Jul 28, 2009

STANZA D’ AMOR

Aku tidak akan mengajakmu untuk berpacaran
tetapi ijinkanlah aku untuk menyayangimu dengan tanpa tersakiti atau memendam rasa cinta ini dengan sekadar bersikap seolah tak ada isyarat-isyarat hati yang telah menautkan dua jiwa dari dustanya lidah.
Aku tlah berbohong jika tidak kuakui rasa ini meski dengan begitu rapat kau simpan keistimewaan itu diantara kita.

Padamkan segera kobaran asmara ini Tuhan
Dari tautan rasa cinta yang sudah saling terlanjur
Antara kasmaran dan rindu,
Antara sayang dan Pamrih dan antara berbagi dan kecewa
Adakah ukuran pengorbanan dari tiap kata cinta yang harus diucapkan?

By: Yunan Syahpora
Sesaat Menjelang Dini
Ternate, Januari 2009





SEKELUMIT TENTANG FILSAFAT MOLOKU KIE RAHA

Oleh
Syahyunan Pora S.Fil

Membahas filsafat Moloku Kie Raha tidak bisa lepas dari membahas tradisi kelisanan yang mengandung nilai-nilai filosofis sebagai pegangan dan pandangan hidup orang-orang maluku utara umumnya. Bagaimana cara pandang Masyarakat Utara mengenai alam sekaligus berhubungan dengan Tuhan. Konsepsi ke-Tuhan-an dalam sudut pandang pemikiran orang-orang Ternate mempunyai makna dengan kosa kata ”Jou” atau setara dengan suatu Dzat yang tertinggi ataupun yang ditingikan bila ditelisik menurut pemahaman sosio-antropologis maupun sudut pandang teologis. Keeratan akan filsafat hidup orang Maluku Utara tampak akrab pada penghargaan mereka terhadap alam secara makro maupun mikro. Dimana alam dipahami sebagai sumber penghidupan yang tidak saja memenuhi kebutuhan lahiriahnya , melainkan kehidupan batiniahnya pun turut melingkupi dalam sudut pandang filsafat yang kosmos sentris itu. Sehingga pada tataran filsafat praktis pengejawantahan dari filsafat tersembunyi itu kerap hadir dari sejumlah mitologis maupun folklor yang sarat dengan pesan-pesan moral maupun cinta terhadap kebijaksanaan hidup itu sendiri.
Tradisi lisan yang menjadi panutan beratus-ratus tahun lamanya tidak hanya mengajarkan etika bertutur kata namun juga menyiratkan penghormatan ke sesama manusia dengan hubungan imanennya yang sekaligus berpaut dengan hubungan transendental. Sehingga ada tradisi yang hampir termaknai dengan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan masyarakat maluku utara. Dan ini dipahami tidak hanya sebagai bagian dari budaya ataupun adat istiadat. Pada sisi kultural Ron Gunung (Kololi Kie) pada waktu dahulu yang sering dilakukan oleh khususnya orang –orang Ternate, kegiatan itu menyiratkan penghargaan terhadap alam meski tak bisa dinafikan ada gunung yang dijadikan objek sebagai simbol dari ”Journey of Mistic” dimana ketika berada di wilayah atau kawasan gunung maka perilaku atau pun sikap seseorang harus dijaga. Rasionalisaasi atas simbol mistik dari gunung yang sering dijadikan objek itu memberikan pedoman hidup betapa besarnya perhatian terhadap lingkungan termasuk mencegah dari pengrusakan-pengrusakan alam akibat dari ulah tangan jahil manusia itu sendiri. Pada kololi kie itu sendiri ada semangat kebersamaan yang mesti dijaga meski dalam keadaan yang bersusah payah harus dipikul bersama. Filsafat Moloku Kie Raha dengan bentuk implementasinya telah terwujud dalam konsepsi ”Jou Sengofa Ngare” dan bentuk-bentuk lain yang relevan dengan doktrin ajaran islam. Seperti Malam Rorio, Siloaloa, Joko Kaha, Makan Saro, Rorasa yang hingga kini masih mengental dalam setiap upacara pernikahan, kelahiran hingga kematian. Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar karena menyangkut pada usaha menelusuri asal usul kejadian tentang manusia dan hubungannya dengan sang pencipta seperti tersirat pada bunyi pantun rakyat :

”Toma Ua Hang Moju, Toma Limau Gapi Matubo,
Koga Idadi sosira?
(Pada suatu waktu dari masa, diatas puncak
yang tinggi (Gunung) apa yang terlebih
dahulu terjadi (mendahului lainnya)?”

Dengan mencermati isi pertanyaan tersebut, maka terlihat jelas ada kandungan filsosofis yang dapat diartikan, ”Toma Ua Hang Moju” mengarah pada waktu yang material dan ruang yang temporal (bersifat sementara) dalam arti bahwa waktu yang material dan ruang yang temporal berada diluar kosmos karena adanya ”Ua Hang Moju”.(Drs Mudaffar Syah/Ternate Bandar Jalur Sutera:2001:86) Konsep filsafat yang berdimensi metafisik dan mengarah pada pertautan antara Manusia dan Sang Penciptanya. Dalam konsep Islam makna ini lebih terarah pada Hablum Minallah namun jika dirasionalisasikan pada tahapan filsafat praktis maka makna ini akan mengarah pada Hablum Minannas. Pada segi Pemerintahan Filsafat Moluku Kie Raha lebih tercermin pada keutamaan atau ”arrëte” dalam istilah Yunani dimana Aristoteles sejak abad 4 SM, di Yunani telah menisbatkan hal yang sama dimana keutamaan harus dipunyai oleh setiap orang.
Tidak penting apakah orang itu adalah seorang tukang kayu, seorang tukang batu atau seorang politisi yang terpenting dimiliki oleh orang itu adalah arete atau keutamaannya. Maksud dari keutamaan itu adalah ketika ia seorang tukang kayu maka keutamaan seorang tukang kayu adalah apa ?..., begitupun keutamaan-keutamaan yang lain yang juga harus dimiliki oleh setiap orang yang diberi amanah atau disematkan pada profesi maupun jabatan tertentu. Maka keutamaanya lah yang harus diutamakan.
Dalam segi pemerintahan jika menilik maksud keutamaan dari filsafat politik, mengutip Bernard H.M. Viekke dalam ”Nusantara a History Of Indonesia” disebutkan bahwa sejak abad 10 telah ada struktur Negara yang modern dikawasan Moloku Kie Raha. Semua ini terjadi karena relasi multi-etnik akibat jalinan perdagangan rempah-rempah yang terbentuk jauh sebelum era Kristus (Global Touch).
Untuk mengakomodir jalannya roda pemerintahan dalam bentuk kerajaan Sultan memberi amanah melalui tanggung jawab yang diemban dari berbagai kelompok maupun etnis untuk bertanggung jawab sesuai dengan titah jabatan yang diemban. Kaum minoritaspun diakomodir untuk melengkapi struktur yang ada dalam pemerintahan kerajaan dengan ”Job Description”-nya masing-masing. Sehingga untuk etnik cina, arab ataupun warga lokal masing-masing mempunyai peran yang seimbang dalam Pemerintahan Kerajaan Moloku Kie Raha. Dalam disertasinya Christian Frans Van Frassen dalam ”Ternate de Malukken en de Indonesiche Archipel, Leiden 1987” mengungkapkan sistem pemerintahan saat itu merupakan sebuah tatanan sosial yang demokratis, karena sangat egaliter dan akomodatif melalui dengan lembaga-lembaga adat yang ada dalam kerajaan.
Disini dapat dilihat bahwa lembaga adat yang tertinggi adalah Bobato 18 dan Kolo Lamo. Sedangkan di dalam Negeri Kerajaan masing-masing lembaga adat tertinggi adalah Sultannya sendiri sebagai personifikasi dari Kolo Lamo yang mengandung arti ”Merangkul seluruhnya”. Pemerintahan dalam Negeri disebut dengan Tau Raha. Pada zaman Hindia Belanda Tau raha disebut Komisi 4. Tau Raha diketuai oleh Jougugu, dengan Tuli Lamo sebagai Sekretaris Kerajaan. Singkatnya cermin kultur politik yang berkembang saat ini tak bisa lepas dengan sistem perpolitikan yang ada saat itu. 
Bukan pada trik ataupun intrik politiknya, sebab jika berbicara mengenai wacana politik maka faktor kepentingan selalu membuntutinya dari belakang namun pada falsafah politik itu sendiri ada pembelajaran politik yang sudah lama tertanam dalam pemikiran serta kultur dari Masyarakat Maluku Utara sendiri. Sehingga boleh jadi Status acap kali menunjuk kedudukan dan ini lebih terarah pada maksud untuk menjadi seorang pemimpin. Sehingga, tak mengherankan jika menyangkut dengan kepemimpinan dalam ranah budaya orang-orang Maluku Utara pada umumnya memang dari dulu sudah sarat dengan kepentingan politik. Tapi pertanyaan selanjutnya : ”Apakah hanya dengan politik hidup kita harus tercerai-berai?” Mudah-mudahan pertanyaan itu dapat dijawab melalui keutamaan hidup setiap orang pada saat sementara mengarungi samudera politik yang luas, dan filsafat bisa menjadi Bahtera yang dapat mengantarkan tujuan hidup khalayak pada kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik lagi.




Jul 20, 2009

Underwear G-String Diantara Etika Dan Estetika Fashion

Oleh
Yunan Syahpora

Apakah underwear seseorang dapat mencerminkan gaya hidup atau bahkan status sosial bagi orang yang mengenakannya? Ataukah Underwear yang "Super Minimalist" ini bila dikenakan oleh seorang wanita hanya karena ia menyukainya lalu dapat merepresentasikan bahwa yang mengenakan pakaian dalam jenis ini memiliki nilai-nilai estetika ataupun argumen etika karena memang Ia secara sadar mengenakan bahkan menikmatinya. Pertanyaan pembuka ini mungkin terdengar naif atau bahkan mengada-ada. Namun jika dilihat dari trend fashion saat ini sesuatu yang tersembunyipun semisal celana dalam atau bra seorang wanita seolah menjadi pertimbangan mutlak sebelum ia menjatuhkan pilihan untuk memilih underwear apa yang akan ia kenakan. Persoalannya kemudian bagaimana jika pilihannya jatuh pada CD (celana dalam) yang super seksi semisal G-String atau Thong.

Meski hanya untuk dinikmati sendiri. Bukan berarti bahwa kecenderungan para wanita yang selalu memahamkan diri pada trend yang life stylish atau yang fashionable kini sudah tidak merasa canggung lagi untuk memperlihatkan CD apa yang mereka kenakan. Jika tidak menyinggung dengan perilaku menyimpang dalam wacana psikologi dengan istilah eksibisionis tentu sesuatu yang kita anggap waras akan perlu dianalisa lagi. Embel-embel lainnya adalah adat dan budaya ketimuran kita yang masih menjadi pertimbangan tersendiri. Model pakaian atau busana luar sejenis T-Shirt ketat berlengan pendek dan berdada rendah (you can see) yang selalu dipadu dengan Jeans ketat model hipster agar terlihat casual dan seksi tentunya. Namun seringkali paduan busana yang dikenakan oleh para wanita/Pria pengusung model minimalis ini tak jarang menjadi bumerang ketika mereka harus beraktifitas dengan leluasanya sehingga ketika pada posisi tertentu seperti ketika duduk atau jongkok misalnya tak jarang underwear yang mereka kenakan akan menyembul dan memberikan kesan tersendiri bagi lawan jenis atau pun sesama jenis ketika sempat menangkap pemandangan tersebut. Persoalan kemudian beriring dengan konteks etika dan estetika, seperti pertanyaan pembuka diatas Apakah underwear seseorang dapat mencerminkan gaya hidup atau bahkan status sosial bagi orang yang mengenakannya? Entahlah secara sadar ataupun tak sadar pemandangan seperti ini sudah mulai lazim dijumpai dimana-mana.Dan bagaimana jika dalam posisi duduk atau jongkok tersebut pakaian dalam yang bersangkutan menyembul atau nampak tanpa disengaja? Terserah mungkin ada yang menganggap persoalan fashion atau gaya hidup berbusana tidak termasuk pada pakaian dalam setiap orang, sehingga meskipun ada pakaian dalam yang terlihat ketika orang tersebut dalam posisi tertentu sehingga menimbulkan kesan seksi maupun yang tak seksi karena bukan CD yang berjenis super mini atau bahkan yang G-String sekalipun, bukanlah sesuatu yang perlu untuk diperdebatkan. Namun konstruksi sosial dalam cara pandang budaya ketimuran kita cenderung menjastis seseorang dengan apa yang ia atau kita kenakan. Di Paris para wanitanya sangat menomor satukan underwear sebagai life style mereka, karena ada anggapan status sosial seseorang dapat dilihat dari CD atau pakaian dalam yang ia kenakan. bahkan tak hanya sampai disitu. Paduan underwear yang digunakannya pun harus selaras dengan apa yang menjadi paduan bra ataupun yang lainnya (Stocking). Model casual dari T-Shirt dan Jeans Hipster adalah idola para remaja sekarang untuk tidak dikatakan sebagai model busana yang berjenis eksibisionis sebab pada busana ini, cenderung pakaian dalam dari orang yang mengenakannya cenderung terseruak keluar. Seorang istri dalam kolom Kokiers KCM (Kompas Cyber Media) pernah berkomentar bahwa ada saat tertentu, ia dengan senang hati akan mengenakan CD G-stringnya untuk ”show time” pada suami tercintanya, sebab disaat mengenakannya ada kesan nakal dan sedikit binal. Maklum menurutnya pencitraan bagi seorang wanita yang menggunakan CD seperti ini lebih banyak ia tahu dari fillm-film barat yang kebanyakan oleh para wanita bule yang mengenakannya. Padahal tidak tentu bahwa wanita bule yang menggunakan CD yang bertipe inipun tak langsung harus di jastis cacat secara moral ataupun tipe penggoda dan yang berkategori nakal. Setali tiga uang para istri dan wanita karir yang berbagi ide dalam kolom kokiers tersebut rata-rata merasa bahwa citra yang kemudian mewakili tipikal seseorang saat pertama kali mengenakan G-String selalu menimbulkan perasaan Horny atau kurang lebih selalu dihinggapi perasaan genit dan berkesan ”nakal”. Korelasinya mungkin type CD ini yang tak biasa sehingga cenderung dihinggapi perasaan tersebut. Ada pula yang terpaksa atau coba-coba mengenakan G-String ketika mendapat bonus saat ia membeli underwear yang tidak berjenis G-String. Sementara yang lainnya mendapat hadiah dari teman dekat saat ultah atau hari-hari spesialnya atau memang ada yang dengan keseadaran penuh membutuhkannya karena sehari-hari ia mengenakan underwear berjenis ini. diluar dari keinginan ataupun kebutuhan untuk mengoleksinya semuanya tetap sama, selalu menyiratkan kesan nakal ketika pertama kali mengenakannya atau imej yang tak biasa jika terlihat oleh orang-orang disekitarnya. Sebab underwear ini memang tidak seperti ketika mengenakan underwear yang konvensional. Lebihnya masih banyak yang belum merasa komfortable atau nyaman sebab merasa terganjal dengan modelnya yang revolusionis itu. Dengan sedikit pemaparan diatas bisakah ditarik satu kesimpulan apakah moralitas seorang wanita yang mengenakan CD yang berjenis tersebut bisa dianggap atau di cap bukan perempuan baik-baik? Jika ada yang sudah terbiasa mengenakan CD berjenis G-String dan dengan sengaja atau tanpa sengaja tersembul di tempat-tempat umum seperti lagi bersantai di Cafe atau naik kenderaan roda dua maupun empat. Apakah kecenderungan umum dari budaya kita serta-merta akan memberikan penilaian lebih pada segi estetikanya ataukah pada segi etikanya. Atau dengan kata lain jika seorang wanita didapati terlihat mengenakan G-String yang tersembul dari Jeans Hipsternya yang memang sengaja diekploitasi oleh tren model barat yang menganggap bagian tubuh tersebut merupakan sesuatu yang dianggap indah dan tak tabu lagi untuk diperlihatkan kepada khalayak. Maka bisakah penilaian awam dapat menyimpulkan bahwa wanita tersebut sangat open minded ? atau bahkan memberi kesan bahwa wanita tersebut mudah diajak kencan..? dan bagaimana pula jika yang mengenekan CD berjenis G-String ini adalah seorang wanita yang (maaf) berjilbab dan memang benar-benar dengan tanpa sengaja terlihat menyembul tali CD G-Stringnya ketika disaat sedang duduk santai di tempat-tempat terbuka. Lagi-lagi penilaian sebagai laki-laki dalam menangkap kesan seperti itu akan membias dengan syak wasangka yang berbalut hipokrit jika tak secara elegan untuk menanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan. Meskipun kemudian konsekuensi dari jawaban yang akan dilontarkan mungkin tidak terduga sama sekali atas reaksi dari pertanyaan kita. Sebab yang pasti ranah privasi yang bersangkutan merasa terusik dengan pertanyaan kita. Berbeda kemudian jika yang bersangkutan lebih open minded, dan menganggap bahwa pertanyaan kita bukanlah sesuatu yang akan berimbas pada moral sipenanya dan yang ditanya, sehingga hal yang sama jika ditanyakan pada pasangan kita jika ia pun mengenakan CD berjenis G-String ini, maka dengan singkat ia akan menjawab ”Karena memang Kamu Suka Sih”.

