Jan 31, 2015

ILMU PSIKOLOGI DAN PENGARUH POSITIVISME

Perkembangan ilmu psikologi ternyata tak pernah bisa lepas dari pengaruh ilmu-ilmu lainnya. Mulai dari laboratorium psikologi di Leipzig yang didirikan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879, psikologi sebagai sebuah ilmu berusaha untuk mandiri serta melepaskan diri dari ilmu filsafat. Konteks perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang berlangsung pada saat itu ternyata berpengaruh sangat besar dalam perkembangan ilmu psikologi. Berikutnya ilmu psikologi semakin berkembang dan semakin kompleks dengan masuknya pengaruh paham positivisme. Psikologi, seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya mulai condong pada pembuktian dan penyimpulan positivistik sebagai satu-satunya cara pencarian kebenaran yang dianggap sahih. Kritik dan wacana baru bermunculan terhadap kecenderungan positivistik ini, hingga begitu banyak cabang dan aliran dalam ilmu psikologi yang berusaha untuk terus menembus kebuntuan ini dan terus mencari jalan menuju kebenaran. Darmanto Jatman juga berusaha untuk mempertajam lagi pisau bedah yang digunakan dalam ilmu psikologi melalui Ilmu Jiwa Jawa nya. Berangkat dari pendapat Michael Cole yang mempertanyakan betapa psikologi kebudayaan tidak dihargai dalam belantara ilmu psikologi yang bercorak positivistik dan fenomenologis, Darmanto Jatman juga berupaya menentukan titik pijak pertama aliran ilmu psikologinya. Psikologi Pribumi yang berlatar belakang pandangan dunia Jawa inilah yang diteliti oleh Darmanto Jatman. Ilmu Jiwa Jawa sebagai cabang baru ilmu psikologi ini ini yang akan dibahas dari segi filsafat ilmu, terutama mengenai metodologi, obyek formal dan materialnya serta problem-problem epistemologis yang muncul dalam usaha membela Ilmu Jiwa Jawa sebagai sebuah aliran dalam ilmu psikologi.



Akar pengaruh positivisme dalam ilmu psikologi bisa dirunut dari mulai lahirnya modernisme. Keterpisahan antara subyek-yang-sadar dengan dunia luar memicu munculnya keyakinan bahwa subyek mampu mengambil jarak terhadap obyek, sehingga pengetahuan yang didapat tentang obyek akan bersih dari segala bentuk campur tangan subyek. Ciri khas dari positivisme adalah, peran penting metodologi di dalam mencapai pengetahuan. Di dalam positivisme, valid tidaknya suatu pengetahuan dilihat dari validitas metodenya. Akibatnya pengetahuan manusia (sekaligus kebenaran) posisinya digantikan oleh metodologi yang berbasiskan data yang diklaim obyektif, murni dan universal. Selanjutnya, satu-satunya metodologi yang diakui oleh para penganut positivisme adalah metode ilmu-ilmu alam yang dianggap mampu mencapai obyektifitas murni dan bersifat universal. Permasalahan paling vital dalam positivisme adalah memperlakukan setiap fenomena, termasuk fenomena sosial seperti gejala-gejala alam yang bersifat tetap serta beroperasi melalui sebab-sebab konstan. Tujuan utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah fenomena. Bagi kaum positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empiris. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak bisa disebut “ilmiah” karena prosedur induksi nya tidak dipenuhi. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan prosedur yang rigid dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil membuat sebagian besar ilmuwan merasa sudah ilmiah. Akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis, sebuah temuan yang ