Oct 31, 2015

BULAN BAHASA DAN IDENTITAS BANGSA*

Momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang selalu diperingati setiap tahun juga identik dengan Bulan Bahasa. Lebih terasa istimewa lagi, sebab pada butir ketiga dalam teks Sumpah Pemuda, Bahasa yang dijunjung sebagai Bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Pekik merdeka menjadi slogan heroik di berbagai daerah dengan satu tujuan mengangkat harga diri Bangsa  sebagai bangsa yang bermartabat dimata dunia. Kaum muda kala itu hanya ingin terbebas dari belenggu penjajahan, ingin berdaulat, serta ingin menyatukan rasa nasionalisme agar dapat berdikari dan menjadi bangsa yang mandiri. Dalam catatan sejarah Sumpah Pemuda, Jong Ambonlah yang terepresentasi sebagai “delegasi” Pemuda dari Maluku dengan Dokter J. Leimena sebagai pembantu IV dalam Kongres ke II tahun 1928. Padahal dalam rentang waktu antara 1607 hingga 1942 (Amal, 2010:342) kesadaran perlawanan terhadap penjajah telah dikobarkan oleh Rakyat Maluku Utara sekitar 3 abad lebih lamanya dengan berbagai epik sejarah pemberontakan, pengkhianatan hingga persekutuan, termasuk ekspansi hingga ke kolonialisasi yang melibatkan Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris hingga Jepang, dengan melibatkan dua kerajaan besar yaitu Ternate dan Tidore. Meski kedua Kerajaan tersebut menempuh jalan yang berliku namun memiliki tujuan dan  semangatnya yang sama yaitu ingin lepas dari belenggu penjajah. Kesadaran pergerakan dalam organisasi maupun syarikat kaum muda Maluku Utara sekitar tahun 1919 hingga 1920-an juga telah teretas pada waktu yang tidak jauh berselang seiring momentum sumpah pemuda. Diantara tokoh pemuda sebagai pelaku sejarah dalam Kongres ke II tahun 1928 yang cukup familiar dan mewakili Jong Celebes adalah Arnold Mononutu, sebuah nama yang kemudian diabadikan sebagai nama Jalan di Kota Ternate. Tentu tidak mengabaikan peran tokoh pergerakan kaum muda  lainnya seperti Hasan Esa, Chasan Busoiri dan lainnya yang belum banyak dikenal dan belum mendapat apresiasi serupa oleh Pemerintah daerah kita nantinya.

Bahasa Dan Revolusi Mental Yang Paradoks
Seiring pesatnya kemajuan zaman dan laju perkembangan Tekhnologi,  momentum peringatan Bulan bahasa menjadi sasaran untuk merevitalisasi kembali kedudukan Bahasa Indonesia ditengah maraknya kosa kata asing yang berseliweran ditengah kehidupan kita sehari-hari. Ancaman tergerusnya Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam. Merebaknya bahasa Sosialita dalam jejaring media sosial, istilah-istilah “alay” dalam kamus gaul remaja masa kini juga terus meningkat seiring meningkatnya arus informasi melalui Tekhnologi yang berbasis pada Smart Phone ataupun Gadget. Para pakar Bahasa pun turut bekerja keras untuk mentransformasikan kosa kata dan “Bahasa” tekhnologi kedalam istilah kosa kata Indonesia semisal unggah (upload), unduh (download), pindai (Scan), seret dan tempel (Drag and Paste) serta Surat Elektronik (email) yang mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Kecintaan kita terhadap Bahasa Indonesia mestinya didukung oleh pemangku kepentingan. Namun berbalik arah dengan keputusan Presiden Jokowi dengan meniadakan tes Bahasa Indonesia bagi pekerja asing dengan alasan untuk meningkatkan investasi (Kompas.com/21/8/15). Terasa mencederai rasa kebangsaan kita. Seolah Bahasa Indonesia  menjadi penghalang, jika para pekerja asing yang ingin bekerja di Indonesia akhirnya batal hanya karena tidak mampu atau gagal tes dalam menguasai Bahasa Indonesia. Keputusan tersebut  dapat dikatakan mengkerdilkan posisi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara bahkan mengebiri nilai-nilai semangat nasionalisme dan merendahkan identitas kebangsaan kita. Pertanyaan kemudian revolusi mental seperti apa yang ingin diharapakan oleh Bapak Presiden, jika di “rumah” sendiri pun bahasa Indonesia terpinggirkan. Justru pada kutub yang berbeda  Presiden  Turki Recep Tayyib Erdogan disela sela lawatan beberapa waktu yang lalu di Jakarta menunjukan sikap nasionalismenya dengan menolak menggunakan bahasa Inggris, Erdogan menggunakan bahasa Turki saat memberikan kuliah umum di Lemhanas. Sejalan dengan kecintaan Bahasa sebagai Identitas Bangsa, mengutip pendapat Menristek Anies Baswedan, bahwa Pelajar Indonesia setidaknya mampu menguasai tiga bahasa, yaitu Bahasa Daerah, Bahasa Nasional dan Bahasa International. Saya berasumsi bahwa dengan menguasai tiga bahasa diatas ada semangat  Ke-Bhineka-an yang ingin tetap di jaga melalui adat istiadat dan budaya. Sebab identitas kebangsaan tidak saja tercermin dari Bahasa nasional yang kita gunakan sebagai Bahasa resmi atau Bahasa formal namun juga terdapat pada Bahasa Daerah yang padanya melekat budaya dan tradisi yang kini terancam atau bahkan ada beberapa yang telah punah oleh karena semakin sedikit jumlah penutur yang menggunakannya termasuk di Maluku Utara. Teringat cerita dari seorang Mahasiswa dalam tugasnya sebagai kapasitas pemandu untuk tamu dari Pusat (analogi orang yang datang dari luar daerah) dalam kepentingan untuk melakukan pemetaan artefak Arkeologi-Sejarah di pedalaman Halmahera. Lantaran ingin menego biaya transportasi dengan sang sopir yang asli orang Halmahera, mereka Mahasiswa pemandu yang memang berlatar jurusan Sastra Inggris itu menggunakan Bahasa Inggris. Dengan maksud agar sang sopir tidak mengetahui arah pembicaraan yang akan mereka bahas. Komunikasi “rahasia” menggunakan bahasa Inggris pun mengalir  sembari disimak oleh sang supir dengan penuh khidmat sebab posisi mereka memang saling berdekatan. Sebelum putusan tawaran dari diskusi kecil tadi disampaikan oleh Mahasiswa Pemandu  kepada sang sopir, ternyata sang sopir lebih dulu menyela dengan kalimat “ suda’ ekh jang ngoni pake bahasa rahasia, Ngoni kira kita tra mangarti bahasa Inggris?”. Setidaknya ilustrasi penutup ini menggelikan sekaligus membanggakan bahwa apa yang disampaikan oleh Menristek diatas dengan menguasai tiga bahasa, diantaranya Bahasa Daerah, Nasional dan Internasional telah diimplementasi oleh sang Supir yang ternyata juga seorang alumni Mahasiswa Sastra Inggris. Semoga dengan memperingati Bulan Bahasa tahun ini, kita tidak selalu lupa dengan  identitas kebangsaan kita melalui Bahasa, Mari !....

*Oleh : Syahyunan Pora (Tulisan ini pernah dimuat di Harian Malut Post tgl 28/10/15)