Mar 27, 2015

KEAJAIBAN “TANDA” & “BAHASA” DALAM FILM “THE MIRACLE WORKER”

Annie = “Aku harus mengajarinya yang pertama adalah bahasa”
Kate = “ Bahasa?”
Annie = “Dia tidak tahu kata-kata,” bagaimana Dia bisa tahu mengapa...”
Kate  =  “Nona Sullivan,mungkin Anda akan disulitkan dengan kondisi Helen, Dia tidak bisa melihat ataupun mendengar”.

Annie= “Tetapi jika itu hanya  inderanya yang terganggu dan dan tidak pikirannya, maka dia harus memiliki bahasa.” Bahasa lebih penting untuk pikiran daripada cahaya untuk matanya.”
http://www.vancouversun.com/cms/binary/2078782.jpg

Petikan dialog dari teks diatas menggambarkan betapa pentingnya bahasa selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat memberi pemaknaan terhadap nama-nama dari setiap benda yang ada di sekeliling kita. Kutipan teks diatas, menyiratkan bahwa kekuatan pikiran (mind) dapat mengatasi terbatasnya kemampuan indra untuk menyingkap pengetahuan manusia dengan cara yang tak biasa. Pada kasus kaum difabel seperti kisah Helen dalam Miracle Worker, bahasa mengejawantah diri melalui “tanda” sebagai bentuk komunikasi dan pemeberian arti terhadap makna-makna bahasa yang terkandung didalamnya. Meskipun demikian tidaklah berarti bahwa orang normal dengan memiliki kesadaran indra yang lengkap akan begitu mudah memahami bahasa.   Sebagai makhluk yang hidup di dalam masyarakat dan selalu melakukan interaksi dengan masyarakat lainnya tentu membutuhkan suatu alat komunikasi agar bisa saling memahami tentang suatu hal.
Apa yang perlu dipahami? Banyak hal salah satunya adalah tanda. Supaya tanda itu bisa dipahami secara benar dan sama membutuhkan konsep yang sama supaya tidak terjadi misunderstanding atau salah pengertian. Namun pada kenyataannya tanda itu tidak selamanya bisa dipahami secara benar dan sama di antara masyarakat. Setiap orang memiliki interpretasi makna tersendiri dan tentu saja dengan berbagai alasan yang melatar belakanginya. Ilmu yang membahas tentang tanda disebut semiotik (the study of signs). Masyarakat selalu bertanya apa yang dimaksud dengan tanda? Banyak tanda dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti tanda-tanda lalu lintas, tanda-tanda adanya suatu peristiwa atau tanda-tanda lainnya. Semiotik meliputi studi seluruh tanda-tanda tersebut sehingga masyarakat berasumsi bahwa semiotik hanya meliputi tanda-tanda visual (visual sign). Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Untuk mengatasi keterbatasan indra yang dialami Helen sebagai gadis yang buta, bisu dan tuli, sang guru Anne menggunakan bahasa tanda sejak pertama kali kedatangannya di Keluarga Keller untuk mengajar Hellen. Kata melalui tanda pertama yang diajarkan oleh Anne adalah “doll” atau boneka. Dengan mengejakan d-o-l-l (boneka) melalui tangan , ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Gambaran mental atau pikiran dari petanda yang sempat diekspresikan oleh Hellen disaat ia membutuhkan kehadiran ibunya. Ia memberi tanda dengan mengusap-ngusap pipi dengan jemari secara berulang-ulang. Apa yang dilakukan Hellen ini sebagai tanda dari ketidak-mampuan menggunakan bahasa untuk memanggil ibunya.
Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda kebahasaan, yang biasa disebut juga ‘kata-kata’. Tanda menurut Saussure merupakan kesatuan dari penanda dan petanda. Walaupun penanda dan petanda tampak sebagai entitas yang terpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa. Dalam adegan lain bahwa bahasa tanda dapat ditangkap atau dimengerti oleh Helen seperti yang diajarkan oleh Anne. Namun ia belum mampu menangkap makna yang terkandung dalam bahasa tersebut. Pengenalan “kata” boneka, kue atau bunga belum ia pahami sepenuhnya. Mungkin Permen yang tiap kali dijejali dalam mulutnya pun saat ia dalam keadaan tak terkendali tak ia pahami maknanya. Hal ini berkaitan dengan tiga konsep utama Saussure 1. Langage, 2. Parole dan 3. Langue . Langage adalah gabungan antara parole dan langue (gabungan antara peristiwa dengan kaidah bahasa atau tata bahasa, atau struktur bahasa). Menurut Saussure, langage tidak memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena di dalam langage ada faktor-faktor bahasa individu yang berasal dari pribadi penutur. Lebih jauh Saussure mengatakan bahwa langue merupakan keseluruhan kebiasaan (kata) yang diperoleh secara pasif yang diajarkan dalam masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dan masyarakat. Langue bersenyawa dengan kehidupan