Jul 1, 2016

WAKTU SENGGANG

Waktu senggang hari-hari ini tak banyak berkaitan dengan reflektifitas atau kontemplasi. Waktu senggang kini lebih berkaitan dengan rekreasi. Dan dalam rekreasi itu orang pergi, ke luar dari diri, menuju dunia luar yang menyenangkan, seperti: tempat-tempat wisata, mall, club, negeri-negeri yang asing, wisata umrah, dan seterusnya. Sekarang, pada abad postmodern ini dunia dikelola oleh dunia yang semu, maya, dunia informasi, terlebih lagi, dunia imaji dan sensasi. Manusia makin jarang dan sulit untuk sungguh bersentuhan dengan totalitas dirinya sendiri. Perenungan diri hanya tampil sebagai implikasi, atau lebih buruk lagi, ekses atau pelarian dari medan dunia semu yang mengepungnya. Dahulu, pada masa Yunani Kuno, masyarakat polis terorganisir dan terstruktur rapi, terbagi menjadi dua lapisan, orang bebas dan para budak. Orang bebas mempunyai kesempatan luas berkecimpung dalam tataran filosofis, dalam bidang akademis, dalam mengapresiasikan seni, dalam bidang politik, berorganisasi dan berdebat. Ini dimungkinkan karena mereka memelihara dan menghidupi waktu senggang. Itu pula yang akhirnya memunculkan para pemikir avant garde kala itu seperti Anaxagoras, Parmenides, Heraklitos, Zeno, Socrates, Plato dan Aristoteles. Waktu senggang bagi orang bebas dalam masyarakat Yunani Kuno terisi kegiatan berdiskusi tentang kebenaran dan upaya-upaya menjunjungnya, berrefleksi tentang berbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang, dan akan ada, berdistansi dan berabstraksi dengan realitas, dan seterusnya. Tak heran bila berbagai bentuk masterpiece dalam bidang seni, filsafat dan spiritualitas lahir dan berkembang di sana, lantas diwariskan dan dipelihara dari generasi ke generasi. Pada abad pertengahan di Eropa, kaum bangsawan yang kaya raya mengisi masa mudanya dengan belajar ilmu pengetahuan di pusat-pusat kebudayaan, semisal di Andalusia Spanyol yang pada waktu itu menjadi pusat peradaban umat Islam. Menerjemahkan buku-buku filsafat berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Sebagian yang lain membangun bangunan-bangunan yang megah, menciptakan karya seni, mengadakan diskusi-diskusi ilmiah dan melakukan eksperimen-eksperimen. Hal-hal tersebut mungkin dilakukan karena harta dan waktu senggang mereka. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan Renaissance (abad Pencerahan). 
Di kalangan umat Islam khazanah keilmuan dan keagamaan juga dihasilkan dari waktu senggang. Penguasa-penguasa zaman dahulu banyak mendirikan museum, perpustakaan, akademi, observatorium, pusat kajian ilmu pengetahuan. Para anggota dari tempat-tempat itu diberi tempat tinggal cuma-cuma, mendapat gaji, dan dibantu dalam riset mereka. Di semua akademi, perpustakaan, madrasah, rumah sakit dan observatorium yang disebutkan di atas, kebutuhan financial selalu dipenuhi agar para ilmuwan dapat mempunyai banyak waktu senggang dan dapat mencurahkan waktu sepenuhnya pada kegiatan belajar dan riset. Negara menciptakan waktu senggang bagi para ilmuwan dan insinyur untuk menghabiskan waktu mereka sepenuhnya dalam kegiatan riset, penemuan dan penulisan. Kontemplasi dan pemikiran-pemikiran yang dilakukan di waktu senggang mungkin saja dapat memunculkan ide-ide yang tak terduga, menghasilkan karya yang luar biasa, atau inspirasi-inspirasi yang mengalir. Ini, terjadi ketika waktu senggang bukan hanya bermakna pengisi waktu untuk lebih banyak mengkonsumsi ilusi yang tak real. Banyak mengkonsumsi gaya hidup pop (generasi MTV), banyak menikmati hiburan media yang absurd dan irrasional. Bagaimana dengan waktu senggang Anda..?

