Oct 31, 2015

BULAN BAHASA DAN IDENTITAS BANGSA*

Momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang selalu diperingati setiap tahun juga identik dengan Bulan Bahasa. Lebih terasa istimewa lagi, sebab pada butir ketiga dalam teks Sumpah Pemuda, Bahasa yang dijunjung sebagai Bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Pekik merdeka menjadi slogan heroik di berbagai daerah dengan satu tujuan mengangkat harga diri Bangsa  sebagai bangsa yang bermartabat dimata dunia. Kaum muda kala itu hanya ingin terbebas dari belenggu penjajahan, ingin berdaulat, serta ingin menyatukan rasa nasionalisme agar dapat berdikari dan menjadi bangsa yang mandiri. Dalam catatan sejarah Sumpah Pemuda, Jong Ambonlah yang terepresentasi sebagai “delegasi” Pemuda dari Maluku dengan Dokter J. Leimena sebagai pembantu IV dalam Kongres ke II tahun 1928. Padahal dalam rentang waktu antara 1607 hingga 1942 (Amal, 2010:342) kesadaran perlawanan terhadap penjajah telah dikobarkan oleh Rakyat Maluku Utara sekitar 3 abad lebih lamanya dengan berbagai epik sejarah pemberontakan, pengkhianatan hingga persekutuan, termasuk ekspansi hingga ke kolonialisasi yang melibatkan Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga Jepang, dengan melibatkan dua kerajaan besar yaitu Ternate dan Tidore. Meski kedua Kerajaan tersebut menempuh jalan yang berliku namun memiliki tujuan dan  semangatnya yang sama yaitu ingin lepas dari belenggu penjajah. Kesadaran pergerakan dalam organisasi maupun syarikat kaum muda Maluku Utara sekitar tahun 1919 hingga 1920-an juga telah teretas pada waktu yang tidak jauh berselang seiring momentum sumpah pemuda. Diantara tokoh pemuda sebagai pelaku sejarah dalam Kongres ke II tahun 1928 yang cukup familiar dan mewakili Jong Celebes adalah Arnold Mononutu, sebuah nama yang kemudian diabadikan sebagai nama Jalan di Kota Ternate. Tentu tidak mengabaikan peran tokoh pergerakan kaum muda  lainnya seperti Hasan Esa, Chasan Busoiri dan lainnya yang belum banyak dikenal dan belum mendapat apresiasi serupa oleh Pemerintah daerah kita nantinya.

Bahasa Dan Revolusi Mental Yang Paradoks
Seiring pesatnya kemajuan zaman dan laju perkembangan Tekhnologi,  momentum peringatan Bulan bahasa menjadi sasaran untuk merevitalisasi kembali kedudukan Bahasa Indonesia ditengah maraknya kosa kata asing yang berseliweran ditengah kehidupan kita sehari-hari. Ancaman tergerusnya Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. Merebaknya bahasa Sosialita dalam jejaring media sosial, istilah-istilah “alay” dalam kamus gaul remaja masa kini juga terus meningkat seiring meningkatnya arus informasi melalui Tekhnologi yang berbasis pada Smart Phone ataupun Gadget. Para pakar Bahasa pun turut bekerja keras untuk mentransformasikan kosa kata dan “Bahasa” tekhnologi kedalam istilah kosa kata Indonesia semisal unggah (upload), unduh (download), pindai (Scan), seret dan tempel (Drag and Paste) serta Surat Elektronik (email) yang mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Kecintaan kita terhadap Bahasa Indonesia mestinya didukung oleh pemangku kepentingan. Namun berbalik arah dengan keputusan Presiden Jokowi dengan meniadakan tes Bahasa Indonesia bagi pekerja asing dengan alasan untuk meningkatkan investasi (Kompas.com/21/8/15). Terasa mencederai rasa kebangsaan kita. Seolah Bahasa Indonesia  menjadi penghalang, jika para pekerja asing yang ingin bekerja di Indonesia akhirnya batal hanya karena tidak mampu atau gagal tes dalam menguasai Bahasa Indonesia. Keputusan tersebut  dapat dikatakan mengkerdilkan posisi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara bahkan mengebiri nilai-nilai semangat nasionalisme dan merendahkan identitas kebangsaan kita. Pertanyaan kemudian revolusi mental seperti apa yang ingin diharapakan oleh Bapak Presiden, jika di “rumah” sendiri pun bahasa Indonesia terpinggirkan. Justru pada kutub yang berbeda  Presiden  Turki Recep Tayyib Erdogan disela sela lawatan beberapa waktu yang lalu di Jakarta menunjukan sikap nasionalismenya dengan menolak menggunakan bahasa Inggris, Erdogan menggunakan bahasa Turki saat memberikan kuliah umum di Lemhanas. Sejalan dengan kecintaan Bahasa sebagai Identitas Bangsa, mengutip pendapat Menristek Anies Baswedan, bahwa Pelajar Indonesia setidaknya mampu menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Daerah, Bahasa Nasional dan Bahasa International. Saya berasumsi bahwa dengan menguasai tiga bahasa diatas ada semangat  Ke-Bhineka-an yang ingin tetap di jaga melalui adat istiadat dan budaya. Sebab identitas kebangsaan tidak saja tercermin dari Bahasa nasional yang kita gunakan sebagai Bahasa resmi atau Bahasa formal namun juga terdapat pada Bahasa Daerah yang padanya melekat budaya dan tradisi yang kini terancam atau bahkan ada beberapa yang telah punah oleh karena semakin sedikit jumlah penutur yang menggunakannya termasuk di Maluku Utara. Teringat cerita dari seorang Mahasiswa dalam tugasnya sebagai kapasitas pemandu untuk tamu dari Pusat (analogi orang yang datang dari luar daerah) dalam kepentingan untuk melakukan pemetaan artefak Arkeologi-Sejarah di pedalaman Halmahera. Lantaran ingin menego biaya transportasi dengan sang sopir yang asli orang Halmahera, mereka Mahasiswa pemandu yang memang berlatar jurusan Sastra Inggris itu menggunakan Bahasa Inggris. Dengan maksud agar sang sopir tidak mengetahui arah pembicaraan yang akan mereka bahas. Komunikasi “rahasia” menggunakan bahasa Inggris pun mengalir  sembari disimak oleh sang supir dengan penuh khidmat sebab posisi mereka memang saling berdekatan. Sebelum putusan tawaran dari diskusi kecil tadi disampaikan oleh Mahasiswa Pemandu  kepada sang sopir, ternyata sang sopir lebih dulu menyela dengan kalimat “ suda’ ekh jang ngoni pake bahasa rahasia, Ngoni kira kita tra mangarti bahasa Inggris?”. Setidaknya ilustrasi penutup ini menggelikan sekaligus membanggakan bahwa apa yang disampaikan oleh Menristek diatas dengan menguasai tiga bahasa, diantaranya Bahasa Daerah, Nasional dan Internasional telah diimplementasi oleh sang Supir yang ternyata juga seorang alumni Mahasiswa Sastra Inggris. Semoga dengan memperingati Bulan Bahasa tahun ini, kita tidak selalu lupa dengan  identitas kebangsaan kita melalui Bahasa, Mari !....

*Oleh : Syahyunan Pora (Tulisan ini pernah dimuat di Harian Malut Post tgl 28/10/15)

Sep 30, 2015

DESCARTES DAN TUBUH VIRTUAL*

Tema ruang mempunyai makna tempat atau keluasan yang sifatnya geometris. Descartes, seorang filsuf asal Perancis, mempunyai pandangan yang menyatakan bahwa ruang menemukan bentuknya lewat pemahaman tentang tubuh. Tubuh yang dikenali dalam konteks keluasan (res ekstensa) menjadi variabel dari apa yang kita mengerti sebagai ruang material. Untuk itu dalam pemikirannya tak ada ruang dalam arti ruang hampa atau tak bermateri (Edward S. Casey, The Fate of Place, 1998,hal. 155). Ini tentu berbeda dengan ruang dalam konteks internet (cyber) yang tak bermateri atau hampa udara, keluasan atau ekstensi kemudian dimaknai secara berbeda. Ruang cyber atau virtual dibentuk oleh hyperteks.
Seperti kita pahami hyperteks adalah material (teks) yang mengontruksikan halaman web, di dalamnya terdapat keluasan dalam bentuk program, dokumen, suara, grafik, video. Keluasan dalam ruang ini membentuk sebuah dunia. Dunia yang mempunyai forma jaringan dan karena itulah ia mempunyai ciri intertekstual. Intertekstualitas dalam konteks ini dipahami karena adanya relasi universal antara satu ruang dengan ruang lainnya. Seperti halnya ruang cyber, ruang Cartesian mengenal juga intertekstualitas. Intertekstualitas dalam ruang Cartesian ini dipahami lewat defrensiasi tubuh. Kesatuan ruang geometri Cartesian lebih jauh dapat dijelaskan lewat konsep tentang tempat. Edward S. Casey dalam bukunya tentang filsafat ruang membagi ruang geometri Cartesian dalam dua mode tempat, yaitu tempat eksternal dan tempat internal (The Fate of Place, 1998, Hal. 157).
Tempat internal dijelaskan sebagai tubuh material dalam arti volume atau keluasan, sedangkan tempat eksternal dimengerti sebagai relasi situasional antara tubuh-tubuh, seperti contoh perahu di sungai adalah relasi antara tubuh kayu dan tubuh air. Bila kita kaitkan dengan pemikiran Descartes, relasi antar tubuh itulah hyperteks yang bersifat intertekstual. Karena dalam ruang Cartesian realitas material dijelaskan sebagai sesuatu yang berekstensi, dengan kata lain ia terhubung satu sama lain seperti halnya hyperteks dalam ruang virtual. Descartes menjelaskan dalam Meditation on the First Philosophy bahwa pikiran mengenal tubuh lain atau alam sekitar dalam konteks keluasan. Artinya pikiran mengenal secara inderawi realitas material yang tak berjarak. Panas api yang kita rasakan adalah contoh bagaimana pikiran mengenali tubuh lain dalam arti keluasan atau contoh lain semakin jauh sebuah benda semakin tak kelihatan, dan sebaliknya semakin dekat ia maka ia akan terlihat jelas. Tubuh material dalam arti hyperteks terkait dengan data inderawi yang hadir dalam pikiran seperti warna, kepadatan, bentuk dan kualitas material lainnya. Namun kehadirannya tak bermakna sebelum titik pijak rasio manusia yang menyatakan eksistensi dimengerti. Kita ketahui bagaimana Descartes menjelaskan titik pijak rasio lewat metode keraguan. Sebelum realitas hadir secara hakiki, manusia menurut Descartes mesti meragukan (menghapus) keberadaannya, setelah itu barulah ia sampai pada titik ketika ia tak bisa meragukan ‘aku’ yang meragukan. Aku atau subjek yang berpikir (thinking thing) dan memilah-milah realitas inilah yang kemudian memahami keluasan material secara intertekstual. Menurut Descartes pikiran hanya mengenal pikiran, karena tak ada realitas tanpa pikiran. Keotentikan realitas dipahami setelah ‘aku’ sebagai sesuatu yang dapat berpikir hadir. Dalam Meditation on the First Philosophy Descartes mengatakan “it remains for me to examine whether material things exist.” Perkataan yang mengantarkan kita pada gagasan bahwa tubuh atau entitas material adalah sesuatu yang dalam arti tertentu palsu. Pikiran memang secara alamiah memahami keberadaan realitas material. Namun pikiran yang menerima data inderawi lewat apa yang Descartes sebut sebagai glandula pinealis melihat realitas sebagai sesuatu yang imajinatif. Permasalahan representasionalitas (benda-benda yang hadir dalam pikiran) adalah contoh bagaimana imajinasi sebagai fakultas pikiran dapat dimengerti.
Descartes misalnya membandingkan realitas material dengan realitas yang hadir dalam mimpi. Menurutnya keduanya mempunyai ciri yang tak jauh berbeda. Lalu bagaimana dengan realitas dalam cyberspace? Cyberspace dibangun oleh pikiran lewat hyperteks. Dalam ruang ini tubuh menjelma secara representasional. Imej, simbol dan teks adalah representasi realitas yang hadir dalam ruang ini. Ruang di sini terfragmentasi dan realitas sekaligus membeku, bergerak, dan berganti dengan cepat. Dunia yang hadir dalam halaman demi halaman merupakan bentuk fragmentasi dalam cyberspace. Dengan fragmentasi juga diandaikan tidak berlakunya konsep jarak. Jarak digantikan oleh interaksi hyperlink yang dapat dikatakan melampaui jarak. Fragmentasi dalam cyberspace merupakan keniscayaan. Realitas dalam cyberspace hadir terbatas hanya secara audio-visual. Dalam ruang ini tak ada pengalaman tentang berat-ringan, jauh-dekat, atas atau bawah. Kualitas tubuh Cartesian hanya menjelma dalam simbol-simbol yang dikonstruksikan oleh hyperteks. Dalam ruang cyber, tubuh menjelma secara virtual. Animasi adalah salah satu contoh tubuh virtual yang menjelma secara representasional. Kita ketahui bahwa animasi identik dengan gerak.Tentu saja tak ada jiwa dalam arti Cartesian dalam tubuh animasi ini, karena itu tak ada kehendak bebas. Dalam konteks cyberspace, gerak tubuh animasi dibatasi oleh sebuah program. Program dan prosedur membatasi gerak (dalam arti kehendak) tubuh virtual. Dengan logika program, gerak hanya dimungkinkan oleh adanya sistem otomat yang dikondisikan dan biasanya diikuti oleh serangkaian sistem gerak. Kata animasi sebagai manifestasi dari gerak mungkin bisa dikatakan berasal dari pemikiran Plotinus seorang filsuf Neoplatonis pada abad pertengahan. Plotinus dalam karyanya yang berjudul The Six Enneads menjelaskan tentang animasi (the animate) sebagai organisme hidup. Setiap yang berjiwa adalah bergerak, seperti tumbuhan, hewan dan manusia. Animasi pada awalnya merupakan penjelasan tentang fenomena gerak kehidupan. Setiap gerak menurut Plotinus dikondisikan oleh kehadiran jiwa. Pemikiran yang tentunya sesuai dengan konsep jiwa yang mengontrol tubuh dalam nalar Cartesian. Namun fakta kadang membuat kita bertanya tentang benda tak berjiwa yang bergerak. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Plotinus melihat bahwa gerakan dihasilkan lewat pancaran dari setiap organisme yang berjiwa. Animasi dalam konteks virtualitas adalah bergerak tapi tak berjiwa. Gerakan dihasilkan lewat program berisi prosedur yang dalam arti tertentu bisa disebut sebagai keluasan dalam nalar Cartesian yang dihasilkan oleh pikiran. *(Budi Hartanto)

Jul 31, 2015

EPISTEMOLOGI FEMINISME SIMONE DE BEAUVOIR


Simone de Beauvoir adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20, ia juga pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Beauvoir yang lahir di Paris, 9 Januari 1908, memperoleh gelar dalam bidang filsafat dari Universitas Sorbonne di Perancis, ia lulus tahun 1929. Kemudian ia mengajar di sekolah menengah di Marseille dan Rouen mulai 1931 hingga 1937, dan di Paris tahun 1938-1943. Setelah Perang Dunia, ia muncul sebagai pejuang pergerakan eksistensialisme, bersama Jean-Paul Sartre dengan karya Les Temp Modernes. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949. Buku tahun 1949 karya eksistensialis Simone de Beauvoir yang berjudul The Second Sex (bahasa Perancis:Le Deuxième Sexe) adalah salah satu karya Beauvoir yang paling terkenal, mengisahkan mengenai perlakuan terhadap wanita sepanjang sejarah dan sering dianggap sebagai karya utama dalam bidang filsafat feminis yang menandai dimulainya feminisme gelombang kedua. Beauvoir meneliti dan menulis buku ini dalam waktu 14 bulan saat ia berusia 38 tahun. Ia menerbitkan buku ini dalam dua volume, dan beberapa bab pertama kali ditampilkan dalam Les Temps modernes. Meski buku ini terkenal, Vatikan menempatkan buku ini di Daftar Buku Terlarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Simone_de_Beauvoir- diakses 15/12/2014.
Gambar : artofericwayne.com
Bertolak dari sebuah pernyataan terkenal dalam buku Simone de Beauvoir, The Second Sex: “One is not born a woman”–yang menunjukkan perjuangan diri perempuan dalam eksistensinya.  Di sampaikan dalam makalahanya tentang teori Beauvoir yaitu perempuan sebagai “Other”. “Kesadaran akan situasi sebagai perempuan berbeda dengan laki-laki membuat Beauvoir skepts dengan Sartre tentang filsafat manusia yang mendifiniskan manusia sebagai Subyek. Karena situasi perempuan tersebut yang didefinisikan oleh budaya dan masyarakat (dan bukan oleh dirinya sebagai Subyek itu sendiri), membuat relasi laki-laki terhadap perempuan sebagai yang “diluar” dirinya, sebagai seks semata (bukan manusia). Sebab, perempuan di definisikan dengan referensi kepada laki-laki dan bukan referensi kepada dirinya sendiri dengan demikian perempuan adalah insidentil. Semata, tidak esensial, laki-laki adalah Subyek dan ia Absolut—sedangkan perempuan adalah “Other” atau yang lain. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (The Second Sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain yang absolut. Feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002: 158). Feminisme berjuang untuk mendapatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Seorang feminis adalah seseorang yang mengenali dirinya sendiri, dan dikenali orang lain, sebagai seorang feminis, (menurut Humm 2002: 156). Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa teori feminis eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir , “Feminist eksistensialis: man define what it means to be human, including what it means to be female”, (Charles E. Bressler, 2007: 173). Teori eksistensialis adalah teori yang memandang suatu hal dari sudut keberadaan manusia, teori yang mengaji cara manusia berada di dunia dengan kesadarannya. Jadi, teori feminisme eksistensialis merupakan kajian yang melihat adanya ketimpangan pengakuan terhadap perempuan. Keberadaan perempuan adalah objek bagi laki-laki. Perempuan hanya dianggap sebagai “second sex” maka tidak bisa mendapat kesamaaan hak seperti halnya laki-laki.

