Nov 21, 2010

JOGJA

Pulang ke kotamu ada setanggkup haru dalam rindu….Masih seperti dulu….(Kla Project) 
Setelah tanggal 26 Oktober serta 3 dan 4 November saat meletusnya gunung merapi yang terletak di antara Propinsi Jawa Tengah dan Jogjakarta yang  erupsinya turut menguji rasa kebersamaan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara itu.  Kini,  disaat saya memposting tulisan ini tanggal 21 November 2010, kota Jogja  kembali perlahan-lahan mulai bergeliat hidup. Hampir satu bulan erupsi gunung merapi yang cukup mencengangkan tidak hanya dirasakan oleh warga pendatang, melainkan warga asli pun dibuat tegang dengan bencana alam tersebut. Jogjakarta kota klasik yang menjadi ikon budaya diantara kota-kota lain di Indonesia telah menjadi urat nadi pendidikan bagi sebagian warga yang menimba ilmu di kota gudeg ini . namun ada yang lain saat erupsi merapi tanggal 4 November 2010 itu terjadi, yang membuat Jogja  diguyur hujan abu vulkanik terutama di lintasan jalan Kaliurang  yang menjadi salah satu jalan utama untuk menghubungi sejumlah desa-desa dilereng merapi. Di Jalan ini pula dua minggu lebih lamanya menjadi zona bahaya yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB) sebagai daerah zona terlarang bagi radius 20 KM dari puncak merapi. Para tetangga yang masih sempat bertahan saat itu mengatakan mungkin 100 tahun atau bahkan lebih, erupsi merapi dengan dampak yang menyemburkan abu vulkaniknya dan menutupi hampir keseluruhan kota Jogja ini, baru pertama kali inilah mereka rasakan. Sebagai warga pendatang yang juga menimba ilmu di kota ini, Jalan Kaliurang cukup mempunyai kesan tersendiri ketika pertama kali datang di Kota ini dalam rentang waktu diantara tahun 92 hingga 2001, begitupun disaat kembali lagi dalam menempuh jenjang pendidikan berikutnya  di tahun 2009 hingga saat ini, Jalan Kaliurang masih menjadi  pilihan hunian saya dalam menghabiskan sisa-sisa waktu diluar perkuliahan untuk menetap sementara. Semasa kuliah di S1 beberapa teman saya berasal dari desa-desa yang wilayahnya menjadi Zona bahaya ancaman merapi. Diantaranya Purwobinangun, Hargobinangun dan cangkringan menjadi tempat pelesiran akhir pekan saya bersama dengan teman-teman saya yang memang berasal dari sana. Alam pedesaannya yang rata-rata subur dengan udaranya selalu  segar selalu menggoda saya untuk menghabiskan akhir pekan saya di lereng sekitar Merapi itu. Namun ketika bencana itu datang beberapa wilayah yang saya sebutkan diatas tampak seperti Desa mati bahkan lebih tragis lagi seperti daerah bekas zona perang dengan sisa-sisa bangunan yang roboh dengan sejumlah barang yang tiba-tiba menjadi rongsok akibat tak sempat diselamatkan. Awan panas yang juga merenggut nyawa sang kuncen, Mbah Maridjan, memang selalu menjadi momok yang menakutkan setiap kali erupsi terjadi. Kini setelah badai itu mulai berlalu tentu banyak harapan yang disandarkan di pundak pemerintah untuk menata kembali kehidupan baru bagi para warga yang menghuni di lereng merapi. Pro kontra sebagian warga dengan relokasi tentu harus ditindak-lanjuit secara bijak. Sebab bukan hanya pada persoalan pindah-memindah melainkan lebih pada falsafah hidup mereka yang telah tertanam turun-temurun dalam tumbuh kembang bersama merapi. Selain itu perhitungan ekonomis dari sebagian warga yang membangun usaha mereka bertahun-tahun diatas sana tentu juga menjadi perhatian  serius bagi pemerintah. Tidak hanya pemerintah lokal yang dibebani atas tanggung jawab ini melainkan pemerintah pusat pun harus turut bahu-membahu membantu para korban merapi.