May 31, 2016

GOD AND PHILOSOPHY

Diskusi tentang hubungan antara agama dan filsafat, adalah diskusi yang berumur panjang. Sebagian kalangan memandang keduanya merupakan dua entitas yang saling memusuhi. Yang lain menganggapnya sebagai dua lanskap yang tidak berhubungan, namun sebagian lagi justru menganggap keduanya merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah akal manusia dapat menjangkau Tuhan secara murni tanpa sinaran wahyu yang nota bene dimiliki oleh agama? Beragam jawaban pernah muncul dalam sejarah. Sebagian filosof mengklaim bahwa akal saja sudah cukup untuk menemukan Tuhan, namun yang lain menyanggah dengan dalih bahwa akal terbiasa berpikir dengan kategori-kategori sementara tuhan adalah samudera eksistensial yang tidak bertepi. Dalam buku ini tampaknya Gilson memilih jawaban kedua. Bahwa akal saja tidak cukup sebagai alat untuk menjangkau Tuhan. Hal ini terbukti, menurut peneyelidikan Gilson, dari fakta sejarah yang ada. Sejak zaman Yunani yang dianggap sebagai cikal bakal lahirnya model pemikiran filsafat, gagasan tetang Tuhan tidak dapat dirumuskan secara memuaskan oleh akal.  Pada zaman Yunani Thales memunculkan gagasan bahwa asal mula dunia adalah air tetapi ia masih dibingungkan oleh pemikiran antara air sebagai dewa dan hanya unsur pertama alam semesta. Bahkan Plato maupun Aristoteles, menurut Gilson, tidak berhasil merumuskan gagasan tentang tuhan. Dalam pemikiran Plato, misalnya, menurut Gilson, para dewa memiliki kedudukan yang lebih rendah ketimbang Ide. Matahari dianggap Plato sebagai dewa. Namun, Matahari, yang merupakan dewa itu merupakan anak Kebaikan, yang bukan dewa. Begitu juga dengan Aristoteles, meski secara cemerlang menemukan gagasan tentang penggerak pertama (prime mover), tetapi ia tidak berhasil menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan penggeran pertama tersebut. Dan kekaburan rumusan itu terus saja berlangsung sampai agama Yahudi muncul. Pertanyaan tentang tuhan yang selama ini remang berubah ketika Musa, melalui wahyu yang diterimanya, mewartakan tentang tuhan sebagai yang satu yang bernama Dia adalah Dia. Sejak masa inilah gagasan tentang tuhan menemukan jawaban yang terang.

Agama memang bukan filsafat, tetapi ajaran agama, menurut Gilson, mengajukan prinsip-prinsip filosofis yang kaya. Karena itu, ia dapat membantu perncarian akal terhadap tuhan. Arogansi akal untuk dapat secara mandiri menemukan tuhan tanpa sinaran wahyu, adalah sesuatu yang naïf. Dan hal itu telah terbukti dalam pencarian para filosof Yunani bahkan ketika Descartes berusaha memisahkan filsafat dari agama. Usaha Descartes menghasilkan sebuah paradoks, sebab sebagai penganut agama Kristen yang taat tuhan Descartes adalah Tuhan Kristen, tetapi sebagai filosof tuhan yang diyakini adalah tuhan yang semata berfungsi sebagai katalisator dalam dunia Cartesian, yang mekanik. Inilah yang kemudian memunculkan kritikan terkenal dari Pascal, “Saya tidak dapat memaafkan Descartes. Dalam seluruh filsafatnya, dia tampaknya sudah siap meningkirkan Tuhan. Namun, dia ‘membuat’ Tuhan memberikan suatu perangsang agar dunia ini bergerak; di luar hal ini dia tidak lagi membutuhkan Tuhan” (hlm. 222). Meski begitu, menurut Gilson, masih terdapat Tuhan dalam filsafat Descartes. Ini berbeda dengan perkembangan dalam filsafat kontemporer yang sepenuhnya dibawah dominasi Imanuel Kant dan August Comte. Dalam pandangan keduanya pengetahuan direduksi menjadi sekedar pengetahuan ilmiah dan gagasan tentang itupun masih direduski lagi menjadi intelejibilitas yang dipersiapkan oleh Newton Akibatnya, gagasan tentang Tuhan dalam filsafat ini dianggap sebagai omong kosong. Sebab Tuhan bukan objek pengetahuan empiris. Bagaimanapun cara pandang terhadap fakta, pasti tidak ada fakta yang dapat mendukung gagasan tentang Tuhan. Lalu masih relevankah berbicara tentang Tuhan ketika sains—yang merupakan salah satu pengejawantahan filsafat kontemporer—sudah sanggup menyibak berbagai selubung misteri dan menjungkalkan mitos tentang alam semesta? Terhadap gugatan yang sering dimunculkan para saintis ini, Gilson menilai pernyataan semacam itu muncul karena ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa agama dan filsafat (juga sains) adalah dua lanskap yang seharusnya dapat bertemu. Karena sains menjawab pertanyaan tentang bagaimana sedang agama menjawab tentang mengapa. Hanya saja tidak banyak orang yang berani mengakuinya. Para sains atau filosof kontemporer yang terpikat oleh daya pesona rasio kehilangan selera terhadap metafisika dan agama. Sementara yang lain, karena terlalu khusuk dalam berkontemplasi menyadari bahwa metafisika dan agama seharusnya dapat dipertemukan tetapi tidak tahu di mana dan bagaimana. Karena itu ada yang kemudian memisahkan agama dari filsafat, atau meninggalkan agama demi fisafat atau sebaliknya. Padahal hal tersebut, dalam pandangan Gilnson tidak perlu terjadi. Dan menurutnya orang yang dapat melakukan hal itu adalah mereka yang dapat menyatukan bahwa Tuhan filosof adalah tuhan yang juga dipeluk oleh Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub. Begitulah, buku yang ditulis oleh seorang filosof dan sejarahwan filsafat dari Prancis ini tidak saja menekankan perlunya sinergi agama dan filsafat untuk memahami alam dan Tuhan, tetapi juga menawarkan tamasya yang mengasyikkan dengan menelusuri sejarah gagasan tentang Tuhan sejak masa awal yang dapat dicatat sejarah. Namun buku yang ditulis oleh pengajar di Universitas Strasbourg, Universitas Paris, College de France dan Universitas Harvard ini tidak terjebak pada deskripsi membosankan layaknya buku-buku filsafat. Sebaliknya, dengan gaya yang rileks ia mendedahkan pergumulan pemikiran tentang Tuhan, menelisik asumsi-asumsi yang bersembunyi di belakang gagasan besar, melemparkan kritik terhadapnya, mengurai kondisi sosial para pemikirnya serta bangunan sistemnya secara keseluruhan. Dengan cara itu, Gilnes dapat memberikan potret yang utuh perkembangan gagasan tentang Tuhan pada tiap babakan: Yunani, Abad pertentengahan, Abad Modern, dan era Kontemporer. Buku ini patut dibaca oleh semua yang memiliki concern terhadap kajian filsafat, termasuk filsafat Islam. Sebab filsafat Islam juga tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Yunani. Lahirnya aliran filsafat paripatetik, iluminasi, atau yang lain merupakan bentuk penafsiran yang diberikan oleh filosof Muslim terhadap pemikiran Yunani. Gagasan tentang Filsafat Cahaya oleh Suhrawardi, teori emanasi oleh kalangan Neo-Platonisme, konsep insan kamil oleh para mistikus, misalnya, merupakan hasil proses dialektik yang dilakukan oleh para filosof muslim berdasarkan ajaran agamanya dengan konsep-konsep para Filosof agung Yunani semisal Plato, Aristoteles atau Plotinus. Meski seperti pola kebanyakan sejarahwan yang selalu melewatkan babakan sejarah filsafat Islam, rasanya tetap terlalu sayang kalau buku yang diterjemahkan dari judul aslinya God and Philosophy ini dilewatkan. **Sumber : Google

Apr 30, 2010

MANUNGGALING KAWULA GUSTI

MANUNGGALING  KAWULA GUSTI

(Pantheϊsme Dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa)

Judul Asli: Pantheisme En Monisme

(In The Javaansche Soeloek-Litteratuur)

Pengarang: P.J. Zoetmulder

Penerjemah: Dick Hartoko

Reviewer : Syahyunan Pora

P.T Gramedia-Jakarta

1990, xiii+456 hlm.


Sebuah buku dari hasil disertasi Petrus Josephus Zoetmulder yang diterjemahkan oleh Dick Hartoko dengan judul aslinya Pantheisme En Monisme setebal 368 halaman ini memberikan sebuah konsepsi baru terhadap cara pandang orang Jawa tentang kebersatuan Manusia dengan sang Pencipta dalam konteks Manunggaling Kawula Gusti. Membaca pengantar awal dari buku ini yang dipaparkan oleh Dick Hartoko yang juga seorang rohaniawan dan budayawan, bisa dikatakan telah sedikit membuka cakrawala bagi pemula yang ingin lebih jauh menggeluti tema-tema filsafat jawa yang cukup kompleks dengan menggali nilai-nilai filsafat dari sejumlah manuskrip kuno yang terdapat pada serat centini maupun sastra suluk jawa.  

Oleh karena buku ini merupakan bagian dari Studi Filsafat, maka sesuatu yang tidak mengherankan ketika Dick Hartoko membuka pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang mempunyai ciri khas kefilsafatan: masih relevankan buku ini diterbitkan ulang dengan memuat tema seperti ini? : apakah yang mereka tulis ini masih berharga pada zaman kita? (hal:Vii).  Dalam bab I buku ini sebagaimana yang diulas  Zoetmulder tak ketinggalan pertanyaan mendasar mengenai sebab musabab dari sesuatu yang ada,menjadi representasi pertanyaan yang coba didekati dengan persolan klasik sejumlah filsuf Yunani, seperti Thales, Anaximander maupun Parmanides dengan abstraksi yang paling tinggi terhadap sebuah pertanyaan menyangkut dengan hakekat manusia. Meski ujungnya akan mencapai pada suatu kesatuan, keesaan dari segala sesuatu yang ada, namun kebersatuan itu menjadi telaah konsep yang kompleks mengingat ada devinisi-devinsi Panthaisme dan Monisme yang oleh penulis berusaha untuk menyingkap terlebih dahulu apa sesungguhnya arti dari kedua devinsi tersebut.

Acuannya kemudian dipakai pengertian monisme yang diutarakan oleh Rudolf Eisler bahwa monisme adalah “kecenderungan untuk mengembalikan kejamakan dalam suatu bidang ke suatu kesatuan atau menerangkan keanekaan yang berpangkal pada suatu prinsip yang tunggal” (hal 2)[1]. Sementara Lalande juga memberikan penjelasan mengenai Monisme adalah “segala sistem filsafat yang berpendapat bahwa segala sesuatu dapat dikembalikan kepada kesatuan”[2]. Sementara oleh pengarang sendiri Panthaisme didefinisikan “bahwa teori yang mengajarkan bahwa segala sesuatu itu Tuhan”(hal 2). Diskursus mengenai sejumlah devinsi menyangkut panthaisme dan Monisme akhirnya disintesiskan oleh Zoetmulder “bahwa segala sesuatu yang berpangkal pada Tuhan akan dikembalikan juga pada  Tuhan”.

Disini pengarang[3] sebenarnya ingin menyampaikan pengertian monisme  dengan kalimat yang sederhana bahwa Tuhan terlebur dalam  dunia, sebab dunia merupakan ada yang tunggal dan mutlak. Meski demikian pengertian baku sepanjang sejarah menyangkut suatu pandangan yang monistis-pantaisitis pun tak dielak oleh Zoetmulder bertolak dari Tuhan dan bertolak dari Dunia (Hal.3). analogi lain dari pandangan ini oleh pengarang juga diibaratkan seperti pengertian antara jiwa dan badan, beriringan dengan ungkapan sejumlah pandangan yang terdapat pada Mazhab atau pandangan hidup Masyarakat Timur (India) ada hakikat Tuhan yang dapat diraih terutama pada tingkatan Brahmana. Oleh konsep ini juga Spinoza dipakai pendapatnya tentang “natura-naturans” dan “natura-naturata, sumber keilahian Tuhan yang terpancar dan terbentang dalam dunia sebagai wujud dari emanasinya. Penyatuan antara konsep Tuhan dan Dunia maupun manusia itu sendiri, sepanjang buku ini coba dijelaskan oleh Muelder dengan pendekatan berbagai filsuf dari barat  maupun timur mengenai konsep Ada dan ide-ide penyatuan Tuhan dengan kreasi manusia dalam pandangan pantheisme dan monismenya. “Creatio Et Nihilo” salah satunya (Tuhan menciptakan Dunia dengan tidak memakai bahan apapun juga yang sebenarnya telah ada sebelumnya) menjadi dialektika tentang sejauh mana otoritas Sang Transenden atau Tuhan dalam merepresentasi “diri” lewat keber-ada-aa-Nya. “Dari Thomas Aquinas dengan ada yang tiada berhingga, maupun  Parmanides dengan “ens-est, non est-non est”.

Sebenarnya hanya menjadi tolok ukur bagi Moelder untuk menyatakan secara tegas bahwa ada perbedaan antara Sang Khalik dan mahkluk ciptaannya. Walaupun kemudian upaya penyatuan ke-Arah “Manunggaling Kawula Gusti” memungkinkan untuk hal itu, namun dengan berbagai Rule of Game Manusia dalam pemahamannya tentang materi dan metode kearah penyatuan. Dalam penekanan bahwa Tuhan juga sebenarnya mempunyai semacam tanggung jawab dalam menciptakan alam berserta segala isinya, sebenarnya menyiratkan bahwa dalam bahasa islampun “Kun Faya Kun”—jadi,  maka jadilah- (jika saya mencoba menganalogikan konsep ini) mempunyai dimensi nilai yang sepertinya sama. Sebab  manusia cenderung memahami konteks itu sebatas letter lech-nya saja, sehingga wujud keterhubungan dengan Tuhan seolah berdiri sendiri. Tanpa ada kesinambungan yang saling bersinergis. Disinilah agnotisisme barat mendapat bentuk, sementara pendekatan secara pantheis-monistis menjadi dialektika rasional yang  membumi namun berwajah sangat humanistik. Pendapat ini ditekankan oleh J Carp dengan menegaskan bahwa “ Tuhan tidak ada kaitan apapun dengan Dunia” (hlm. 11) yang oleh J Carp ia membagi ranah yang imanensi dan transendensi terkait menurut hakikatnya.

Pada Moelder konsep ini sebenarnya hanya berhubungan dengan istilah saja sebab menurutnya secara atau tidak sadar  konsep ada secara univok diterapkan baik terhadap Tuhan maupun terhadap buah ciptaanNya. Untuk membandingkan pemikiran Pantheisme barat dan Timur (India) A.S Geden membedakan bahwa Pantheisme dalam pandangan India sangat beresensi mistik, dimana keharmonisan alam menjadi tema sentral yang sebenarnya merepresentasikan “keber-ada-an Tuhan, dan pandangan ini umumnya menjadi pandangan yang tergeneralisir pada kebudayaan Timur. Sementara pada kebudayaan Barat, teori emanasi menjadi topik yang menarik dalam system pemikiran filsafat Barat. Meski kemudian pemahaman Pantheistik dan monistik dalam kebudayaan timur lebih mengarah kepada suatu pandangan yang menyangkut dengan keyakinan hidup. Atau dengan kata lain lebih dari sekadar pemikiran yang bersifat reaksional rasionalistik. Pada titik sentral pemikiran ini upaya maupun usaha yang mengarah ke “Manunggaling” antara Tuhan yang mutlak dan Manusia dengan hidup dan kehidupannya menurut pemahaman keyakinan Jawa coba diurai oleh Zoetmulder, yang memang arahannya akan menuju kepada pemikiran metafisik.



Dimana Pantheistik Jawa dihadapkan pada manusia dengan Tuhan yang tidak sekadar ada, tetapi dengan serta merta “Ber-manunggaling”. Untuk memudahkan pemahaman ini kiranya tidak berlebihan jika saya menganalogikan dengan konsep emanasinya Plotinus maupun para kaum Neo Platonisme. Pada Bab II buku ini, selanjutnya panthaisme dan Monisme coba dikorelasikan dengan Pandangan Islam, karena tradisi sufistik dalam Islam mempunyai nilai yang sama namun dalam pendekatan yang berbeda. Perbedaan yang saya maksudkan adalah bentuk Panteisme dan Monisme Jawa sudah mempunyai ranah yang berbeda karena ada kultur Jawa yang bermain disana meski domain islam yang datang “terpaksa” menghadirkan nuansa baru dari serapan nilai-nilai Hinduisme melalui agama. Agama disini cenderung menjadi sesuatu yang religious pada tahap-tahap berikut perkembangan dan penyebarannya. Meski pada mulanya religiusitas dari agama sarat beban mistik yang tidak salah jika saya berasumsi itu adalah bagian dari pemahaman awal mengenai konsep Pantheisme dan Monsime Jawa.

Zoetmulder menyodorkan semacam komparasi atas pemahaman islam tentang Tuhan yang monoteisitk versus pemikiran Panteistik yang menurut Pengarangnya sendiri akan menggiring setiap Muslim pada dosa syirik, sebab ada nuansa pemikiran  kemanunggaling Allah dengan Dunia (hlm 21). Dalam konteks ini ada sedikit keterbatasan mengenai konsep yang dipaparkan oleh pengarang mengenai Pantheisme dalam islam. Dimana dijelaskan ada ayat Misterius S. 28, 88, (kullu sai’iin halikun illa waghahu” (hlm 21) yang kemudian diterjemahkan dengan “segala sesuatu sirna kecuali wajahNya”. Dalam pemahaman saya[4], jika konteks ayat yang dijelaskan tanpa merunut konteks ayat sebelumnya, maka  akan memberikan pengertian yang keliru. Berbeda jika maksud “misterius” itu kemudian hanya ingin dipaksa untuk mencari tema Pantheistik. Sama halnya  pada S, 50,16, (Kami lebih dekat padanya daripada urat nadinya sendiri) pada Mc Donald ditafsirkan sebagai “expression Of Implicit Pantheism” atau dalam ungkapan bahasa filosofis “Imanential Monism[5]. Terlihat disini bahwa referensi yang dipakai oleh Pengarang dalam mengkorelasi Pantheisme dengan Dunia Islam masih sangat mengacu pada Frame Barat. Semacam paradok ketika monoteistik islam dikomparasi dengan beberapa ayat yang diinterpretasikan mengandung nilai-nilai Phanteistik tanpa merujuk pada sesuatu yang kasuistik yang ada pada Dunia Islam itu sendiri.

Meski pada pada literatur yang diacu adalah mengupas tentang Dunia Islam dari buku “Moslem World”, namun setidaknya ada hadist yang dikomparasikan dalam bentuk riwayat yang kemudian dapat dianalisis secara kritis tentang sejauh mana kerangka pantehistik dan monisme islam. Mengingat buku ini adalah bagian dari sebuah penelitian maka mencari sebuah sintesis melalui proses dialektika mutlak adanya dalam tradisi penelitian itu sendiri. Selanjutnya dalam Bab II ini juga tahap-tahap perkembangan nilai pantheistic dalam Islam didekati dengan pendekatan sufistik. Tuhan dan Allah menjadi kabur dalam batasan pembahasan “kemanunggaling”-nya islam, yang kemudian disinyalir oleh Pengarang adanya Tuhan yang tunggal, yakni Allah. Padahal islam sendiri sangat tegas membatasi konsep ke Tuhanan sebagai “roh yang mutlak” tanpa ada peng-ada-an maupun pengandaian. Sederhananya Allah adalah suatu keniscayaan bagi setiap muslim seperti pada kalimat tiada Tuhan selain Allah. Mediasi sufistik dengan ungkapan Bahasa yang metaforis melalui ucapan Al-Hallaj “Anna Al Haq” (Akulah kenyataan yang tertinggi) lalu pengakuan para sufi menjadi ukuran bagi pengarang untuk meretas nilai panthaisme dalam islam kiranya menjadi tolok ukurnya.

Konteks Pantheistik dan monistik yang dipaparkan dengan merelasikan Islam melalui jalan-jalan para sufi, dilihat sebagai suatu penyatuan antara Tuhan dan Dunia sekaligus manusia memberikan sebuah kemungkinan syrik karena bernuansa Polytheisme. Dan ini menurut pengarang posisi Allah dalam Essay-nya Masignon[6] menimbulkan paradox tersendiri. Sebab para sufi dengan mudahnya mengambil jalan Pantheisme dengan tindak tanduk mereka yang sukar ditafsirkan oleh pengikutnya. Oleh Zoetmulder Para sufi yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam khususnya Islam Indonesia (hlm-25) dipetakan menjadi 3 tokoh sufi, yang pertama adalah Al Ghazali, kedua, Al Hallaj dan yang Ketiga adalah Ibnu- Al Arabi. Al- Ghazali, dalam karya-karyanya ditengarai cukup jelimet menurut beberapa literatur yang dipakai oleh Zoetmulder dalam melihat betapa terseretnya para pengikut Al Ghazali yang datang belakangan untuk sekadar menangkap alur pemikiran yang dituangkan dalam beberapa bukunya. Semisal karya fenomenal Ghazali Tahafut Al Falasifa yang menyerang Al Farabi dan Ibnu Sina, dengan mengagungkan rasionalisme yang kemudian melahirkan skeptisisme.

Tulisan Al Ghazali dengan ungkapan yang sangat sufistik menurut pengarang juga tak bisa mengelak dengan tema-tema Pantheisme, “bukan akal budi biasa yang merupakan sarana untuk mengetahui Allah serta hal-hal Ilahi, hal-hal Ilahi hanya ada gunanya untuk membuktikan betapa manusia itu tidak berharga melainkan pengetahuan langsung yang dituangkan oleh Tuhan (lewat) ma’rifat” (hlm-26), dan “bukan segumpal daging yang dapat diraih dengan panca Indra…melainkan semacam rahasia Ilahi yang tak dapat diraih oleh panca indra”. Pendekatan Zoetmulder dalam sudut pandang Pantheisitik lewat ungkapan bahasa sufistik-nya Al Ghazali masih perlu dianalisis secara ketat, sebab bisa saja makna panteistik yang kemudian tertera pada judul besar buku ini mengambil objek kajian yang berdimensi mistik , meski tak bisa dinafikan “manunggaling kawula Gusti” itu sendiri ada  nilai filsafat tersembunyi yang tidak melulu berdimensi mistik. Apalagi dengan sedikit menyitir bahwa karya Al Ghazali berikut pada “Ihya Ulumudin” dihargai hampir sederajat dengan Al Qur’an  (hlm-27).

Dalam hal ini ada subjektifitas atau nuansa psikologis dari sang pengarang yang memandang Alqur’an ibarat karya manusia yang dalam islam sendiri tak ada nilai sandingan dengan karya sastra buah karya manusia. Ada semacam pereduksian makna dari upaya menggali nilai Pantheisme islam jika objek kajian dari alqur’an itu sendiri tidak dibedah secara utuh sesuai dengan konteks bahasa islam sendiri, yaitu “Asbabun Nuzul”. Zoetmulder  seolah memaksakan nilai Pantheis dan monisme dengan mengkomparasi antara Tuhan, Allah, yang Ilahiah hingga ke Alam yang dibagi menjadi tiga bagian Alam (alam Al’Mulk, Al Gabarut dan Alam Al Malakut). Kesemuanya mendapat bentuk dalam pandangan sang pengarang sebagai sesuatu yang tumpang tindih jika nilai-nilai islam tidak mau disebut cukup kental mengandung nilai-nilai panthaisme.

Bagaimana, sesuatu yang mutlak dalam ukuran yang tak terbatas terepresentasi dari  yang Ada dan  bersumber dari dirinya dan ada yang berasal dari yang lain. Mungkin bisa dikatakan semacam paradoksal pemikiran dengan mengkomparasikan secara tidak ketat alur pemikiran Panthaisme dalam islam. analogi selanjutnya yang dijelaskan oleh Zoetmolder yang disebut sebagai sesuatu yang hiperbola atau kiasan yang melebih-lebihkan mungkin juga dapat merepresentasi dari Sufi kedua dari tiga sufi yang dipakai acuan sebagai para sufi yang berpengaruh dalam Dunia Islam. Pada ulasan mengenai Al Hajj ada pertanyaan yang disodorkan oleh Zoetmulder “apakah pandangan Al Hajj dikategorikan sebagai Pandangan yang pantheis ?” lalu diklarifikasi sendiri oleh pengarangnya bahwa dalam terminology Barat  hampir secara umum tema-tema mengenai pantheisme dijawab dengan positif (hlm-35), tidak jelas apakah pandangan ini dapat dikatakan sebagai suatu penerimaan terhadap tema pantheisme yang oleh Massignon diterjemahkan sebagai berikut “Allah menyampaikan firman-Nya, kedalam lubuk hati manusia dengan tiga cara yakni: a) lewat sebuah kata yang oleh jiwa dikenal sebagai sabda Tuhan, b) dengan rasa takut yang menjadikan lubuk hatinya berdiam diri, c) lewat suatu bahasa yang sekaligus merupakan kata dan jawaban tetapi orang beriman sendiri tidak tahu (apa yang dikatakannya)[7].

Sama halnya dengan Sufi terakhir Ibnu Arabi yang kesemuanya tak bisa dilepaskan oleh keterpengaruhan mereka dengan nuansa hinduisme, meski tak dijelaskan secara tegas, namun ada keterpengaruhan atas ungkapan hiperbola bahasa dan kiasan yang berlebihan melalui bahasa dengan ungkapan Tuhan dibalik analogi alam yang nyata maupun yang tidak nyata (alam maya)  bahkan yang khayali sekalipun. Pada bab-bab selanjutnya, keterpengaruhan pantheisme Islam coba direlasikan dengan ajaran Hindu yang menurut saya merupakan sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan-jalan menuju ke monisme dan pantaisme Jawa. Tidak sekadar ajaran hindu dari Kitab Bhavadgita, tetapi ajaran-ajaran Upanishad dan sosok brahma menjadi personifikasi atas proses emanasi yang kemudian meretaskan nilai-nilai filsafat Hindu. Adapula alam mistik dengan balutan pemikiran kosmik, yang lagi-lagi dinyatakan oleh Zoetmulder mempunyai korelasi dengan praktik-praktik para sufi pada tahap awal islam diperkenalkan ke Dunia Timur atau tepatnya Indonesia dengan pandangan orang Jawa mengenai “Manunggaling Kawula Gusti”.

