Feb 17, 2016

GERHANA MATAHARI DAN MOMENTUM PARIWISATA MALUKU UTARA*

Menakjubkan! Fenomena alam langka akan menghiasi langit Maluku Utara pada tanggal 9 Maret 2016 saat beberapa jam setelah  merekahnya sang mentari di ufuk timur. Semoga tanggal 9 nanti cuaca langit Maluku Utara sesuai dengan prediksi BMKG dan kajian klimatologis akan berada di titik rendahnya curah hujan serta tingkat berawan pada level minimum sehingga Gerhana Matahari Total dapat disaksikan dengan jelas tanpa terhalangi oleh cuaca yang kurang bersahabat. Pengalaman hidup ini akan sangat berkesan bagi siapa saja yang sempat menyaksikannya. Bagaimana tidak, cerahnya pagi hari dengan kelembaban suhu serta intensitas cuaca yang perlahan merangkak naik secara alamiah,  mendadak berbalik arah  seolah menjemput petang dengan tiba-tiba. Totalitas Gerhana Matahari akan melintasi beberapa Kota di Bumi Maluku Utara selain di sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan  dan Sulawesi Tengah pada Khususnya. Hal yang sama yang terekam dalam serpihan ingatan saya ketika  terjadi pada tanggal 11 Juni 1983 pada saat itu hanya menyisakan hal-hal yang bernuansa klenik atau mistik bahkan mitos ketimbang peristiwa sains dan wisata edukatif mengenai Astronomi yang menggugah rasa keingin tahuan kita.  Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 ini menjadi momen istimewa untuk kita orang Maluku Utara sebab lintasan GMT tersebut melingkupi dihampir seluruh daratan wilayah kita dan dianggap sebagai titik terbaik dan terpanjang/terlama untuk wilayah Indonesia yang puncaknya berlangsung diatas langit Kota Maba Halmahera Timur dengan durasi 3 menit 20 detik.
Gerhana Matahari Dalam Lintasan Sejarah.
Epik mengenai ramalan Gerhana Matahari ternyata telah berlangsung sejak lama dari peradaban  kuno Babylonia,  Mesir, Cina hingga India kuno sekitar 4000 tahun yang lalu. Hampir semua kesamaan asal muasal terjadinya Gerhana dikaitkan dengan mitologi Naga raksasa yang menelan matahari. Dalam tradisi Cina disaat terjadinya gerhana orang-orang dianjurkan untuk membuat bunyi yang gaduh, mereka memukul apa saja agar sang naga memuntahkan kembali Matahari. Terkait dengan Gerhana juga Tidak sedikit para peramal kerajaan dibunuh oleh karena ramalan atau prediksi mereka ternyata meleset. Di Dunia Barat ketika Thales Seorang Filsuf Yunani Kuno meramalkan Gerhana Matahari yang terjadi di Turki pada tanggal 28 Mei 585 SM adalah Gerhana Matahari yang diklaim pertama kali tepat sesuai dengan tanggal dan tempatnya. Pada Gerhana itu juga yang dapat menghentikan Perang besar secara mendadak antara orang orang Medes dan Lydian (Bangsa Persia/ Sekitar Asia tengah) mereka meyakini Para Dewa murka atas perang yang telah terjadi, hingga cahaya siang digantikan dengan malam. Pengetahuan Thales mengenai Ilmu Astronomi diyakini didapat dari para Tabib Mesir Kuno yang memang sudah lihai dalam penghitungan dan Ilmu perbintangan. Lintasan sejarah Gerhana Matahari dalam sejarah Islam juga sempat dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tanggal 30 Januari 632 M (menjelang awal Dzulqaidah 10 H) saat itu pada pagi hari diatas Langit Madinah telah terjadi Gerhana matahari cincin dan bertepatan dengan meninggalnya putra sang Baginda Rasulullah SAW, Ibrahim Bin Muhammad. Para pengikut nabi saat itu mengira bahwa Allah pun berduka atas kematian Putra Nabi. Mengutip tulisan T. Djamaluddin, Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, ada empat gerhana terjadi sebelum Nabi hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah. Hadits riwayat Ahmad dan Nasai ini menyatakan perintah Nabi, "Bila kamu melihat gerhana maka shalatlah sebagaimana shalat wajib yang biasa kamu kerjakan." Setelah Shalat Gerhana yang terjadi kira-kira pukul 9 pagi di Madinah itu, kemudian Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti dan tanda kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian maupun kelahiran seseorang.