No comments:

Feb 17, 2016

GERHANA MATAHARI DAN MOMENTUM PARIWISATA MALUKU UTARA*

Menakjubkan! Fenomena alam langka akan menghiasi langit Maluku Utara pada tanggal 9 Maret 2016 saat beberapa jam setelah  merekahnya sang mentari di ufuk timur. Semoga tanggal 9 nanti cuaca langit Maluku Utara sesuai dengan prediksi BMKG dan kajian klimatologis akan berada di titik rendahnya curah hujan serta tingkat berawan pada level minimum sehingga Gerhana Matahari Total dapat disaksikan dengan jelas tanpa terhalangi oleh cuaca yang kurang bersahabat. Pengalaman hidup ini akan sangat berkesan bagi siapa saja yang sempat menyaksikannya. Bagaimana tidak, cerahnya pagi hari dengan kelembaban suhu serta intensitas cuaca yang perlahan merangkak naik secara alamiah,  mendadak berbalik arah  seolah menjemput petang dengan tiba-tiba. Totalitas Gerhana Matahari akan melintasi beberapa Kota di Bumi Maluku Utara selain di sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan  dan Sulawesi Tengah pada Khususnya. Hal yang sama yang terekam dalam serpihan ingatan saya ketika  terjadi pada tanggal 11 Juni 1983 pada saat itu hanya menyisakan hal-hal yang bernuansa klenik atau mistik bahkan mitos ketimbang peristiwa sains dan wisata edukatif mengenai Astronomi yang menggugah rasa keingin tahuan kita.  Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 ini menjadi momen istimewa untuk kita orang Maluku Utara sebab lintasan GMT tersebut melingkupi dihampir seluruh daratan wilayah kita dan dianggap sebagai titik terbaik dan terpanjang/terlama untuk wilayah Indonesia yang puncaknya berlangsung diatas langit Kota Maba Halmahera Timur dengan durasi 3 menit 20 detik.
Gerhana Matahari Dalam Lintasan Sejarah.
Epik mengenai ramalan Gerhana Matahari ternyata telah berlangsung sejak lama dari peradaban  kuno Babylonia,  Mesir, Cina hingga India kuno sekitar 4000 tahun yang lalu. Hampir semua kesamaan asal muasal terjadinya Gerhana dikaitkan dengan mitologi Naga raksasa yang menelan matahari. Dalam tradisi Cina disaat terjadinya gerhana orang-orang dianjurkan untuk membuat bunyi yang gaduh, mereka memukul apa saja agar sang naga memuntahkan kembali Matahari. Terkait dengan Gerhana juga Tidak sedikit para peramal kerajaan dibunuh oleh karena ramalan atau prediksi mereka ternyata meleset. Di Dunia Barat ketika Thales Seorang Filsuf Yunani Kuno meramalkan Gerhana Matahari yang terjadi di Turki pada tanggal 28 Mei 585 SM adalah Gerhana Matahari yang diklaim pertama kali tepat sesuai dengan tanggal dan tempatnya. Pada Gerhana itu juga yang dapat menghentikan Perang besar secara mendadak antara orang orang Medes dan Lydian (Bangsa Persia/ Sekitar Asia tengah) mereka meyakini Para Dewa murka atas perang yang telah terjadi, hingga cahaya siang digantikan dengan malam. Pengetahuan Thales mengenai Ilmu Astronomi diyakini didapat dari para Tabib Mesir Kuno yang memang sudah lihai dalam penghitungan dan Ilmu perbintangan. Lintasan sejarah Gerhana Matahari dalam sejarah Islam juga sempat dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tanggal 30 Januari 632 M (menjelang awal Dzulqaidah 10 H) saat itu pada pagi hari diatas Langit Madinah telah terjadi Gerhana matahari cincin dan bertepatan dengan meninggalnya putra sang Baginda Rasulullah SAW, Ibrahim Bin Muhammad. Para pengikut nabi saat itu mengira bahwa Allah pun berduka atas kematian Putra Nabi. Mengutip tulisan T. Djamaluddin, Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, ada empat gerhana terjadi sebelum Nabi hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah. Hadits riwayat Ahmad dan Nasai ini menyatakan perintah Nabi, "Bila kamu melihat gerhana maka shalatlah sebagaimana shalat wajib yang biasa kamu kerjakan." Setelah Shalat Gerhana yang terjadi kira-kira pukul 9 pagi di Madinah itu, kemudian Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti dan tanda kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang.

Saatnya Menebar Pesona Wisata Malut
Fam Trip (Familliarisation Trip) atau perjalanan wisata untuk mengenal lebih dekat destinasi wisata telah dilakukan oleh para Ilmuwan, peneliti maupun penggemar Astronomi dan para fotografer pemburu Gerhana Matahari jauh-jauh hari  di Maluku Utara. Mereka terlebih dahulu menentukan spot terbaik untuk mengamati dan meneliti proses sebelum dan sesudah terjadi Gerhana Matahari. Semisal klub pencinta  astromi Langitselatan.com telah mempublikasikan tulisan mereka mengenai hasil fam trip dengan titik-titik terbaik untuk mengamati gerhana matahari, diantaranya Ternate, Tidore, Sofifi, Moti, Jailolo hingga ke Maba. Diharapkan dengan langkah awal ini stake holder dalam hal ini kementrian Pariwisata Kota maupun Propinsi akan lebih menindak lanjuti “momentum Istimewa GMT 2016” ini setelah pada kesempatan pertama saat fam trip dilakukan. Menyimak pemberitaan selama setahun menjelang terjadinya GMT, Propinsi Maluku Utara lah yang terkesan lamban dalam mengapresiasikan dan mempersiapkan kejadian langka ini. Padahal dengan momentum GMT 2016 ini potensi dunia pariwisata malut lebih diharapkan untuk “menyita”  pandangan dunia mengenai Pariwisata Maluku Utara. Penyedia jasa Tour dan Travel yang dipromosikan oleh agen Pariwisata dunia, telah jauh-jauh hari menjual agen tiket wisata untuk “Astronomic Tour to Spice Island”. Sementara ikon Ternate dan Maluku bukanlah hal baru dalam kancah internasioanl sehingga potensi wisata dari Wisata Alam, (Cengkih Tertua, situs sejarah Peninggalan Benteng-benteng, sisa–sisa letusan gunung berapi gamalama), atau wisata Bahari dengan Pemandangan bawah laut yang mempesona beserta Pantai-pantainya di Sepanjang Halmahera. Bisa juga Wisata Sejarah Perang Pasifik di Morotai termasuk Wisata Kuliner dengan khas rempah-rempahnya yang menggoyang lidah sebenarnya akan sangat melengkapi “paket wisata Gerhana matahari” untuk momentum istimewa bagi daerah kita kali ini. Melihat booklet Panitia Nasional GMT 2016 yang telah dibentuk sejak april 2015, ada gala dinner dalam daftar yang diagendakan untuk Para “Pemburu” GMT 2016. Termasuk kirab budaya dan Pesta Rakyat Ternate (Legu Gam) yang didahulukan bersamaan dengan GMT 2016 ini. Mudah-mudahan rilisan Malut Post mengenai pengamanan dan kenyamanan Kota oleh aparat akan tetap sigap hingga pada saat peristiwa berlangsung dan selesai berjalan dengan baik. Sebab dalam ivent kali ini tidak sedikit ilmuwan dari Nasa, Lapan dan Perkumpulan Astronomi Dunia maupun Nasional akan berkumpul di Maluku Utara. Termasuk  Mengangankan Pemprov atau pemkot untuk melakukan kerja sama dengan salah satu media elektronik untuk melakukan live streaming saat berlangsungnya Gerhana Matahari Total. Dengan begitu menyitir sentilan orang-orang bahwa yang dijual dari potensi wisata Ternate dan Maluku Utara, tidak hanya nasi jaha dan aer guraka semata. Mari Datang Ke Ternate....

Syahyunan Pora
Akademisi Universitas Khairun Ternate
*Tulisan ini Pernah dimuat di Harian Malut Post-Ternate

MENUJU MALUKU UTARA

Author: Avivah Yamani
Source: Langitselatan

Cerita ini berawal dari ide untuk melakukan survei lokasi pengamatan Gerhana Matahari Total yang akan terjadi 9 Maret 2016, dimana Indonesia adalah satu-satunya daratan yang dilintasi totalitas gerhana! Daratan satu lagi adalah sebuah atol di Mikronesia yang tidak berpenghuni. Fenomena langit yang satu inilah yang mempertemukan langitselatan yang sehari-harinya berurusan dengan astronomi dan Kementrian Pariwisata Indonesia lewat kegiatan Familiarization trip. Jadi, inilah kesempatan emas untuk berburu gerhana di negeri sendiri. Apalagi kalau uangnya pas-pasan dan tidak bisa berburu gerhana setiap tahun. Tentunya kesempatan langka menikmati totalitas di negeri sendiri tak boleh dilewatkan. Maka analisa lokasi pun dilakukan dan pilihan awal jatuh di Ternate karena area Maluku Utara ini diperkirakan memiliki tutupan awan yang lebih rendah dan memiliki cuaca yang lebih cerah di periode bulan Maret.  lokasi yang menjadi incaran kami adalah Maba, ibukota di Halmahera Timur yang dilewati oleh garis tengah gerhana matahari total 2016 sekaligus kota paling timur yang bisa menyaksikan totalitas. Apalagi area timur Maba berhadapan langsung dengan lautan pasifik sehingga tidak ada apapun yang menjadi penghalang di horison untuk melihat Matahari terbit. Untuk Famtrip ini, kami mengunjungi beberapa kota yakni Ternate, Tidore, Sofifi, Maba, Buli, Kao dan Jailolo. Rancangan perjalanan selama 5 hari singkatnya sebagai berikut: Jakarta – Ternate – Sofifi – Maba – Buli – Sofifi – Kao – Jailolo – Ternate – Tidore – Ternate – Jakarta. Keren kan? Atau sedikit gila? Yang pasti perjalanan tersebut berhasil kami selesaikan dalam 5 hari. Dan total waktu yang kami habiskan di jalan lebih dari 20 jam untuk melintasi Malukku Utara lewat jalan darat dan laut. Jadi ceritanya kami melakukan perjalanan lintas kabupaten, bertualang menyusuri jalanan Halmahera. Pastinya kami mengunjungi Halmahera Timur, Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan menjelajah Ternate dan Tidore.Tujuan kami memang untuk mencari lokasi pengamatan di setiap kota. Tapi, tidak hanya itu. Untuk GMT 2016, setiap kota yang dilewati jalur totalitas akan kedatangan turis. Artinya setiap kota harus siap dan mempersiapkan diri. Karena itu kami juga bertemu dengan pemerintah lokal untuk melakukan kolaborasi. Perjalanan survei yang didukung oleh Kementrian Pariwisata dalam bentuk Famtrip dimulai tanggal 4 April 2015 dari titik temu di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten untuk kemudian terbang bersamaGaruda Indonesia menuju Ternate selama 3 jam 40 menit. Tiba di Ternate atau tepatnya di Bandara Sultan Babullah, kami disambut oleh Pak Azis yang langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Sekda Maluku Utara, Bapak Abdullah Masjid Husain dan Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara, Bapak Samin Marsaoly.Dalam pertemuan ini kami melakukan sosialisasi gerhana yang ternyata sudah disadari juga oleh Pemda Malut melalui tingginya pemesanan hotel di daerah mereka. Dari sinilah pembicaraan terkait bagaimana melakukan kolaborasi untuk sosialisasi ke masyarakat dan bagaimana mempersiapkan daerah dimulai. Rencana ini disambut baik oleh Bapak Masjid Husain dan bahkan menurut Bapak Samin Marsaoly, pemerintah daerah Maluku Utara akan mengadakan festival budaya termasuk salah satunya festival batu bacan. Batu Bacan merupakan batu hidup yang berproses menjadi lebih indah dan dijadikan perhiasan. Batu Bacan bukan pemain baru dalam kancah perbatuan. Karena jauh sebelum demam batu akik di negeri ini, masyarakat Maluku sudah kenal dengan batu yang satu ini. Pertemuan dengan aparat daerah berlangsung singkat tapi menyenangkan, apalagi disediakan juga sarapan pagi nasi kuning di ruang tunggu eksekutif Bandara Sultan Babullah. Setelah berdiskusi dan sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke ibukota propinsi Maluku Utara, Sofifi, dengan menggunakan speedboat!

May 18, 2013

Festival Teluk Jailolo 2013



IDR 6.750.000 ( 4 Days / 3 Nights)

Thursday, 16 May 2013 (L/D) JKT-Ternate-Jailolo


From Jakarta to Ternate using Sriwijaya / Express Air
Arrive in Sultan Babullah Ternate Airport and get picked up by a car and head to the port (Pelabuhan Jailolo)
Continue by speed boat to Jailolo
Arrive in Jailolo to see the opening of Festival Teluk Jailolo 2013 which is the sea ritual (Ritual Laut, Sigofi Ngolo)
Watch the rowing contest
Check-in at the homestay
Have lunch at a local restaurant
Head to Buabua Island for snorkeling
Free time (enjoy nature and activities, underwater video*, planting/adopting shells)
Head back to homestay and have a little break
Night barbeque party at the Rumah Sasadu
Watch a performance of Cakalele Dance

*Underwater video will be competed and open for public

Friday, 17 May 2013 (B/L/D) Teluk Jailolo City Tour

Leave early morning to see sunrise at Bukit Senyum Lima Ribu (Five Thousand Smiles Hill)
Enjoy local cuisine
Head back to Festival Teluk Jailolo area to see exhibitions and races
Head back to Gamtala Village to enjoy the beauty of “tourism village” and see the making of local handicrafts
Go on Spice Trip and see nature’s wealth
Do a Historical Trip and head to the Mangroove
Head to Bobanehena Beach
Sightsee at Dermaga Galau
Have dinner and rest


Saturday, 18 May 2013 (B/L/D) Visit Festival Teluk Jailolo 2013

Breakfast at the homestay/local restaurant
Head to the Festival Teluk Jailolo area to see the cow wagon parade
Head to the arts and crafts center and Jailolo’s natural products
See the closing of Festival Teluk Jailolo 2013 Sasadu on the Sea
Watch the performance of NOAH concert


Sunday, 19 May 2013 (B) Jailolo – Ternate – Jakarta

Breakfast at the homestay/local restaurant
Head to the port (Pelabuhan Jailolo) to cross Ternate
Head to Sultan Babullah Ternate airport and leave for Jakarta

Festival Teluk Jailolo 2013 Land Arrangement Package

IDR 2.850.000 ( 4 Days / 3 Nights)
Local transportation (car & boat)
Tour Guide
Accommodation (homestay)
Food and snacks (breakfast, lunch, dinner)
Snorkeling at Buabua Island
City tour packages
Watch the performance of Sasadu on the Sea
Watch NOAH concert
Participating in a cultural ceremony
Notes:

B : Breakfast; L : Lunch; D : Dinner
*Price is available all through April 2013 .

SOURCE http://www.festivaltelukjailolo2013.com/blog/announcement/trip-deals-2.html