Sep 3, 2010

BACK TO BLOG

Mungkin sudah Sebulan lebih kegiatan memposting blog terabaikan semenjak posting terakhir dengan materi piala dunia 2010 di Africa. Terasa ada sesuatu yang hilang ketika rutinitas ini harus mandeg dengan suasana liburan panjang yang membuat vakum dalam kegiatan tulis-menulis diblog ini. Lainnya apologi tersendiri dan alasan klasik bagi bloger adalah karena Facebook yang cukup menyita waktu dengan berbagai magnet jejaring sosialnya. Namun lebih dari itu aktivitas privat yang seolah memberikan jawaban tersendiri waktu kegiatan menulis diblog hanya merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi yang memposisikan blog sebagai media belajar dan mengasah analisa keadaan sosial secara individu maupun kolektif yang kemudian di tuangkan dengan tanpa pertimbangan profit atau keuntungan finansial bagi bloger amatiran seperti saya. Kenapa? Saya memposisikan diri dalam rutinitas memposting blog semampu waktu saya disela-sela mengejar jam kuliah dengan seabreg tugas-tugasnya. Target saya seminggu dua kali atau tiga kali dalam memposting tulisan-tulisan terbaru saya yang rata-rata bermaterikan tentang filsafat. Namun kemudian ada pertanyaan kepada saya, kenapa pada 2 postingan terakhir saya seolah-olah telah keluar dari alur yang saya tetapkan sebagai blog yang membahas mengenai tema-tema filsafat?. Pertama saya melihat tema filsafat tidak melulu pada pembahasan mengenai tokoh/filsuf, buah pemikiran, ataupun sejarah hidup filsuf yang bersangkutan. Lebih jauh saya memandang filsafat mempunyai objek formal dan objek matrial dengan sangat beragam dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dan itu tak bisa dipisahkan untuk dianalisa atau minimal ditilik menurut sudut pandang filsafat. Sehingga pada satu materi terkahir dalam edisi sepakbola piala dunia. Saya coba mengkorelasikan antara filsafat dan sepak bola yang sebenarnya mempunyai keterikatan erat dengan kehidupan kita, jika kita mau untuk sedikit berupaya menggali nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam semangat spotifitasnya olah raga. Dan akhirnya lahirlah tulisan dengan judul Soccer Philosophy. Sederhanya blog yang terlanjur saya patenkan dengan nama Philosophy Café ini, tetap akan saya isi dengan tulisan-tulisan yang memandang filsafat, tidak semata berkaitan pandangan orang secara an sich menurut artifak filsafat yang harus dipertautkan dengan sejarah, tokoh, maupun buah pemikirannya. Namun itupun tidak menjadi sesuatu yang dapat saya elak, karena kecenderungan filsafat untuk frame dunia timur seolah “harus” seperti itu, dan sekali-kali atau bahkan berkali-kali saya pun tidak segan untuk mengulas dan kemudian menjadikan bahan postingan di blog ini. Apalagi dari keseluruhan materi yang saya postingkan dalam blog saya ini rata-rata bersumber dari tugas-tugas individu saya dalam perkuliahan. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan-tulisan saya maupun beberapa artikel interpretatif dari artikel bahasa inggris masih jauh dari sempurna. Namun untuk sebuah proses pembelajaran sekiranya waktu yang ada dan media blog yang tersedia, bukanlah hal yang keliru untuk dapat dilakukan oleh siapa saja. Faktor lainnya adalah ketika saya berkesempatan untuk berlibur sekaligus mudik lebaran di kampung halaman di Ternate yang kemudian membuat sedikit terlupakan dalam memposting artikel-artikel terbaru di blog ini. Magnetisme silahturahim dengan keluarga besar maupun teman-teman lama tak kuasa diabaikan begitu saja. Apalagi pada saat-saat saya balik selalu pada moment bulan ramadan dan itu tidak sedikit menggoreskan cerita yang terasa sayang untuk tidak dibagi secara face to face maupun melalui tulisan yang kemudian akan saya usahakan postingkan juga di blog ini. Faktor lainnya lagi, kenapa kekurang-produktifan saya dalam menulis diblog ini saat saya di Ternate ketimbang di Yogya? Jawabannya akses internet disini belum maksimal dalam kecepatannya , meski secara kuantitas sudah banyak penyedia layanan internet di kota ini dan bisa dibilang cukup banyak, namun beragam dengan fasilitas (akses) yang tersedia. Akhirnya kita sendirilah yang harus memutuskannya…alias No Pain No Game..