May 31, 2011

SEPUTAR FILSAFAT TEKHNOLOGI (Kritik Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Borgmann)

By: Syahyunan Pora

Setelah perang Dunia ke II, Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial tersapu oleh gelombang determinisme tekhnologi. Jika tekhnologi sudah tidak menjadi kebanggaan untuk memodernisasi kita, maka krisis dalam kebudayaan kitalah yang patut disalahkan. Keutuhan determinisme modernisasi baik yang optimis dan pesimis menjadi sebuah fenomena yang mendasar. Pendekatan ini sebagian besar memungkinkan “perbedaan” dalam ranah pencerapan budaya modern yang beragam. Secara garis besar determinisme tekhnologi tidak berkembang seiring dengan penelitian filsafat seperti apa yang mungkin diharapkan oleh orang. Dalam batas tertentu Heidegger sangat mempunyai otoritas dalam “menjawab” perkembangan tekhnologi baru yang telah terpojok. Jika kita ingin menyetujui modernisasi alternative, maka kita harus membatasi pandangan Heidegger. Heidegger sudah tidak diragukan lagi sebagai filsuf yang paling berpengaruh dalam abad ini, hingga pada puncak sejarah “enframing” (pembingkaiannya) yang tak bisa disangkal. Ambisi Heidegger adalah menjelaskan filsafat tekhnologi secara filsosofis, sebagai suatu kekuatan refleksi untuk memperbahrui cara pandang tekhnologi dewasa ini. Proyek inilah yang dilakukan ditengah revolusi besar tekhnologi yang mengubah peradaban Eropa lama, dengan aturan dan pandangan agama yang mengakar, industry masyarakat urban yang didasari oleh ilmu dan tekhnologi. Puncak pemikiran mengenai filsafat tekhnologi Heidegger sampai pada istilah “enframing” atau pembingkaian yang mana semua artefak tekhnologi terbingkai dalam sebuah keterbatasan atau menjebak manusia dengan segala kepentingannya menyangkut dengan tekhnologi. Tekhnologi sudah bukan lagi lagi menjadi sebuah sarana dan tujuan bahkan menjadi alat itu sendiri. Namun perlu dicermati dengan istilah enframing ini tak bias dimengerti secara an sich dimana, perilaku tekhnologi dengan ketergantungan manusia secara mekanistis tidak semata terbingkai begitu saja. Ini bisa dirunut dengan pengaruh Heidegger terhadap fenomenologi Husserl. Sekiranya dapat dijelaskan mengenai “enframing” ini sudah tidak semata hanya pada ketergantungan akan tekhnologi sehingga manusia melaku diri sebagai sesuatu yang mekanistis, tetapi dalam tekhnologi dapat mengungkap (disclose) . Ambisi Heidegger adalah menjelaskan filsafat tekhnologi secara filsosofis, sebagai suatu kekuatan refleksi untuk memperbahrui cara pandang tekhnologi dewasa ini. Namun refleksi filosofis Heidegger tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh cara pandang metafisika. Dalam enframing (pembingkaian) konsep dan makna tekhnologi dimanipulatif dan tereduksi didalamnya. pemikiran Heidegger yang lain misalnya Heidegger berpandang bahwa sejarah Ada mempunyai sedikit pemikiran mengenai sejarah Ada yang sering dianggap mistis. Heidegger berpendapat bahwa, Bagaimana menyipulkan bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran ?


Feb 27, 2011

KEHIDUPAN CINTA JEAN PAUL SARTRE

Oleh Syahyunan Pora
Jean-Paul Sartre adalah seorang anak tampan  dengan rambut keemasan yang cenderung panjang, namun berbeda dengan perjalanan hidupnya yang begitu singkat. Suatu hari kakeknya membawanya ke tukang cukur, yang pada masa itu ia dianggap  jelek oleh orang-orang yang  ada disekitarnya. Menyadari akan hal ini Sartre pada usia yang sangat dini mulai menggunakan intelegensinya untuk menarik  lawan jenisnya. Saat itulah periode awal dalam kehidupannya dimana sartre mulai berkenalan dengan  setiap perempuan yang  juga turut mengasah keromantisan cinta seorang sartre dalam kehidupan percintaanya. Jean Paul Sartre (1905-1980) terlampau menganggap dirinya sebagai "Don Juan Intelek  yang dapat mematikan perempuan dengan  kekuatan lidah emasnya." (Jean-Paul Sartre, War Diaries: Notebooks from a Phoney War, November 1939-March 1940, trans. Quinton Hoare (Verso, 1999) 266.) Ia seorang perayu dan gemar  terhadap seni merayu bahkan sangat menyukai rayuan dengan mempermainan kata-kata. : "Saya tidak terlalu tertarik pada wanita, ketimbang sandiwara mereka lalu diberilah kesempatan itu kepada saya untuk….. Menempatkan mereka pada posisi yang semestinya ketimbang menghitung-hitung  peluang untuk memilikinya. "( Ibid., 284.) Menaklukan adalah hal yang mudah tetapi mengumbar rayuan adalah satu hal yang menguras, demikian ungkap sartre.  
“…Sekembalinya diri saya dari tiap perjamuan , mulut saya terasa kering,  otot wajah saya begitu lelah sebab terlalu banyak senyum , sisa-sisa suara masih terdengar   dengan penuh cinta kasih yang menjijikan tanpa berkeinginan sedikitpun untuk menarik perhatian  dengan berkedok telah merasa puas oleh karena telah mengambil untung dari setiap urusan saya….." ( Ibid., 285.)
Walaupun demikian, Sartre pun menginginkan sebuah hubungan yang mendalam,penuh kelembutan dan bermakna, "... sesuatu yang tidak selalu terikat pada kehidupan seks, dimana setiap moment itu dapat menjadikan diri kita menjadi pribadi- pribadi  yang tersendiri bahkan hingga ke kedalaman pribadi yang terdalam “ (Catherine Chaine, "A Conversation About Sex and Women with Jean-Paul Sartre," Playboy January 1978: 116.) Sartre tahu ia kelak  akan menjadi orang yang besar dengan pemikiran-pemikiran  besar yang tidak boleh dibatasi oleh konsep borjuis monogami (Sartre, War Diaries: Notebooks from a Phoney War, November 1939-March 1940  75) Kebebasan adalah sangat penting baginya,. Sehingga  ia menawarkan semua pacarnya bak karunia suci  yang berharga dari  tiap kebebasan untuk bermonogami. Para setiap gadis yang  mula-mula ia kencani telah menemani kebersamaannya dengan waktu yang cukup lama, namun dengan berkah suci kebebasan yang ia tawarkan itu, umumnya tak diinginkan oleh mereka. Setelah beberapa saat mereka berlalu dalam kehidupannya,  Sartre pun pergi beralih ke wanita muda berikutnya. Begitulah Sartre,  sampai akhirnya tahun 1929 ketika ia bertemu dengan mahasiswa filsafat lainnya yang masih muda dan cerdas cendekia  Simone de Beauvoir di Sorbonne yang menerima pakta kebebasan itu yang ia tawarkan:. Mereka pun akhirnya jatuh cinta, mereka saling terinspirasi dan menantang satu sama lain selama sisa hidup mereka. Sartre berpikir hubungannya dengan Beauvoir inilah, adalah hubungannya yang terbaik, komplit dan saling melengkapi serta sejajar.  Belum pernah hubungan ini, ia lakukan dengan siapapun juga sebelumnya. Ini bukan hubungan tentang seks atau keintiman melulu, namun lebih pada diskusi ilmiah dan debat intelektual serta obrolan mengenai putusan-putusan penting dalam hidup mereka kelak  (Chaine, "A Conversation About Sex and Women with Jean-Paul Sartre," 118.) Pada Sisi fisik hubungannya dengan Simone De Beauvoir ini, ternyata hubungan  mereka tidak berlangsung lama oleh karena  Sartre lebih suka pada seks. Diantara beberapa teman-teman dekatnya mengira bahwa Beauvoir menyetujui pakta tersebut, dikarenakan  Sartre tidak dapat  memberi keintiman yang diinginkan olehnya  (E.g. Edward Fullbrook and Kate Fullbrook, Sex and Philosophy: Rethinking De Beauvoir and Sartre (London and New York: Continuum, 2008). Mereka sepakat untuk menjadi pecinta primer dan bebas untuk memiliki beberapa kekasih secara kontingen atau kekasih sekunder. Mereka juga berusaha untuk mengatasi resiko cemburu dengan yang lain melalui pakta kebebasan secara "transparan" (saling menceritakan segala hal yang satu sama lain alami) - dan “aku” itu adalah berarti bagi segalanya!. Namun kemudian mereka pun menyadari bahwa kebenaran sering menyakiti orang-orang yang mereka cintai sehingga meskipun mereka saling menceritakan kebenaran-kebenaran yang lain kepada orang lain, namun ternyata mereka berdua berbohong pada kekasih lain mereka, dan itu hanya untuk melindungi hubungan mereka dengan cara yang tak benar. (Bersambung)

Jan 26, 2011

NILAI-NILAI BUDAYA POLITIK DALAM MITOS TO-MANURUNG DI SULAWESI SELATAN

Oleh : Heddy Shri Ahimsa-Putra
Reviewer : Syahyunan Pora

Sebagai pembuka dalam mengulas dan meninjau sebuah artikel ilmiah yang ditulis oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra ini, hal yang sama akan saya tanyakan; Apakah Nilai-nilai Budaya yang terdapat dalam Masyarakat Sulawesi Selatan juga berkenan dengan aktivitas Politik Masyarakat setempat?. Oleh karena pendekatan sang penulis menggunakan pisau analisis strukturalisnya Levi Strauss juga pendekatan hermeunetik untuk menguak filsafat tersembunyi dari mitos atau cerita legenda yang ada di tengah-tengah masyarakat bugis makasar. Maka bisa dikatakan merupakan sesuatu yang khas dalam menganalisis Mitos yang tidak hanya pada konteks To-Manurung, melainkan mitos-mitos lain yang juga sebenarnya mempunyai Pemaparan awal dalam artikel ini penulis mendeskripsikan berbagai hubungan kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan umumnya dengan seperangkat nilai-nilai budaya yang secara individu maupun kolektif terlibat dalam sebuah “permainan” yang tak jarang disarati dengan intrik politik maupun konflik yang kerap mewarnai kehidupan Masyarakat yang ada pada kedua suku tersebutDengan menganalisis ala strukturalis penulis sebenarnya ingin menyampaikan bahwa kebijakan atau wewengan politik kekuasaan mempunyai kemampuan untuk membuat individu atau kelompok dapat melakukan apa yang dikehendaki. Secara keseluruhan pada bab pengantar penulis mengarahkan tentang wajah politik dewasa ini yang memberikan perspektif baru ketika konteks pemekaran daerah dapat merubah segala bentuk kehidupan masyarakat suatu daerah yang pada konteks “local Wisdom” telah memuat nilai-nilai kebersamaan itu. Dalam kerangka Teori penulis mengajukan betapa pentingnya nilai sebagai tolak ukur dalam menyelami relatifnya budaya, termasuk mitos to-manurung yang terkenal di dua suku besar di Sulawesi Selatan, Bugis-Makasar. Sehingga budaya dalam analisis struktutalnya, mitos ataupun cerita rakyat kerap dijadikan sebagai objek material oleh penulis untuk mengangkat karakter maupun ciri kehidupan sosial budaya suatu masyarakat. Penulis menggunakan pendekatan struktural sebagai pisau analisis untuk melihat relevansi mitos dengan kehidupan masyarakat.. 
Edmund Leach menyatakan bahwa para ahli antropologi sosial umumnya memandang “struktur sosial merupakan sesuatu yang ‘eksis’ pada tataran objektivitas yang kira-kira sama dengan nyata-nya kerangka manusia atau saling-ketergantungan berbagai organ dalam anatomi manusia…”. Sedangkan Levi-Strauss, menurut Leach, melihat struktur “bukanlah perwujudan nyata yang dapat diamati secara langsung, melainkan penataan logis seperangkat persamaan matematis yang dapat ditunjukan sebagai ekuivalen untuk fenomena yang ditelaah” (dalam Kaplan dan Manners, 2002: 237).
Disamping kajian mitos dan nilai budaya yang terdapat dalam artikel ini didekati dengan hermeunetika kebudayaan yang sebenarnya memandang kebudayaan sebagai “teks” (hal3) sehingga ada beberapa alasan penting yang dikemukakan oleh penulis mengapa Mitos atau cerita Rakyat adalah media yang tepat untuk mengukur sejauh mana apresiatifnya masyarakat setempat dalam memegang nilai-nilai mitos atau cerita rakyat itu sebagai pedoman keseharian mereka, termasuk dalam konteks politik yang marak dengan trik dan intrik.
Alasannya Sbb:
1. Mitos merupakan unsur budaya yang memandang kebudayaan sebagai “teks” walaupun mitos tidak selalu dalam bentuk manuskrip yang tertulis.
2. Mitos merupakan unsur yang muncul dalam masyarakat tanpa diketahui siapa pembuat atau pemulanya.
3. selain mitos adalah kisah-kisah yang bersifat sosial mitos juga produk aktif.
Dalam metodologi penulisan artikel ilmiah ini, penulis juga menyertakan alasan kenapa mitos To-manurung menjadi pilihan untuk disingkap nilai-nilai politiknya. Selain karena mitos ini lebih terkenal dalam kebudayaan Bugis-Makasar, mitos ini juga dianggap mitos yang paling panjang dalam menginformasikan sistem politik dan pemerintahan meskipun dalam tatanan yang masih bersifat tradisional.
Penulis mensinyalir dengan mitos to-manurung ini kita dapat memahami dinamika politik yang hingga kini masih berlaku dalam budaya lokal setempat. Termasuk masih relevan dengan reformasi politik dan pemerintahan yang mencuatkan wacana otonomi daerah dengan pemekaran daerah sebagai garda depannya.
Dalam metode pengumpulan data penulis berupaya mengumpulkan data tentang relevansi mitos To-Manurung dari catatan seorang Belanda dengan judul (de inlandsche rechtsgemenschapeen in de onderafdeeling) atau diterjemahkan dengan “komunitas Adat Pribumi di onderafdeeling Bantaeng”. Metode Analisis yang dipakai yaitu dengan pendekatan struktural Hermeunetik dalam penekanan tafsir didalamanya. Sebisa mungkin mitos dianalisis hingga ke unitnya yang terkecil agar dapat menuai sebuah nilai budaya tertentu. Nilai budaya politik kemudian dianalisis dari cerita yang terpapar dari kisah mitos to-manurung menurut versi Bantaeng
“….To-Manurung pergi mengembara dan tempat yang ia kunjungi atau lewati, yang semula berupa laut berubah menjadi daratan. Berturut-turut ia mengunjungi mangepong, Karatuwang, Bontosunggu dan LindulaE yang ketiga-tiganya masuk dalam wilayah bisampole. Sampai akhirnya ia memilih Bisampole sebagai tempat tinggal. Penduduk membangun sebuah rumah besar untuknya yang dia tinggali bersama pole, seorang laki-laki dari Karatuwang yang telah mengikutinya hingga ke Bisampole. Dengan didampingi oleh Pole To-Manurung ini setiap hari menerima laporan dari 12 orang yang merupakan orang-orang terpilih dari penduduk, dan mereka ini disebut to-mangada…” .
Saya mengutip pembukanya saja, sebagai pengantar untuk menafsir secara miteme dimana simbol to-manurung adalah sebuah keberkahan tidak hanya bagi warga setempat melainkan dimana tempat yang ia singgahi akan memberikan kemakmuran yang dalam analisis penulis sebagai sebuah kesuburan dalam bercocok tanam. Ada rasa timbal balik yang saling mengikat dari cara pandang masyarakat setempat terhadap to-manurung .
Setiap daerah yang dikunjunginya menjadi representasi wilayah kekuasaan yang pada gilirannya tercipta sebuah infarstruktur sistem politik sebagai simbol perwakilan, yang dalam konteks politik kekinian bisa dianalogikan dengan badan legilatif yang mengakomodir aspirasi rakyat. Selebihnya kisah mitos to-manurung diatas adalah local wisdom-nya politik tradisional yang terdapat dalam kultur masyarakat Bugis-Makasar. Ada pembagian wilayah kekuasaan, penyerahan wewenang yang selaku dipercaya sebagai wakil mereka, dan kepercayaan terhadap pemimpin yang aspiratif. Dalam to-manurung juga menyiratkan praktik demokrasi yang mulai diterapkan meski dalam tataran yang masih sangat tradisional. Ada pelimpahan tugas/wewenang dengan kriteria yang ditentukan termasuk dengan aturan mainnya yang sendiri pula untuk menentukan secara prosedural yang sekiranya dianggap tepat untuk dijadikan sebagai pejabat.
Dan karena pada ranah politik maka birokrasi merupakan sisi lain dari hadirnya sebuah kekuasaan. Saya menilai dengan sudut pandang saya yang bisa saja keliru bahwa mitos to-manurung menjadi tertarik terutama oleh penulis oleh karena dianalisis dengan “jendela” hermeneutik kebudayaan, dimana konstruksi sosial dalam budaya sangat jelas bila mitos dijadikan sebagai objek kajian untuk menelaah tidak hanya pada aspek budaya dan sosialnya melainkan politik pun termasuk didalamnya. Intinya pada nilai mitos To-Manurung berpaut berbagai nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang “sophisticated” jika ke-tradisionalannya menjadi sebuah perbandingan terhadap cermin praktik perpolitikan dewasa ini khususnya di Indonesia. Pertanyaannya kemudian; Apakah nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang dapat merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak hanya bersandar pada kebudayaan tertentu saja? Ataukah pada mitos tersebut bingkai ke Indonesiaan belum menjadi sebuah sintesis terhadap nilai-nilai politik yang terkandung dalam mitos to-manurung.
Ulasan
Menggali sebuah nilai mitos yang terdapat pada kebudayaan tertentu dengan harapan menuai kerangka sebuah nilai falsafah berbangsa dan bernegara akan lebih menarik jika diikursertakan dengan membanding pada kasuistik yang sama namun pada ranah daerah yang berbeda. Mengingat begitu banyak muatan nilai-nilai lokal budaya Indonesia yang tersebar dihampir seluruh penjuru Nusantara dengan ragam mitos maupun legenda cerita rakyat yang ada sekiranya dapat memberikan sumbangan pemikiran yang kaya akan betapa lengkapnya pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang terdapat pada masing-masing kebudayaan daerah. Nilai resprositas, nilai kebersamaan, nilai perwakilan serta nilai kesepakatan pada hampir semua mitos yang ada dan tersebar di Seluruh Indonesia mempunyai keterikatan antara satu dengan yang lainnya.
Meskipun pada konteks cerita mitos yang dikandung memuat alur cerita yang berbeda adanya. Saya berasumsi objek kajian yang ditelaah oleh penulis pada artikel “Nilai-nilai budaya politik dalam mitos to-manurung di Sulawesi Selatan” ini memang sengaja di khususkan oleh penulis dengan tidak menggunakan perbandingan dengan konsep nilai-nilai politik yang ada pada kebudayaan ataupun mitos pada daerah lain di Indonesia. Selain lebih fokus dan tidak akan meluas dengan berbagai tafsiran simbol-simbol yang ada, dalam menaganalisis mitos ini pun aspek bahasa tidak seruwet dengan mitos-mitos dalam kebudayaan Jawa, yang tidak bisa tidak harus dianalisis dengan beragam artifak bahasa jawa yang memang mempunyai tingkatannya sendiri-sendiri. Apalagi bersinggungan dengan cara tafsir ala hermeunetik kebudayaan. Sebagai contoh pada kebudayaan jawa menjelaskan “kekuasaan” akan selalu berimplikasi pada makna yang lebih luas. Dan ini kerap diikutkan dengan simbol maupun bahasa sebagai teks. Berbeda dengan (mungkin) pada kebudayaan diluar jawa yang cenderung tanpa “tedeng aling-aling” mengkosntruksi simbol sesuai dengan adanya simbol tersebut. Sederhananya dari simbol tersebut dapat diminimalisir aspek tingkatan bahasa yang pada kebudayaan jawa mempunyai kandungan nilai yang sarat akan makna-makna.
Dari sisi objektifitas artikel ini saya menilai mempunyai kelebihan tersendiri sebab bukan ditulis atau diteliti oleh penulis yang berangkat dari kultur dua etnik besar yang itu Bugis-Makasar. Sehingga faktor subjektifitasnya dapat diminimalisir sekecil mungkin. Rasa apresiatif saya terhadap penulis artikel ini, Bpk Heddy Shri Ahimsa-Putra dengan analisis struktural serta hermeneutiknya yang tajam memberikan semacam spirit untuk melakukan hal yang sama, namun pada konteks budaya yang berbeda. Apalagi dengan bertebarannya nilai-nilai budaya yang terdapat diberbagai wilayah Indonesia masih banyak sekali membutuhkan sentuhan analisis dengan berbagai macam metode sehingga nilai-nilai Local Wisdom dapat diungkap sebagai antitesis terhadap budaya barat yang serba permisif yang beberapa dekade belakangan ini tanpa disadari mereduksi budaya adiluhung Bangsa Indonesia. Dengan demikian muatan filsafat nusantara yang digadang-gadang oleh Fakultas Filsafat UGM tidak hanya menjadi sesuatu yang utopis atau hanya mewacana pada mitologi Yunani Kuno sementara pada artifak mitologi bangsa sendiri bertebaran banyak nilai-nilai falsafah nusantara yang menanti untuk diaktualisasikan secara nyata.


Jan 8, 2011

CATATAN ABUSRD DIAWAL TAHUN 2011

Bergulirnya waktu begitu cepat seolah tahun 2010 baru saja tergelar, namun tiba-tiba telah dihadapkan pada tahun baru 2011 dengan harapan dan cita yang sama pula seperti pada tahun 2010. Ketidaksiagaan-ketergesa-gesaan maupun kealpaan akan sejumlah rencana yang telah disusun menjadi rencana yang berulang-ulang jika menoleh beberapa tahun kebelakang. Bukan ingin berapologi dengan semua yang ada namun sekiranya tidak mandeg juga pada konsekuensi yang telah tertanam pada segala asa. Dalam rentang 2010 tempaan diri lebih dominan pada hal-hal yang tidak bersifat koletif namun lebih cenderung pada ranah privat dan lebih besar menguras energi. Ketimbang tersitanya waktu pada sebuah kerja tim work yang cukup jelimet dan seolah tak ada habis-habisnya. Puncaknya pada penghujung tahun 2010 terpaksa kembali kubuka risalat-risalat filsafat dengan sedikit polesan kosmologi ruang dan waktu. Semuannya seolah menjadi absurd, ketika harus memaknai bahwa sejarah manusia memang tidak selalu linier, bisa saja siklis atau bahkan yang chaotis sekalipun. Namun memang jika masih ada harapan untuk menyandarkan setiap lelakon pada filsafat hidup yang butuh kelapangan hati yang ternyata dalam mencintaipun selalu ada pamrih yang diam-diam membuntuti dari belakang. Sekalipun itu bersifat abstrak dan bahkan belum mendapat bentuk yang sempurna. Merepresentasi maksud kosmologi ruang dan waktu memberikan sebuah pemahaman baru tentang cara pandang mengenai sebaiknya hidup itu dimaknai dan dijalani dari sudut pandang yang bagaimana? Apakah harus diletakan pada buah pemikiran Bergson mengenai Intuisi yang cenderung menyekutukan sejarah? Ataukah dengan jalan frontal saja ala dialektika Hegel yang memang sangat-sangat materialis. pun pada seni hidup yang bagaimana yang selayaknya manusia diajar untuk mencintai dan dicintai seperti ujaran Eric Fromm. Dengan berbagai sodoran pertanyaan diatas adalah beberapa akumulasi persoalan yang memuncak dipenghujung tahun lalu kemudian seolah menggugat epistemologi ilmu yang meretaskan manusia sebagai manusianya Ubermen- Nietzsche. Sikap pasif diri pada akhir Tahun menjadi sebuah testimony pada apa yang disebut dengan “saling berbagi”. Berkelindan kutelisik dengan alasan nilai maupun moralitas yang tersembunyi. Sekadar mengkomparasi “keberbagian” itu jika cinta memang tidak dipersempit maknanya hingga melahirkan pembangkangan ego terhadap hal-hal yang tak bersyarat. Inilah masalah yang paling dilematis bukan pada keberpihakan tradisi politik yang melahirkan konsep golongan kiri dan kanan, tetapi lebih pada kenyataaan absurditas Camus yang terasa benar-benar hidup dalam fase “Hyper-Postmo Reality” ini. analogi catatan absurd ini kusederhanakan dalam bentuk yang sebenar-benarnya, bahwa hati selapang atau seluas samudera seharusnya seperti itu cinta ditempatkan, bukan pada kepicikan diri atau taklik pada gemah-ripah estetika Santayana. Kenapa? Pada kenyataan yang sejujurnya dalam memberi dan menerima tak selalu berimbang dan masihkah cinta berarti cinta, Jika dalam kejujuran cintapun selalu menorehkan sebersit luka! Atau memang seharusnya memang begitu, sebab kebenaran memang selalu menyakitkan. Jika ini memang benar adanya, maka polemik rasionalisme dan empirisme sebagai rancang bangun yang mengokohkan pilar-pilar epistemologi gugur dengan tanpa falsifikasinya Popper. Atau dengan sarkartsis penyelidikan filosofis ini hanya akan langgeng pada mentalitas abad pertengahan yang mana dominasi sepihak lebih dominan ketimbang cerapan ilmu dan pengetahuan yang sebenarnya telah memberi sumbangsih pemikiran bagi hidup dan kehidupan manusia pada abad-abad berikutnya dan hingga kini. Semoga absurditas dalam pandangan Camus tidak termasuk dalam tulisan absurd ini, sebab saya hanya ingin menulis..dan inilah tulisan saya.