May 31, 2015

SEPUTAR PEMIKIRAN FILSAFAT TEKHNOLOGI

(Kritikan Andrew Feenberg Terhadap Heidegger dan Albert Borgmann)

Filsafat Tekhnologi tergolong masih baru dalam dalam ranah filsafat kontemporer. Dimana wacana filsafat dan science kini mulai menjadi sebuah disiplin ilmu yang diminati 10 tahun belakangan ini. Seperti eksistensialisme menjadi trend bahkan diklaim oleh Sartre sebagai sebuah filsafat yang menjadi tren era 80-an , filsafat Tekhnologi kini menjadi trend seiring dengan perkembangan era tekhnologi dan digitalisasi yang menyentuh dihampir segala aspek kehidupan manusia. Beberapa filsuf yang cukup mempunyai pengaruh di ranah filsafat tekhnologi diantaranya adalah Heidegger , Don Ihde, Jaques Ellul, Andrew Feenberg hingga para filsuf tekhnologi kontemporer baru yang juga turut mewarnai khazanah pemikiran filsafat tekhnologi yang menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Seperti pada wacana kritikan Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Albert Borgmann yang terkenal dengan ungkapan “Focal Things” (atau yang hal hal yang memusatkan) dan Kierkegaard menyangkut dengan “Enframing” (pembingkaian). Heidegger pernah mengunggkap bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran . Bukan hanya itu saja Heidegger berpendapat tentang teknologi, yang mempunyai perbedaan antara teknologi moderen dan teknologi kuno. Yang pertama yaitu teknologi modren bukanlah seni tangan (Work Of Craftmanship), namun suatu penyingkapkan yang kemudian membedakan antara seni dan tekhnologi. adapun yang menbedakan teknologi modren dan teknologi kuno adalah teknologi tidak melibatkan suatu yang mengemukakan ke-hadapan dalam arti poiesis, yakni perbuatan sendiri seperti menulis puisi, sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat –sifat mencipta yang puitis. Dalam buku “The Question Concering Tochology” Heidegger tidak banyak membahas bagaimana menghadapi bahaya pandangan tersebut, akan tetapi dapat di simpulkan bahwa ada 2 hal, yang pertama pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyikapan kebenaran dapat membatasi pandangan bahwa dunia seluuhnya adalah persediaan semata – mata. Dalam kata Heidegger sendiri bahwa “relasi yang bebas dengan teknologi”. Yang kedua pengayaan penyikapan teknologi atau pandangan alternatif dari Get – stell dilakukan dengan menghidupkan kembali Techne sebgai seni yang dapat membendung pemakaman tentang dunia melulu sebagai persediaanya(standing reserve).
Sementara lebih menyoroti pada “focal things” atau hal-hal yang memusatkan. Borgman memberikan contoh yang menyangkut dengan tungku perapian modern yang memusatkan orang tidak pada urutan kerja yang membuat orang berusaha menghadirkan tungku perapian secara tradisional seperti mengumpulkan kayu bakar dan lain sebagainya. Termasuk alat microwave dan makanan siap saji yang secara efisien dapat dihadirkan secara cepat namun menurut kritikan dari Andrew Feenberg seorang Filsuf Canada membuat manusia dihadapkan pada keringnya arti humanisme. Hal yang samapun ia mengkritik Heidegger dengan efisiensi produk tekhnologi yang tidak selesai dipecahkan oleh Heidegger sendiri menyangkut dengan ketergantungannya pada tekhnologi. Pada Andrew Feenberg, objek kajian Borgman mengenai “paradigma perangkat” hanya dilihat dari sudut efisiensinya saja namun tidak melihat sejauh mana akibat apa yang ditimbulkan oleh “paradigma perangkat” tersebut. Misalnya makanan cepat saji yang dengan begitu cepat disediakan dan begitu instan sehingga meretas ruang dan waktu.
Orang kemudian hanya mempunyai sedikit waktu untuk bersosialisasi. Begitupun dengan pertimbangan kalori dari makanan cepat saji yang tersedia sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia pertimbangan akan nilai gizinya kadang terabaikan. Itulah sekiranya yang menjadi objek kritikan yang dilontarkan oleh Andrew Feenberg. (Syahyunan Pora)

Apr 30, 2015

TUBUH MANUSIA DAN EKSLUSIFISME EROPA

TUBUH manusia, dalam berbagai bentuknya memang cuma seonggok daging dan tulang. Tetapi tatkala tubuh itu telah berpadu dengan "ruh", eksistensi manusia sebagai individu serta merta terkait dengan berbagai hal. Sebagaimana ditunjukkan Michel Foucault (1926-1984), seorang pemikir dan filsuf Perancis kenamaan abad ini, tubuh tidak saja sekedar anatomi dari aringan sel-sel yang mengandung sejuta pesona dan kenikmatan (seks), melainkan pula dalam sejarah peradaban Eropa tubuh terkait dengan perkembangan teknik-teknik rekayasa tertentu yang tak lepas dari kekuasaan politik, ekonomi dan medis yang di kemudian hari telah membawa rasisme Eropa.Pemikiran Foucault tentang hal itu memang bisa ditilik dalam dua bukunya; The Disciplin and Punish dan The History of Sexuality Jilid I. Tetapi paparan Foucault tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa yang diresapi cahaya narasi klinik baru dalam kaitannya dengan sejarah penjara dan sejarah seksualitas dalam dua buku tersebut bisa dikatakan cukup berliku.
Adalah Seno Joko Suyono, yang kini menjadi wartawan di majalah Tempo, jika lewat buku ini kemudian mencoba mengkaji atas pemikiran Michel Foucault tentang proses pembentukan individualisasi kelas borjuis menengah Eropa dan menunjukkan kepada pembaca bahwa adanya diri individu Eropa seperti sekarang ini ternyata dilatarbelakangi gelegar kontrol politik kesehatan di Eropa yang terjadi pada akhir abad 18..Yang menarik dari cara Foucault dalam mengungkap inti pemikirannya, sebagaimana ditunjukkan oleh Seno dalam buku ini adalah metode yang dipilih Foucault dalam mendekati suatu persoalan. Dengan mengawinkan keironikan Baudelaire dengan metodologi Nietzsche (genealogi), Foucault menelusuri medan-medan sejarah yang dikuburkan oleh kekuasaan dan yang tak terjamah oleh ilmu-ilmu sosial kemanusiaan resmi dalam kerangka pendekatan sangital terhadap modernitas.Usaha Foucault itu jelas bukan untuk mengungkap peristiwa-peristiwa apa yang telah terjadi di masa lalu dalam sejarah, melainkan untuk menganalisis kekuasaan pada dataran di mana wacana kebenaran atau rezim pengetahuan yang diproduksi oleh kekuasaan amat berperan membentuk individu. Seperti diungkapkan Seno lewat buku ini, Foucault menganalisis pembentukan diri bertitik tolak dari lahirnya narasi klinis yang telah membawa Eropa pada kemajuan peradaban. Di sisi lain, Foucault juga beranggapan bahwa melalui tubuhlah analisis tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa akan bisa didekati.Dari analisis Foucault yang unik itu, Seno mengikuti alur pemikiran Foucault yang menemukan satu kenyataan sejarah bahwa identitas kelas menengah Eropa ternyata terbentuk atau diteguhkan melalui proses penyingkiran kelas-kelas masyarakat yang distigmatisasikan mengidap penyakit lepra atau kusta. Tak cuma itu, di abad 18 juga telah merebak operasi besar-besaran untuk menangkap orang-orang miskin, gila, pelaku kriminal dan semacamnya sebagai maklumat politik kesehatan dari ketakutan epidemi sebagai impian politik dan ekonomi untuk mewujudkan kelas masyarakat baru Eropa dan untuk menciptakan Eropa yang steril. Sepanjang pelaksanaan politik kesehatan berdimensi menentukan pembentukan tubuh individu Eropa Modern, Seno bersandar pada pemikiran Foucault kemudian melihat munculnya dua kutub perekayasaan global terhadap tubuh manusia. Kutub pertama, bagi seno yang disandarkan pada buku Foucault The Disciplin and Punish dipandang menentukan bagi pembentukan ekspresi luar, gerak-gerak fisikal dan kinetik tubuh manusia Eropa modern. Penelitian Foucault akan sejarah penjara telah menyibak bagaimana cahaya narasi klinis telah meresapi metode penghukuman sehari-hari bermatrikkan epistemologi ilmu anatomi dan hubungan baru dokter pasien akhirnya mengkonstruksi ekspresi luar tubuh manusia. Dengan kemunculan penjara, di mana disiplin merupakan turunan dari timbulnya minat kontrol anatomis wacana klinis baru di kemudian telah membuat individu Eropa memiliki tubuh yang patuh, tereduksi dan seragam.Adapun kutub kedua, bagi Seno yang disandarkan pada buku Faoucault The History of Sexuality Jilid I telah menentukan bagi pembentukan ekspresi dalam tubuh manusia Eropa modern sebagai akibat dari rekayasa seks di awal abad 19. Penelitian Foucault tentang sejarah seksualitas telah membuka kedok rekayasa seksualitas berwacana klinis oleh kontrol populasi di mana telah menghasilkan timbulnya sikap rasisme tertentu bagi individu Eropa. Timbulnya rasisme Eropa ini, bagi seno tak lain sebagai implikasi dari bio-politik.Memang, dua kutub konstruksi kekuasaan akan proses pembentukan diri Eropa sebagai rangkaian teknologi dari retasan kontrol narasi klinis pada mulanya berbentuk bipolaritas (berjalan sendiri-sendiri). Tetapi, tak disangsikan lagi bahwa di abad 19 hal itu telah membentuk kesatuan power over life atau kesatuan rekayasa individualisasi yang utuh.Sebagai satu catatan, buku karya Seno --yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta-- ini bisalah ditebak jika merupakan hasil revisi dari skripsi sang penulis. Meski ia tidak menyinggung dalam kata pengantar, dari sistematika buku ini setidaknya bisa ditebak. Kendati demikian, hal itu tidaklah mengurangi kajian yang telah dilakukan oleh penulis.Apalagi lewat buku ini ia telah berani melawan arus dengan mengumandangkan suara sumbang bahwa inti pemikiran Foucault adalah individualisasi dan menyanggah inti pemikiran Foucault tentang kekuasaan sebagaimana dipeluk erat oleh banyak pemikir.
***Peresensi Oleh Nur Mursidi

Mar 27, 2015

KEAJAIBAN “TANDA” & “BAHASA” DALAM FILM “THE MIRACLE WORKER”

Annie = “Aku harus mengajarinya yang pertama adalah bahasa”
Kate = “ Bahasa?”
Annie = “Dia tidak tahu kata-kata,” bagaimana Dia bisa tahu mengapa...”
Kate  =  “Nona Sullivan,mungkin Anda akan disulitkan dengan kondisi Helen, Dia tidak bisa melihat ataupun mendengar”.

Annie= “Tetapi jika itu hanya  inderanya yang terganggu dan dan tidak pikirannya, maka dia harus memiliki bahasa.” Bahasa lebih penting untuk pikiran daripada cahaya untuk matanya.”
http://www.vancouversun.com/cms/binary/2078782.jpg

