May 31, 2011

SEPUTAR FILSAFAT TEKHNOLOGI (Kritik Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Borgmann)

By: Syahyunan Pora

Setelah perang Dunia ke II, Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial tersapu oleh gelombang determinisme tekhnologi. Jika tekhnologi sudah tidak menjadi kebanggaan untuk memodernisasi kita, maka krisis dalam kebudayaan kitalah yang patut disalahkan. Keutuhan determinisme modernisasi baik yang optimis dan pesimis menjadi sebuah fenomena yang mendasar. Pendekatan ini sebagian besar memungkinkan “perbedaan” dalam ranah pencerapan budaya modern yang beragam. Secara garis besar determinisme tekhnologi tidak berkembang seiring dengan penelitian filsafat seperti apa yang mungkin diharapkan oleh orang. Dalam batas tertentu Heidegger sangat mempunyai otoritas dalam “menjawab” perkembangan tekhnologi baru yang telah terpojok. Jika kita ingin menyetujui modernisasi alternative, maka kita harus membatasi pandangan Heidegger. Heidegger sudah tidak diragukan lagi sebagai filsuf yang paling berpengaruh dalam abad ini, hingga pada puncak sejarah “enframing” (pembingkaiannya) yang tak bisa disangkal. Ambisi Heidegger adalah menjelaskan filsafat tekhnologi secara filsosofis, sebagai suatu kekuatan refleksi untuk memperbahrui cara pandang tekhnologi dewasa ini. Proyek inilah yang dilakukan ditengah revolusi besar tekhnologi yang mengubah peradaban Eropa lama, dengan aturan dan pandangan agama yang mengakar, industry masyarakat urban yang didasari oleh ilmu dan tekhnologi. Puncak pemikiran mengenai filsafat tekhnologi Heidegger sampai pada istilah “enframing” atau pembingkaian yang mana semua artefak tekhnologi terbingkai dalam sebuah keterbatasan atau menjebak manusia dengan segala kepentingannya menyangkut dengan tekhnologi. Tekhnologi sudah bukan lagi lagi menjadi sebuah sarana dan tujuan bahkan menjadi alat itu sendiri. Namun perlu dicermati dengan istilah enframing ini tak bias dimengerti secara an sich dimana, perilaku tekhnologi dengan ketergantungan manusia secara mekanistis tidak semata terbingkai begitu saja. Ini bisa dirunut dengan pengaruh Heidegger terhadap fenomenologi Husserl. Sekiranya dapat dijelaskan mengenai “enframing” ini sudah tidak semata hanya pada ketergantungan akan tekhnologi sehingga manusia melaku diri sebagai sesuatu yang mekanistis, tetapi dalam tekhnologi dapat mengungkap (disclose) . Ambisi Heidegger adalah menjelaskan filsafat tekhnologi secara filsosofis, sebagai suatu kekuatan refleksi untuk memperbahrui cara pandang tekhnologi dewasa ini. Namun refleksi filosofis Heidegger tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh cara pandang metafisika. Dalam enframing (pembingkaian) konsep dan makna tekhnologi dimanipulatif dan tereduksi didalamnya. pemikiran Heidegger yang lain misalnya Heidegger berpandang bahwa sejarah Ada mempunyai sedikit pemikiran mengenai sejarah Ada yang sering dianggap mistis. Heidegger berpendapat bahwa, Bagaimana menyipulkan bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran ?