Feb 17, 2016

MENUJU MALUKU UTARA

Author: Avivah Yamani
Source: Langitselatan

Cerita ini berawal dari ide untuk melakukan survei lokasi pengamatan Gerhana Matahari Total yang akan terjadi 9 Maret 2016, dimana Indonesia adalah satu-satunya daratan yang dilintasi totalitas gerhana! Daratan satu lagi adalah sebuah atol di Mikronesia yang tidak berpenghuni. Fenomena langit yang satu inilah yang mempertemukan langitselatan yang sehari-harinya berurusan dengan astronomi dan Kementrian Pariwisata Indonesia lewat kegiatan Familiarization trip. Jadi, inilah kesempatan emas untuk berburu gerhana di negeri sendiri. Apalagi kalau uangnya pas-pasan dan tidak bisa berburu gerhana setiap tahun. Tentunya kesempatan langka menikmati totalitas di negeri sendiri tak boleh dilewatkan. Maka analisa lokasi pun dilakukan dan pilihan awal jatuh di Ternate karena area Maluku Utara ini diperkirakan memiliki tutupan awan yang lebih rendah dan memiliki cuaca yang lebih cerah di periode bulan Maret.  lokasi yang menjadi incaran kami adalah Maba, ibukota di Halmahera Timur yang dilewati oleh garis tengah gerhana matahari total 2016 sekaligus kota paling timur yang bisa menyaksikan totalitas. Apalagi area timur Maba berhadapan langsung dengan lautan pasifik sehingga tidak ada apapun yang menjadi penghalang di horison untuk melihat Matahari terbit. Untuk Famtrip ini, kami mengunjungi beberapa kota yakni Ternate, Tidore, Sofifi, Maba, Buli, Kao dan Jailolo. Rancangan perjalanan selama 5 hari singkatnya sebagai berikut: Jakarta – Ternate – Sofifi – Maba – Buli – Sofifi – Kao – Jailolo – Ternate – Tidore – Ternate – Jakarta. Keren kan? Atau sedikit gila? Yang pasti perjalanan tersebut berhasil kami selesaikan dalam 5 hari. Dan total waktu yang kami habiskan di jalan lebih dari 20 jam untuk melintasi Malukku Utara lewat jalan darat dan laut. Jadi ceritanya kami melakukan perjalanan lintas kabupaten, bertualang menyusuri jalanan Halmahera. Pastinya kami mengunjungi Halmahera Timur, Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan menjelajah Ternate dan Tidore.Tujuan kami memang untuk mencari lokasi pengamatan di setiap kota. Tapi, tidak hanya itu. Untuk GMT 2016, setiap kota yang dilewati jalur totalitas akan kedatangan turis. Artinya setiap kota harus siap dan mempersiapkan diri. Karena itu kami juga bertemu dengan pemerintah lokal untuk melakukan kolaborasi. Perjalanan survei yang didukung oleh Kementrian Pariwisata dalam bentuk Famtrip dimulai tanggal 4 April 2015 dari titik temu di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten untuk kemudian terbang bersamaGaruda Indonesia menuju Ternate selama 3 jam 40 menit. Tiba di Ternate atau tepatnya di Bandara Sultan Babullah, kami disambut oleh Pak Azis yang langsung mengajak kami untuk bertemu dengan Sekda Maluku Utara, Bapak Abdullah Masjid Husain dan Kepala Dinas Pariwisata Maluku Utara, Bapak Samin Marsaoly.Dalam pertemuan ini kami melakukan sosialisasi gerhana yang ternyata sudah disadari juga oleh Pemda Malut melalui tingginya pemesanan hotel di daerah mereka. Dari sinilah pembicaraan terkait bagaimana melakukan kolaborasi untuk sosialisasi ke masyarakat dan bagaimana mempersiapkan daerah dimulai. Rencana ini disambut baik oleh Bapak Masjid Husain dan bahkan menurut Bapak Samin Marsaoly, pemerintah daerah Maluku Utara akan mengadakan festival budaya termasuk salah satunya festival batu bacan. Batu Bacan merupakan batu hidup yang berproses menjadi lebih indah dan dijadikan perhiasan. Batu Bacan bukan pemain baru dalam kancah perbatuan. Karena jauh sebelum demam batu akik di negeri ini, masyarakat Maluku sudah kenal dengan batu yang satu ini. Pertemuan dengan aparat daerah berlangsung singkat tapi menyenangkan, apalagi disediakan juga sarapan pagi nasi kuning di ruang tunggu eksekutif Bandara Sultan Babullah. Setelah berdiskusi dan sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan ke ibukota propinsi Maluku Utara, Sofifi, dengan menggunakan speedboat!