May 31, 2016

GOD AND PHILOSOPHY

Diskusi tentang hubungan antara agama dan filsafat, adalah diskusi yang berumur panjang. Sebagian kalangan memandang keduanya merupakan dua entitas yang saling memusuhi. Yang lain menganggapnya sebagai dua lanskap yang tidak berhubungan, namun sebagian lagi justru menganggap keduanya merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah akal manusia dapat menjangkau Tuhan secara murni tanpa sinaran wahyu yang nota bene dimiliki oleh agama? Beragam jawaban pernah muncul dalam sejarah. Sebagian filosof mengklaim bahwa akal saja sudah cukup untuk menemukan Tuhan, namun yang lain menyanggah dengan dalih bahwa akal terbiasa berpikir dengan kategori-kategori sementara tuhan adalah samudera eksistensial yang tidak bertepi. Dalam buku ini tampaknya Gilson memilih jawaban kedua. Bahwa akal saja tidak cukup sebagai alat untuk menjangkau Tuhan. Hal ini terbukti, menurut peneyelidikan Gilson, dari fakta sejarah yang ada. Sejak zaman Yunani yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya model pemikiran filsafat, gagasan tetang Tuhan tidak dapat dirumuskan secara memuaskan oleh akal.  Pada zaman Yunani Thales memunculkan gagasan bahwa asal mula dunia adalah air tetapi ia masih dibingungkan oleh pemikiran antara air sebagai dewa dan hanya unsur pertama alam semesta. Bahkan Plato maupun Aristoteles, menurut Gilson, tidak berhasil merumuskan gagasan tentang tuhan. Dalam pemikiran Plato, misalnya, menurut Gilson, para dewa memiliki kedudukan yang lebih rendah ketimbang Ide. Matahari dianggap Plato sebagai dewa. Namun, Matahari, yang merupakan dewa itu merupakan anak Kebaikan, yang bukan dewa. Begitu juga dengan Aristoteles, meski secara cemerlang menemukan gagasan tentang penggerak pertama (prime mover), tetapi ia tidak berhasil menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan penggeran pertama tersebut. Dan kekaburan rumusan itu terus saja berlangsung sampai agama Yahudi muncul. Pertanyaan tentang tuhan yang selama ini remang berubah ketika Musa, melalui wahyu yang diterimanya, mewartakan tentang tuhan sebagai yang satu yang bernama Dia adalah Dia. Sejak masa inilah gagasan tentang tuhan menemukan jawaban yang terang.

Agama memang bukan filsafat, tetapi ajaran agama, menurut Gilson, mengajukan prinsip-prinsip filosofis yang kaya. Karena itu, ia dapat membantu perncarian akal terhadap tuhan. Arogansi akal untuk dapat secara mandiri menemukan tuhan tanpa sinaran wahyu, adalah sesuatu yang naïf. Dan hal itu telah terbukti dalam pencarian para filosof Yunani bahkan ketika Descartes berusaha memisahkan filsafat dari agama. Usaha Descartes menghasilkan sebuah paradoks, sebab sebagai penganut agama Kristen yang taat tuhan Descartes adalah Tuhan Kristen, tetapi sebagai filosof tuhan yang diyakini adalah tuhan yang semata berfungsi sebagai katalisator dalam dunia Cartesian, yang mekanik. Inilah yang kemudian memunculkan kritikan terkenal dari Pascal, “Saya tidak dapat memaafkan Descartes. Dalam seluruh filsafatnya, dia tampaknya sudah siap meningkirkan Tuhan. Namun, dia ‘membuat’ Tuhan memberikan suatu perangsang agar dunia ini bergerak; di luar hal ini dia tidak lagi membutuhkan Tuhan” (hlm. 222). Meski begitu, menurut Gilson, masih terdapat Tuhan dalam filsafat Descartes. Ini berbeda dengan perkembangan dalam filsafat kontemporer yang sepenuhnya dibawah dominasi Imanuel Kant dan August Comte. Dalam pandangan keduanya pengetahuan direduksi menjadi sekedar pengetahuan ilmiah dan gagasan tentang itupun masih direduski lagi menjadi intelejibilitas yang dipersiapkan oleh Newton Akibatnya, gagasan tentang Tuhan dalam filsafat ini dianggap sebagai omong kosong. Sebab Tuhan bukan objek pengetahuan empiris. Bagaimanapun cara pandang terhadap fakta, pasti tidak ada fakta yang dapat mendukung gagasan tentang Tuhan. Lalu masih relevankah berbicara tentang Tuhan ketika sains—yang merupakan salah satu pengejawantahan filsafat kontemporer—sudah sanggup menyibak berbagai selubung misteri dan menjungkalkan mitos tentang alam semesta? Terhadap gugatan yang sering dimunculkan para saintis ini, Gilson menilai pernyataan semacam itu muncul karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa agama dan filsafat (juga sains) adalah dua lanskap yang seharusnya dapat bertemu. Karena sains menjawab pertanyaan tentang bagaimana sedang agama menjawab tentang mengapa. Hanya saja tidak banyak orang yang berani mengakuinya. Para sains atau filosof kontemporer yang terpikat oleh daya pesona rasio kehilangan selera terhadap metafisika dan agama. Sementara yang lain, karena terlalu khusuk dalam berkontemplasi menyadari bahwa metafisika dan agama seharusnya dapat dipertemukan tetapi tidak tahu di mana dan bagaimana. Karena itu ada yang kemudian memisahkan agama dari filsafat, atau meninggalkan agama demi fisafat atau sebaliknya. Padahal hal tersebut, dalam pandangan Gilnson tidak perlu terjadi. Dan menurutnya orang yang dapat melakukan hal itu adalah mereka yang dapat menyatukan bahwa Tuhan filosof adalah tuhan yang juga dipeluk oleh Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub. Begitulah, buku yang ditulis oleh seorang filosof dan sejarahwan filsafat dari Prancis ini tidak saja menekankan perlunya sinergi agama dan filsafat untuk memahami alam dan Tuhan, tetapi juga menawarkan tamasya yang mengasyikkan dengan menelusuri sejarah gagasan tentang Tuhan sejak masa awal yang dapat dicatat sejarah. Namun buku yang ditulis oleh pengajar di Universitas Strasbourg, Universitas Paris, College de France dan Universitas Harvard ini tidak terjebak pada deskripsi membosankan layaknya buku-buku filsafat. Sebaliknya, dengan gaya yang rileks ia mendedahkan pergumulan pemikiran tentang Tuhan, menelisik asumsi-asumsi yang bersembunyi di belakang gagasan besar, melemparkan kritik terhadapnya, mengurai kondisi sosial para pemikirnya serta bangunan sistemnya secara keseluruhan. Dengan cara itu, Gilnes dapat memberikan potret yang utuh perkembangan gagasan tentang Tuhan pada tiap babakan: Yunani, Abad pertentengahan, Abad Modern, dan era Kontemporer. Buku ini patut dibaca oleh semua yang memiliki concern terhadap kajian filsafat, termasuk filsafat Islam. Sebab filsafat Islam juga tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Yunani. Lahirnya aliran filsafat paripatetik, iluminasi, atau yang lain merupakan bentuk penafsiran yang diberikan oleh filosof Muslim terhadap pemikiran Yunani. Gagasan tentang Filsafat Cahaya oleh Suhrawardi, teori emanasi oleh kalangan Neo-Platonisme, konsep insan kamil oleh para mistikus, misalnya, merupakan hasil proses dialektik yang dilakukan oleh para filosof muslim berdasarkan ajaran agamanya dengan konsep-konsep para Filosof agung Yunani semisal Plato, Aristoteles atau Plotinus. Meski seperti pola kebanyakan sejarahwan yang selalu melewatkan babakan sejarah filsafat Islam, rasanya tetap terlalu sayang kalau buku yang diterjemahkan dari judul aslinya God and Philosophy ini dilewatkan. **Sumber : Google

Apr 30, 2016

DISKURSUS SEX DIANTARA FILSAFAT DAN SASTRA

Filsafat dapat diucapkan lewat sastra, sementara sastra itu sendiri sekaligus dapat bertindak sebagai filsafat. Dalam perkembangan karya sastra sendiri dari zaman Balai Pustaka sampai sekarang, pemakaian filsafat dalam karya sastra berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan lingkungan sosialnya dan perkembangan zaman. Kita tahu sebelum pecah perang dunia ke-II, gaung filsafat dalam karya sastra masih sangat kurang. Namun setelah tahun 1960-an, riak-riak Eksistensialisme dan Absurdisme menjamur memenuhi novel-novel Iwan Simatupang, bahkan sampai sekarang, gema filsafat dalam karya sastra masih ada dan akan terus terasa. Terpengaruh dari pengarang-pengarang filsafat, Albert Camus dan Jean Paul-Sartre pasca perang dunia ke-II. Para sastrawan di Indonesia mulai menggali eksistensialisme yang ada dalam dirinya. Salah satu unsur penting dalam eksistensialisme adalah filsafat ketakutan seperti yang ditunjukkan oleh Mochtar Lubis dalam novelnya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung (1952). Eksplorasi tentang ketakutan, tentang hakekat ketakutan, mewarnai karya-karyanya. Walau dalam novel ini Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romantis, mengenai makna akan ketakutan. Mochtar Lubis tetap dijadikan pioner dalam filsafat sastra di Indonesia.
Muncul kemudian yang namanya allienisme dan absurditas. Allienisme merupakan perasaan kesendirian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang ketika orang itu berada di keramaian. Hubungan dengan tetangga dan yang tidak begitu akrab karena sibuk pada pekerjaan atau pikiran masing-masing juga merupakan pengejawantahannya. Contoh novel yang terdapat unsur Allienisme adalah novel-novel milik Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo dan lain-lain. Absurdisme juga dianggap sebagai simpul eksistensialisme. Pada hakekatnya pengertian dari absurdisme adalah betapa tidak “bermaknanya” kehidupan kita. Landasan pemikiran tentang wacana absurdisme yang dikemukakan pertama kali oleh Albert Camus adalah sebuah mitologi Yunani kuno tentang Sisipus. Pada saat mendorong batu ke atas Sisipus merasa bahagia karena menggangap kehidupannya kini bermakna. Setelah sampai puncak bukit dan kemudian mengelinding kembali ke bawah, dia mendorongnya kembali keatas bukit. Demikianlah pekerjaan Sisipus terus menerus, sama halnya perjalanan kita. Perkembangan sastra pun menjadi bermacam-macam, antara lain berbentuk karya sastra anti logika, anti plot, anti perwatakan dan lain sebagainya. Absurdisme dalam karya sastra dapat kita temukan pada karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Danarto, Yulius Sriaranamual. Absurdisme makin menjadi mantap tatkala, kita sering melihat kesemrawutan dalam realitas kehidupan kita. Awal Millenium, muncul novel-novel yang juga menganut aliran seperti ini. Supernova karya Dewi Lestari; Larung, Saman milik Ayu Utami. Ke-absurd-an penceritaan dan plot yang meloncat-loncat menjadikan karya-karya mereka mampu menambah khasanah kesastraan di Indonesia. Gunawan Mohamad berpendapat mengenai muatan seks dalam karya sastra; ada tiga sikap dalam karya sastra Indonesia tehadap persoalan seks dan penggambaran seks. Pertama, karya-karya yang berusaha mempersoalkan seks tetapi tidak berani menggambarkannya, karya-karya yang dalam istilah Harry Aveling memperlakukan persoalan seks itu sebagai ”mawar berduri.” Kedua, karya-karya yang mempersoalkan seks dan menggambarkannya dengan cara ”meneriakkannya dengan keras-keras.” Karya-karya yang demikianlah yang mungkin digolongkan sebagai karya-karya ”pornografis”, yang menggambarkan peristiwa erotis secara eksplisit. Ketiga, karya-karya yang mempersoalkan seks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula, antara lain seperti yang tersirat dalam cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang. Sejarah mencatat bahwa kontroversi atas terbitnya sebuah karya sastra lebih sering karena faktor ketidak siapan masyarakat bersangkutan (sebagai pembaca) atau birokrat (Penguasa Politis, Spiritual, Moral) dalam menghadapi ekspresi individu yang bertentangan dengan tata nilai kolektif. Seabad silam ketika Gustava Flaubert di Prancis menerbitkan sebuah buku yang berjudul Madame Bovary, banyak orang tersentak karena karya sastra itu dengan terbuka menyerang Hipokrisi kelakuan seks kaum elite masyarakatnya. Dalam novel itu bercerita tentang perselingkuhan istri lelaki terhormat Emma Bovary yang justru menemukan kebahagiaan di luar pernikahannya dengan berselingkuh dengan tukang kebun suaminya. Merupakan sebuah tamparan telak bagi sebuah konstruksi mapan dan tak menghendaki kritikan. Itu pula yang terjadi di sini dengan belenggu karya Armijn Pane (1940), yang kemudian menjadi perdebatan diantara para penelaah sastra. Merunut sejarah munculnya karya sastra yang bermuatan seks, adalah ketika pada ujung 1960-an hingga awal 1970-an terjadi revolusi seks di Amerika Serikat sebagai reaksi atas perang yang terus dikobarkan di mana-mana (Korea, Vietnam) oleh generasi tua mereka yang berpandangan patriarkis, di mana keterbukaan seks menjadi senjata kaum muda untuk memberontak dan rasa takut pada maut (“Make love, not war!”), sejumlah nama sastrawan-sastrawan muncul sebagai ikon.

Salah satunya, Anais Nin (1903-1977) seorang perempuan keturunan Prancis yang punya talenta tinggi dalam menggarap novel dan cerpen dengan muatan seksualitas secara ekplisit. Di ujung usianya namanya dikukuhkan menjadi ikon feminis dan penulis garda depan di negerinya seiring pergerakan zaman. Dalam pengantar kumpulan buku kumpulan cerita erotisnya, Delta of Venus: Erotica (1969), Nin berpendapat bahwa yang dilakukannya adalah mencoba menulis kan aspek seksualitas perempuan dari sudut pandang dan penghayatan perempuan sendiri, bukan seksualitas perempuan dari kacamata lelaki. Dari kacamata inilah kemudian Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Herlinatiens memuat seks pada karya-karya mereka. Mungkin bukan hanya sekadar seks yang mereka coba vokalkan, melainkan juga unsur politis, terutama kebijakan pemerintahan yang masih menganut militerisme dan segala kekuasaan patriarkis. Dengan ke-absurd-an penceritaan tentunya. Mungkin pada zaman Balai Pustaka saat itu kesemrawutan ada pada unsur instrinsiknya masih belum sepenuhnya terjadi. Pada masa itu alur, perwatakan dan logika penceritaan masih bisa kita nalar dan mengalir secara linier, hingga memudahkan kita dalam mengikuti cerita. Ini bisa kita lihat pada novel-novel Azab dan Sengsara karangan Merari Siregar (1920), Siti Nurbaya karangan Marah Rusli (1922) dan Salah Asuhan karangan Abdul Muis (1928). Pemuatan unsur seks pun belum merebak, karena pada zaman itu pengaruh feodalisme masih kuat mengakar di masyarakat. Ada sebuah hal baru juga yang mengebrak dalam penciptaan karya sastra pada awal lahirnya Balai Pustaka. Yaitu, sebuah pengembanggan baru tentang wawasan penciptaan karya sastra oleh Merari Siregar dalam novelnya Azab dan Sengsara. Dalam novel itu tidak lagi terikat dengan sastra lama. Ini bisa dilihat dengan settingnya yang keluar dari main stream istana sentris, mulai meninggalkan wacana hikayat, tokohnya merefleksikan keangkuhan dari lingkungan rakyat, temanya adalah perjuangan manusia sehari-hari bukan lagi realitas dongeng. Pada awal masa Pujangga Baru tahun 1930-an. Pengembangan unsur-unsur intrinsik masih belum berbeda jauh dengan Balai Pustaka. Walaupun begitu, Belenggu karya Armijn Pane merupakan revolusi terhadap novel-novel yang dibarui oleh Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya atas individualisme yang memenuhi kriteria estetik dalam karya itu. Pada tahun 1950-an terjadi perpecahan dalam hal pemikiran mengenai karya sastra. Pemikiran antara sastra Humanis Universal diwakili oleh kelompok Manifes Kebudayaan dengan sastra Proletar (Realisme Sosialis) diwakili Lekra. Manifes Kebudayaan mengginginkan untuk dapat disandingkan dengan Manifesto Politik Republik Indonesia. Namun hal ini ditolak oleh Bung Karno, karena Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai pancaran Pancasila tidak mungkin didampingi dengan manifesto-manifesto lain, apalagi kalau manifesto itu sudah menunjukkan sikap apatis terhadap revolusi dan memberi kesan berdiri sendiri. Pada bangsa yang heterogen, kita seperti berpijak pada dua dunia yang saling berhubungan, dan tidak mungkin kita pisahkan-pisahkan—sub-kebudayaan kita masing-masing di lain pihak kebudayaan bangsa Indonesia seluruhnya. Baik sadar atau tidak sadar, kita sering dihadapkan pada kerinduan kita akan makna arkitipal, rindu akan sub kebudayaan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendoktrin hidup kita masing-masing. Linus Suryadi A.G, Y.B Mangunwijaya, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Darmanto Yatman dan lain-lain pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1980, dalam kerinduan arkitipalnya masing-masing telah menggali kebudayaan Jawa dalam karya-karyanya. Polarisasi masyarakat Indonesia juga akan mempengaruhi sastra. Warna lokal akan tumbuh sejalan dengan makin terasanya polarisasi. Apakah nantinya karya sastra semacam ini akan dimasukkan dalam dalam sastra nasional atau daerah yang berbahasakan Nasional, tentunya tergantung pada pada mutu karya sastra itu sendiri. Tumbuh suburnya sastra sufi akhir-akhir ini, seperti misal sastra transendental, juga merupakan pengejawantahan kerinduan akan arkitipal. Namun juga terdapat misi tersembunyi bagi sebagian pengarangnya, yaitu sebagai penyeimbang karya-karya sastra yang sarat akan muatan seks yang kemudian dianggap tabu oleh sebagian orang. Sekaligus sebagai solusi dekadensi moral yang semakin semrawut di Indonesia. Taufik Ismail dan Danarto, yang masih aktif berjuang di jalan ini, mengharapkan kelak negerinya akan terkurangi dari polusi kemerosotan akhlak dan membangun kembali nilai luhur budaya masyarakat yang sekarang mulai runtuh.
*NN (Article From Internet) 

Mar 31, 2016

EPISTEMOLOGI

Epistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat –dalam hal ini filsafat modern – terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun eksistensialisme.
Pengertian

Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Webster Third New International Dictionary mengartikan epistemologi sebagai “The Study of method and ground of knowledge, especially with reference to its limits and validity”. Paul Edwards, dalam The Encyclopedia of Philosophy, menjelaskan bahwa epistemologi adalah “the theory of knowledge.” Pada tempat yang sama ia menerangkan bahwa epistemologi merupakan “the branch of philosophy which concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and the general reliability of claims to knowledge.”

Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.
Gerakan epistemologi di Yunani dahulu dipimpin antara lain oleh kelompok yang disebut Sophis, yaitu orang yang secara sadar mempermasalahkan segala sesuatu. Dan kelompok Shopis adalah kelompok yang paling bertanggung jawab atas keraguan itu.
Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani, krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang benar dan yang tidak benar memang agak dekat dengan episteme sebagai suatu tindakan kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya.
Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan.
Sejarah
Pranarka menyatakan bahwa sejarah epistemologi dimulai pada zaman Yunani kuno, ketika orang mulai mempertanyakan secara sadar mengenai pengetahuan dan merasakan bahwa pengetahuan merupakan faktor yang amat penting yang dapat menentukan hidup dan kehidupan manusia. Pandangan itu merupakan tradisi masyarakat dan kebudayaan Athena. Tradisi dan kebudayaan Spharta, lebih melihat kemauan dan kekuatan sebagai satu-satunya faktor. Athena mungkin dapat dipandang sebagai basisnya intelektualisme dan Spharta merupakan basisnya voluntarisme.
Zaman Romawi tidak begitu banyak menunjukkan perkembangan pemikiran mendasar sistematik mengenai pengetahuan. Hal itu terjadi karena alam pikiran Romawi adalah alam pikiran yang sifatnya lebih pragmatis dan ideologis.
Masuknya agama Nasrani ke Eropa memacu perkembangan epistemologi lebih lanjut, khususnya karena terdapat masalah hubungan antara pengetahuan samawi dan pengetahuan manusiawi, pengetahuan supranatural dan pengetahuan rasional-natural-intelektual, antara iman dan akal. Kaum agama di satu pihak mengatakan bahwa pengetahuan manusiawi harus disempurnakan dengan pengetahuan fides, sedang kaum intelektual mengemukakan bahwa iman adalah omong kosong kalau tidak terbuktikan oleh akal. Situasi ini menimbulkan tumbuhnya aliran Skolastik yang cukup banyak perhatiannya pada masalah epistemologi, karena berusaha untuk menjalin paduan sistematik antara pengetahuan dan ajaran samawi di satu pihak, dengan pengetahuan dan ajaran manusiawi intelektual-rasional di lain pihak. Pada fase inilah terjadi pertemuan dan sekaligus juga pergumulan antara Hellenisme dan Semitisme. Kekuasaan keagamaan yang tumbuh berkembang selama abad pertengahan Eropa tampaknya menyebabkan terjadinya supremasi Semitik di atas alam pikiran Hellenistik. Di lain pihak, orang merasa dapat memadukan Hellenisme yang bersifat manusiawi intelektual dengan ajaran agama yang bersifat samawi-supernatural. Dari sinilah tumbuh Rasionalisme, Empirisme, Idelisme, dan Positivisme yang kesemuanya memberikan perhatian yang amat besar terhadap problem pengetahuan. 
Selanjutnya, Pranarka menjelaskan bahwa zaman modern ini telah membangkitkan gerakan Aufklarung, suatu gerakan yang meyakini bahwa dengan bekal pengetahuan, manusia secara natural akan mampu membangun tata dunia yang sempurna. Optimisme yang kelewat dari Aufklarung serta perpecahan dogmatik doktriner antara berbagai macam aliran sebagai akibat dari pergumulan epistemologi modern yang menjadi multiplikatif telah menghasilkan suasana krisi budaya.
Semua itu menunjukkan bahwa perkembangan epistemologi tampaknya berjalan di dalam dialektika antara pola absolutisasi dan pola relativisasi, di mana lahir aliran-aliran dasar seperti skeptisisme, dogmatisme, relativisme, dan realisme. Namun, di samping itu, tumbuh pula kesadaran bahwa pengetahuan itu adalah selalu pengetahuan manusia. Bukan intelek atau rasio yang mengetahui, manusialah yang mengetahui. Kebenaran dan kepastian adalah selalu kebenaran dan kepastian di dalam hidup dan kehidupan manusia.
Terjadinya Pengetahuan
Vauger menyatakan bahwa titik tolak penyelidikan epistemologi adalah situasi kita, yaitu kejadian. Kita sadar bahwa kita mempunyai pengetahuan lalu kita berusaha untuk memahami, menghayati dan pada saatnya kita harus memberikan pengetahuan dengan menerangkan dan mempertanggung jawabkan apakah pengetahuan kita benar dalam arti mempunyai isi dan arti.
Bertumpu pada situasi kita sendiri itulah sedikitnya kita dapat memperhatikan perbuatan-perbuatan mengetahui yang menyebabkan pengetahuan itu. Berdasar pada penghayatan dan pemahaman kita dan situasi kita itulah, kita berusaha untuk mengungkapkan perbuatan-perbuatan mengenal sehingga terjadi pengetahuan.
Akal sehat dan cara mencoba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagi gejala alam. Ilmu dan filsafat dimulai dengan akal sehat sebab tidak mempunyai landasan lain untuk berpijak. Tiap peradaban betapapun primitifnya mempunyai kumpulan pengetahuan yang berupa akal sehat. Randall dan Buchlar mendefinisikan akal sehat sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan. Sedangkan karakteristik akal sehat, menurut Titus, adalah (1). Karena landasannya yang berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cenderung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan, (2). Karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cenderung untuk bersifat kabur dan samar, dan (3). Karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebih lanjut maka akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji.
Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Menurut Popper, tahapan ini adalah penting dalam sejarah berpikir manusia yang menyebabkan ditinggalkannya tradisi yang bersifat dogmatik yang hanya memperkenankan hidupnya satu doktrin dan digantikan dengan doktrin yang bersifat majemuk yang masing-masing mencoba menemukan kebenaran secara analisis yang bersifat kritis.
Dengan demikian berkembanglah metode eksperimen yang merupakan jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode ini dikembangkan lebih lanjut oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam. Semangat untuk mencari kebenaran yang dimulai oleh para pemikir Yunani dihidupkan kembali dalam kebudayaan Islam. Dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang Muslimlah, dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen yang berasal dari Timur ini mempunyai pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia, sebab dengan demikian berbagai penjelasan teoritis dapat diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan demikian berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif.
Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Metodologi ilmiah merupakan pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Riychia Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Secara ontologis ilmu membatasi masalah yang diamati dan dikaji hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengetahuan manusia. Jadi ilmu tidak mempermasalahkan tentang hal-hal di luar jangkauan manusia. Karena yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Einstein menegaskan bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apapun juga teori-teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesusaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkannya, harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar.
Di sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah-langkah yang disebut metode ilmiah. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.
Kebenaran Pengetahuan
Jika seseorang mempermasalahkan dan ingin membuktikan apakah pengetahuan itu bernilai benar, menurut para ahli estimologi dan para ahli filsafat, pada umumnya, untuk dapat membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang harus menganalisa terlebih dahulu cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu pengetahuan. Seseorang yang memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indera akan berbeda cara pembuktiannya dengan seseorang yang bertitik tumpu pada akal atau rasio, intuisi, otoritas, keyakinan dan atau wahyu atau bahkan semua alat tidak dipercayainya sehingga semua harus diragukan seperti yang dilakukan oleh faham skeptisme yang ekstrim di bawah pengaruh Pyrrho.
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kebenaran, antara lain sebagai berikut:
1.The correspondence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya. 
2.The consistence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kebenaran ditegaskan atas hubungan antara yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kita akui benarnya terlebih dahulu. 
3.The pragmatic theory of truth. Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. 
Dari tiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa kebenaran adalah kesesuaian arti dengan fakta yang ada dengan putusan-putusan lain yang telah kita akui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.
Sedangkan nilai kebenaran itu bertingkat-tingkat, sebagai mana yang telah diuraikan oleh Andi Hakim Nasution dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, bahwa kebenaran mempunyai tiga tingkatan, yaitu haq al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan ‘ilm al-yaqin. Adapun kebenaran menurut Anshari mempunyai empat tingkatan, yaitu:
1.Kebenaran wahyu 
2.Kebenaran spekulatif filsafat 
3.Kebenaran positif ilmu pengetahuan 
4.Kebenaran pengetahuan biasa. 
Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah. Jadi, apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Karena itu, kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-rubah dan berkembang.

Penutup

Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan.

Feb 29, 2016

SEPUTAR MITOS DAN FAKTA TANGGAL 29 FEBRUARI

Hari ini adalah hari Kabisat. Setiap empat tahun sekali, selalu ada yang berbeda di bulan Februari seperti yang terjadi pada tahun 2016 ini. Pada umumnya bulan Februari hanya sampai tanggal 28, namun setiap empat tahun waktu di bulan Februari bertambah satu hari yaitu sampai tanggal 29. Penambahan satu hari ini berpengaruh pula terhadap penambahan hari dalam hitungan satu tahun dari 365 menjadi 366 hari. Hal inilah yang disebut tahun kabisat. Terdapat algoritma mudah untuk menentukan apakah suatu tahun termasuk tahun kabisat atau bukan sebagai berikut:
1.    Jika angka tahun itu habis dibagi 400, maka tahun itu sudah pasti tahun kabisat.
2.    Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400 tetapi habis dibagi 100, maka tahun itu sudah pasti bukan merupakan tahun kabisat.
3.    Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100 akan tetapi habis dibagi 4, maka tahun itu merupakan tahun kabisat.
4.    Jika angka tahun tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100, dan tidak habis dibagi 4, maka tahun tersebut bukan merupakan tahun kabisat.
Seperti yang dikutip oleh Pojoksatu.ib berikut Fakta-fakta menarik tentang Tahun Kabisat 

Mengundang Cuaca Buruk
Cuaca buruk ternyata bisa disebabkan karena Tahun Kabisat. Apa penjelasan ilmiahnya? Ternyata ini memang soal kepercayaan. Di Rusia, Tahun Kabisat dipercaya membawa cuaca buruk. Para petani, bahkan menyebutkan, jika ada tumbuhan yang ditanam pada Tahun Kabisat, mereka akan tumbuh ke arah yang salah. Begitu juga dengan Skotlandia, mereka juga percaya terhadap mitos serupa. Peribahasa kuno Skotlandia menyebut Tahun Kabisat bukan tahun yang baik untuk mengembangkan ternak.
Meninggal Dan Lahir Di Tanggal Yang Sama
Ada kepercayaan yang menyebut, bahwa siapa saja yang lahir di tanggal 29 Februari, mereka juga akan meninggal di tanggal yang sama. Salah satu contohnya adalah James Milne Wilson, pemimpin ke-delapan Tasmania. Dia lahir pada 29 Februari 1812 dan meninggal tanggal 29 Februari 1880.
 Anak Yang Lahir Di Tahun Kabisat Tak Pandai Bisnis
Di China, terdapat mitos yang menyebutkan bahwa anak-anak yang lahir pada tanggal 29 Februari, mereka pada umumnya tidak pandai dalam hal berbisnis. Selain itu, dari segi kehidupannya pun mereka akan kesulitan. Di lain negeri, mitos yang beredar di Taiwan menyebutkan, jika ada seorang anak perempuan yang sudah menikah, mereka sejatinya tidak diperkenankan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Alasannya, jika ada anak perempuan yang memaksa pulang kerumah orangtuanya, hal ini dapat mendatangkan kesialan bagi orangtuanya.
Memiliki bakat istimewa
Sejak lama, para astrolog percaya bahwa bayi yang lahir di Tahun Kabisat memiliki bakat yang istimewa, seperti, dari kepribadiannya yang unik, hingga kekuatan magis. Beberapa pesohor yang lahir di tanggal 29 Februari adalah pencipta puisi Lord Byron, rapper Ja Rule, dan atlet football Darren Ambrose.
Tidak Semua Tahun Berakhiran Seratus Adalah Tahun Kabisat
Menurut penanggalan Gregorian, tahun 2000 adalah Tahun Kabisat, begitu juga dengan tahun 1600, tapi 1700, 1800 dan 1900 bukanlah kabisat. Hal itu menimbulkan definisi baru tentang Tahun Kabisat, yakni tahun yang habis dibagi 400.
 Fakta – Fakta Yang tak kalah menariknya :
·    Di era modern, Tahun Kabisat membawa ‘kesialan’ bagi para pekerja kantoran. Pasalnya, banyak kantor yang mengeluarkan gaji bulanan berdasarkan hitungan 28 hari, berarti di tanggal 29 Februari, banyak pekerja yang akan bekerja secara gratis. Mereka yang lahir pada tanggal 29 Februari disebut ‘leapling’ atau ‘leaper’. Peluang seseorang lahir pada 29 Februari adalah 1:1461. Setidaknya, ada 5 juta leapling di seluruh dunia.Keluarga pemegang kelahiran leapling terbanyak di dunia adalah keluarga Keogh dari Inggris dan Irlandia. Selama tiga generasi, keluarga tersebut selalu memiliki keturunan yang lahir pada 29 Februari. Dimulai dari sang kakek, Peter Anthony Keogh, kemudian putranya, Peter Eric dan cucunya, Bethany Wealth. Lain cerita dengan di Denmark. Jika pria menolak lamaran wanita pada tanggal 29 Februari, maka dia harus memberi wanita itu 12 pasang sarung tangan. Sementara di Finlandia, pria harus memberi wanita kain untuk membuat baju. Di Yunani, pasangan justru menolak menikah di Tahun Kabisat karena mereka percaya itu akan membawa nasib buruk. Kepercayaan itu juga dianut warga Italia. Ada peribahasa Italia yang menyebut, “Anno bisesto, anno funesto” yang berarti Tahun Kabisat, tahun sial.

Sumber : cnnindonesia.com / http://pojoksatu.id / Wikipedia.com

Feb 17, 2016

GERHANA MATAHARI DAN MOMENTUM PARIWISATA MALUKU UTARA*

Menakjubkan! Fenomena alam langka akan menghiasi langit Maluku Utara pada tanggal 9 Maret 2016 saat beberapa jam setelah  merekahnya sang mentari di ufuk timur. Semoga tanggal 9 nanti cuaca langit Maluku Utara sesuai dengan prediksi BMKG dan kajian klimatologis akan berada di titik rendahnya curah hujan serta tingkat berawan pada level minimum sehingga Gerhana Matahari Total dapat disaksikan dengan jelas tanpa terhalangi oleh cuaca yang kurang bersahabat. Pengalaman hidup ini akan sangat berkesan bagi siapa saja yang sempat menyaksikannya. Bagaimana tidak, cerahnya pagi hari dengan kelembaban suhu serta intensitas cuaca yang perlahan merangkak naik secara alamiah,  mendadak berbalik arah  seolah menjemput petang dengan tiba-tiba. Totalitas Gerhana Matahari akan melintasi beberapa Kota di Bumi Maluku Utara selain di sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan  dan Sulawesi Tengah pada Khususnya. Hal yang sama yang terekam dalam serpihan ingatan saya ketika  terjadi pada tanggal 11 Juni 1983 pada saat itu hanya menyisakan hal-hal yang bernuansa klenik atau mistik bahkan mitos ketimbang peristiwa sains dan wisata edukatif mengenai Astronomi yang menggugah rasa keingin tahuan kita.  Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 ini menjadi momen istimewa untuk kita orang Maluku Utara sebab lintasan GMT tersebut melingkupi dihampir seluruh daratan wilayah kita dan dianggap sebagai titik terbaik dan terpanjang/terlama untuk wilayah Indonesia yang puncaknya berlangsung diatas langit Kota Maba Halmahera Timur dengan durasi 3 menit 20 detik.
Gerhana Matahari Dalam Lintasan Sejarah.
Epik mengenai ramalan Gerhana Matahari ternyata telah berlangsung sejak lama dari peradaban  kuno Babylonia,  Mesir, Cina hingga India kuno sekitar 4000 tahun yang lalu. Hampir semua kesamaan asal muasal terjadinya Gerhana dikaitkan dengan mitologi Naga raksasa yang menelan matahari. Dalam tradisi Cina disaat terjadinya gerhana orang-orang dianjurkan untuk membuat bunyi yang gaduh, mereka memukul apa saja agar sang naga memuntahkan kembali Matahari. Terkait dengan Gerhana juga Tidak sedikit para peramal kerajaan dibunuh oleh karena ramalan atau prediksi mereka ternyata meleset. Di Dunia Barat ketika Thales Seorang Filsuf Yunani Kuno meramalkan Gerhana Matahari yang terjadi di Turki pada tanggal 28 Mei 585 SM adalah Gerhana Matahari yang diklaim pertama kali tepat sesuai dengan tanggal dan tempatnya. Pada Gerhana itu juga yang dapat menghentikan Perang besar secara mendadak antara orang orang Medes dan Lydian (Bangsa Persia/ Sekitar Asia tengah) mereka meyakini Para Dewa murka atas perang yang telah terjadi, hingga cahaya siang digantikan dengan malam. Pengetahuan Thales mengenai Ilmu Astronomi diyakini didapat dari para Tabib Mesir Kuno yang memang sudah lihai dalam penghitungan dan Ilmu perbintangan. Lintasan sejarah Gerhana Matahari dalam sejarah Islam juga sempat dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tanggal 30 Januari 632 M (menjelang awal Dzulqaidah 10 H) saat itu pada pagi hari diatas Langit Madinah telah terjadi Gerhana matahari cincin dan bertepatan dengan meninggalnya putra sang Baginda Rasulullah SAW, Ibrahim Bin Muhammad. Para pengikut nabi saat itu mengira bahwa Allah pun berduka atas kematian Putra Nabi. Mengutip tulisan T. Djamaluddin, Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, ada empat gerhana terjadi sebelum Nabi hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah. Hadits riwayat Ahmad dan Nasai ini menyatakan perintah Nabi, "Bila kamu melihat gerhana maka shalatlah sebagaimana shalat wajib yang biasa kamu kerjakan." Setelah Shalat Gerhana yang terjadi kira-kira pukul 9 pagi di Madinah itu, kemudian Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti dan tanda kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang.

