Sep 30, 2015

DESCARTES DAN TUBUH VIRTUAL*

Tema ruang mempunyai makna tempat atau keluasan yang sifatnya geometris. Descartes, seorang filsuf asal Perancis, mempunyai pandangan yang menyatakan bahwa ruang menemukan bentuknya lewat pemahaman tentang tubuh. Tubuh yang dikenali dalam konteks keluasan (res ekstensa) menjadi variabel dari apa yang kita mengerti sebagai ruang material. Untuk itu dalam pemikirannya tak ada ruang dalam arti ruang hampa atau tak bermateri (Edward S. Casey, The Fate of Place, 1998,hal. 155). Ini tentu berbeda dengan ruang dalam konteks internet (cyber) yang tak bermateri atau hampa udara, keluasan atau ekstensi kemudian dimaknai secara berbeda. Ruang cyber atau virtual dibentuk oleh hyperteks.
Seperti kita pahami hyperteks adalah material (teks) yang mengontruksikan halaman web, di dalamnya terdapat keluasan dalam bentuk program, dokumen, suara, grafik, video. Keluasan dalam ruang ini membentuk sebuah dunia. Dunia yang mempunyai forma jaringan dan karena itulah ia mempunyai ciri intertekstual. Intertekstualitas dalam konteks ini dipahami karena adanya relasi universal antara satu ruang dengan ruang lainnya. Seperti halnya ruang cyber, ruang Cartesian mengenal juga intertekstualitas. Intertekstualitas dalam ruang Cartesian ini dipahami lewat defrensiasi tubuh. Kesatuan ruang geometri Cartesian lebih jauh dapat dijelaskan lewat konsep tentang tempat. Edward S. Casey dalam bukunya tentang filsafat ruang membagi ruang geometri Cartesian dalam dua mode tempat, yaitu tempat eksternal dan tempat internal (The Fate of Place, 1998, Hal. 157).
Tempat internal dijelaskan sebagai tubuh material dalam arti volume atau keluasan, sedangkan tempat eksternal dimengerti sebagai relasi situasional antara tubuh-tubuh, seperti contoh perahu di sungai adalah relasi antara tubuh kayu dan tubuh air. Bila kita kaitkan dengan pemikiran Descartes, relasi antar tubuh itulah hyperteks yang bersifat intertekstual. Karena dalam ruang Cartesian realitas material dijelaskan sebagai sesuatu yang berekstensi, dengan kata lain ia terhubung satu sama lain seperti halnya hyperteks dalam ruang virtual. Descartes menjelaskan dalam Meditation on the First Philosophy bahwa pikiran mengenal tubuh lain atau alam sekitar dalam konteks keluasan. Artinya pikiran mengenal secara inderawi realitas material yang tak berjarak. Panas api yang kita rasakan adalah contoh bagaimana pikiran mengenali tubuh lain dalam arti keluasan atau contoh lain semakin jauh sebuah benda semakin tak kelihatan, dan sebaliknya semakin dekat ia maka ia akan terlihat jelas. Tubuh material dalam arti hyperteks terkait dengan data inderawi yang hadir dalam pikiran seperti warna, kepadatan, bentuk dan kualitas material lainnya. Namun kehadirannya tak bermakna sebelum titik pijak rasio manusia yang menyatakan eksistensi dimengerti. Kita ketahui bagaimana Descartes menjelaskan titik pijak rasio lewat metode keraguan. Sebelum realitas hadir secara hakiki, manusia menurut Descartes mesti meragukan (menghapus) keberadaannya, setelah itu barulah ia sampai pada titik ketika ia tak bisa meragukan ‘aku’ yang meragukan. Aku atau subjek yang berpikir (thinking thing) dan memilah-milah realitas inilah yang kemudian memahami keluasan material secara intertekstual. Menurut Descartes pikiran hanya mengenal pikiran, karena tak ada realitas tanpa pikiran. Keotentikan realitas dipahami setelah ‘aku’ sebagai sesuatu yang dapat berpikir hadir. Dalam Meditation on the First Philosophy Descartes mengatakan “it remains for me to examine whether material things exist.” Perkataan yang mengantarkan kita pada gagasan bahwa tubuh atau entitas material adalah sesuatu yang dalam arti tertentu palsu. Pikiran memang secara alamiah memahami keberadaan realitas material. Namun pikiran yang menerima data inderawi lewat apa yang Descartes sebut sebagai glandula pinealis melihat realitas sebagai sesuatu yang imajinatif. Permasalahan representasionalitas (benda-benda yang hadir dalam pikiran) adalah contoh bagaimana imajinasi sebagai fakultas pikiran dapat dimengerti.
