  “mitos gua” dalam upaya untuk meretas mana pengetahuan yang bersifat hakiki dan mana pengetahuan yang bersifat semu. Beberapa filsuf dari Yunani Kuno, abad pertengahan hingga abad modern juga mengamini hal yang sama. Dari Thales, Anaximenes,Demokritos. Phytagoras, Hegel hingga Sartre  mempunyai gambaran dalam merepresentasi buah pemikiran mereka. Dunia Ide”-nya Plato sangat kental representasi  gambar dalam imajinasi. Sementara  Dunia filsafat kini telah menghasilkan beragam pertanyaan, seperti apakah filsafat dapat melahirkan konsep-konsep  rasional  murni serta memiliki alasan-alasan yang dapat mengandalkan rasionalitas manusia semata?.

Polemik awal dalam sejarah filsafat telah berdialektika  dengan dua tema aliran besar antara Rasionalisme dan empirisme. Kedua aliran inipun tidak mempunyai alasan secara logis untuk mengesampingkan bahwa esensi dari suatu objek dapat “digambarkan”  melalui citra atau persepsi mengenai rasa. Artinya sesuatu objek yang tergambar  dalam imajinasipun tidak bisa dilepaskan oleh penggambaran filosofis sekalipun dari kesimpulan2 sederhana mengenai logika. Padahal kita tahu bahwa filsafat bukanlah dongeng, bukan cerita yang mendeskripsikan gambar atau eksplorasi dunia sastrawi yang kemudian dituangkan dalam karya-karya besar yang sarat makna nilai-nilai filosofis. Meski pada sisi lain otoritas filsafat dalam sejarah awal kelahirannya juga tak bisa dilepaskan dengan apresiasi yang “tergambar”. Bertolak dari dasar pikir ini ada kesan bahwa filsafat  dalam konteks sejarah seolah-olah terdefinisi sebagai cabang ilmu yang otonom. Dari barat hingga timur, dari cabang hingga aliran pada kenyataanya filsafat  selalu terepresentasi melalui “gambar”. Tak terkecuali hingga  perkembangan sejarah filsafat  dengan pengetahuan yang dicerap melalui rasionalisme maupun empirisisme. Laiknya pengertian seni sebagai sebuah pengetahuan dan seni sebagai pengalaman estetis, sampai pada tahapan ini  filsafat harus dijabarkan secara hati-hati namun terstruktur  guna menyimpulkan sebuah pemahaman filsafat yang “radikal” dan yang “jelas dan terpilah-pilah” (Clear and Distingly). Belum lagi jika  merunut syarat sahnya sebuah pengetahuan yang dianggap ilmiah harus meliputi, bahasa, logika dan matematika tentu keradikalan filsafat akan mendapat tantangan zaman yang kian hari kian menantang tidak hanya bagi para penikmat filsafat melainkan bagi disiplin ilmu-ilmu lain yang berintegrasi dengan filsafat. (Syahyunan Pora)

Oct 2, 2012

SAATNYA PANCASILA TAK SEKADAR REFLEKSI FILOSOFIS

Berbagai persoalan hidup bangsa yang dialami oleh negara kita akhir-akhir ini seolah tak pernah ada habisnya. Dari anarkisme para intelektual muda yang terjadi di dalam kampus hingga  di jalanan, tawuran pelajar antara sekolah, antar kampus bahkan aksi massa antar warga yang melibatkan  dua kelurahan yang bertetangga. Korupsi merajalela di tingkat parlemen hingga di tingkat desa amat sangat memprihatinkan kita. Belum lagi dengan degradasi moral yang dialami generasi muda yang begitu permisif terhadap globalisasi tanpa ada upaya filterisasi budaya ketimuran. Pertanyaannya kemudian apa lagi yang mengikat kita sebagai sebuah bangsa dan negara, jika beragam persoalan yang datang silih berganti ini tak mampu dielaborasi bahkan direpresentasi sebagai sebuah  pandangan hidup bangsa yang kita kenal dengan sebutan Pancasila. Kita tahu bersama bahwa Pancasila  merupakan pandangan hidup bangsa  yang berakar dalam kepribadian bangsa Indonesia. Dalam pandangan hidup itu terkandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan. Dan yang dianggap baik. Oleh karena itu muncul tekad untuk mengusahakan serta mempertahankannya. Dalam pandangan hidup itu termuat  juga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Untuk melestarikan nilai-nilai tersebut, maka pancasila secara konstitusional telah dikukuhkan sebagai dasar Negara. Pengukuhan secara konstitusional ini dilakukan secara terus-menerus sejak proklamasi hingga sampai saat ini. (Widjaja,1984:89-97). Pancasila diterima sebagai dasar Negara, disamping sebagai pandangan hidup bangsa, berarti nilai-nilai pancasila selalu harus menjadi landasan bagi pengaturan serta penyelenggaraan Negara. Hal ini memang telah diusahakan dengan menjabarkan nilai-nilai pancasila kedalam peraturan perundangan yang berlaku. Pengakuan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, membawa konsekuensi bahwa nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku manusia Indonesia. Tanpa adanya perwujudan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan yang nyata, berarti pancasila hanya sebagai hiasan Pembukaan UUD 1945 (Tim Pembinaan Penatar dan Bahan Penataran Pegawai R.I,1981:21-24). Agar dapat mewujudkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan yang nyata, perlu kiranya terlebih dahulu memahami nilai-nilai serta jenis nilai yang terkandung  dalam Pancasila.(Wahana,1983:66).


Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang kebenarannya diakui, dan menimbulkan tekad untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dasar Negara Pancasila berkedudukan sebagai sumber hukum yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia. Pancasila sebagai Ideologi nasional  nampaknya masih membutuhkan eksplanasi yang cukup memadai.