EPISTEMOLOGI FEMINISME SIMONE DE BEAUVOIR

Jul 31, 2015

Simone de Beauvoir adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20, ia juga pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Beauvoir yang lahir di Paris, 9 Januari 1908, memperoleh gelar dalam bidang filsafat dari Universitas Sorbonne di Perancis, ia lulus tahun 1929. Kemudian ia mengajar di sekolah menengah di Marseille dan Rouen mulai 1931 hingga 1937, dan di Paris tahun 1938-1943. Setelah Perang Dunia, ia muncul sebagai pejuang pergerakan eksistensialisme, bersama Jean-Paul Sartre dengan karya Les Temp Modernes. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949. Buku tahun 1949 karya eksistensialis Simone de Beauvoir yang berjudul The Second Sex (bahasa Perancis:Le Deuxième Sexe) adalah salah satu karya Beauvoir yang paling terkenal, mengisahkan mengenai perlakuan terhadap wanita sepanjang sejarah dan sering dianggap sebagai karya utama dalam bidang filsafat feminis yang menandai dimulainya feminisme gelombang kedua. Beauvoir meneliti dan menulis buku ini dalam waktu 14 bulan saat ia berusia 38 tahun. Ia menerbitkan buku ini dalam dua volume, dan beberapa bab pertama kali ditampilkan dalam Les Temps modernes. Meski buku ini terkenal, Vatikan menempatkan buku ini di Daftar Buku Terlarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Simone_de_Beauvoir- diakses 15/12/2014. Bertolak dari sebuah pernyataan terkenal dalam buku Simone de Beauvoir, The Second Sex: “One is not born a woman”–yang menunjukkan perjuangan diri perempuan dalam eksistensinya.  Di sampaikan dalam makalahanya tentang teori Beauvoir yaitu perempuan sebagai “Other”. “Kesadaran akan situasi sebagai perempuan berbeda dengan laki-laki membuat Beauvoir skepts dengan Sartre tentang filsafat manusia yang mendifiniskan manusia sebagai Subyek. Karena situasi perempuan tersebut yang didefinisikan oleh budaya dan masyarakat (dan bukan oleh dirinya sebagai Subyek itu sendiri), membuat relasi laki-laki terhadap perempuan sebagai yang “diluar” dirinya, sebagai seks semata (bukan manusia). Sebab, perempuan di definisikan dengan referensi kepada laki-laki dan bukan referensi kepada dirinya sendiri dengan demikian perempuan adalah insidentil. Semata, tidak esensial, laki-laki adalah Subyek dan ia Absolut—sedangkan perempuan adalah “Other” atau yang lain. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (The Second Sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain yang absolut. Feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002: 158). Feminisme berjuang untuk mendapatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Seorang feminis adalah seseorang yang mengenali dirinya sendiri, dan dikenali orang lain, sebagai seorang feminis, (menurut Humm 2002: 156). Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa teori feminis eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir , “Feminist eksistensialis: man define what it means to be human, including what it means to be female”, (Charles E. Bressler, 2007: 173). Teori eksistensialis adalah teori yang memandang suatu hal dari sudut keberadaan manusia, teori yang mengaji cara manusia berada di dunia dengan kesadarannya. Jadi, teori feminisme eksistensialis merupakan kajian yang melihat adanya ketimpangan pengakuan terhadap perempuan. Keberadaan perempuan adalah objek bagi laki-laki. Perempuan hanya dianggap sebagai “second sex” maka tidak bisa mendapat kesamaaan hak seperti halnya laki-laki.


Continue Reading...

SEPUTAR PEMIKIRAN FILSAFAT TEKHNOLOGI

May 31, 2015

(Kritikan Andrew Feenberg Terhadap Heidegger dan Albert Borgmann)

Filsafat Tekhnologi tergolong masih baru dalam dalam ranah filsafat kontemporer. Dimana wacana filsafat dan science kini mulai menjadi sebuah disiplin ilmu yang diminati 10 tahun belakangan ini. Seperti eksistensialisme menjadi trend bahkan diklaim oleh Sartre sebagai sebuah filsafat yang menjadi tren era 80-an , filsafat Tekhnologi kini menjadi trend seiring dengan perkembangan era tekhnologi dan digitalisasi yang menyentuh dihampir segala aspek kehidupan manusia. Beberapa filsuf yang cukup mempunyai pengaruh di ranah filsafat tekhnologi diantaranya adalah Heidegger , Don Ihde, Jaques Ellul, Andrew Feenberg hingga para filsuf tekhnologi kontemporer baru yang juga turut mewarnai khazanah pemikiran filsafat tekhnologi yang menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Seperti pada wacana kritikan Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Albert Borgmann yang terkenal dengan ungkapan “Focal Things” (atau yang hal hal yang memusatkan) dan Kierkegaard menyangkut dengan “Enframing” (pembingkaian). Heidegger pernah mengunggkap bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran . Bukan hanya itu saja Heidegger berpendapat tentang teknologi, yang mempunyai perbedaan antara teknologi moderen dan teknologi kuno. Yang pertama yaitu teknologi modren bukanlah seni tangan (Work Of Craftmanship), namun suatu penyingkapkan yang kemudian membedakan antara seni dan tekhnologi. adapun yang menbedakan teknologi modren dan teknologi kuno adalah teknologi tidak melibatkan suatu yang mengemukakan ke-hadapan dalam arti poiesis, yakni perbuatan sendiri seperti menulis puisi, sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat –sifat mencipta yang puitis. Dalam buku “The Question Concering Tochology” Heidegger tidak banyak membahas bagaimana menghadapi bahaya pandangan tersebut, akan tetapi dapat di simpulkan bahwa ada 2 hal, yang pertama pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyikapan kebenaran dapat membatasi pandangan bahwa dunia seluuhnya adalah persediaan semata – mata. Dalam kata Heidegger sendiri bahwa “relasi yang bebas dengan teknologi”. Yang kedua pengayaan penyikapan teknologi atau pandangan alternatif dari Get – stell dilakukan dengan menghidupkan kembali Techne sebgai seni yang dapat membendung pemakaman tentang dunia melulu sebagai persediaanya(standing reserve).
Sementara lebih menyoroti pada “focal things” atau hal-hal yang memusatkan. Borgman memberikan contoh yang menyangkut dengan tungku perapian modern yang memusatkan orang tidak pada urutan kerja yang membuat orang berusaha menghadirkan tungku perapian secara tradisional seperti mengumpulkan kayu bakar dan lain sebagainya. Termasuk alat microwave dan makanan siap saji yang secara efisien dapat dihadirkan secara cepat namun menurut kritikan dari Andrew Feenberg seorang Filsuf Canada membuat manusia dihadapkan pada keringnya arti humanisme. Hal yang samapun ia mengkritik Heidegger dengan efisiensi produk tekhnologi yang tidak selesai dipecahkan oleh Heidegger sendiri menyangkut dengan ketergantungannya pada tekhnologi. Pada Andrew Feenberg, objek kajian Borgman mengenai “paradigma perangkat” hanya dilihat dari sudut efisiensinya saja namun tidak melihat sejauh mana akibat apa yang ditimbulkan oleh “paradigma perangkat” tersebut. Misalnya makanan cepat saji yang dengan begitu cepat disediakan dan begitu instan sehingga meretas ruang dan waktu.
Orang kemudian hanya mempunyai sedikit waktu untuk bersosialisasi. Begitupun dengan pertimbangan kalori dari makanan cepat saji yang tersedia sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia pertimbangan akan nilai gizinya kadang terabaikan. Itulah sekiranya yang menjadi objek kritikan yang dilontarkan oleh Andrew Feenberg. (Syahyunan Pora)
Continue Reading...

TUBUH MANUSIA DAN EKSLUSIFISME EROPA

Apr 30, 2015

TUBUH manusia, dalam berbagai bentuknya memang cuma seonggok daging dan tulang. Tetapi tatkala tubuh itu telah berpadu dengan "ruh", eksistensi manusia sebagai individu serta merta terkait dengan berbagai hal. Sebagaimana ditunjukkan Michel Foucault (1926-1984), seorang pemikir dan filsuf Perancis kenamaan abad ini, tubuh tidak saja sekedar anatomi dari aringan sel-sel yang mengandung sejuta pesona dan kenikmatan (seks), melainkan pula dalam sejarah peradaban Eropa tubuh terkait dengan perkembangan teknik-teknik rekayasa tertentu yang tak lepas dari kekuasaan politik, ekonomi dan medis yang di kemudian hari telah membawa rasisme Eropa.Pemikiran Foucault tentang hal itu memang bisa ditilik dalam dua bukunya; The Disciplin and Punish dan The History of Sexuality Jilid I. Tetapi paparan Foucault tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa yang diresapi cahaya narasi klinik baru dalam kaitannya dengan sejarah penjara dan sejarah seksualitas dalam dua buku tersebut bisa dikatakan cukup berliku.
Adalah Seno Joko Suyono, yang kini menjadi wartawan di majalah Tempo, jika lewat buku ini kemudian mencoba mengkaji atas pemikiran Michel Foucault tentang proses pembentukan individualisasi kelas borjuis menengah Eropa dan menunjukkan kepada pembaca bahwa adanya diri individu Eropa seperti sekarang ini ternyata dilatarbelakangi gelegar kontrol politik kesehatan di Eropa yang terjadi pada akhir abad 18..Yang menarik dari cara Foucault dalam mengungkap inti pemikirannya, sebagaimana ditunjukkan oleh Seno dalam buku ini adalah metode yang dipilih Foucault dalam mendekati suatu persoalan. Dengan mengawinkan keironikan Baudelaire dengan metodologi Nietzsche (genealogi), Foucault menelusuri medan-medan sejarah yang dikuburkan oleh kekuasaan dan yang tak terjamah oleh ilmu-ilmu sosial kemanusiaan resmi dalam kerangka pendekatan sangital terhadap modernitas.Usaha Foucault itu jelas bukan untuk mengungkap peristiwa-peristiwa apa yang telah terjadi di masa lalu dalam sejarah, melainkan untuk menganalisis kekuasaan pada dataran di mana wacana kebenaran atau rezim pengetahuan yang diproduksi oleh kekuasaan amat berperan membentuk individu. Seperti diungkapkan Seno lewat buku ini, Foucault menganalisis pembentukan diri bertitik tolak dari lahirnya narasi klinis yang telah membawa Eropa pada kemajuan peradaban. Di sisi lain, Foucault juga beranggapan bahwa melalui tubuhlah analisis tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa akan bisa didekati.Dari analisis Foucault yang unik itu, Seno mengikuti alur pemikiran Foucault yang menemukan satu kenyataan sejarah bahwa identitas kelas menengah Eropa ternyata terbentuk atau diteguhkan melalui proses penyingkiran kelas-kelas masyarakat yang distigmatisasikan mengidap penyakit lepra atau kusta. Tak cuma itu, di abad 18 juga telah merebak operasi besar-besaran untuk menangkap orang-orang miskin, gila, pelaku kriminal dan semacamnya sebagai maklumat politik kesehatan dari ketakutan epidemi sebagai impian politik dan ekonomi untuk mewujudkan kelas masyarakat baru Eropa dan untuk menciptakan Eropa yang steril. Sepanjang pelaksanaan politik kesehatan berdimensi menentukan pembentukan tubuh individu Eropa Modern, Seno bersandar pada pemikiran Foucault kemudian melihat munculnya dua kutub perekayasaan global terhadap tubuh manusia. Kutub pertama, bagi seno yang disandarkan pada buku Foucault The Disciplin and Punish dipandang menentukan bagi pembentukan ekspresi luar, gerak-gerak fisikal dan kinetik tubuh manusia Eropa modern. Penelitian Foucault akan sejarah penjara telah menyibak bagaimana cahaya narasi klinis telah meresapi metode penghukuman sehari-hari bermatrikkan epistemologi ilmu anatomi dan hubungan baru dokter pasien akhirnya mengkonstruksi ekspresi luar tubuh manusia. Dengan kemunculan penjara, di mana disiplin merupakan turunan dari timbulnya minat kontrol anatomis wacana klinis baru di kemudian telah membuat individu Eropa memiliki tubuh yang patuh, tereduksi dan seragam.Adapun kutub kedua, bagi Seno yang disandarkan pada buku Faoucault The History of Sexuality Jilid I telah menentukan bagi pembentukan ekspresi dalam tubuh manusia Eropa modern sebagai akibat dari rekayasa seks di awal abad 19. Penelitian Foucault tentang sejarah seksualitas telah membuka kedok rekayasa seksualitas berwacana klinis oleh kontrol populasi di mana telah menghasilkan timbulnya sikap rasisme tertentu bagi individu Eropa. Timbulnya rasisme Eropa ini, bagi seno tak lain sebagai implikasi dari bio-politik.Memang, dua kutub konstruksi kekuasaan akan proses pembentukan diri Eropa sebagai rangkaian teknologi dari retasan kontrol narasi klinis pada mulanya berbentuk bipolaritas (berjalan sendiri-sendiri). Tetapi, tak disangsikan lagi bahwa di abad 19 hal itu telah membentuk kesatuan power over life atau kesatuan rekayasa individualisasi yang utuh.Sebagai satu catatan, buku karya Seno --yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta-- ini bisalah ditebak jika merupakan hasil revisi dari skripsi sang penulis. Meski ia tidak menyinggung dalam kata pengantar, dari sistematika buku ini setidaknya bisa ditebak. Kendati demikian, hal itu tidaklah mengurangi kajian yang telah dilakukan oleh penulis.Apalagi lewat buku ini ia telah berani melawan arus dengan mengumandangkan suara sumbang bahwa inti pemikiran Foucault adalah individualisasi dan menyanggah inti pemikiran Foucault tentang kekuasaan sebagaimana dipeluk erat oleh banyak pemikir.
***Peresensi Oleh Nur Mursidi
Continue Reading...

KEAJAIBAN “TANDA” & “BAHASA” DALAM FILM “THE MIRACLE WORKER”

Mar 27, 2015

Annie = “Aku harus mengajarinya yang pertama adalah bahasa”
Kate = “ Bahasa?”
Annie = “Dia tidak tahu kata-kata,” bagaimana Dia bisa tahu mengapa...”
Kate  =  “Nona Sullivan,mungkin Anda akan disulitkan dengan kondisi Helen, Dia tidak bisa melihat ataupun mendengar”.

Annie= “Tetapi jika itu hanya  inderanya yang terganggu dan dan tidak pikirannya, maka dia harus memiliki bahasa.” Bahasa lebih penting untuk pikiran daripada cahaya untuk matanya.”
http://www.vancouversun.com/cms/binary/2078782.jpg

Petikan dialog dari teks diatas menggambarkan betapa pentingnya bahasa selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat memberi pemaknaan terhadap nama-nama dari setiap benda yang ada di sekeliling kita. Kutipan teks diatas, menyiratkan bahwa kekuatan pikiran (mind) dapat mengatasi terbatasnya kemampuan indra untuk menyingkap pengetahuan manusia dengan cara yang tak biasa. Pada kasus kaum difabel seperti kisah Helen dalam Miracle Worker, bahasa mengejawantah diri melalui “tanda” sebagai bentuk komunikasi dan pemeberian arti terhadap makna-makna bahasa yang terkandung didalamnya. Meskipun demikian tidaklah berarti bahwa orang normal dengan memiliki kesadaran indra yang lengkap akan begitu mudah memahami bahasa.   Sebagai makhluk yang hidup di dalam masyarakat dan selalu melakukan interaksi dengan masyarakat lainnya tentu membutuhkan suatu alat komunikasi agar bisa saling memahami tentang suatu hal.
Apa yang perlu dipahami? Banyak hal salah satunya adalah tanda. Supaya tanda itu bisa dipahami secara benar dan sama membutuhkan konsep yang sama supaya tidak terjadi misunderstanding atau salah pengertian. Namun pada kenyataannya tanda itu tidak selamanya bisa dipahami secara benar dan sama di antara masyarakat. Setiap orang memiliki interpretasi makna tersendiri dan tentu saja dengan berbagai alasan yang melatar belakanginya. Ilmu yang membahas tentang tanda disebut semiotik (the study of signs). Masyarakat selalu bertanya apa yang dimaksud dengan tanda? Banyak tanda dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti tanda-tanda lalu lintas, tanda-tanda adanya suatu peristiwa atau tanda-tanda lainnya. Semiotik meliputi studi seluruh tanda-tanda tersebut sehingga masyarakat berasumsi bahwa semiotik hanya meliputi tanda-tanda visual (visual sign). Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Untuk mengatasi keterbatasan indra yang dialami Helen sebagai gadis yang buta, bisu dan tuli, sang guru Anne menggunakan bahasa tanda sejak pertama kali kedatangannya di Keluarga Keller untuk mengajar Hellen. Kata melalui tanda pertama yang diajarkan oleh Anne adalah “doll” atau boneka. Dengan mengejakan d-o-l-l (boneka) melalui tangan , ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Gambaran mental atau pikiran dari petanda yang sempat diekspresikan oleh Hellen disaat ia membutuhkan kehadiran ibunya. Ia memberi tanda dengan mengusap-ngusap pipi dengan jemari secara berulang-ulang. Apa yang dilakukan Hellen ini sebagai tanda dari ketidak-mampuan menggunakan bahasa untuk memanggil ibunya.
Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga ‘kata-kata’. Tanda menurut Saussure merupakan kesatuan dari penanda dan petanda. Walaupun penanda dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa. Dalam adegan lain bahwa bahasa tanda dapat ditangkap atau dimengerti oleh Helen seperti yang diajarkan oleh Anne. Namun ia belum mampu menangkap makna yang terkandung dalam bahasa tersebut. Pengenalan “kata” boneka, kue atau bunga belum ia pahami sepenuhnya. Mungkin Permen yang tiap kali dijejali dalam mulutnya pun saat ia dalam keadaan tak terkendali tak ia pahami maknanya. Hal ini berkaitan dengan tiga konsep utama Saussure 1. Langage, 2. Parole dan 3. Langue . Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue. Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya bila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu. Langue telah dan dapat diteliti; langue juga bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Nah, tanda bahasa tersebut dapat menjadi lambang tulisan yang konvensional. Tujuan linguistik adalah mencari sistem (langue) struktur dari kenyataan yang konkret (parole).
Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Contoh: pergi! Dalam kata ini, gagasan kita adalah ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi!, dapat juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dengan abjad tuna runggu, atau dengan simbol atau dengan tanda-tanda militer. Langue seperti permainan catur, kalau saya kurangi buah catur, akan berubah dan bahkan permainan akan kacau; demikian halnya dalam langue, jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan kacau balau juga. Misalnya: saya makan nasi, jika kalimat ini saya ubah menjadi: makan nasi saya, kelihatannya kalimat tersebut, janggal.
Menurut de Saussure langue (kaidah) menguasai parole (praktik berbahasa). Tanpa menguasai langue seorang tidak dapat ikut serta mempraktikan langage dalam sebuah masyarakat bahasa. Jadi, kita tidak akan dapat mempraktikan parole bahasa Urdu kalau kita tidak menguasai dulu langue dari langage Urdu. Konsep ini dapat diterapkan pada gejala nonverbal. De Saussure memberi contoh yang sangat terkenal yaitu "permainan catur". Para pemain sebagai "komunitas pecatru" menguasai kaidah permainan tersebut, yakni langue,  antara lain aturan tentang cara menjalankan setiap jenis bidak catur, misalnya "kuda" mengikuti gerakan "huruf L", "raja" hanya bisa bergerak satu kotak demi satu kotak. Saussure meyakini bahwa bahasa tulis merupakan "turunan" dari bahasa lisan. Jadi bahasa yang utama adalah bahasa lisan.
Bahasa yang sebenarnya adalah bahasa lisan. Ini merupakan kritik terhadap para peneliti bahasa yang terlampau terfokus pada bahasa tulis yang oleh de Saussure dipandang sebagai "tidak alamiah". Setelah berbicara tentang "langue" dan "parole" sebagai baian dari "langage", de sussure membicarakan pentingnya bahasa lisan. "Langage" yang utama adalah bahasa lisan, yang merupakan objek kajian utama linguistik. Menurut Saussure, tulisan sering dianggap bahasa yang ;menurunkan bahasa lissan karena penelitian bahasa-bahasa kuno (seperti Yunani, Latin dan Sansekerta) memberikan citra bahwa bahasa tertulis lebih berprestise. Padahal tulisan adalah turunan dari bahasa lisan yang menurut de Saussure diatur oleh "langue", sedangkan tulisan merupakan sistem yang berbeda. Bahasa lisan juga dianggap yang utama karena menurut de Sussure makna lebih dekat pada yang lisan daripada yang tertulis. Objek kajian utama linguistik adalah bahasa lisan. Karena hubungan antara penanda dan petanda secara bersamaan membentuk tanda, keduanya tidak terlepas satu sama lain. Dengan demikian, keduanya membentuk satu kesatuan--yakni tanda--yang seringkali (konsep seperti ini) disebut struktur. Begitu pula hubungan antara "langue" dan "parole" (sebagai bagian dari "langage"), keduanya berkaitan satu sama lain secara tak terpisahkan, sehingga membentuk sebuah struktur, yakni "langage".
Struktur konsep de Saussure ini dapat kita cermati disaat akhir cerita dari film “The Miracle Worker” ketika melalui air dari sumur pompa yang kemudian membersitkan  pengertian terhadap pemaknaan benda-benda yang diajarkan oleh guru Anne selama ini.  Air yang yang selalu menjadi kendala selama pengajaran dari gurunya sekadar ia rasakan melalui indra perasa, belum sepenuhnya memberikan gambaran utuh sebagai bagian dari pemaknaan bahwa air sebagai air (meaningless). Namun peristiwa di sumur pompa itulah kesadaran bahasa sebagai alat komunikasi mulai di pahami oleh Helen (meaningfull). Sejalan dengan pemahaman terhadap arti dari suatu benda yang dialami oleh Helen ini, bisa kita dengan teori ideasi. Dimana gagasan atau ide sebagai titik sentral dari yang menentukan arti suatu ungkapan.
1.      
The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart.

Selain dari aspek kebahasaan dan tanda yang sarat dalam film “The Miracle Worker”. Ada aspek pendidikan yang berdimensi disiplin dan tanggung jawab yang teremban dalam film ini. Dalam aspek psikologis film ini sejalan dengan teori Behaviourisme. Teori behaviorisme menekankan hubungan psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Di dalam film The Miracle Worker, pembelajaran yang diberikan lebih dominan tentang bahasa, teori behaviorisme juga mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan dan dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu karena peserta didik mendapat rangsangan dari dalam dan luar. Maka akan mempengaruhi proses pembelajaran dan peserta didik akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka peserta didik tersebut akan mendapat penguatan dari orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan peserta didik akan menguasai percakapan. Sebagaimana di dalam film The Miracle Worker yaitu peserta didik (Helen) dalam memahami kata-kata atau nama-nama dengan benda-benda yang dipegang ataupun diraba mempunyai korelasi. Di samping itu juga Annie Sullivan yang selalu mengajari Helen dengan cara berulang-ulang. Oleh karena jika peserta didik mendapatkan stimulus secara berulang-ulang akan terjadi suatu pembiasaan. Maka ia pun akan merespon bentuk responnya adalah melakukan apa yang telah di ajarkan oleh Annie Sullivan selaku pendidiknya.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk mendidik peserta didik yang masih banyak membutuhkan peranan orang dewasa dalam proses pembelajarannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang di cita-citakan.
Dari kisah Hellen dan Nona Anne ini, dan kemudian diangkat dalam Film dengan judul “The Miracle Worker” ,, setidaknya memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga, dan yang  paling utama ialah rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan kesempurnaan panca indra. Kemudian, kesabaran seorang guru yang mencurahkan semua daya dan melakukan segala upaya agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Walaupun banyak terdapat kekurangan yang ada pada anak didik, dalam kisah hellen yang buta, dan tuli. Akan tetapi dengan kesabaraan yang dimiliki oleh Anne dan  keyakinan serta ketekunannya, ia dapat mengubah semua kekurangan menjadi keistimewaan yang belum tentu  dicapai oleh orang yang normal sekalipun.
Kemudian, ketegasan seorang guru juga diperlukan terhadap anak didik dan orangtuanya. Tegas bukan berarti keras. Tegas berarti mengatakan ”Ya” jika ya dan mengatakan ”Tidak” jika memang tidak sambil memberikan penjelasan atas setiap perkataan. Hal ini perlu dilakukan secara konsisten atau dijadikan pembiasaan agar anak dapat berpikir mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia dapat berhati-hati dalam bertindak. Dengan menerapkan hal ini, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya karena dirinya selalu diberikan penjelasan atas perbuatannya, maka nantinya ia akan terbiasa untuk berkomunikasi dan berdiskusi, sekaligus mengasah kecerdasannya dalam berpikir. Seorang pendidik haruslah selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Hal itu merupakan modal bagi seorang pendidik sehingga mampu memberikan pendidikan secara menyeluruh dan tuntas.
Sikap optimis pun sangat diperlukan oleh seorang pendidik karena dengan bersikap optimislah, pendidik dapat lebih termotivasi untuk berinovasi agar berguna bagi anak didiknya. Jika Inderanya ada yang ganjil dan bukan pikirannya, dia pasti punya bahasa, “bahasa lebih penting bagi pikiran dari pada cahaya untuk mata”. Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia melainkan hanya dapat dirasakan di dalam hati. *Oleh Syahyunan Pora- (Tulisan ini adalah materi diskusi untuk tugas mata kuliah Filsafat Analitik-Maret-2015)


Continue Reading...

KEDUDUKAN FILSAFAT DEWASA INI

Feb 28, 2015

Sebagian besar dalam sejarah filsafat selalu membahas problema dari situasi manusia sehari-hari; akan tetapi dalam beberapa dasa warsa terakhir ini, banyak ahli filsafat di Dunia Barat mengarahkan hampir seluruh perhatian mereka kepada sejarah filsafat atau pembahasan tentang istilah dan bahasa lalu dipakai untuk memaparkan fikiran-fikiran. Pengetahuan tentang istilah dan bentuk  serta pemakaian bahasa adalah penting, akan tetapi kita tidak boleh menggunakan pengkajian tentang “alat” (instrument) seperti logika, semantic, analisa linguistic, untuk mengganti penelitian tentang problema yang pokok, yakni problema filsafat yang abadi. Karena ahli filsafat sudah berpaling dari dunia, sementara filsafat itu sendiri melampaui realitas alam ide, maka dunia tidak lagi meminta pengarahan kepada filsafat dalam menghadapi problema-problema baru yang mendesak. Disinilah kadang filsafat mendapati dirinya terpojok dalam ruang yang tersendiri. Bahkan tidak sedikit yang menganggap filsafat membingungkan, bahkan kerap filsafat dianggap kerap membuat rumit ide-ide yang sederhana.

http://previews.123rf.com/images/-illustration--Stock-Vector.jpg



Pekerjaan (profesi) filsafat tidak selalu mempunyai arti yang sempit dan spesial seperti sekarang ini, dimana filsafat masih diusung pada tema-tema yang melangit dan tidak membumi. Filsafat pada zaman modern seharusnya diarahkan pada soal hidup dan mati; filsafat merupakan jiwa yang mencari keselamatan. Namun seringkali kenyataan yang ada berkata lain. Kini kesan yang ditampakkan bahwa pendorong untuk mempelajari filsafat bagi seorang mahasiswa yang berasal dari kultur timur adalah sangat berbeda dengan pandangan seorang mahasiswa yang datang dari kultur Barat. Mahasiswa yang datang dari kultur Timur mencari jawaban tentang dunia yang kalang kabut dimana ia hidup. Sebab banyak yang menjadi tidak puas mengenai konsepsi analitik dari filsafat. Mereka bertanya "Jika Filsafat yang berarti penjelasan (klarifikasi), apakah ia berhak menduduki tempat yang biasa dimilikinya dalam pendidikan liberal?" Pertanyaan tersebut mengandung arti: “Jika analisa kata-kata adalah satu-satunya tugas filsafat, maka filsafat akan bunuh diri.

Continue Reading...

ILMU PSIKOLOGI DAN PENGARUH POSITIVISME

Jan 31, 2015

Perkembangan ilmu psikologi ternyata tak pernah bisa lepas dari pengaruh ilmu-ilmu lainnya. Mulai dari laboratorium psikologi di Leipzig yang didirikan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879, psikologi sebagai sebuah ilmu berusaha untuk mandiri serta melepaskan diri dari ilmu filsafat. Konteks perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang berlangsung pada saat itu ternyata berpengaruh sangat besar dalam perkembangan ilmu psikologi. Berikutnya ilmu psikologi semakin berkembang dan semakin kompleks dengan masuknya pengaruh paham positivisme. Psikologi, seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya mulai condong pada pembuktian dan penyimpulan positivistik sebagai satu-satunya cara pencarian kebenaran yang dianggap sahih. Kritik dan wacana baru bermunculan terhadap kecenderungan positivistik ini, hingga begitu banyak cabang dan aliran dalam ilmu psikologi yang berusaha untuk terus menembus kebuntuan ini dan terus mencari jalan menuju kebenaran. Darmanto Jatman juga berusaha untuk mempertajam lagi pisau bedah yang digunakan dalam ilmu psikologi melalui Ilmu Jiwa Jawa nya. Berangkat dari pendapat Michael Cole yang mempertanyakan betapa psikologi kebudayaan tidak dihargai dalam belantara ilmu psikologi yang bercorak positivistik dan fenomenologis, Darmanto Jatman juga berupaya menentukan titik pijak pertama aliran ilmu psikologinya. Psikologi Pribumi yang berlatar belakang pandangan dunia Jawa inilah yang diteliti oleh Darmanto Jatman. Ilmu Jiwa Jawa sebagai cabang baru ilmu psikologi ini ini yang akan dibahas dari segi filsafat ilmu, terutama mengenai metodologi, obyek formal dan materialnya serta problem-problem epistemologis yang muncul dalam usaha membela Ilmu Jiwa Jawa sebagai sebuah aliran dalam ilmu psikologi.



Akar pengaruh positivisme dalam ilmu psikologi bisa dirunut dari mulai lahirnya modernisme. Keterpisahan antara subyek-yang-sadar dengan dunia luar memicu munculnya keyakinan bahwa subyek mampu mengambil jarak terhadap obyek, sehingga pengetahuan yang didapat tentang obyek akan bersih dari segala bentuk campur tangan subyek. Ciri khas dari positivisme adalah, peran penting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. Di dalam positivisme, valid tidaknya suatu pengetahuan dilihat dari validitas metodenya. Akibatnya pengetahuan manusia (sekaligus kebenaran) posisinya digantikan oleh metodologi yang berbasiskan data yang diklaim obyektif, murni dan universal. Selanjutnya, satu-satunya metodologi yang diakui oleh para penganut positivisme adalah metode ilmu-ilmu alam yang dianggap mampu mencapai obyektifitas murni dan bersifat universal. Permasalahan paling vital dalam positivisme adalah memperlakukan setiap fenomena, termasuk fenomena sosial seperti gejala-gejala alam yang bersifat tetap serta beroperasi melalui sebab-sebab konstan. Tujuan utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah fenomena. Bagi kaum positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empiris. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak bisa disebut “ilmiah” karena prosedur induksi nya tidak dipenuhi. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan prosedur yang rigid dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil membuat sebagian besar ilmuwan merasa sudah ilmiah. Akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis, sebuah temuan yang ‘hanya’ berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih . Didorong oleh empirisme dan verifikasi, positivisme mulai berkembang dan mempengaruhi ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu psikologi dengan munculnya mazhab behaviorisme. Seiring eksperimen yang mulai marak dilakukan, behaviorisme mulai menelaah perilaku yang terobservasi. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sains sehingga harus dihindari. Konsekuensi dari paham ini adalah ilmu psikologi condong ke arah ilmu alam. Pengingkaran terhadap “kedalaman” individu, keterkaitan antara kesadaran dan dunia, serta hubungan antara manusia, langgam komunitas dan habitat kehidupannya mengakibatkan ilmu psikologi menjadi sangat dangkal secara substantif. Ilmu psikologi menjadi sangat kering, dan tidak mampu menjelaskan banyak hal menyangkut manusia. Reduksi yang dilakukan terlalu dalam sehingga kritik terhadap kecenderungan positivistik ini mulai bermunculan baik dari dalam ilmu psikologi secara khusus maupun kepada ilmu-ilmu sosial secara umum. Metodologi sebagai tolok ukur pengetahuan digugat melalui banyak metode baru yang diajukan oleh mazhab-mazhab baru yang bermunculan. Mulai dari psikologi gestalt hingga pendekatan fenomenologis ala Merleau Ponty mengajukan keberatan atas behaviorisme dan positivismenya. Demikian juga perkembangan dari ilmu-ilmu sosial dimulai oleh ilmu filsafat, ternyata sangat dipengaruhi oleh kritik kepada positivisme. Salah satu kritik terhadap positivisme diajukan oleh filsuf Feyerabend dengan konsepnya Anything Goes
Continue Reading...

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Dec 29, 2014


.Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia. Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Budiono K, menegaskan bahwa, “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”.

Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan. Beberapa pengertian kebudayaan berbeda dengan pengertian di atas, yaitu: Kebudayaan adalah cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu. Kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan kepercayaan seni, moral, hukum, adat serta kemampuan serta kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya yaitu masyaraakat yang menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan yang terabadikan pada keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia yaitu kebijaksanaan yang sangat tinggi di mana aturan kemasyarakatan terwujud oleh kaidah-kaidah dan nilai-nilai sehingga denga rasa itu, manusia mengerti tempatnya sendiri, bisa menilai diri dari segala keadaannya.  Pengertian kebudayaan tersebut mengispirasi penulis untuk menyimpulkan bahwa; akal adalah sumber budaya, apapun yang menjadi sumber pikiran, masuk dalam lingkup kebudayaan. Karena setiap manusia berakal, maka budaya identik dengan manusia dan sekaligus membedakannya dengan makhluk hidup lain.

Dengan akal manusia mampu berfikir, yaitu kerja organ sistem syaraf manusia yang berpusat di otak, guna memperoleh ide atau gagasan tentang sesuatu. Dari akal itulah muncul nilai-nilai budaya yang membawa manusia kepada ketinggian peradaban. Dengan demikian, budaya dan kebudayaan telah ada sejak manusia berpikir, berkreasi dan berkarya sekaligus menunjukkan bagaimana pola berpikir dan interpretasi manusia terhadap lingkungannya. Dalam kebudayaaan terdapat nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat dan hal itu memaksa manusia berperilaku sesuai budayanya. Antara kebudayaan satu dengan yang lain terdapat perbedaan dalam menentukan nilai-nilai hidup sebagai tradisi atau adat istiadat yang dihormati. Adat istiadat yang berbeda tersebut, antara satu dengan lainnya tidak bisa dikatakan benar atau salah, karena penilaiannya selalu terikat pada kebudayaan tertentu. Kebudayaan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang, begitu pula sebaliknya. Di dalam pengembangan kepribadian diperlukan kebudayaan, dan kebudayaan akan terus berkembang melalui kepribadian tersebut. Sebuah masyarakat yang maju, kekuatan penggeraknya adalah individu-individu yang ada di dalamnya.
Tingginya sebuah kebudayaan masyarakat dapat dilihat dari kualitas, karakter dan kemampuan individunya. Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang saling berkaitan. Manusia dengan kemampuan akalnya membentuk budaya, dan budaya dengan nilai-nilainya menjadi landasan moral dalam kehidupan manusia. Seseorang yang berperilaku sesuai nilai-nilai budaya, khususnya nilai etika dan moral, akan disebut sebagai manusia yang berbudaya. Selanjutnya, perkembangan diri manusia juga tidak dapat lepas dari nilai­nilai budaya yang berlaku. Kebudayaan dan masyarakatnya memiliki kekuatan yang mampu mengontrol, membentuk dan mencetak individu. Apagi manusia di samping makhluk individu juga sekaligus makhluk sosial, maka perkembangan dan perilaku individu sangat mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan. Atau boleh dikatakan, untuk membentuk karakter manusia paling tepat menggunakan pendekatan budaya.
Continue Reading...

Festival Teluk Jailolo 2013

May 18, 2013



IDR 6.750.000 ( 4 Days / 3 Nights)

Thursday, 16 May 2013 (L/D) JKT-Ternate-Jailolo


From Jakarta to Ternate using Sriwijaya / Express Air
Arrive in Sultan Babullah Ternate Airport and get picked up by a car and head to the port (Pelabuhan Jailolo)
Continue by speed boat to Jailolo
Arrive in Jailolo to see the opening of Festival Teluk Jailolo 2013 which is the sea ritual (Ritual Laut, Sigofi Ngolo)
Watch the rowing contest
Check-in at the homestay
Have lunch at a local restaurant
Head to Buabua Island for snorkeling
Free time (enjoy nature and activities, underwater video*, planting/adopting shells)
Head back to homestay and have a little break
Night barbeque party at the Rumah Sasadu
Watch a performance of Cakalele Dance

*Underwater video will be competed and open for public

Friday, 17 May 2013 (B/L/D) Teluk Jailolo City Tour

Leave early morning to see sunrise at Bukit Senyum Lima Ribu (Five Thousand Smiles Hill)
Enjoy local cuisine
Head back to Festival Teluk Jailolo area to see exhibitions and races
Head back to Gamtala Village to enjoy the beauty of “tourism village” and see the making of local handicrafts
Go on Spice Trip and see nature’s wealth
Do a Historical Trip and head to the Mangroove
Head to Bobanehena Beach
Sightsee at Dermaga Galau
Have dinner and rest


Saturday, 18 May 2013 (B/L/D) Visit Festival Teluk Jailolo 2013

Breakfast at the homestay/local restaurant
Head to the Festival Teluk Jailolo area to see the cow wagon parade
Head to the arts and crafts center and Jailolo’s natural products
See the closing of Festival Teluk Jailolo 2013 Sasadu on the Sea
Watch the performance of NOAH concert


Sunday, 19 May 2013 (B) Jailolo – Ternate – Jakarta

Breakfast at the homestay/local restaurant
Head to the port (Pelabuhan Jailolo) to cross Ternate
Head to Sultan Babullah Ternate airport and leave for Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013 Land Arrangement Package

IDR 2.850.000 ( 4 Days / 3 Nights)
Local transportation (car & boat)
Tour Guide
Accommodation (homestay)
Food and snacks (breakfast, lunch, dinner)
Snorkeling at Buabua Island
City tour packages
Watch the performance of Sasadu on the Sea
Watch NOAH concert
Participating in a cultural ceremony
Notes:

B : Breakfast; L : Lunch; D : Dinner
*Price is available all through April 2013 .

SOURCE http://www.festivaltelukjailolo2013.com/blog/announcement/trip-deals-2.html
Continue Reading...

MANUSIA DALAM EKSISTENSIALISME SARTRE

Oct 20, 2012

Hampir seluruh persoalan penting dalam filsafat, psikologi, agama maupun urusan sehari-hari, mengandung persolan watak manusia. Kebanyakan ahli pikir Yunani Kuno dan ahli pikir Abad pertengahan sampai pada periode pencerahan pada abad ke-18, mempunyai asumsi bahwa memang ada sesuatu yang dinamakan ”watak manusia”, sesuatu yang dalam pembiacaraan filsafat membentuk ”esensi manusia itu seperti apa”, akan tetapi terdapat kesepakatan bahwa memang ada sesuatu yang menjadikan manusia berbeda dengan yang bukan manusia. Faktor-faktor lingkungan adlah sangat kuat dalam perkembangan kepribadian sehingga diantara ahli antropologi ada yang mempersoalkan; apakah betul ada sesuatu esensi manusia yang umum bagi tiap-tiap pribadi tanpa melihat kepada lingkungan kebudayaannya? Menurut pandangan mereka seseorang itu menjelma menurut lingkungan dimana tempat seseorang itu berasal. Bagaimana konsep evolusi mempengaruhi pandangan tentang watak manusia? Dalam arti biologis, evolusi berarti bahwa semua kehidupan berkembang dari bentuk yang lebih tinggi dan lebih kompleks. Dalam mata seorang penganut teori evolusi manusia berkembang dari binatang-binatang yang terdiri atas satu sel, karena manusia selalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan, maka manusia sekarang tentu akan berlainan dengan manusia pada lima juta tahun mendatang. Kalau memang begitu keadaannya, maka apakah khas manusia itu?. Filsuf Perancis Jean Paul Sartre, adalah juru bicara filsafat eksistensialis yang mengingkari adanya watak esensi manusia. Bagi Sartre eksistensi manusia mendahului esensinya. Setiap manusia yang lahir adalah manusia yang terlempar ke dunia yang tanpa isi dan tanpa arah. Pada permulaan wujudnya manusia itu bukan apa-apa dan ia tidak akan menjadi sesuatu kecuali setelah menjadi apa yang menjadi pilihannya. Walaupun Sartre mengingkari watak manusia, pandangannya tentang manusia mengundang hal-hal tertentu yang dimiliki oleh semua orang seperti ”keperluan berada di dunia ”, atau ”terpaksa bekerja dan mati di Bumi”. Walaupun adalah mustahil untuk menemukan dalam setiap orang suatu esensi yang universal yang dapat dinamai watak manusia, namun ada persamaan diantara mereka, yaitu kondisi kemanusiaan. (Harold H.&Titus,1984;30) Manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial, dampak lingkungan sosial masuk sampai kepada inti kepribadian setiap orang. Manusia secara hakiki tergantung satu sama lain. Tidak ada orang masuk kedalam kehidupan kecuali berkat manusia lain.
https://philosophyforchange.files.wordpress.com/2013/06/sartre.jpeg

Oleh karena itu hakikatnya sebagai manusia hanya dapat tercapai melalui rasa kesetiakawanan dengan sesama manusia disemua tingkat kehidupannya, dari lingkungan keluarga sampai ketingkat nasional dan bahkan sampai ke solidaritas seluruh umat manusia. (Frans Magnis Suseno,1991;99) 
Sartre beranggapan bahwa memang hidup bersama orang adalah suatu kenyataan yang harus ada supaya orang dapat hidup. Akan tetapi semua usaha untuk bertemu dengan orang lain dalam kepribadiannya adalah sia-sia saja.

“sebab bila aku ingin berkontak dengan orang lain serentak aku menjadikannya objek keinginanku, sehingga pada pertemuan yang menyusul kepribadiannya  sudah tidak muncul lagi. Itu berarti bahwa dimana saja dua orang saling bertemu, mereka saling mendorong satu terhadap yang lain kembali kepada kesepian. Tidak pernah mereka akan berhasil dalam menghayati kesatuan yang sungguh antar pribadi”. (Soejanto Poespowardojo,1979;47)

Boleh jadi bahwa salah satu dari antara dua orang saling bertemu, tidak berkeberatan untuk dijadikan objek. Tetapi sikap yang demikian tidak menghasilkan pertemuan yang sungguh, karena pertemuan diartikan sebagai hubungan antar dua pribadi, padahal disini salah satu dari kedua orang itu sudah kehilangan kepribadiannya. Apa yang tinggal adalah kejasmanian orang sebagai objek pengamatan dan kenikmatan.

Kalau mustahil aku menghubungkan diri dengan orang lain dalam kontak yang sungguh, maka orang lain tidak berhasil mengangkat kekuranganku sebagai pribadi. Bahkan dapat dikatakan bahwa orang lain merugikan aku, sebab adanya orang lain menyoroti kekuranganku sebagai pribadi. (Soejanto Poespowardojo,1979;48)

Kebenaran dirumuskan oleh Sartre dalam pernyataan-pernyataan terkenal: “Adanya orang-orang lain merupakan dasar kedosaan manusia”, lagi “Neraka adalah orang-orang lain. Namun kata Sartre, pergaulan dengan orang lain sekali-kali dapat menghasilkan pengalaman yang terkandung dalam kata ”kita” yakni bilamana orang ketiga melawan kita. Inilah yang terjadi umpamanya pada kaum buruh. Buruh-buruh dapat menjadi kawan-kawan yang sejati, sebab mereka diancam kaum kapitalis. Dalam menentang mereka, mereka menghayati kesatuan yang diungkapkan dalam kata ”kita”. nyatalah pengalaman ”kita” itu akhirnya berdasarkan pertentangan juga. Tak pernah terdapat suatu kesatuan tanpa ada pertentangan yang mendahului. Kesimpulannya dalam filsafat Sartre inti hubungan antara orang lain : adalah saling menentang.
Continue Reading...

MENCARI SOLUSI DUNIA PENDIDIKAN KITA

Oct 5, 2012


Berbagai macam permasalahan pelajar yang terjadi di Ibukota belakangan ini  amat sangat memprihatinkan dunia pendidikan kita. Aksi tawuran  yang telah merenggut nyawa beberapa orang pelajar, seolah mensiratkan  dunia pendidikan kita sudah tidak mampu lagi berbuat banyak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pertanyaan kemudian, apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?, Kurikulumkah? atau lemahnya pengawasan antara pihak sekolah dan orang tua sehingga setiap kali kekerasan yang sudah menjurus ke tindak kriminalitas ini masih saja terus  terjadi. Aksi sweeping  dari aparat keamanan pun sudah berkali-kali menggeledah para pelajar yang ketahuan membawa senjata tajam dibalik seragam ataupun dalam tas sekolahnya, namun tidak pernah menciutkankan nyali para pelajar itu. Membaca realitas dunia pendidikan kita dengan aksi kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini sudah saatnyalah  semua pihak yang terkait tidak sekadar mengelus dada atau hanya sebatas menyayangkan atas semua kejadian ini. Sudah saatnya Stakeholder pendidikan (pemangku kepentingan) harus turun tangan mencari solusi atas kejadian ini. Wacana mengenai  urusan kepemudaan atau pelajar dalam hal ini tidak lagi semata menjadi tanggung jawab dinas pendidikan, melainkan kementrian pemuda dan olah raga pun harus ambil bagian untuk penyelesaian masalah ini. Tidak hanya menggelar ivent kepemudaan atau ajang pertukaran pelajar melainkan diminta juga untuk dapat merumuskan solusi atas berbagai  masalah krusial para pelajar yang nota bene menjadi aset bangsa dimasa depan ini. Bila perlu Departemen Agama  bahkan aparat kepolisian pun turut diminta peran aktif  sebagai partner pendidik disamping para guru dan orang tua. Dalam hal ini peran orang tua juga harus diposisikan sebagai partner ketimbang “pengawas” ketika mereka berada diluar lingkungan sekolah. Tentu melalui pendekatan-pendekatan psiko-humanis yang lebih memartabatkan eksistensi diri mereka sebagai peserta didik.


Perlukah Mereview Kurikulum Yang Ada?
Kecenderungan globalisasi dan derasnya arus informasi di era teknologi ini kerap menjadi kambing hitam dan saling melempar tanggung jawab antara pihak sekolah dan keluarga jika ada peserta didiknya yang dinilai gagal untuk mengemban nilai-nilai dari tujuan pendidikan yang diacu. Sementara fakta yang ada,  menyangkut kondisi maupun situasional peserta didik kita sekarang ini, sudah jauh berbeda tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Bahkan tanpa disadari pihak sekolah dan orang tuapun tertatih-tatih mengamini perubahan paradigma pendidikan yang pragmatis dan cenderung mengedepankan nilai-nilai kognitif semata. Disisi lain, peserta didik kita sekarang ini sudah tidak sukar lagi atau gagap teknologi dalam mengakses berbagai hal atau sekadar untuk mendapatkan informasi terbaru pada era yang serba digital ini. Apalagi Dengan lemahnya kontrol orang tua, lingkungan sosial yang cenderung apatis serta sistem pendidikan yang lebih menitik beratkan pada aspek intelektualitasnya saja, bukan tidak mungkin akan menciptakan karakter peserta didik kita yang bersikap serba permisif serta mudah menyerap apa saja tanpa adanya filterisasi dari sistem kurikulum yang terus-menerus diberdaya gunakan demi kepentingan pendidikan yang tepat sasaran. Kurikulum pendidikan yang berbasis pada life-skils untuk mengembangkan kepribadian serta kemandirian peserta didik tergeser oleh kepentingan mengejar prestasi individual melalui  lembaga-lembaga privat semacam kursus ataupun les yang sebenarnya tidak semuanya memiliki kesempatan yang sama. Sehingga tanpa disadari inilah salah satu bentuk kesenjangan sosial yang sebenarnya dimunculkan oleh lembaga pendidikan itu sendiri. Apabila instansi terkait tidak jeli melihat ini sebagai sebuah potensi yang dapat memecah belah antar sesama peserta didik. Padahal semestinya arah kurikulum yang  dicetuskan oleh dunia pendidikan kita, semisal kurikulum berbasis kompetensi atau life skils harus mampu diadaptasikan dengan tantangan perkembangan zaman yang ada, dimana tujuan dari kurikulum pendidikan tidak semata mengasah kemampuan IQ sang peserta didik saja, tetapi pihak sekolah maupun orang tua juga harus mampu mengembangkan alur pendidikan yang lebih bermakna dengan tidak mengesampingkan pendidikan budi pekerti yang memang kini menjadi harga mati untuk peserta didik kita.
Pendidikan Untuk siapa?
Idealnya arah dari kebijakan pendidikan nasional harus secara substantif  menjadi medium untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga berbagai macam polemik yang menerpa wajah pendidikan kita dari tawuran pelajar hingga remaja putus sekolah ataupun pendidikan kewirausahaan yang menjadi program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan, harus terintegrasi dan selaras dengan pertanyaan untuk apa pendidikan  dan bagi siapakah sesungguhnya pendidikan itu?.  Namun jika pendidikan hanya sebagai pemenuhan program kerja dengan berbagai rencana jangka panjang maupun menengah dari pemerintah. Begitupun  ide-ide cemerlang yang berhubungan dengan pendidikan berkarakter ataupun pendidikan berbasis kearifan lokal hanya berhenti pada tahapan visi dan misi saja sementara permasalahan didepan mata belum mampu teratasi, maka bisa dikatakan bahwa ada yang belum sinkron dengan arah dan kebijakan sistem pendidikan kita. Dan sudah selayaknya pembelajaran terhadap kasus-kasus kekerasan di dunia pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi tidak selalu dipahami sebagai sebuah kebijakan yang mandeg dari lembaga yang diberi wewenang maupun tanggun jawab semisal sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan saja. Melainkan pada skala yang lebih besar, Negara juga mutlak mempunyai peran aktif serta berkepentingan untuk  meningkatkan kualitas pendidikan yang ada, sebab ukuran kualitas pendidikan pada suatu negara maupun bangsa akan selalu berbanding lurus dengan dimilikinya sumber daya manusia yang berkualitas unggul. Selain itu pemahaman tentang pendidikan juga harus  menjadi bagian serta berintegrasi dan memiliki tanggung jawab dengan masyarakat luas. Agar fungsi dan tujuan pendidikan yang didapat dari sekolah dapat bersinergis dengan lingkungan sekitar dengan tidak mengesampingkan dimensi religius maupun nilai-nilai moral sebagai satu kesatuan dari hakikat pendidikan yang dituju. 
Continue Reading...

MENAKAR KEKUATAN IMAJINASI DALAM FILSAFAT

Oct 3, 2012


Apakah tindakan berfilsafat  selalu mengarah pada suatu kesadaran murni bahwa yang namanya berfilsafat  itu selalu bersifat independent dan terlepas dengan imajinasi?.  Meskipun sekadar merepresentasi objek filsafat sebagai medium “ide” agar makna yang terkandung dalam filsafat dapat disimpulkan melalui bahasa?. Ataukah antara imajinasi dan berfilsafat memang mempunyai batas-batas tegas dan tidak bisa dikacaukan antara satu dengan yang lainnya. Narasi pengantar ini hanya ingin mewacanakan sejauh mana hubungan antara peran gambar sebagai media imajinasi yang sering direpresentasi dalam bidang filsafat dan sejauh mana otoritas filsafat dalam mendeskripsikan ide berfilsafat itu benar-benar radikal, komprehensif  maupun yang “Clear And Distingly”. Bisa jadi Plato tidak menyangka bahwa penggambaran ide yang ia representasikan melalui mitos “gua” tidak sesederhana ketika ia ingin menjelaskan ide-ide  “mitos gua” dalam upaya untuk meretas mana pengetahuan yang bersifat hakiki dan mana pengetahuan yang bersifat semu. Beberapa filsuf dari Yunani Kuno, abad pertengahan hingga abad modern juga mengamini hal yang sama. Dari Thales, Anaximenes,Demokritos. Phytagoras, Hegel hingga Sartre  mempunyai gambaran dalam merepresentasi buah pemikiran mereka. Dunia Ide”-nya Plato sangat kental representasi  gambar dalam imajinasi. Sementara  Dunia filsafat kini telah menghasilkan beragam pertanyaan, seperti apakah filsafat dapat melahirkan konsep-konsep  rasional  murni serta memiliki alasan-alasan yang dapat mengandalkan rasionalitas manusia semata?.

Polemik awal dalam sejarah filsafat telah berdialektika  dengan dua tema aliran besar antara Rasionalisme dan empirisme. Kedua aliran inipun tidak mempunyai alasan secara logis untuk mengesampingkan bahwa esensi dari suatu objek dapat “digambarkan”  melalui citra atau persepsi mengenai rasa. Artinya sesuatu objek yang tergambar  dalam imajinasipun tidak bisa dilepaskan oleh penggambaran filosofis sekalipun dari kesimpulan2 sederhana mengenai logika. Padahal kita tahu bahwa filsafat bukanlah dongeng, bukan cerita yang mendeskripsikan gambar atau eksplorasi dunia sastrawi yang kemudian dituangkan dalam karya-karya besar yang sarat makna nilai-nilai filosofis. Meski pada sisi lain otoritas filsafat dalam sejarah awal kelahirannya juga tak bisa dilepaskan dengan apresiasi yang “tergambar”. Bertolak dari dasar pikir ini ada kesan bahwa filsafat  dalam konteks sejarah seolah-olah terdefinisi sebagai cabang ilmu yang otonom. Dari barat hingga timur, dari cabang hingga aliran pada kenyataanya filsafat  selalu terepresentasi melalui “gambar”. Tak terkecuali hingga  perkembangan sejarah filsafat  dengan pengetahuan yang dicerap melalui rasionalisme maupun empirisisme. Laiknya pengertian seni sebagai sebuah pengetahuan dan seni sebagai pengalaman estetis, sampai pada tahapan ini  filsafat harus dijabarkan secara hati-hati namun terstruktur  guna menyimpulkan sebuah pemahaman filsafat yang “radikal” dan yang “jelas dan terpilah-pilah” (Clear and Distingly). Belum lagi jika  merunut syarat sahnya sebuah pengetahuan yang dianggap ilmiah harus meliputi, bahasa, logika dan matematika tentu keradikalan filsafat akan mendapat tantangan zaman yang kian hari kian menantang tidak hanya bagi para penikmat filsafat melainkan bagi disiplin ilmu-ilmu lain yang berintegrasi dengan filsafat. (Syahyunan Pora)
Continue Reading...

SAATNYA PANCASILA TAK SEKADAR REFLEKSI FILOSOFIS

Oct 2, 2012

Berbagai persoalan hidup bangsa yang dialami oleh negara kita akhir-akhir ini seolah tak pernah ada habisnya. Dari anarkisme para intelektual muda yang terjadi di dalam kampus hingga  di jalanan, tawuran pelajar antara sekolah, antar kampus bahkan aksi massa antar warga yang melibatkan  dua kelurahan yang bertetangga. Korupsi merajalela di tingkat parlemen hingga di tingkat desa amat sangat memprihatinkan kita. Belum lagi dengan degradasi moral yang dialami generasi muda yang begitu permisif terhadap globalisasi tanpa ada upaya filterisasi budaya ketimuran. Pertanyaannya kemudian apa lagi yang mengikat kita sebagai sebuah bangsa dan negara, jika beragam persoalan yang datang silih berganti ini tak mampu dielaborasi bahkan direpresentasi sebagai sebuah  pandangan hidup bangsa yang kita kenal dengan sebutan Pancasila. Kita tahu bersama bahwa Pancasila  merupakan pandangan hidup bangsa  yang berakar dalam kepribadian bangsa Indonesia. Dalam pandangan hidup itu terkandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan. Dan yang dianggap baik. Oleh karena itu muncul tekad untuk mengusahakan serta mempertahankannya. Dalam pandangan hidup itu termuat  juga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Untuk melestarikan nilai-nilai tersebut, maka pancasila secara konstitusional telah dikukuhkan sebagai dasar Negara. Pengukuhan secara konstitusional ini dilakukan secara terus-menerus sejak proklamasi hingga sampai saat ini. (Widjaja,1984:89-97). Pancasila diterima sebagai dasar Negara, disamping sebagai pandangan hidup bangsa, berarti nilai-nilai pancasila selalu harus menjadi landasan bagi pengaturan serta penyelenggaraan Negara. Hal ini memang telah diusahakan dengan menjabarkan nilai-nilai pancasila kedalam peraturan perundangan yang berlaku. Pengakuan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, membawa konsekuensi bahwa nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku manusia Indonesia. Tanpa adanya perwujudan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan yang nyata, berarti pancasila hanya sebagai hiasan Pembukaan UUD 1945 (Tim Pembinaan Penatar dan Bahan Penataran Pegawai R.I,1981:21-24). Agar dapat mewujudkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan yang nyata, perlu kiranya terlebih dahulu memahami nilai-nilai serta jenis nilai yang terkandung  dalam Pancasila.(Wahana,1983:66).


Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang kebenarannya diakui, dan menimbulkan tekad untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dasar Negara Pancasila berkedudukan sebagai sumber hukum yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia. Pancasila sebagai Ideologi nasional  nampaknya masih membutuhkan eksplanasi yang cukup memadai.      


Continue Reading...

PENDEKATAN FILSAFAT SECARA ALIRAN

Sep 29, 2012

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. -- Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.
Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). 


Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.  Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. 

Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)". 
Kausalitas. Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.  Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.  Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.  Catatan. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan). Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. Filsuf penting adalah N Macchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Periode kedua adalah zaman Barok, yang menekankan akal budi. Sistem filsafatnya juga menggunakan menggunakan matematika. Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates, Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). Periode ketiga ditandai dengan fajar budi ("enlightenment" atau "Aufklarung"). Para filsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704), G Berkeley (1684-1753), David Hume (1711-1776). Dalam katagori ini juga dimasukkan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant. 

Masa kini (1800-sekarang). 

Filsafat masa kini merupakan aneka bentuk reaksi langsung atau taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. Namun celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan, sebab jika betul-betul mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menjadi itu, yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide ("Yang Mutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang sesungguhnya ada adalah materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872). Sayangnya, materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena pastilah ada yang-ada-di-luar-materi yang "mengendalikan" proses dalam materi itu untuk materi bisa menjadi-lebih-sempurna-dari-sebelumnya. Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatas-segalanya, dalam arti tidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. Dengan mengatakan Yang Mutak itu menjadi, Hegel pada dasarnya meniadakan kemutlakan. Dalam cara sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, maka materialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama. Dari sini dapat difahami munculnya sejumlah aliran-aliran penting dewasa ini: Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3 tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. Manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme dianut oleh August Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903), dan dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina. 
Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx, 1818-1883) mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atas materi belaka, yang berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis). Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). Feuerbach berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentang dirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan yang mahaadil, namun yang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata, bahwa "agama adalah candu bagi rakyat", karena agama hanya membawa manusia masuk dalam "surga fantasi", suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Selanjutnya Marx menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dan sejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat. Ditangan Friedrich Engels (1820-1895), dan lebih-lebih oleh Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung, aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakan komunisme, yaitu suatu ideologi politik praktis Partai Komunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana saja Partai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari hak-hak azasi manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber keTuhanan pula!). 
Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki inti sama, yaitu keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan pada hakekat (esensi) manusia-pada-umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yang ada hanya manusia ini, manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Tokoh aliran ini J P Sartre (1905-1980), Kierkegaard (1813-1855), Friederich Nietzche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973). 
Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl, 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck zu den sachen selbst" -- kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu "berbicara" sendiri mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. 
Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).  Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?", melainkan "apakah gunanya itu?" atau "untuk apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atau salah", karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. Tokoh aliran ini: John Dewey (1859-1914).  Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahiran kembali dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain. 
Disamping itu masih ada aliran filsafat analitik yang menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Dalam berfilsafat, jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku". Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa, untuk mendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. Hanya dalam ilmu pengetahuan alam pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).  Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem dan karya-karya kesusasteraan. 
Continue Reading...

Pendekatan Filsafat Secara Definisi

Sep 26, 2012

Istilah “filsafat” dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Philosophy (Inggris), Philosophia (Latin), Philosphie (Jerman, Belanda , Prancis). Semua istilah itu bersumber dari Yunani Philosophia, yang secara etimologi terdiri dari dua kata: “Philein” yang berarti “mencintai” atau juga “Philos” yang berarti “Teman”, sementara “Sophia(n)” yang berarti “Kebijaksanaan” atau bisa juga “Sophos” yang berarti “Kebijaksanaan”. Jadi kedua istilah diatas secara etimologis itu dapat diartikan dengan secara sederhana bahwa Filsafat adalah "Mencintai akan kebijaksanaan hidup" atau " Mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana". (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM:2001:18) Namun tak lepas dari istilah filsafat secara etimologis diatas itu, filsafat juga mempunyai pengertian tentang Pandangan Hidup dan Proses berfikir. Dari sudut pandangan sejarah filsafat Barat kecenderungan pengertian filsafat lebih mengarah pada proses berfikir sementara pada filsafat Timur lebih mengarah pada pengertian pandangan hidup. Misalkan untuk menarik sebuah pemahaman tentang pengertian filsafat jika dilihat dari sebuah contoh "Falasafah Bangsa Indonesia adalah Pancasila" cukup jelas dari konteks diatas jika kita ingin menarik sebuah kesimpulan dari kata "falsafah”, maka maksud dari falsafah disini adalah merupakan bagian dari pengertian "Pandangan Hidup" sehingga lengkapnya adalah "Pandangan Hidup Bangsa Indonesia adalah Pancasila. Tentu pada konteks filsafat/falsafah yang mengarah pada  "Proses Berpikir" pun akan dengan sendirinya mengikuti konteks kalimat yang menjadi pernyataan, "filsafat seperti apa yang anda yakini sehinga anda mengambil jalan hidup seperti itu”, maka kata Filsafat dalam konteks ini lebih mengarah pada pengertian ”Proses berpikir” sehingga dengan jelas dapat disimpulkan dalam kalimat bahwa "Proses Berpikir seperti apa yang anda yakini sehingga anda mengambil jalan hidup seperti itu". demikianlah Filsafat arti yang merujuk dari pengertian kata tersebut tergantung dari konteks kalimat yang tersusun, sehingga pada saat tertentu pengertian filsafat yang mengarah pada maksud pandangan hidup ataupun proses berpikir menjadi analisa sesuai konteks yang dimaksud.
Secara keseluruhan inti dari pengertian filsafat adalah usaha rasional manusia untuk mencapai sebuah kebenaran tertinggi sesuai dengan rasa cinta yang terarah pada  kebijaksanaan hidup manusia itu sendiri. Sementara Hatta mengemukakan bahwa pengertian apa filsafat itu lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu, nanti orang telah banyak membaca atau mempelajari filsafat, orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu menurut konotasi filsafat yang ditangkapnya. (Hatta:I:3). Poedjawijatna menefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan  pikiran belaka. (1974:11). Plato menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, sementara Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalamnya Metafisika, logika, retorika, ekonomi politik, estetika dan bahasa. Bagi Al Farabi filsafat ialah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya. Sementara orang yang mula-mula menggunakan kata filsafat adalah Pythagoras.
            Sama halnya dengan Bertrand Russel yang juga memberikan devinisi dari pengertian filsafat berbeda dengan para filsuf yang lain. Menurutnya bahwa filsafat adalah “The attempt to answer ultimate question critically” (Park:1960:3). Dari berbagai macam perbedaan dari devinisi pengertian filsafat menurut Abu Bakar Atjeh (1970:9) disebabkan oleh berbedanya konotasi filsafat pada Para filsuf karma perbendan keyakinan hidup yang dianut oleh mereka. Disamping itu perebedaan filsafat itu muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri.(Ahmad Tafsir:1990:9)

Continue Reading...