Dalam konteks ini halaman 88 dalam Buku Zoetmulder terurai secara gamblang mengenai pandangan Monisme dan pantheis Jawa, “ketika membahas Monisme yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan Upanishad, sampai hari ini masih tersebar luas di Jawa” (hlm-88). Pada Bab IV buku ini pengarang mulai merambah ke ranah teks-teks suci sastra jawa kuno. Metode yang dipakai melalui objek kajian teks sastra ini diyakini oleh pengarang dapat membatasi tema monoteis dan panteisme dalam perspektif dan ortodoks dan kekinian. Pada tahapan ini Tuhan sangat simbolis dalam penggambarannya. Bisa jadi awal pemunculan Islam di jawa sangat lekat dengan teks-teks kuno yang cukup kental dengan nuansa Pantheistik-nya. Seperti halnya pada Bab sebelumnya Para sufi disinyalir  yang mula-mula memperkenalkan panthaisme dengan cara mereka sendiri. Tak melihat pada konteks religiusitasnya akan menangkap makna apa yang tersirat dalam sebuah ujaran ataupun bahasa tulisan, yang menyinggung tentang hakikat dasar akan nilai keislaman.

Tetapi Zoetmulder lebih menyoroti sejumlah analogi para sufi dengan pengandaian-pengandaian mereka melalui agama khsususnya Islam. pada Bab V &VI, akan terasa sukar bagi kapasitas awam yang coba menangkap ajaran “manunggaling” melalui teks Jawa (sastra suluk) jika kita tidak berangkat dari kesepahaman bahasa maupun budaya. Disini ada dikotomi antara yang ingin memahami ajaran penyatuan Manusia dan hakikat ke-Tuhanan secara an sich  pada cinta kasihnya kitab Ngasmara dan Asmaradana dan memilah secara clear dan distingly sejauh mana ada nilai-nilai Panthaisme dan Monisme yang tereram didalamnya. Sebab symbol melalui bahasa dalam kitab kuno tersebut perlu ditafsir dengan analisa yang terstruktur. Sementara pada bab VII, bisa dikatakan intisari dari buku ini mulai nampak dimana ada penggambaran dengan sejumlah antithesis dari yang saling berlawanan antara yang gaib dan yang berwujud, antara kebendaan dan unsur-unsur yang terkandung didalamnya mulai saling terkait satu sama lain. Secara sederhana yang ingin mau disampaikan oleh Zoetmulder pada bab ini bahwa ada keterpautan antara teks-teks kuno dengan inti ajaran sufi.

Beberapa diantara dari serat Centini dan Kinanti memuat tema ajaran islam yang mengandung petuah dan jalan kehidupan dari Nabi Muhammad S.A.W, yang menurut saya  cukup berat diartikan secara harafiah pada tanda kutip eski dan jawari, sebab tidak hanya bermuara pada teks metafisik yang spritualis namun ada pemahan mistik kejawen yang menjadi hubungan antara Pantheisme dalam perspektif  sang pengarang.

Teks Kinanti hal 167

Allah lan Muhammad iku/sedaya/pan maksih napi/mung sifat napsi kang ana/ ning dereng kahana yekti/ eski jenenge punika/ lan jawari namaneki/” (kinanti)

TERJEMAHAN[8]

Allah dan Muhammad masih dalam ketidakberadaan. Hanya sifat-sifat kodratNya “eski” dan ia sebut “jawari”

Pada bab ini juga tema sufistik dari Ibnu Arabi tak ketinggalan diacu oleh pengarang sebab objek kajian anatara islam dan jawa melalui sastra suluk (teks kuno jawa) coba dipadankan dengan rasionalisme “barat” melalui emanasi Plotinus. Thomas Aquinas bahkan Ibnu Sina. Padahal jika mencari sebuah pengertian dari maksud “emanasi” atau kebersatuan Tuhan dan wujud ciptaannya dalam “Manunggaling Kawula Gusti”, sebenarnya dalam serat centini dan kinanti bisa dikatakan bentuk dari emanasi itu sendiri. Sama hal dengan pemaparan yang tertuang pada bab VIII sampai IX penggambaran lebih dipertegas dengan teks-teks jawa yang tetap sama dengan petuah nilai didalamnya namun dengan konteks kalimat yang berbeda. Tapi yang dapat diulas sedikit disini bahwa Zoetmulder lebih ingin mempertegas pengertian Monisme dengan mengangkat judul “Monisme Radikal”. Maksud dari  judul ini, terlihat bahwa dengan gamblang dan tanpa tedeng aling-aling  pengarang ingin mengatakan bahwa di bab inilah  puncak dari mistis Jawa yang terdapat dari beberapa teks kuno (centini dan kinanti maupun yang terangkum dalam dandang gula-) dan ketegasan dari nilai Panteisme menjadi “sempurna” setelah monisme menjadi sintesis pada bab ini. (hlm-249).