Jul 16, 2009

Dra. Rainannur A. Latif, M.Hum. Kembali Terpilih Sebagai Dekan Fakultas Sastra Unkhair

Setelah pemaparan Visi dan Misi calon Dekan Fakultas Sastra periode 2009-2013 pada tanggal 15 Juli 2009 kemarin. Yang menyertakan 3 kandidat masing-masing terdiri dari Drs Jusan Hi Jusuf, Msi dari Prodi Ilmu Sejarah, Dra Farida Maricar M.Hum dari Prodi Sastra Inggris serta Dra. Rainannur A. Latif, M.Hum dari Prodi Sastra Indonesia. Dilanjutkan keesokan harinya dengan pemungutan suara yang dilakukan oleh Senat Fakultas Sastra yang berjumlah 12 orang yang terwakili dari ketiga program studi yang ada di Fakultas Sastra dan Budaya Unkhair.
Hasil akhir dari perolehan suara yang melibatkan senat fakultas Sastrai ini memberikan keunggulan pada Dra. Rainannur A Latif M.Hum dengan perolehan suara sebanyak 9 suara sisanya 3 suara masing 1 suara diperoleh oleh dua kandidat yang lain sementara satu suara dinyatakan abstain oleh Panitia Pemilihan Dekan.
Dengan demikian terpilihnya lagi Dra. Rainannur A. Latif M. Hum ini maka sudah 2 periode Fakultas Sastra Unkhair Ternate kembali dipimpin oleh sosok Dekan yang cukup dikenal familiar dengan berbagai kalangan yang tidak hanya di lingkungan civitas akademika fakultas sastra ini, namun juga di tingkat Universitas dan di tingkat lokal sebagai sosok yang aktif diberbagai organisasi perempuan yang ada di Ternate. Dekan yang menempuh gelar S1 maupun S2-nya di Fak Sastra Unhas Makasar ini dikenal juga sangat peduli dengan kiprah Fakultas Sastra dan Budaya untuk tidak sekedar eksis sebagai ikon budaya di tingkat lokal, melainkan harapan besar kedepan Fakultas ini dapat berperan aktif dan memiliki kualitas sumber daya yang mumpuni di bidang ilmunya masing-masing.
Sehingga fakultas sastra kedepan dapat bersaing dalam dunia kerja bahkan mencetak alumni maupun tenaga dosennya yang berkualitas. Dengan idealisasi cita-cita inilah sang dekan beberapa kali saat penyampaian visi dan misi selalu menuntut kepada Rektor Baru Unkhair yang juga berasal Fakultas Sastra Dr Gufran Ali Ibrahim, Msi untuk memperhatikan fakultas sastra dengan beberapa ”tuntutan”; sehingga sang Rektor baru pun tak ketinggalan menyeletuk bahwa ini adalah Forum Visi dan Misi bukan forum dialog untuk menuntut kepada rektor, dengan gurauan khas sang rektor tersebut menambah riuh para undangan dengan suasana akrab yang berlangsung di LT II Aula Fak Sastra Unkhair. Setelah hasil dari pemilihan Dekan telah diketahui panitia langsung mengadakan syukuran kecil di Resto Floridas dengan melibatkan beberapa undangan dari Fakultas Tekhnik, Perikanan dan Ekonomi.




Jul 4, 2009

PREPARING FOR ELECTION NEW DEAN ON THE FACULTY OF LETTERS UNKHAIR TERNATE

By
Yunan Syahpora

After appointment new rector  Of Unkahir (Khairun University) Ternate from Drs Rivai Umar Msi to Dr Gufran Ali Ibrahim. Its Moment for faculty of letters will perform a the new dean election which its plan will be executed this month. Chief of electoral college entrusted to Wildan S.S , M.Hum assisted by some new literer. Information circulating among faculty, there are some candidate to raise the x'self for faculty of letters dean election is Dr Ridha Adjam, Drs Jusan Hi Yusuf M.Si and incumbent Dra Rainannur A Latif M.Hum. Hit the date of candidate registration till problem of discipline and role of Faculty Senate will be socialized furthermore.

For us any person who later lead the faculty of letters in the future is a personification leader which always listen carefully with the elementary problem in this faculty. Cause faculty of letters is faculty which in fact have the employment and also strong intellectual tradition to be made by a cultural ikon and local art to all its grad. Omit its own grad critical and creative to fill the existing vacancy. Beside that from existing condition the importance of civitas of academic person faculty of letters do not only hope from leader or dean. But expected participation together to move forward the faculty of letters and cultural to become icon not just to scale regional but also even national scale.
about information of this faculty of letters dean election. I will post next edition following complete with schedule and also information from committee of concerning step and readiness of all candidate in the new dean election.