Petikan dialog dari teks diatas menggambarkan betapa pentingnya bahasa selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat memberi pemaknaan terhadap nama-nama dari setiap benda yang ada di sekeliling kita. Kutipan teks diatas, menyiratkan bahwa kekuatan pikiran (mind) dapat mengatasi terbatasnya kemampuan indra untuk menyingkap pengetahuan manusia dengan cara yang tak biasa. Pada kasus kaum difabel seperti kisah Helen dalam Miracle Worker, bahasa mengejawantah diri melalui “tanda” sebagai bentuk komunikasi dan pemeberian arti terhadap makna-makna bahasa yang terkandung didalamnya. Meskipun demikian tidaklah berarti bahwa orang normal dengan memiliki kesadaran indra yang lengkap akan begitu mudah memahami bahasa.   Sebagai makhluk yang hidup di dalam masyarakat dan selalu melakukan interaksi dengan masyarakat lainnya tentu membutuhkan suatu alat komunikasi agar bisa saling memahami tentang suatu hal.
Apa yang perlu dipahami? Banyak hal salah satunya adalah tanda. Supaya tanda itu bisa dipahami secara benar dan sama membutuhkan konsep yang sama supaya tidak terjadi misunderstanding atau salah pengertian. Namun pada kenyataannya tanda itu tidak selamanya bisa dipahami secara benar dan sama di antara masyarakat. Setiap orang memiliki interpretasi makna tersendiri dan tentu saja dengan berbagai alasan yang melatar belakanginya. Ilmu yang membahas tentang tanda disebut semiotik (the study of signs). Masyarakat selalu bertanya apa yang dimaksud dengan tanda? Banyak tanda dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti tanda-tanda lalu lintas, tanda-tanda adanya suatu peristiwa atau tanda-tanda lainnya. Semiotik meliputi studi seluruh tanda-tanda tersebut sehingga masyarakat berasumsi bahwa semiotik hanya meliputi tanda-tanda visual (visual sign). Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Untuk mengatasi keterbatasan indra yang dialami Helen sebagai gadis yang buta, bisu dan tuli, sang guru Anne menggunakan bahasa tanda sejak pertama kali kedatangannya di Keluarga Keller untuk mengajar Hellen. Kata melalui tanda pertama yang diajarkan oleh Anne adalah “doll” atau boneka. Dengan mengejakan d-o-l-l (boneka) melalui tangan , ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Gambaran mental atau pikiran dari petanda yang sempat diekspresikan oleh Hellen disaat ia membutuhkan kehadiran ibunya. Ia memberi tanda dengan mengusap-ngusap pipi dengan jemari secara berulang-ulang. Apa yang dilakukan Hellen ini sebagai tanda dari ketidak-mampuan menggunakan bahasa untuk memanggil ibunya.
Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga ‘kata-kata’. Tanda menurut Saussure merupakan kesatuan dari penanda dan petanda. Walaupun penanda dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa. Dalam adegan lain bahwa bahasa tanda dapat ditangkap atau dimengerti oleh Helen seperti yang diajarkan oleh Anne. Namun ia belum mampu menangkap makna yang terkandung dalam bahasa tersebut. Pengenalan “kata” boneka, kue atau bunga belum ia pahami sepenuhnya. Mungkin Permen yang tiap kali dijejali dalam mulutnya pun saat ia dalam keadaan tak terkendali tak ia pahami maknanya. Hal ini berkaitan dengan tiga konsep utama Saussure 1. Langage, 2. Parole dan 3. Langue . Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue. Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya bila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu. Langue telah dan dapat diteliti; langue juga bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Nah, tanda bahasa tersebut dapat menjadi lambang tulisan yang konvensional. Tujuan linguistik adalah mencari sistem (langue) struktur dari kenyataan yang konkret (parole).
Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Contoh: pergi! Dalam kata ini, gagasan kita adalah ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi!, dapat juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dengan abjad tuna runggu, atau dengan simbol atau dengan tanda-tanda militer. Langue seperti permainan catur, kalau saya kurangi buah catur, akan berubah dan bahkan permainan akan kacau; demikian halnya dalam langue, jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan kacau balau juga. Misalnya: saya makan nasi, jika kalimat ini saya ubah menjadi: makan nasi saya, kelihatannya kalimat tersebut, janggal.
Menurut de Saussure langue (kaidah) menguasai parole (praktik berbahasa). Tanpa menguasai langue seorang tidak dapat ikut serta mempraktikan langage dalam sebuah masyarakat bahasa. Jadi, kita tidak akan dapat mempraktikan parole bahasa Urdu kalau kita tidak menguasai dulu langue dari langage Urdu. Konsep ini dapat diterapkan pada gejala nonverbal. De Saussure memberi contoh yang sangat terkenal yaitu "permainan catur". Para pemain sebagai "komunitas pecatru" menguasai kaidah permainan tersebut, yakni langue,  antara lain aturan tentang cara menjalankan setiap jenis bidak catur, misalnya "kuda" mengikuti gerakan "huruf L", "raja" hanya bisa bergerak satu kotak demi satu kotak. Saussure meyakini bahwa bahasa tulis merupakan "turunan" dari bahasa lisan. Jadi bahasa yang utama adalah bahasa lisan.
Bahasa yang sebenarnya adalah bahasa lisan. Ini merupakan kritik terhadap para peneliti bahasa yang terlampau terfokus pada bahasa tulis yang oleh de Saussure dipandang sebagai "tidak alamiah". Setelah berbicara tentang "langue" dan "parole" sebagai baian dari "langage", de sussure membicarakan pentingnya bahasa lisan. "Langage" yang utama adalah bahasa lisan, yang merupakan objek kajian utama linguistik. Menurut Saussure, tulisan sering dianggap bahasa yang ;menurunkan bahasa lissan karena penelitian bahasa-bahasa kuno (seperti Yunani, Latin dan Sansekerta) memberikan citra bahwa bahasa tertulis lebih berprestise. Padahal tulisan adalah turunan dari bahasa lisan yang menurut de Saussure diatur oleh "langue", sedangkan tulisan merupakan sistem yang berbeda. Bahasa lisan juga dianggap yang utama karena menurut de Sussure makna lebih dekat pada yang lisan daripada yang tertulis. Objek kajian utama linguistik adalah bahasa lisan. Karena hubungan antara penanda dan petanda secara bersamaan membentuk tanda, keduanya tidak terlepas satu sama lain. Dengan demikian, keduanya membentuk satu kesatuan--yakni tanda--yang seringkali (konsep seperti ini) disebut struktur. Begitu pula hubungan antara "langue" dan "parole" (sebagai bagian dari "langage"), keduanya berkaitan satu sama lain secara tak terpisahkan, sehingga membentuk sebuah struktur, yakni "langage".
Struktur konsep de Saussure ini dapat kita cermati disaat akhir cerita dari film “The Miracle Worker” ketika melalui air dari sumur pompa yang kemudian membersitkan  pengertian terhadap pemaknaan benda-benda yang diajarkan oleh guru Anne selama ini.  Air yang yang selalu menjadi kendala selama pengajaran dari gurunya sekadar ia rasakan melalui indra perasa, belum sepenuhnya memberikan gambaran utuh sebagai bagian dari pemaknaan bahwa air sebagai air (meaningless). Namun peristiwa di sumur pompa itulah kesadaran bahasa sebagai alat komunikasi mulai di pahami oleh Helen (meaningfull). Sejalan dengan pemahaman terhadap arti dari suatu benda yang dialami oleh Helen ini, bisa kita dengan teori ideasi. Dimana gagasan atau ide sebagai titik sentral dari yang menentukan arti suatu ungkapan.
1.      
The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart.