Aneka perumpamaan dalam bab-bab terakhir pada buku ini  direpresentasikan dalam bentuk analogi Cermin dan wayang yang sebenarnya menjadi komparasi wujud  diri untuk mengukur sejauh mana kualitas diri dalam memahami ajaran-ajaran islam. ada sudut pandang yang berbeda ketika orang membaca buku ini, ibarat layar lebar yang terhampar didalam ruang bioskop setelah selesai menontonnya orang akan mempunyai pandangan masing-masing dengan hasil tontotannya. Sama halnya dengan buku ini, akan terasa mempunyai nilai kesakralannya jika teks-teks yang dikategorikan oleh Zoetmulder sebagai sastra suluk ini tidak dipandang sebagai suatu karya manusia saja dalam upaya “pengadaptasian” intisari kitab suci agama langit (islam,Kristen) maupun intisari dari ajaran cinta kasih kaum sufi hingga ke pantheistik-nya Hindu. Tetapi lebih dari itu ajaran-ajaran dalam berbagai serat itu masih kontekstual hingga kini. Petanda  melalui symbol yang beraneka ragam yang ditonjolkan pada bab XI, hanya merupakan bagian dari media untuk sampai pada kesempurnaan jiwa manusiayang pada bab sebelumnya ditegaskan oleh pengarang dengan Bab-nya yang berjudul : “Tuhan yang bersemayam dalam manusia” (hlm-213) Sama halnya pada Bab ajaran Para wali disini pengarang tidak sungkan lagi untuk merujuk beberapa Kitab dari para wali yang pada sejarah berkembangnya Islam di Jawa Peran Para Wali atau dikenal dengan Wali Songo ini tak bisa dinafikan.

Dan memang pokok masalahnya bukan pada penafikan atau tidaknya tiap ajaran yang disampaikan oleh para wali itu, melainkan lebih pada, bagaimana masyarakat pada saat itu dapat menggapai “ide-ide” absolute tentang Tuhan, yang pada saat bersamaan representasi Tuhan dalam inti ajaran Islam bertentangan bahkan jatuh dalam kesyirikan. Selaras dengan pengantar yang disampaikan oleh Penerjemah buku ini didepan. Oleh Dick Hartoko buku ini menjadi Khazanah baru untuk memperkaya referensi Filsafat, metafisika ataupun ontologi kita terutama para penikmat maupun mahasiswa Filsafat, meski buku ini telah lama dan pertama kali terbit Tahun 1935, namun Saya berasumsi bahwa jika bukan pada penerjemah yang mempunyai wawasan yang luas atau ada “maksud-maksud” tertentu yang membuat ada semangat ekstra dalam menerjemahkan buku ini, tentu buku ini tidak sampai pada saya dan ditinjau dengan ulasan-ulasan menurut perspektif saya yang masih belum dalam dan tajam dalam menganalisis sebagai sebuah review.

Namun patut dicungkan jempol sekirang tidak hanya satu ibu jari, bagi pengarang yang tidak berasal dari kultur maupun pandangan hidup sebagai orang Jawa, tetapi mampu mengurai esensi ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” dengan didukung berbagai referensi yang cukup terkait antara satu sama lain. Akhirnya pandangan kita terhadap dunia nyata ( mikrokosmos ) akan selalu tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, tata kehidupan didalam masyarakat kita sendiri, serta tindak laku kita sehari-hari akan selalu bersumber dan bermuara pada kekuatan batin dan jiwa kita. 


[1] R. Eisler, Wörterbuch der philosophischen Begriffe, Berlin 1929-hlm 173

[2] A. Lalande, Vocabulaire Technique et critique de la philosphie, Paris 1926 I, hlm 484

[3] Oleh Dick Hartoko penulis disebut dengan Pengarang

[4] Reviewer

[5] Moslem World 7 (1917), hlm 17: D.B Mc Donald dalam Moslem World 18 (1928) hlm 6

[6] Indische Strömungen in der iIslamis chen der spekulativen theologen In islam 1928, Massignon

[7] Massignon, Al Hallaj, hlm 310

[8] Centini V, hlm 360