masyarakat secara alami. Jadi, masyarakat merupakan pihak pelestari langue. Dalam langue terdapat batas-batas negatif (misalnya, tunduk pada kaidah-kaidah bahasa, solidaritas, asosiatif dan sintagmatif) terhadap apa yang harus dikatakannya bila seseorang mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal. Langue merupakan sejenis kode, suatu aljabar atau sistem nilai yang murni. Langue adalah perangkat konvensi yang kita terima, siap pakai, dari penutur-penurut terdahulu. Langue telah dan dapat diteliti; langue juga bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Nah, tanda bahasa tersebut dapat menjadi lambang tulisan yang konvensional. Tujuan linguistik adalah mencari sistem (langue) struktur dari kenyataan yang konkret (parole).
Langue adalah suatu sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Contoh: pergi! Dalam kata ini, gagasan kita adalah ingin mengusir, menyuruh, Nah, kata pergi!, dapat juga kita ungkapkan kepada tuna runggu dengan abjad tuna runggu, atau dengan simbol atau dengan tanda-tanda militer. Langue seperti permainan catur, kalau saya kurangi buah catur, akan berubah dan bahkan permainan akan kacau; demikian halnya dalam langue, jika struktur (sistem) kita ubah, maka akan kacau balau juga. Misalnya: saya makan nasi, jika kalimat ini saya ubah menjadi: makan nasi saya, kelihatannya kalimat tersebut, janggal.
Menurut de Saussure langue (kaidah) menguasai parole (praktik berbahasa). Tanpa menguasai langue seorang tidak dapat ikut serta mempraktikan langage dalam sebuah masyarakat bahasa. Jadi, kita tidak akan dapat mempraktikan parole bahasa Urdu kalau kita tidak menguasai dulu langue dari langage Urdu. Konsep ini dapat diterapkan pada gejala nonverbal. De Saussure memberi contoh yang sangat terkenal yaitu "permainan catur". Para pemain sebagai "komunitas pecatru" menguasai kaidah permainan tersebut, yakni langue,  antara lain aturan tentang cara menjalankan setiap jenis bidak catur, misalnya "kuda" mengikuti gerakan "huruf L", "raja" hanya bisa bergerak satu kotak demi satu kotak. Saussure meyakini bahwa bahasa tulis merupakan "turunan" dari bahasa lisan. Jadi bahasa yang utama adalah bahasa lisan.
Bahasa yang sebenarnya adalah bahasa lisan. Ini merupakan kritik terhadap para peneliti bahasa yang terlampau terfokus pada bahasa tulis yang oleh de Saussure dipandang sebagai "tidak alamiah". Setelah berbicara tentang "langue" dan "parole" sebagai baian dari "langage", de sussure membicarakan pentingnya bahasa lisan. "Langage" yang utama adalah bahasa lisan, yang merupakan objek kajian utama linguistik. Menurut Saussure, tulisan sering dianggap bahasa yang ;menurunkan bahasa lissan karena penelitian bahasa-bahasa kuno (seperti Yunani, Latin dan Sansekerta) memberikan citra bahwa bahasa tertulis lebih berprestise. Padahal tulisan adalah turunan dari bahasa lisan yang menurut de Saussure diatur oleh "langue", sedangkan tulisan merupakan sistem yang berbeda. Bahasa lisan juga dianggap yang utama karena menurut de Sussure makna lebih dekat pada yang lisan daripada yang tertulis. Objek kajian utama linguistik adalah bahasa lisan. Karena hubungan antara penanda dan petanda secara bersamaan membentuk tanda, keduanya tidak terlepas satu sama lain. Dengan demikian, keduanya membentuk satu kesatuan--yakni tanda--yang seringkali (konsep seperti ini) disebut struktur. Begitu pula hubungan antara "langue" dan "parole" (sebagai bagian dari "langage"), keduanya berkaitan satu sama lain secara tak terpisahkan, sehingga membentuk sebuah struktur, yakni "langage".
Struktur konsep de Saussure ini dapat kita cermati disaat akhir cerita dari film “The Miracle Worker” ketika melalui air dari sumur pompa yang kemudian membersitkan  pengertian terhadap pemaknaan benda-benda yang diajarkan oleh guru Anne selama ini.  Air yang yang selalu menjadi kendala selama pengajaran dari gurunya sekadar ia rasakan melalui indra perasa, belum sepenuhnya memberikan gambaran utuh sebagai bagian dari pemaknaan bahwa air sebagai air (meaningless). Namun peristiwa di sumur pompa itulah kesadaran bahasa sebagai alat komunikasi mulai di pahami oleh Helen (meaningfull). Sejalan dengan pemahaman terhadap arti dari suatu benda yang dialami oleh Helen ini, bisa kita dengan teori ideasi. Dimana gagasan atau ide sebagai titik sentral dari yang menentukan arti suatu ungkapan.
1.      
The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched - they must be felt with the heart.

Selain dari aspek kebahasaan dan tanda yang sarat dalam film “The Miracle Worker”. Ada aspek pendidikan yang berdimensi disiplin dan tanggung jawab yang teremban dalam film ini. Dalam aspek psikologis film ini sejalan dengan teori Behaviourisme. Teori behaviorisme menekankan hubungan psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Di dalam film The Miracle Worker, pembelajaran yang diberikan lebih dominan tentang bahasa, teori behaviorisme juga mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan.
Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan dan dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu karena peserta didik mendapat rangsangan dari dalam dan luar. Maka akan mempengaruhi proses pembelajaran dan peserta didik akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka peserta didik tersebut akan mendapat penguatan dari orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan peserta didik akan menguasai percakapan. Sebagaimana di dalam film The Miracle Worker yaitu peserta didik (Helen) dalam memahami kata-kata atau nama-nama dengan benda-benda yang dipegang ataupun diraba mempunyai korelasi. Di samping itu juga Annie Sullivan yang selalu mengajari Helen dengan cara berulang-ulang. Oleh karena jika peserta didik mendapatkan stimulus secara berulang-ulang akan terjadi suatu pembiasaan. Maka ia pun akan merespon bentuk responnya adalah melakukan apa yang telah di ajarkan oleh Annie Sullivan selaku pendidiknya.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk mendidik peserta didik yang masih banyak membutuhkan peranan orang dewasa dalam proses pembelajarannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang di cita-citakan.
Dari kisah Hellen dan Nona Anne ini, dan kemudian diangkat dalam Film dengan judul “The Miracle Worker” ,, setidaknya memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga, dan yang  paling utama ialah rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan kesempurnaan panca indra. Kemudian, kesabaran seorang guru yang mencurahkan semua daya dan melakukan segala upaya agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Walaupun banyak terdapat kekurangan yang ada pada anak didik, dalam kisah hellen yang buta, dan tuli. Akan tetapi dengan kesabaraan yang dimiliki oleh Anne dan  keyakinan serta ketekunannya, ia dapat mengubah semua kekurangan menjadi keistimewaan yang belum tentu  dicapai oleh orang yang normal sekalipun.
Kemudian, ketegasan seorang guru juga diperlukan terhadap anak didik dan orangtuanya. Tegas bukan berarti keras. Tegas berarti mengatakan ”Ya” jika ya dan mengatakan ”Tidak” jika memang tidak sambil memberikan penjelasan atas setiap perkataan. Hal ini perlu dilakukan secara konsisten atau dijadikan pembiasaan agar anak dapat berpikir mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia dapat berhati-hati dalam bertindak. Dengan menerapkan hal ini, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya karena dirinya selalu diberikan penjelasan atas perbuatannya, maka nantinya ia akan terbiasa untuk berkomunikasi dan berdiskusi, sekaligus mengasah kecerdasannya dalam berpikir. Seorang pendidik haruslah selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Hal itu merupakan modal bagi seorang pendidik sehingga mampu memberikan pendidikan secara menyeluruh dan tuntas.
Sikap optimis pun sangat diperlukan oleh seorang pendidik karena dengan bersikap optimislah, pendidik dapat lebih termotivasi untuk berinovasi agar berguna bagi anak didiknya. Jika Inderanya ada yang ganjil dan bukan pikirannya, dia pasti punya bahasa, “bahasa lebih penting bagi pikiran dari pada cahaya untuk mata”. Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia melainkan hanya dapat dirasakan di dalam hati. *Oleh Syahyunan Pora- (Tulisan ini adalah materi diskusi untuk tugas mata kuliah Filsafat Analitik-Maret-2015)