Selain dari aspek kebahasaan dan tanda yang sarat dalam film “The Miracle Worker”. Ada aspek pendidikan yang berdimensi disiplin dan tanggung jawab yang teremban dalam film ini. Dalam aspek psikologis film ini sejalan dengan teori Behaviourisme. Teori behaviorisme menekankan hubungan psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Di dalam film The Miracle Worker, pembelajaran yang diberikan lebih dominan tentang bahasa, teori behaviorisme juga mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan dan dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu karena peserta didik mendapat rangsangan dari dalam dan luar. Maka akan mempengaruhi proses pembelajaran dan peserta didik akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka peserta didik tersebut akan mendapat penguatan dari orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan peserta didik akan menguasai percakapan. Sebagaimana di dalam film The Miracle Worker yaitu peserta didik (Helen) dalam memahami kata-kata atau nama-nama dengan benda-benda yang dipegang ataupun diraba mempunyai korelasi. Di samping itu juga Annie Sullivan yang selalu mengajari Helen dengan cara berulang-ulang. Oleh karena jika peserta didik mendapatkan stimulus secara berulang-ulang akan terjadi suatu pembiasaan. Maka ia pun akan merespon bentuk responnya adalah melakukan apa yang telah di ajarkan oleh Annie Sullivan selaku pendidiknya.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk mendidik peserta didik yang masih banyak membutuhkan peranan orang dewasa dalam proses pembelajarannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang di cita-citakan.
Dari kisah Hellen dan Nona Anne ini, dan kemudian diangkat dalam Film dengan judul “The Miracle Worker” ,, setidaknya memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga, dan yang  paling utama ialah rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan kesempurnaan panca indra. Kemudian, kesabaran seorang guru yang mencurahkan semua daya dan melakukan segala upaya agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Walaupun banyak terdapat kekurangan yang ada pada anak didik, dalam kisah hellen yang buta, dan tuli. Akan tetapi dengan kesabaraan yang dimiliki oleh Anne dan  keyakinan serta ketekunannya, ia dapat mengubah semua kekurangan menjadi keistimewaan yang belum tentu  dicapai oleh orang yang normal sekalipun.
Kemudian, ketegasan seorang guru juga diperlukan terhadap anak didik dan orangtuanya. Tegas bukan berarti keras. Tegas berarti mengatakan ”Ya” jika ya dan mengatakan ”Tidak” jika memang tidak sambil memberikan penjelasan atas setiap perkataan. Hal ini perlu dilakukan secara konsisten atau dijadikan pembiasaan agar anak dapat berpikir mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia dapat berhati-hati dalam bertindak. Dengan menerapkan hal ini, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya karena dirinya selalu diberikan penjelasan atas perbuatannya, maka nantinya ia akan terbiasa untuk berkomunikasi dan berdiskusi, sekaligus mengasah kecerdasannya dalam berpikir. Seorang pendidik haruslah selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Hal itu merupakan modal bagi seorang pendidik sehingga mampu memberikan pendidikan secara menyeluruh dan tuntas.
Sikap optimis pun sangat diperlukan oleh seorang pendidik karena dengan bersikap optimislah, pendidik dapat lebih termotivasi untuk berinovasi agar berguna bagi anak didiknya. Jika Inderanya ada yang ganjil dan bukan pikirannya, dia pasti punya bahasa, “bahasa lebih penting bagi pikiran dari pada cahaya untuk mata”. Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia melainkan hanya dapat dirasakan di dalam hati. *Oleh Syahyunan Pora- (Tulisan ini adalah materi diskusi untuk tugas mata kuliah Filsafat Analitik-Maret-2015)


Feb 28, 2015

KEDUDUKAN FILSAFAT DEWASA INI

Sebagian besar dalam sejarah filsafat selalu membahas problema dari situasi manusia sehari-hari; akan tetapi dalam beberapa dasa warsa terakhir ini, banyak ahli filsafat di Dunia Barat mengarahkan hampir seluruh perhatian mereka kepada sejarah filsafat atau pembahasan tentang istilah dan bahasa lalu dipakai untuk memaparkan fikiran-fikiran. Pengetahuan tentang istilah dan bentuk  serta pemakaian bahasa adalah penting, akan tetapi kita tidak boleh menggunakan pengkajian tentang “alat” (instrument) seperti logika, semantic, analisa linguistic, untuk mengganti penelitian tentang problema yang pokok, yakni problema filsafat yang abadi. Karena ahli filsafat sudah berpaling dari dunia, sementara filsafat itu sendiri melampaui realitas alam ide, maka dunia tidak lagi meminta pengarahan kepada filsafat dalam menghadapi problema-problema baru yang mendesak. Disinilah kadang filsafat mendapati dirinya terpojok dalam ruang yang tersendiri. Bahkan tidak sedikit yang menganggap filsafat membingungkan, bahkan kerap filsafat dianggap kerap membuat rumit ide-ide yang sederhana.

http://previews.123rf.com/images/-illustration--Stock-Vector.jpg



Pekerjaan (profesi) filsafat tidak selalu mempunyai arti yang sempit dan spesial seperti sekarang ini, dimana filsafat masih diusung pada tema-tema yang melangit dan tidak membumi. Filsafat pada zaman modern seharusnya diarahkan pada soal hidup dan mati; filsafat merupakan jiwa yang mencari keselamatan. Namun seringkali kenyataan yang ada berkata lain. Kini kesan yang ditampakkan bahwa pendorong untuk mempelajari filsafat bagi seorang mahasiswa yang berasal dari kultur timur adalah sangat berbeda dengan pandangan seorang mahasiswa yang datang dari kultur Barat. Mahasiswa yang datang dari kultur Timur mencari jawaban tentang dunia yang kalang kabut dimana ia hidup. Sebab banyak yang menjadi tidak puas mengenai konsepsi analitik dari filsafat. Mereka bertanya "Jika Filsafat yang berarti penjelasan (klarifikasi), apakah ia berhak menduduki tempat yang biasa dimilikinya dalam pendidikan liberal?" Pertanyaan tersebut mengandung arti: “Jika analisa kata-kata adalah satu-satunya tugas filsafat, maka filsafat akan bunuh diri.

Jan 31, 2015

ILMU PSIKOLOGI DAN PENGARUH POSITIVISME

Perkembangan ilmu psikologi ternyata tak pernah bisa lepas dari pengaruh ilmu-ilmu lainnya. Mulai dari laboratorium psikologi di Leipzig yang didirikan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879, psikologi sebagai sebuah ilmu berusaha untuk mandiri serta melepaskan diri dari ilmu filsafat. Konteks perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang berlangsung pada saat itu ternyata berpengaruh sangat besar dalam perkembangan ilmu psikologi. Berikutnya ilmu psikologi semakin berkembang dan semakin kompleks dengan masuknya pengaruh paham positivisme. Psikologi, seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya mulai condong pada pembuktian dan penyimpulan positivistik sebagai satu-satunya cara pencarian kebenaran yang dianggap sahih. Kritik dan wacana baru bermunculan terhadap kecenderungan positivistik ini, hingga begitu banyak cabang dan aliran dalam ilmu psikologi yang berusaha untuk terus menembus kebuntuan ini dan terus mencari jalan menuju kebenaran. Darmanto Jatman juga berusaha untuk mempertajam lagi pisau bedah yang digunakan dalam ilmu psikologi melalui Ilmu Jiwa Jawa nya. Berangkat dari pendapat Michael Cole yang mempertanyakan betapa psikologi kebudayaan tidak dihargai dalam belantara ilmu psikologi yang bercorak positivistik dan fenomenologis, Darmanto Jatman juga berupaya menentukan titik pijak pertama aliran ilmu psikologinya. Psikologi Pribumi yang berlatar belakang pandangan dunia Jawa inilah yang diteliti oleh Darmanto Jatman. Ilmu Jiwa Jawa sebagai cabang baru ilmu psikologi ini ini yang akan dibahas dari segi filsafat ilmu, terutama mengenai metodologi, obyek formal dan materialnya serta problem-problem epistemologis yang muncul dalam usaha membela Ilmu Jiwa Jawa sebagai sebuah aliran dalam ilmu psikologi.



Akar pengaruh positivisme dalam ilmu psikologi bisa dirunut dari mulai lahirnya modernisme. Keterpisahan antara subyek-yang-sadar dengan dunia luar memicu munculnya keyakinan bahwa subyek mampu mengambil jarak terhadap obyek, sehingga pengetahuan yang didapat tentang obyek akan bersih dari segala bentuk campur tangan subyek. Ciri khas dari positivisme adalah, peran penting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. Di dalam positivisme, valid tidaknya suatu pengetahuan dilihat dari validitas metodenya. Akibatnya pengetahuan manusia (sekaligus kebenaran) posisinya digantikan oleh metodologi yang berbasiskan data yang diklaim obyektif, murni dan universal. Selanjutnya, satu-satunya metodologi yang diakui oleh para penganut positivisme adalah metode ilmu-ilmu alam yang dianggap mampu mencapai obyektifitas murni dan bersifat universal. Permasalahan paling vital dalam positivisme adalah memperlakukan setiap fenomena, termasuk fenomena sosial seperti gejala-gejala alam yang bersifat tetap serta beroperasi melalui sebab-sebab konstan. Tujuan utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah fenomena. Bagi kaum positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empiris. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak bisa disebut “ilmiah” karena prosedur induksi nya tidak dipenuhi. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan prosedur yang rigid dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil membuat sebagian besar ilmuwan merasa sudah ilmiah. Akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis, sebuah temuan yang ‘hanya’ berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih . Didorong oleh empirisme dan verifikasi, positivisme mulai berkembang dan mempengaruhi ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu psikologi dengan munculnya mazhab behaviorisme. Seiring eksperimen yang mulai marak dilakukan, behaviorisme mulai menelaah perilaku yang terobservasi. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sains sehingga harus dihindari. Konsekuensi dari paham ini adalah ilmu psikologi condong ke arah ilmu alam. Pengingkaran terhadap “kedalaman” individu, keterkaitan antara kesadaran dan dunia, serta hubungan antara manusia, langgam komunitas dan habitat kehidupannya mengakibatkan ilmu psikologi menjadi sangat dangkal secara substantif. Ilmu psikologi menjadi sangat kering, dan tidak mampu menjelaskan banyak hal menyangkut manusia. Reduksi yang dilakukan terlalu dalam sehingga kritik terhadap kecenderungan positivistik ini mulai bermunculan baik dari dalam ilmu psikologi secara khusus maupun kepada ilmu-ilmu sosial secara umum. Metodologi sebagai tolok ukur pengetahuan digugat melalui banyak metode baru yang diajukan oleh mazhab-mazhab baru yang bermunculan. Mulai dari psikologi gestalt hingga pendekatan fenomenologis ala Merleau Ponty mengajukan keberatan atas behaviorisme dan positivismenya. Demikian juga perkembangan dari ilmu-ilmu sosial dimulai oleh ilmu filsafat, ternyata sangat dipengaruhi oleh kritik kepada positivisme. Salah satu kritik terhadap positivisme diajukan oleh filsuf Feyerabend dengan konsepnya Anything Goes