Jul 28, 2009

SEKELUMIT TENTANG FILSAFAT MOLOKU KIE RAHA

Oleh
Syahyunan Pora S.Fil

Membahas filsafat Moloku Kie Raha tidak bisa lepas dari membahas tradisi kelisanan yang mengandung nilai-nilai filosofis sebagai pegangan dan pandangan hidup orang-orang maluku utara umumnya. Bagaimana cara pandang Masyarakat Utara mengenai alam sekaligus berhubungan dengan Tuhan. Konsepsi ke-Tuhan-an dalam sudut pandang pemikiran orang-orang Ternate mempunyai makna dengan kosa kata ”Jou” atau setara dengan suatu Dzat yang tertinggi ataupun yang ditingikan bila ditelisik menurut pemahaman sosio-antropologis maupun sudut pandang teologis. Keeratan akan filsafat hidup orang Maluku Utara tampak akrab pada penghargaan mereka terhadap alam secara makro maupun mikro. Dimana alam dipahami sebagai sumber penghidupan yang tidak saja memenuhi kebutuhan lahiriahnya , melainkan kehidupan batiniahnya pun turut melingkupi dalam sudut pandang filsafat yang kosmos sentris itu. Sehingga pada tataran filsafat praktis pengejawantahan dari filsafat tersembunyi itu kerap hadir dari sejumlah mitologis maupun folklor yang sarat dengan pesan-pesan moral maupun cinta terhadap kebijaksanaan hidup itu sendiri.
Tradisi lisan yang menjadi panutan beratus-ratus tahun lamanya tidak hanya mengajarkan etika bertutur kata namun juga menyiratkan penghormatan ke sesama manusia dengan hubungan imanennya yang sekaligus berpaut dengan hubungan transendental. Sehingga ada tradisi yang hampir termaknai dengan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan masyarakat maluku utara. Dan ini dipahami tidak hanya sebagai bagian dari budaya ataupun adat istiadat. Pada sisi kultural Ron Gunung (Kololi Kie) pada waktu dahulu yang sering dilakukan oleh khususnya orang –orang Ternate, kegiatan itu menyiratkan penghargaan terhadap alam meski tak bisa dinafikan ada gunung yang dijadikan objek sebagai simbol dari ”Journey of Mistic” dimana ketika berada di wilayah atau kawasan gunung maka perilaku atau pun sikap seseorang harus dijaga. Rasionalisaasi atas simbol mistik dari gunung yang sering dijadikan objek itu memberikan pedoman hidup betapa besarnya perhatian terhadap lingkungan termasuk mencegah dari pengrusakan-pengrusakan alam akibat dari ulah tangan jahil manusia itu sendiri. Pada kololi kie itu sendiri ada semangat kebersamaan yang mesti dijaga meski dalam keadaan yang bersusah payah harus dipikul bersama. Filsafat Moloku Kie Raha dengan bentuk implementasinya telah terwujud dalam konsepsi ”Jou Sengofa Ngare” dan bentuk-bentuk lain yang relevan dengan doktrin ajaran islam. Seperti Malam Rorio, Siloaloa, Joko Kaha, Makan Saro, Rorasa yang hingga kini masih mengental dalam setiap upacara pernikahan, kelahiran hingga kematian. Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar karena menyangkut pada usaha menelusuri asal usul kejadian tentang manusia dan hubungannya dengan sang pencipta seperti tersirat pada bunyi pantun rakyat :

”Toma Ua Hang Moju, Toma Limau Gapi Matubo,
Koga Idadi sosira?
(Pada suatu waktu dari masa, diatas puncak
yang tinggi (Gunung) apa yang terlebih
dahulu terjadi (mendahului lainnya)?”

Dengan mencermati isi pertanyaan tersebut, maka terlihat jelas ada kandungan filsosofis yang dapat diartikan, ”Toma Ua Hang Moju” mengarah pada waktu yang material dan ruang yang temporal (bersifat sementara) dalam arti bahwa waktu yang material dan ruang yang temporal berada diluar kosmos karena adanya ”Ua Hang Moju”.(Drs Mudaffar Syah/Ternate Bandar Jalur Sutera:2001:86) Konsep filsafat yang berdimensi metafisik dan mengarah pada pertautan antara Manusia dan Sang Penciptanya. Dalam konsep Islam makna ini lebih terarah pada Hablum Minallah namun jika dirasionalisasikan pada tahapan filsafat praktis maka makna ini akan mengarah pada Hablum Minannas. Pada segi Pemerintahan Filsafat Moluku Kie Raha lebih tercermin pada keutamaan atau ”arrëte” dalam istilah Yunani dimana Aristoteles sejak abad 4 SM, di Yunani telah menisbatkan hal yang sama dimana keutamaan harus dipunyai oleh setiap orang.
Tidak penting apakah orang itu adalah seorang tukang kayu, seorang tukang batu atau seorang politisi yang terpenting dimiliki oleh orang itu adalah arete atau keutamaannya. Maksud dari keutamaan itu adalah ketika ia seorang tukang kayu maka keutamaan seorang tukang kayu adalah apa ?..., begitupun keutamaan-keutamaan yang lain yang juga harus dimiliki oleh setiap orang yang diberi amanah atau disematkan pada profesi maupun jabatan tertentu. Maka keutamaanya lah yang harus diutamakan.
Dalam segi pemerintahan jika menilik maksud keutamaan dari filsafat politik, mengutip Bernard H.M. Viekke dalam ”Nusantara a History Of Indonesia” disebutkan bahwa sejak abad 10 telah ada struktur Negara yang modern dikawasan Moloku Kie Raha. Semua ini terjadi karena relasi multi-etnik akibat jalinan perdagangan rempah-rempah yang terbentuk jauh sebelum era Kristus (Global Touch).
Untuk mengakomodir jalannya roda pemerintahan dalam bentuk kerajaan Sultan memberi amanah melalui tanggung jawab yang diemban dari berbagai kelompok maupun etnis untuk bertanggung jawab sesuai dengan titah jabatan yang diemban. Kaum minoritaspun diakomodir untuk melengkapi struktur yang ada dalam pemerintahan kerajaan dengan ”Job Description”-nya masing-masing. Sehingga untuk etnik cina, arab ataupun warga lokal masing-masing mempunyai peran yang seimbang dalam Pemerintahan Kerajaan Moloku Kie Raha. Dalam disertasinya Christian Frans Van Frassen dalam ”Ternate de Malukken en de Indonesiche Archipel, Leiden 1987” mengungkapkan sistem pemerintahan saat itu merupakan sebuah tatanan sosial yang demokratis, karena sangat egaliter dan akomodatif melalui dengan lembaga-lembaga adat yang ada dalam kerajaan.
Disini dapat dilihat bahwa lembaga adat yang tertinggi adalah Bobato 18 dan Kolo Lamo. Sedangkan di dalam Negeri Kerajaan masing-masing lembaga adat tertinggi adalah Sultannya sendiri sebagai personifikasi dari Kolo Lamo yang mengandung arti ”Merangkul seluruhnya”. Pemerintahan dalam Negeri disebut dengan Tau Raha. Pada zaman Hindia Belanda Tau raha disebut Komisi 4. Tau Raha diketuai oleh Jougugu, dengan Tuli Lamo sebagai Sekretaris Kerajaan. Singkatnya cermin kultur politik yang berkembang saat ini tak bisa lepas dengan sistem perpolitikan yang ada saat itu. 
Bukan pada trik ataupun intrik politiknya, sebab jika berbicara mengenai wacana politik maka faktor kepentingan selalu membuntutinya dari belakang namun pada falsafah politik itu sendiri ada pembelajaran politik yang sudah lama tertanam dalam pemikiran serta kultur dari Masyarakat Maluku Utara sendiri. Sehingga boleh jadi Status acap kali menunjuk kedudukan dan ini lebih terarah pada maksud untuk menjadi seorang pemimpin. Sehingga, tak mengherankan jika menyangkut dengan kepemimpinan dalam ranah budaya orang-orang Maluku Utara pada umumnya memang dari dulu sudah sarat dengan kepentingan politik. Tapi pertanyaan selanjutnya : ”Apakah hanya dengan politik hidup kita harus tercerai-berai?” Mudah-mudahan pertanyaan itu dapat dijawab melalui keutamaan hidup setiap orang pada saat sementara mengarungi samudera politik yang luas, dan filsafat bisa menjadi Bahtera yang dapat mengantarkan tujuan hidup khalayak pada kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik lagi.




0 komentar: