Jul 31, 2015

EPISTEMOLOGI FEMINISME SIMONE DE BEAUVOIR


Simone de Beauvoir adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20, ia juga pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Beauvoir yang lahir di Paris, 9 Januari 1908, memperoleh gelar dalam bidang filsafat dari Universitas Sorbonne di Perancis, ia lulus tahun 1929. Kemudian ia mengajar di sekolah menengah di Marseille dan Rouen mulai 1931 hingga 1937, dan di Paris tahun 1938-1943. Setelah Perang Dunia, ia muncul sebagai pejuang pergerakan eksistensialisme, bersama Jean-Paul Sartre dengan karya Les Temp Modernes. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949. Buku tahun 1949 karya eksistensialis Simone de Beauvoir yang berjudul The Second Sex (bahasa Perancis:Le Deuxième Sexe) adalah salah satu karya Beauvoir yang paling terkenal, mengisahkan mengenai perlakuan terhadap wanita sepanjang sejarah dan sering dianggap sebagai karya utama dalam bidang filsafat feminis yang menandai dimulainya feminisme gelombang kedua. Beauvoir meneliti dan menulis buku ini dalam waktu 14 bulan saat ia berusia 38 tahun. Ia menerbitkan buku ini dalam dua volume, dan beberapa bab pertama kali ditampilkan dalam Les Temps modernes. Meski buku ini terkenal, Vatikan menempatkan buku ini di Daftar Buku Terlarang. http://id.wikipedia.org/wiki/Simone_de_Beauvoir- diakses 15/12/2014.
Gambar : artofericwayne.com
Bertolak dari sebuah pernyataan terkenal dalam buku Simone de Beauvoir, The Second Sex: “One is not born a woman”–yang menunjukkan perjuangan diri perempuan dalam eksistensinya.  Di sampaikan dalam makalahanya tentang teori Beauvoir yaitu perempuan sebagai “Other”. “Kesadaran akan situasi sebagai perempuan berbeda dengan laki-laki membuat Beauvoir skepts dengan Sartre tentang filsafat manusia yang mendifiniskan manusia sebagai Subyek. Karena situasi perempuan tersebut yang didefinisikan oleh budaya dan masyarakat (dan bukan oleh dirinya sebagai Subyek itu sendiri), membuat relasi laki-laki terhadap perempuan sebagai yang “diluar” dirinya, sebagai seks semata (bukan manusia). Sebab, perempuan di definisikan dengan referensi kepada laki-laki dan bukan referensi kepada dirinya sendiri dengan demikian perempuan adalah insidentil. Semata, tidak esensial, laki-laki adalah Subyek dan ia Absolut—sedangkan perempuan adalah “Other” atau yang lain. Budaya patriarkat memulai riwayat penindasannya terhadap perempuan dengan stigmatisasi negatif terhadap kebertubuhan perempuan. Unsur-unsur biologis pada tubuh perempuan dilekati dengan atribut-atribut patriarkat dengan cara menegaskan bahwa tubuh perempuan adalah hambatan untuk melakukan aktualisasi diri. Perempuan diciutkan semata dalam fungsi biologisnya saja. Dengan cara demikian, tubuh bagi kaum perempuan tak lagi dapat menjadi instrumen untuk melakukan transendensi sehingga perempuan tak dapat memperluas dimensi subjektivitasnya kepada dunia dan lingkungan di sekitarnya. Tubuh yang sudah dilekati nilai-nilai patriarkat ini kemudian dikukuhkan dalam proses sosialisasi serta diinternalisasikan melalui mitos-mitos yang ditebar ke berbagai pranata sosial: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan mungkin juga negara. Dalam kerangka penjelasan seperti inilah maka perempuan kemudian diposisikan sebagai jenis kelamin kedua (The Second Sex) dalam struktur masyarakat. Akibatnya, perempuan tak dapat mengolah kebebasan dan identitas kediriannya dalam kegiatan-kegiatan yang positif, konstruktif, dan aktual. Dalam situasi yang demikian ini, pola relasi kaum laki-laki dan perempuan menjadi tak ramah lagi. Kaum laki-laki tak menghendaki adanya ketegangan relasi subjek-objek, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf-filsuf eksistensial, dengan menyangkal subjektivitas perempuan dan menjadikannya sebagai pengada lain yang absolut. Feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002: 158). Feminisme berjuang untuk mendapatkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Seorang feminis adalah seseorang yang mengenali dirinya sendiri, dan dikenali orang lain, sebagai seorang feminis, (menurut Humm 2002: 156). Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa teori feminis eksistensialis yang dikemukakan oleh Simone de Beauvoir , “Feminist eksistensialis: man define what it means to be human, including what it means to be female”, (Charles E. Bressler, 2007: 173). Teori eksistensialis adalah teori yang memandang suatu hal dari sudut keberadaan manusia, teori yang mengaji cara manusia berada di dunia dengan kesadarannya. Jadi, teori feminisme eksistensialis merupakan kajian yang melihat adanya ketimpangan pengakuan terhadap perempuan. Keberadaan perempuan adalah objek bagi laki-laki. Perempuan hanya dianggap sebagai “second sex” maka tidak bisa mendapat kesamaaan hak seperti halnya laki-laki.