Saatnya Menebar Pesona Wisata Malut
Fam Trip (Familliarisation Trip) atau perjalanan wisata untuk mengenal lebih dekat destinasi wisata telah dilakukan oleh para Ilmuwan, peneliti maupun penggemar Astronomi dan para fotografer pemburu Gerhana Matahari jauh-jauh hari  di Maluku Utara. Mereka terlebih dahulu menentukan spot terbaik untuk mengamati dan meneliti proses sebelum dan sesudah terjadi Gerhana Matahari. Semisal klub pencinta  astromi Langitselatan.com telah mempublikasikan tulisan mereka mengenai hasil fam trip dengan titik-titik terbaik untuk mengamati gerhana matahari, diantaranya Ternate, Tidore, Sofifi, Moti, Jailolo hingga ke Maba. Diharapkan dengan langkah awal ini stake holder dalam hal ini kementrian Pariwisata Kota maupun Propinsi akan lebih menindak lanjuti “momentum Istimewa GMT 2016” ini setelah pada kesempatan pertama saat fam trip dilakukan. Menyimak pemberitaan selama setahun menjelang terjadinya GMT, Propinsi Maluku Utara lah yang terkesan lamban dalam mengapresiasikan dan mempersiapkan kejadian langka ini. Padahal dengan momentum GMT 2016 ini potensi dunia pariwisata malut lebih diharapkan untuk “menyita”  pandangan dunia mengenai Pariwisata Maluku Utara. Penyedia jasa Tour dan Travel yang dipromosikan oleh agen Pariwisata dunia, telah jauh-jauh hari menjual agen tiket wisata untuk “Astronomic Tour to Spice Island”. Sementara ikon Ternate dan Maluku bukanlah hal baru dalam kancah internasioanl sehingga potensi wisata dari Wisata Alam, (Cengkih Tertua, situs sejarah Peninggalan Benteng-benteng, sisa–sisa letusan gunung berapi gamalama), atau wisata Bahari dengan Pemandangan bawah laut yang mempesona beserta Pantai-pantainya di Sepanjang Halmahera. Bisa juga Wisata Sejarah Perang Pasifik di Morotai termasuk Wisata Kuliner dengan khas rempah-rempahnya yang menggoyang lidah sebenarnya akan sangat melengkapi “paket wisata Gerhana matahari” untuk momentum istimewa bagi daerah kita kali ini. Melihat booklet Panitia Nasional GMT 2016 yang telah dibentuk sejak april 2015, ada gala dinner dalam daftar yang diagendakan untuk Para “Pemburu” GMT 2016. Termasuk kirab budaya dan Pesta Rakyat Ternate (Legu Gam) yang didahulukan bersamaan dengan GMT 2016 ini. Mudah-mudahan rilisan Malut Post mengenai pengamanan dan kenyamanan Kota oleh aparat akan tetap sigap hingga pada saat peristiwa berlangsung dan selesai berjalan dengan baik. Sebab dalam ivent kali ini tidak sedikit ilmuwan dari Nasa, Lapan dan Perkumpulan Astronomi Dunia maupun Nasional akan berkumpul di Maluku Utara. Termasuk  Mengangankan Pemprov atau pemkot untuk melakukan kerja sama dengan salah satu media elektronik untuk melakukan live streaming saat berlangsungnya Gerhana Matahari Total. Dengan begitu menyitir sentilan orang-orang bahwa yang dijual dari potensi wisata Ternate dan Maluku Utara, tidak hanya nasi jaha dan aer guraka semata. Mari Datang Ke Ternate....

Syahyunan Pora
Akademisi Universitas Khairun Ternate
*Tulisan ini Pernah dimuat di Harian Malut Post-Ternate

MENUJU MALUKU UTARA

Author: Avivah Yamani
Source: Langitselatan

Cerita ini berawal dari ide untuk melakukan survei lokasi pengamatan Gerhana Matahari Total yang akan terjadi 9 Maret 2016, dimana Indonesia adalah satu-satunya daratan yang dilintasi totalitas gerhana! Daratan satu lagi adalah sebuah atol di Mikronesia yang tidak berpenghuni. Fenomena langit yang satu inilah yang mempertemukan langitselatan yang sehari-harinya berurusan dengan astronomi dan Kementrian Pariwisata Indonesia lewat kegiatan Familiarization trip. Jadi, inilah kesempatan emas untuk berburu gerhana di negeri sendiri. Apalagi kalau uangnya pas-pasan dan tidak bisa berburu gerhana setiap tahun. Tentunya kesempatan langka menikmati totalitas di negeri sendiri tak boleh dilewatkan. Maka analisa lokasi pun dilakukan dan pilihan awal jatuh di Ternate karena area Maluku Utara ini diperkirakan memiliki tutupan awan yang lebih rendah dan memiliki cuaca yang lebih cerah di periode bulan Maret.  lokasi yang menjadi incaran kami adalah Maba, ibukota di Halmahera Timur yang dilewati oleh garis tengah gerhana matahari total 2016 sekaligus kota paling timur yang bisa menyaksikan totalitas. Apalagi area timur Maba berhadapan langsung dengan lautan pasifik sehingga tidak ada apapun yang menjadi penghalang di horison untuk melihat Matahari terbit. Untuk Famtrip ini, kami mengunjungi beberapa kota yakni Ternate, Tidore, Sofifi, Maba, Buli, Kao dan Jailolo. Rancangan perjalanan selama 5 hari singkatnya sebagai berikut: Jakarta – Ternate – Sofifi – Maba – Buli – Sofifi – Kao – Jailolo – Ternate – Tidore – Ternate – Jakarta. Keren kan? Atau sedikit gila? Yang pasti perjalanan tersebut berhasil kami selesaikan dalam 5 hari. Dan total waktu yang kami habiskan di jalan lebih dari 20 jam untuk melintasi Malukku Utara lewat jalan darat dan laut. Jadi ceritanya kami melakukan perjalanan lintas kabupaten, bertualang menyusuri jalanan Halmahera. Pastinya kami mengunjungi Halmahera Timur, Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan menjelajah Ternate dan Tidore.Tujuan kami memang untuk mencari lokasi pengamatan di setiap kota. Tapi, tidak hanya itu. Untuk GMT 2016, setiap kota yang dilewati jalur totalitas akan kedatangan turis. Artinya setiap kota harus siap dan mempersiapkan diri. Karena itu kami juga bertemu dengan pemerintah lokal untuk melakukan kolaborasi. Perjalanan survei yang didukung oleh Kementrian Pariwisata dalam bentuk Famtrip dimulai tanggal 4 April 2015 dari titik temu di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten untuk kemudian terbang bersamaGaruda Indonesia menuju Ternate selama 3 jam 40 menit. Tiba di Ternate atau tepatnya di Bandara Sultan Babullah, kami disambut oleh Pak Azis yang langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Sekda Maluku Utara, Bapak Abdullah Masjid Husain dan Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara, Bapak Samin Marsaoly.Dalam pertemuan ini kami melakukan sosialisasi gerhana yang ternyata sudah disadari juga oleh Pemda Malut melalui tingginya pemesanan hotel di daerah mereka. Dari sinilah pembicaraan terkait bagaimana melakukan kolaborasi untuk sosialisasi ke masyarakat dan bagaimana mempersiapkan daerah dimulai. Rencana ini disambut baik oleh Bapak Masjid Husain dan bahkan menurut Bapak Samin Marsaoly, pemerintah daerah Maluku Utara akan mengadakan festival budaya termasuk salah satunya festival batu bacan. Batu Bacan merupakan batu hidup yang berproses menjadi lebih indah dan dijadikan perhiasan. Batu Bacan bukan pemain baru dalam kancah perbatuan. Karena jauh sebelum demam batu akik di negeri ini, masyarakat Maluku sudah kenal dengan batu yang satu ini. Pertemuan dengan aparat daerah berlangsung singkat tapi menyenangkan, apalagi disediakan juga sarapan pagi nasi kuning di ruang tunggu eksekutif Bandara Sultan Babullah. Setelah berdiskusi dan sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke ibukota propinsi Maluku Utara, Sofifi, dengan menggunakan speedboat!

Jan 27, 2016

KARAKTER DAN FALSAFAH POLITIK LOKAL “KITA”

Apa yang menjadi ciri khas paling dominan bagi orang-orang Maluku Utara dalam  dunia Politik?, sebagai tesa saya berasumsi  bahwa “Kekuasaan” atau Tahta-lah yang lebih dominan ketimbang Harta, sementara “Wanita” adalah salah satu keping mata uang logam dari sisi yang berbeda. Tidak bermaksud mendiskreditkan hal-hal yang berhubungan dengan Gender tetapi sekadar mencoba  mengkonsepsikan betapa pentingnya kekuasaan bagi kita. Menoleh pada sejarah masa lalu dalam struktur pemerintahan Kerajaan  Ternate, sekiranya telah memberikan gambaran kepada kita bahwa  karakter  dan tipikal politis orang-orang maluku utara telah terbentuk dan dikondisikan oleh kekuasaan dan wewenang yang dimiliki dalam setiap klan/marga/soa/ atau kampung. Bahkan suku pendatang dan orang berbeda keyakinan pun mendapat apresiasi  dalam struktur pemerintahan kerajaan. Ditengarai bahwa organisasi Soa tersebut sangan erat dengan korelasi Sosio-Politik Kesultanan. Typikal sosio-politik itu juga terdapat di kesultanan Tidore (Leirissa,1996).
Siapa Kita?
Kata “Kita” dengan tanda kutip pada judul diatas, anggaplah representasi pada maksud “Kita”  sebagai Orang Ternate atau orang Maluku Utara. Meskipun akan tidak mudah  mewakilkan kata “Kita” tersebut sebagai maksud yang sebenar-benarnya tertuju pada karakter, identitas, atau perilaku politik  orang-orang Ternate atau Orang Maluku Utara pada umumnya. Barangkali sama sulitnya mengidentifikasi perilaku dan karakter politik suku-suku lain di Indonesia. Kita yang kerap diidentifikasi  secara geografis dengan ungkapan “Orang-orang Timur” yang mana konsepsi ini hanya  merujuk pada tempat tinggal orang-orang yang dibagi sesuai Zona Wilayah Waktu Indonesia. 

Lalu siapakah Orang-orang Timur itu?. Bisa jadi ungkapan tersebut sebagai sebuah Sterotype (baca: stereotip)  zaman kolonial dulu dengan politik Devide et Impera-nya atau Politik adu domba Belanda. Atau jangan-jangan justru stereotype itu muncul di era  kemerdekaan sebagai akibat dari  tidak meratanya pembangunan hingga memunculkan sebutan  Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Ketimpangan pembangunan ini tidak hanya berimbas secara Geografis, ekonomi dan budaya tetapi juga secara Geo-politis seiring dengan karakter politik  masyarakat yang sangat majemuk. Setelah 70 tahun kemerdekaan Indonesia stereotip suku dan agama masih mewarnai kehidupan sosial kita hingga menciptakan karakter dan perilaku politis  yang kuat ditengah masyarakat. Sejarah Maluku/Utara  yang memang pada dasarnya sudah sarat dengan kepentingan politik, rasanya terlalu dini untuk mengklaim bahwa sindrom kekuasaan yang berdimensi kerajaan  juga turut berperan  dalam  melahirkan karakter politik dan stereotype suku-suku yang ada di Maluku Utara. Termasuk romantisme pertikaian antara Ternate-Tidore, dan  suku-suku lainnya yang juga mempunyai andil besar dalam pembentukan karkater  politik Masyarakat kita. Kini aroma itu semakin kuat menyengat ketika setiap kali tiba masa-masa  perhelatan Pemilihan Kepala Daerah.
 Stereotypes (Stereotip) Suku
Istilah Stereotip dari kata  Yunani  στερεός (stereo), "tegas, padat" dan τύπος (typos), "kesan,". Sederhananya stereotip  berarti "kesan yang kuat". Wartawan Amerika Walter Lippmann dalam karyanya Public Opinion memperkenalkan  Istilah "stereotype" dalam pengertian psikologi modern (Melton,1993). Istilah ini kemudian diartikan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai sebuah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yg subjektif dan tidak tepat. Plus-minus istilah stereotype pada perkembangan selanjutnya  merembet pada ranah politik hingga tanpa disadari dijadikan sebagai  jalan pintas untuk mendiskreditkan atau mencitrakan hal-hal yang sederhana menjadi kompleks begitupun sebaliknya. Kekuasaan atau Penguasa dalam kancah perpolitikan  Maluku Utara pun cenderung terarah pada hal-hal yang terpersonifikasi secara pribadi  beserta asal-usul  suku yang bermain didalamnya. “Ngana orang mana” (sebagai representasi suku) atau “Ngana sapa” (representasi figur/tokoh) adalah  isu-isu strategis untuk saling menjegal dan mendukung tanpa ada penyelidikan secara detil mengenai rekam jejak seseorang secara objektif. Potret enam Desa dengan isu teritori di Halut-Halbar yang belum sepenuhnya tuntas. Wacana “keistimewaan” antara Maluku Utara atau Moloku Kie raha pun sangatlah berdimensi politis ketimbang  sosio-ekonomis. Sementara di sisi lain  aset  kita untuk memajukan daerah agar lebih berkeadaban justru terletak pada pluralisme masyarakat sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal dan kamejemukan yang terimplementasi dalam struktur pemerintahan kerajaan dahulu. Membaca Malut Post mengenai tensi pilwako yang mulai panas di Ternate (30/9/15) sehingga berimbas pada pengrusakan alat peraga dua paslon yang disinyalir oleh orang tak dikenal. Termasuk beberapa spanduk yang dirusaki Orang Tak di Kenal (OTK)  di Maba yang juga dirilis oleh harian yang sama (2/10/15) semoga bukan menggambarkan karakter politik orang Maluku Utara yang sesungguhnya. Namun orang “kita” (terminologi arti saya atau aku dalam bahasa/pasar melayu kita sehari-hari) sehingga bisa diklaim sebagai “oknum” yang memang belum dewasa dalam berpolitik dan tidak siap untuk kalah. Sebab jika tidak keliru mayoritas orang kita juga dapat bersikap fair atau bisa menerima kekalahan terutama dalam konteks olah raga semisal sepak bola. Teringat beberapa tahun lalu Ketika Persiter masih berkiprah di pentas nasional, saat laga kandang berlangsung dan selaku tuan rumah tidak menampilkan permainan yang semestinya. Maka percayalah pendukung tuan rumah pun akan berbalik mendukung tim tamu. Semoga analogi karakter politik diatas tidak keliru dengan sepak bola, sebab dalam sepak bola pun sarat dengan trik dan intrik politik, yang membedakannya adalah tempat laga. Satu di panggung politik dan yang lainnya di lapangan hijau. Semoga kedepan kita lebih dewasa dan santun dalam berpolitik. Marimoi Ngone Futuru...


Oct 31, 2015

BULAN BAHASA DAN IDENTITAS BANGSA*

Momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang selalu diperingati setiap tahun juga identik dengan Bulan Bahasa. Lebih terasa istimewa lagi, sebab pada butir ketiga dalam teks Sumpah Pemuda, Bahasa yang dijunjung sebagai Bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Pekik merdeka menjadi slogan heroik di berbagai daerah dengan satu tujuan mengangkat harga diri Bangsa  sebagai bangsa yang bermartabat dimata dunia. Kaum muda kala itu hanya ingin terbebas dari belenggu penjajahan, ingin berdaulat, serta ingin menyatukan rasa nasionalisme agar dapat berdikari dan menjadi bangsa yang mandiri. Dalam catatan sejarah Sumpah Pemuda, Jong Ambonlah yang terepresentasi sebagai “delegasi” Pemuda dari Maluku dengan Dokter J. Leimena sebagai pembantu IV dalam Kongres ke II tahun 1928. Padahal dalam rentang waktu antara 1607 hingga 1942 (Amal, 2010:342) kesadaran perlawanan terhadap penjajah telah dikobarkan oleh Rakyat Maluku Utara sekitar 3 abad lebih lamanya dengan berbagai epik sejarah pemberontakan, pengkhianatan hingga persekutuan, termasuk ekspansi hingga ke kolonialisasi yang melibatkan Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga Jepang, dengan melibatkan dua kerajaan besar yaitu Ternate dan Tidore. Meski kedua Kerajaan tersebut menempuh jalan yang berliku namun memiliki tujuan dan  semangatnya yang sama yaitu ingin lepas dari belenggu penjajah. Kesadaran pergerakan dalam organisasi maupun syarikat kaum muda Maluku Utara sekitar tahun 1919 hingga 1920-an juga telah teretas pada waktu yang tidak jauh berselang seiring momentum sumpah pemuda. Diantara tokoh pemuda sebagai pelaku sejarah dalam Kongres ke II tahun 1928 yang cukup familiar dan mewakili Jong Celebes adalah Arnold Mononutu, sebuah nama yang kemudian diabadikan sebagai nama Jalan di Kota Ternate. Tentu tidak mengabaikan peran tokoh pergerakan kaum muda  lainnya seperti Hasan Esa, Chasan Busoiri dan lainnya yang belum banyak dikenal dan belum mendapat apresiasi serupa oleh Pemerintah daerah kita nantinya.

Bahasa Dan Revolusi Mental Yang Paradoks
Seiring pesatnya kemajuan zaman dan laju perkembangan Tekhnologi,  momentum peringatan Bulan bahasa menjadi sasaran untuk merevitalisasi kembali kedudukan Bahasa Indonesia ditengah maraknya kosa kata asing yang berseliweran ditengah kehidupan kita sehari-hari. Ancaman tergerusnya Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. Merebaknya bahasa Sosialita dalam jejaring media sosial, istilah-istilah “alay” dalam kamus gaul remaja masa kini juga terus meningkat seiring meningkatnya arus informasi melalui Tekhnologi yang berbasis pada Smart Phone ataupun Gadget. Para pakar Bahasa pun turut bekerja keras untuk mentransformasikan kosa kata dan “Bahasa” tekhnologi kedalam istilah kosa kata Indonesia semisal unggah (upload), unduh (download), pindai (Scan), seret dan tempel (Drag and Paste) serta Surat Elektronik (email) yang mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Kecintaan kita terhadap Bahasa Indonesia mestinya didukung oleh pemangku kepentingan. Namun berbalik arah dengan keputusan Presiden Jokowi dengan meniadakan tes Bahasa Indonesia bagi pekerja asing dengan alasan untuk meningkatkan investasi (Kompas.com/21/8/15). Terasa mencederai rasa kebangsaan kita. Seolah Bahasa Indonesia  menjadi penghalang, jika para pekerja asing yang ingin bekerja di Indonesia akhirnya batal hanya karena tidak mampu atau gagal tes dalam menguasai Bahasa Indonesia. Keputusan tersebut  dapat dikatakan mengkerdilkan posisi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara bahkan mengebiri nilai-nilai semangat nasionalisme dan merendahkan identitas kebangsaan kita. Pertanyaan kemudian revolusi mental seperti apa yang ingin diharapakan oleh Bapak Presiden, jika di “rumah” sendiri pun bahasa Indonesia terpinggirkan. Justru pada kutub yang berbeda  Presiden  Turki Recep Tayyib Erdogan disela sela lawatan beberapa waktu yang lalu di Jakarta menunjukan sikap nasionalismenya dengan menolak menggunakan bahasa Inggris, Erdogan menggunakan bahasa Turki saat memberikan kuliah umum di Lemhanas. Sejalan dengan kecintaan Bahasa sebagai Identitas Bangsa, mengutip pendapat Menristek Anies Baswedan, bahwa Pelajar Indonesia setidaknya mampu menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Daerah, Bahasa Nasional dan Bahasa International. Saya berasumsi bahwa dengan menguasai tiga bahasa diatas ada semangat  Ke-Bhineka-an yang ingin tetap di jaga melalui adat istiadat dan budaya. Sebab identitas kebangsaan tidak saja tercermin dari Bahasa nasional yang kita gunakan sebagai Bahasa resmi atau Bahasa formal namun juga terdapat pada Bahasa Daerah yang padanya melekat budaya dan tradisi yang kini terancam atau bahkan ada beberapa yang telah punah oleh karena semakin sedikit jumlah penutur yang menggunakannya termasuk di Maluku Utara. Teringat cerita dari seorang Mahasiswa dalam tugasnya sebagai kapasitas pemandu untuk tamu dari Pusat (analogi orang yang datang dari luar daerah) dalam kepentingan untuk melakukan pemetaan artefak Arkeologi-Sejarah di pedalaman Halmahera. Lantaran ingin menego biaya transportasi dengan sang sopir yang asli orang Halmahera, mereka Mahasiswa pemandu yang memang berlatar jurusan Sastra Inggris itu menggunakan Bahasa Inggris. Dengan maksud agar sang sopir tidak mengetahui arah pembicaraan yang akan mereka bahas. Komunikasi “rahasia” menggunakan bahasa Inggris pun mengalir  sembari disimak oleh sang supir dengan penuh khidmat sebab posisi mereka memang saling berdekatan. Sebelum putusan tawaran dari diskusi kecil tadi disampaikan oleh Mahasiswa Pemandu  kepada sang sopir, ternyata sang sopir lebih dulu menyela dengan kalimat “ suda’ ekh jang ngoni pake bahasa rahasia, Ngoni kira kita tra mangarti bahasa Inggris?”. Setidaknya ilustrasi penutup ini menggelikan sekaligus membanggakan bahwa apa yang disampaikan oleh Menristek diatas dengan menguasai tiga bahasa, diantaranya Bahasa Daerah, Nasional dan Internasional telah diimplementasi oleh sang Supir yang ternyata juga seorang alumni Mahasiswa Sastra Inggris. Semoga dengan memperingati Bulan Bahasa tahun ini, kita tidak selalu lupa dengan  identitas kebangsaan kita melalui Bahasa, Mari !....

*Oleh : Syahyunan Pora (Tulisan ini pernah dimuat di Harian Malut Post tgl 28/10/15)

Sep 30, 2015

DESCARTES DAN TUBUH VIRTUAL*

Tema ruang mempunyai makna tempat atau keluasan yang sifatnya geometris. Descartes, seorang filsuf asal Perancis, mempunyai pandangan yang menyatakan bahwa ruang menemukan bentuknya lewat pemahaman tentang tubuh. Tubuh yang dikenali dalam konteks keluasan (res ekstensa) menjadi variabel dari apa yang kita mengerti sebagai ruang material. Untuk itu dalam pemikirannya tak ada ruang dalam arti ruang hampa atau tak bermateri (Edward S. Casey, The Fate of Place, 1998,hal. 155). Ini tentu berbeda dengan ruang dalam konteks internet (cyber) yang tak bermateri atau hampa udara, keluasan atau ekstensi kemudian dimaknai secara berbeda. Ruang cyber atau virtual dibentuk oleh hyperteks.
Seperti kita pahami hyperteks adalah material (teks) yang mengontruksikan halaman web, di dalamnya terdapat keluasan dalam bentuk program, dokumen, suara, grafik, video. Keluasan dalam ruang ini membentuk sebuah dunia. Dunia yang mempunyai forma jaringan dan karena itulah ia mempunyai ciri intertekstual. Intertekstualitas dalam konteks ini dipahami karena adanya relasi universal antara satu ruang dengan ruang lainnya. Seperti halnya ruang cyber, ruang Cartesian mengenal juga intertekstualitas. Intertekstualitas dalam ruang Cartesian ini dipahami lewat defrensiasi tubuh. Kesatuan ruang geometri Cartesian lebih jauh dapat dijelaskan lewat konsep tentang tempat. Edward S. Casey dalam bukunya tentang filsafat ruang membagi ruang geometri Cartesian dalam dua mode tempat, yaitu tempat eksternal dan tempat internal (The Fate of Place, 1998, Hal. 157).
Tempat internal dijelaskan sebagai tubuh material dalam arti volume atau keluasan, sedangkan tempat eksternal dimengerti sebagai relasi situasional antara tubuh-tubuh, seperti contoh perahu di sungai adalah relasi antara tubuh kayu dan tubuh air. Bila kita kaitkan dengan pemikiran Descartes, relasi antar tubuh itulah hyperteks yang bersifat intertekstual. Karena dalam ruang Cartesian realitas material dijelaskan sebagai sesuatu yang berekstensi, dengan kata lain ia terhubung satu sama lain seperti halnya hyperteks dalam ruang virtual. Descartes menjelaskan dalam Meditation on the First Philosophy bahwa pikiran mengenal tubuh lain atau alam sekitar dalam konteks keluasan. Artinya pikiran mengenal secara inderawi realitas material yang tak berjarak. Panas api yang kita rasakan adalah contoh bagaimana pikiran mengenali tubuh lain dalam arti keluasan atau contoh lain semakin jauh sebuah benda semakin tak kelihatan, dan sebaliknya semakin dekat ia maka ia akan terlihat jelas. Tubuh material dalam arti hyperteks terkait dengan data inderawi yang hadir dalam pikiran seperti warna, kepadatan, bentuk dan kualitas material lainnya. Namun kehadirannya tak bermakna sebelum titik pijak rasio manusia yang menyatakan eksistensi dimengerti. Kita ketahui bagaimana Descartes menjelaskan titik pijak rasio lewat metode keraguan. Sebelum realitas hadir secara hakiki, manusia menurut Descartes mesti meragukan (menghapus) keberadaannya, setelah itu barulah ia sampai pada titik ketika ia tak bisa meragukan ‘aku’ yang meragukan. Aku atau subjek yang berpikir (thinking thing) dan memilah-milah realitas inilah yang kemudian memahami keluasan material secara intertekstual. Menurut Descartes pikiran hanya mengenal pikiran, karena tak ada realitas tanpa pikiran. Keotentikan realitas dipahami setelah ‘aku’ sebagai sesuatu yang dapat berpikir hadir. Dalam Meditation on the First Philosophy Descartes mengatakan “it remains for me to examine whether material things exist.” Perkataan yang mengantarkan kita pada gagasan bahwa tubuh atau entitas material adalah sesuatu yang dalam arti tertentu palsu. Pikiran memang secara alamiah memahami keberadaan realitas material. Namun pikiran yang menerima data inderawi lewat apa yang Descartes sebut sebagai glandula pinealis melihat realitas sebagai sesuatu yang imajinatif. Permasalahan representasionalitas (benda-benda yang hadir dalam pikiran) adalah contoh bagaimana imajinasi sebagai fakultas pikiran dapat dimengerti.
Descartes misalnya membandingkan realitas material dengan realitas yang hadir dalam mimpi. Menurutnya keduanya mempunyai ciri yang tak jauh berbeda. Lalu bagaimana dengan realitas dalam cyberspace? Cyberspace dibangun oleh pikiran lewat hyperteks. Dalam ruang ini tubuh menjelma secara representasional. Imej, simbol dan teks adalah representasi realitas yang hadir dalam ruang ini. Ruang di sini terfragmentasi dan realitas sekaligus membeku, bergerak, dan berganti dengan cepat. Dunia yang hadir dalam halaman demi halaman merupakan bentuk fragmentasi dalam cyberspace. Dengan fragmentasi juga diandaikan tidak berlakunya konsep jarak. Jarak digantikan oleh interaksi hyperlink yang dapat dikatakan melampaui jarak. Fragmentasi dalam cyberspace merupakan keniscayaan. Realitas dalam cyberspace hadir terbatas hanya secara audio-visual. Dalam ruang ini tak ada pengalaman tentang berat-ringan, jauh-dekat, atas atau bawah. Kualitas tubuh Cartesian hanya menjelma dalam simbol-simbol yang dikonstruksikan oleh hyperteks. Dalam ruang cyber, tubuh menjelma secara virtual. Animasi adalah salah satu contoh tubuh virtual yang menjelma secara representasional. Kita ketahui bahwa animasi identik dengan gerak.Tentu saja tak ada jiwa dalam arti Cartesian dalam tubuh animasi ini, karena itu tak ada kehendak bebas. Dalam konteks cyberspace, gerak tubuh animasi dibatasi oleh sebuah program. Program dan prosedur membatasi gerak (dalam arti kehendak) tubuh virtual. Dengan logika program, gerak hanya dimungkinkan oleh adanya sistem otomat yang dikondisikan dan biasanya diikuti oleh serangkaian sistem gerak. Kata animasi sebagai manifestasi dari gerak mungkin bisa dikatakan berasal dari pemikiran Plotinus seorang filsuf Neoplatonis pada abad pertengahan. Plotinus dalam karyanya yang berjudul The Six Enneads menjelaskan tentang animasi (the animate) sebagai organisme hidup. Setiap yang berjiwa adalah bergerak, seperti tumbuhan, hewan dan manusia. Animasi pada awalnya merupakan penjelasan tentang fenomena gerak kehidupan. Setiap gerak menurut Plotinus dikondisikan oleh kehadiran jiwa. Pemikiran yang tentunya sesuai dengan konsep jiwa yang mengontrol tubuh dalam nalar Cartesian. Namun fakta kadang membuat kita bertanya tentang benda tak berjiwa yang bergerak. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Plotinus melihat bahwa gerakan dihasilkan lewat pancaran dari setiap organisme yang berjiwa. Animasi dalam konteks virtualitas adalah bergerak tapi tak berjiwa. Gerakan dihasilkan lewat program berisi prosedur yang dalam arti tertentu bisa disebut sebagai keluasan dalam nalar Cartesian yang dihasilkan oleh pikiran. *(Budi Hartanto)

Jul 31, 2015

EPISTEMOLOGI FEMINISME SIMONE DE BEAUVOIR


Simone de Beauvoir adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20, ia juga pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Beauvoir yang lahir di Paris, 9 Januari 1908, memperoleh gelar dalam bidang filsafat dari Universitas Sorbonne di Perancis, ia lulus tahun 1929. Kemudian ia mengajar di sekolah menengah di Marseille dan Rouen mulai 1931 hingga 1937, dan di Paris tahun 1938-1943. Setelah Perang Dunia, ia muncul sebagai pejuang pergerakan eksistensialisme, bersama Jean-Paul Sartre dengan karya Les Temp Modernes. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949. Buku tahun 1949 karya eksistensialis Simone de Beauvoir yang berjudul The Second Sex (bahasa Perancis:Le Deuxième Sexe) adalah salah satu karya Beauvoir yang paling terkenal, mengisahkan mengenai perlakuan terhadap wanita sepanjang sejarah dan sering dianggap sebagai karya utama dalam bidang filsafat feminis yang menandai dimulainya feminisme gelombang kedua. Beauvoir meneliti dan menulis buku ini dalam waktu 14 bulan saat ia berusia 38 tahun. Ia menerbitkan buku ini dalam dua volume, dan beberapa bab pertama kali ditampilkan dalam Les Temps modernes. Meski buku ini terkenal, Vatikan menempatkan buku ini di Daftar Buku Terlarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Simone_de_Beauvoir- diakses 15/12/2014.
Gambar : artofericwayne.com
Bertolak dari sebuah pernyataan terkenal dalam buku Simone de Beauvoir, The Second Sex: “One is not born a woman”–yang menunjukkan perjuangan diri perempuan dalam eksistensinya.  Di sampaikan dalam makalahanya tentang teori Beauvoir yaitu perempuan sebagai “Other”. “Kesadaran akan situasi sebagai perempuan berbeda dengan laki-laki membuat Beauvoir skepts dengan Sartre tentang filsafat manusia yang mendifiniskan manusia sebagai Subyek. Karena situasi perempuan tersebut yang didefinisikan oleh budaya dan masyarakat (dan bukan oleh dirinya sebagai Subyek itu sendiri), membuat relasi laki-laki terhadap perempuan sebagai yang “diluar” dirinya, sebagai seks semata (bukan manusia). Sebab, perempuan di definisikan dengan referensi kepada laki-laki dan bukan referensi kepada dirinya sendiri dengan demikian perempuan adalah insidentil. Semata, tidak esensial, laki-laki adalah Subyek dan ia Absolut—sedangkan perempuan adalah “Other” atau yang lain. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (The Second Sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain yang absolut. Feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002: 158). Feminisme berjuang untuk mendapatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Seorang feminis adalah seseorang yang mengenali dirinya sendiri, dan dikenali orang lain, sebagai seorang feminis, (menurut Humm 2002: 156). Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa teori feminis eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir , “Feminist eksistensialis: man define what it means to be human, including what it means to be female”, (Charles E. Bressler, 2007: 173). Teori eksistensialis adalah teori yang memandang suatu hal dari sudut keberadaan manusia, teori yang mengaji cara manusia berada di dunia dengan kesadarannya. Jadi, teori feminisme eksistensialis merupakan kajian yang melihat adanya ketimpangan pengakuan terhadap perempuan. Keberadaan perempuan adalah objek bagi laki-laki. Perempuan hanya dianggap sebagai “second sex” maka tidak bisa mendapat kesamaaan hak seperti halnya laki-laki.