Feb 29, 2016

SEPUTAR MITOS DAN FAKTA TANGGAL 29 FEBRUARI

Hari ini adalah hari Kabisat. Setiap empat tahun sekali, selalu ada yang berbeda di bulan Februari seperti yang terjadi pada tahun 2016 ini. Pada umumnya bulan Februari hanya sampai tanggal 28, namun setiap empat tahun waktu di bulan Februari bertambah satu hari yaitu sampai tanggal 29. Penambahan satu hari ini berpengaruh pula terhadap penambahan hari dalam hitungan satu tahun dari 365 menjadi 366 hari. Hal inilah yang disebut tahun kabisat. Terdapat algoritma mudah untuk menentukan apakah suatu tahun termasuk tahun kabisat atau bukan sebagai berikut:
1.    Jika angka tahun itu habis dibagi 400, maka tahun itu sudah pasti tahun kabisat.
2.    Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400 tetapi habis dibagi 100, maka tahun itu sudah pasti bukan merupakan tahun kabisat.
3.    Jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100 akan tetapi habis dibagi 4, maka tahun itu merupakan tahun kabisat.
4.    Jika angka tahun tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100, dan tidak habis dibagi 4, maka tahun tersebut bukan merupakan tahun kabisat.
Seperti yang dikutip oleh Pojoksatu.ib berikut Fakta-fakta menarik tentang Tahun Kabisat 

Mengundang Cuaca Buruk
Cuaca buruk ternyata bisa disebabkan karena Tahun Kabisat. Apa penjelasan ilmiahnya? Ternyata ini memang soal kepercayaan. Di Rusia, Tahun Kabisat dipercaya membawa cuaca buruk. Para petani, bahkan menyebutkan, jika ada tumbuhan yang ditanam pada Tahun Kabisat, mereka akan tumbuh ke arah yang salah. Begitu juga dengan Skotlandia, mereka juga percaya terhadap mitos serupa. Peribahasa kuno Skotlandia menyebut Tahun Kabisat bukan tahun yang baik untuk mengembangkan ternak.
Meninggal Dan Lahir Di Tanggal Yang Sama
Ada kepercayaan yang menyebut, bahwa siapa saja yang lahir di tanggal 29 Februari, mereka juga akan meninggal di tanggal yang sama. Salah satu contohnya adalah James Milne Wilson, pemimpin ke-delapan Tasmania. Dia lahir pada 29 Februari 1812 dan meninggal tanggal 29 Februari 1880.
 Anak Yang Lahir Di Tahun Kabisat Tak Pandai Bisnis
Di China, terdapat mitos yang menyebutkan bahwa anak-anak yang lahir pada tanggal 29 Februari, mereka pada umumnya tidak pandai dalam hal berbisnis. Selain itu, dari segi kehidupannya pun mereka akan kesulitan. Di lain negeri, mitos yang beredar di Taiwan menyebutkan, jika ada seorang anak perempuan yang sudah menikah, mereka sejatinya tidak diperkenankan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Alasannya, jika ada anak perempuan yang memaksa pulang kerumah orangtuanya, hal ini dapat mendatangkan kesialan bagi orangtuanya.
Memiliki bakat istimewa
Sejak lama, para astrolog percaya bahwa bayi yang lahir di Tahun Kabisat memiliki bakat yang istimewa, seperti, dari kepribadiannya yang unik, hingga kekuatan magis. Beberapa pesohor yang lahir di tanggal 29 Februari adalah pencipta puisi Lord Byron, rapper Ja Rule, dan atlet football Darren Ambrose.
Tidak Semua Tahun Berakhiran Seratus Adalah Tahun Kabisat
Menurut penanggalan Gregorian, tahun 2000 adalah Tahun Kabisat, begitu juga dengan tahun 1600, tapi 1700, 1800 dan 1900 bukanlah kabisat. Hal itu menimbulkan definisi baru tentang Tahun Kabisat, yakni tahun yang habis dibagi 400.
 Fakta – Fakta Yang tak kalah menariknya :
·    Di era modern, Tahun Kabisat membawa ‘kesialan’ bagi para pekerja kantoran. Pasalnya, banyak kantor yang mengeluarkan gaji bulanan berdasarkan hitungan 28 hari, berarti di tanggal 29 Februari, banyak pekerja yang akan bekerja secara gratis. Mereka yang lahir pada tanggal 29 Februari disebut ‘leapling’ atau ‘leaper’. Peluang seseorang lahir pada 29 Februari adalah 1:1461. Setidaknya, ada 5 juta leapling di seluruh dunia.Keluarga pemegang kelahiran leapling terbanyak di dunia adalah keluarga Keogh dari Inggris dan Irlandia. Selama tiga generasi, keluarga tersebut selalu memiliki keturunan yang lahir pada 29 Februari. Dimulai dari sang kakek, Peter Anthony Keogh, kemudian putranya, Peter Eric dan cucunya, Bethany Wealth. Lain cerita dengan di Denmark. Jika pria menolak lamaran wanita pada tanggal 29 Februari, maka dia harus memberi wanita itu 12 pasang sarung tangan. Sementara di Finlandia, pria harus memberi wanita kain untuk membuat baju. Di Yunani, pasangan justru menolak menikah di Tahun Kabisat karena mereka percaya itu akan membawa nasib buruk. Kepercayaan itu juga dianut warga Italia. Ada peribahasa Italia yang menyebut, “Anno bisesto, anno funesto” yang berarti Tahun Kabisat, tahun sial.

Sumber : cnnindonesia.com / http://pojoksatu.id / Wikipedia.com

Apr 16, 2010

TENTANG KEKEKALAN INDIVIDU

Adaptasi dari Buku Good life And immortality

Bab 21(The Justification For Personal Immortality)

Oleh Peter Anthony Bertocchi

Alih Bahasa : Syahyunan Pora

Kekekalan makhluk hidup cenderung menjadi diskursus bagi pertanyaan filsafat atas sejauh mana otonomnya manusia yang mampu berkuasa terhadap diri dan kehidupannya sendiri. Apakah konsep kekekalan dapat gugur dengan sendirinya ketika pemahaman tentang kematian atau berakhirnya alam ini jika hanya ditinjau dari segi fisik semata ? dan apakah kematian dapat menghapus teori tentang kekekalan itu sendiri? dan apakah sesungguhnya kekekalan itu sebenarnya? Sedikit mendekripsikan tentang ‘kematian’ merupakan tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. berikut penulis mencoba mendeskripsikan Buku dari Peter Anthony Bertocci, yang menjadi tugas pembahasan Mata Kuliah Filsafat Agama, pada bab 21 dengan Judul Good life And immortality dengan sub bab “Pembenaran Terhadap Kekekalan Individu” (The Justification For Personal Immortality)  Dalam rangka untuk menjelaskan isu-isu  relevan dengan pemikiran kita tentang kematian  dan kelangsungan hidup manusia, hingga kini kita tetap bertahan mengenai  definisi dari  konsepsi manusia menyangkut dengan kekekalan . Apa yang ingin kita pertahankan disini adalah menyangkut dengan analisis terakhir sebagai sesuatu nilai yang paling berharga yang berhubungan dengan kelangsungan hidup tiap individu menyangkut dengan kekekalan. Yang  kami maksudkan adalah keteguhan pikiran setelah kematian fisik pada setiap individu yang ada sebelum jantung berhenti berdetak. Perubahan apa pun yang mungkin terjadi di Alam baqa sana, tidak akan menghancurkan identitas esensial dari yang bersangkutan. Apapun  perubahan yang di alami saat  menjalani kehidupan baru dengan mengintegrasikan hidupnya di masa lalunya. Pengalaman hidup kita sehari-hari terus disoroti dengan berbagai jenis dipertanyaan ini . Dari hari ke hari masing-masing dari diri kita terkungkung dalam situasi yang terbatas , dalam berhubungan dengan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.  Ketika salah satu diantara kita dihadapkan dengan  pengalaman yang berbeda secara radikal dari  masa lalu, ia dapat mempertahankan identitasnya dirinya sebagai secara bertahap dengan memilih dan menyerap apa yang bermakna bagi dirinya.  Dasar Kelangsungan hidup ini melalui  perubahan dan pertumbuhan adalah inti dari eksistensi tiap individu dalam kehidupan, dan itu akan menjadi dasar kekekalan individu di akhirat. Dalam kehidupan kini dan berikutnya, misalnya, seseorang merasa bernilai mungkin secara bertahap akan berubah, atau ia dapat mengembangkan kemampuan yang ia lakukan, bukan sekadar bermimpi bahwa ia mampu, namun ia mungkin akan kehilangan sebagian kemampuan, dan ia akan melupakan banyak hal. Namun, pada  yang sedemikian itu, jika seseorang tidak mampu mempertahankan kemampuan menalar, merasa, maupun keinginan-keinginan yang seharusnya, yang pada dasarnya  membentuk berbagai hal  ingatannya secara individu tentang siapakah ia sebenarnya. Maka tak ada kekekalan bagi dirinya. Rangkaian kejadian baru dan masalah-masalah akan terbuka baginya untuk harus dikenal sebagai sesuatu yang baru dan perlu di ketahui sebagai rangkaian masa lalu yang saling terkait. Sebagai individu yang berubah (tidak ada keraguan baginya secara mendasar selama waktu tertentu) ia harus tetap sadar dan tahu, bahwa dia telah berubah. Memang benar bahwa ada beberapa orang yang menyangkal bahwa kekekalan individu  telah tergantikan sebagai pengaruh kekekalan yang mereka sebut “kekekalan sosialitas”. Tetapi seluruh pengertian atas analisis ini  ternyata berlebihan dan membingungkan. Tidak dapat disangkal bahwa kehidupan seseorang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan orang lain, dan melalui mereka kehidupan ini terus berjalan sepanjang sejarah umat manusia. Pada pandangan ini, pengaruh individu seseorang terkait dengan kehidupannya didalam bermasyarakat, bagaimanapun tingkat kehidupan itu meski dalam tataran  mikroskopik, tetap memainkan peran bagi masa depan tiap individu.