Saatnya Menebar Pesona Wisata Malut
Fam Trip (Familliarisation Trip) atau perjalanan wisata untuk mengenal lebih dekat destinasi wisata telah dilakukan oleh para Ilmuwan, peneliti maupun penggemar Astronomi dan para fotografer pemburu Gerhana Matahari jauh-jauh hari  di Maluku Utara. Mereka terlebih dahulu menentukan spot terbaik untuk mengamati dan meneliti proses sebelum dan sesudah terjadi Gerhana Matahari. Semisal klub pencinta  astromi Langitselatan.com telah mempublikasikan tulisan mereka mengenai hasil fam trip dengan titik-titik terbaik untuk mengamati gerhana matahari, diantaranya Ternate, Tidore, Sofifi, Moti, Jailolo hingga ke Maba. Diharapkan dengan langkah awal ini stake holder dalam hal ini kementrian Pariwisata Kota maupun Propinsi akan lebih menindak lanjuti “momentum Istimewa GMT 2016” ini setelah pada kesempatan pertama saat fam trip dilakukan. Menyimak pemberitaan selama setahun menjelang terjadinya GMT, Propinsi Maluku Utara lah yang terkesan lamban dalam mengapresiasikan dan mempersiapkan kejadian langka ini. Padahal dengan momentum GMT 2016 ini potensi dunia pariwisata malut lebih diharapkan untuk “menyita”  pandangan dunia mengenai Pariwisata Maluku Utara. Penyedia jasa Tour dan Travel yang dipromosikan oleh agen Pariwisata dunia, telah jauh-jauh hari menjual agen tiket wisata untuk “Astronomic Tour to Spice Island”. Sementara ikon Ternate dan Maluku bukanlah hal baru dalam kancah internasioanl sehingga potensi wisata dari Wisata Alam, (Cengkih Tertua, situs sejarah Peninggalan Benteng-benteng, sisa–sisa letusan gunung berapi gamalama), atau wisata Bahari dengan Pemandangan bawah laut yang mempesona beserta Pantai-pantainya di Sepanjang Halmahera. Bisa juga Wisata Sejarah Perang Pasifik di Morotai termasuk Wisata Kuliner dengan khas rempah-rempahnya yang menggoyang lidah sebenarnya akan sangat melengkapi “paket wisata Gerhana matahari” untuk momentum istimewa bagi daerah kita kali ini. Melihat booklet Panitia Nasional GMT 2016 yang telah dibentuk sejak april 2015, ada gala dinner dalam daftar yang diagendakan untuk Para “Pemburu” GMT 2016. Termasuk kirab budaya dan Pesta Rakyat Ternate (Legu Gam) yang didahulukan bersamaan dengan GMT 2016 ini. Mudah-mudahan rilisan Malut Post mengenai pengamanan dan kenyamanan Kota oleh aparat akan tetap sigap hingga pada saat peristiwa berlangsung dan selesai berjalan dengan baik. Sebab dalam ivent kali ini tidak sedikit ilmuwan dari Nasa, Lapan dan Perkumpulan Astronomi Dunia maupun Nasional akan berkumpul di Maluku Utara. Termasuk  Mengangankan Pemprov atau pemkot untuk melakukan kerja sama dengan salah satu media elektronik untuk melakukan live streaming saat berlangsungnya Gerhana Matahari Total. Dengan begitu menyitir sentilan orang-orang bahwa yang dijual dari potensi wisata Ternate dan Maluku Utara, tidak hanya nasi jaha dan aer guraka semata. Mari Datang Ke Ternate....

Syahyunan Pora
Akademisi Universitas Khairun Ternate
*Tulisan ini Pernah dimuat di Harian Malut Post-Ternate