Descartes misalnya membandingkan realitas material dengan realitas yang hadir dalam mimpi. Menurutnya keduanya mempunyai ciri yang tak jauh berbeda. Lalu bagaimana dengan realitas dalam cyberspace? Cyberspace dibangun oleh pikiran lewat hyperteks. Dalam ruang ini tubuh menjelma secara representasional. Imej, simbol dan teks adalah representasi realitas yang hadir dalam ruang ini. Ruang di sini terfragmentasi dan realitas sekaligus membeku, bergerak, dan berganti dengan cepat. Dunia yang hadir dalam halaman demi halaman merupakan bentuk fragmentasi dalam cyberspace. Dengan fragmentasi juga diandaikan tidak berlakunya konsep jarak. Jarak digantikan oleh interaksi hyperlink yang dapat dikatakan melampaui jarak. Fragmentasi dalam cyberspace merupakan keniscayaan. Realitas dalam cyberspace hadir terbatas hanya secara audio-visual. Dalam ruang ini tak ada pengalaman tentang berat-ringan, jauh-dekat, atas atau bawah. Kualitas tubuh Cartesian hanya menjelma dalam simbol-simbol yang dikonstruksikan oleh hyperteks. Dalam ruang cyber, tubuh menjelma secara virtual. Animasi adalah salah satu contoh tubuh virtual yang menjelma secara representasional. Kita ketahui bahwa animasi identik dengan gerak.Tentu saja tak ada jiwa dalam arti Cartesian dalam tubuh animasi ini, karena itu tak ada kehendak bebas. Dalam konteks cyberspace, gerak tubuh animasi dibatasi oleh sebuah program. Program dan prosedur membatasi gerak (dalam arti kehendak) tubuh virtual. Dengan logika program, gerak hanya dimungkinkan oleh adanya sistem otomat yang dikondisikan dan biasanya diikuti oleh serangkaian sistem gerak. Kata animasi sebagai manifestasi dari gerak mungkin bisa dikatakan berasal dari pemikiran Plotinus seorang filsuf Neoplatonis pada abad pertengahan. Plotinus dalam karyanya yang berjudul The Six Enneads menjelaskan tentang animasi (the animate) sebagai organisme hidup. Setiap yang berjiwa adalah bergerak, seperti tumbuhan, hewan dan manusia. Animasi pada awalnya merupakan penjelasan tentang fenomena gerak kehidupan. Setiap gerak menurut Plotinus dikondisikan oleh kehadiran jiwa. Pemikiran yang tentunya sesuai dengan konsep jiwa yang mengontrol tubuh dalam nalar Cartesian. Namun fakta kadang membuat kita bertanya tentang benda tak berjiwa yang bergerak. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Plotinus melihat bahwa gerakan dihasilkan lewat pancaran dari setiap organisme yang berjiwa. Animasi dalam konteks virtualitas adalah bergerak tapi tak berjiwa. Gerakan dihasilkan lewat program berisi prosedur yang dalam arti tertentu bisa disebut sebagai keluasan dalam nalar Cartesian yang dihasilkan oleh pikiran. *(Budi Hartanto)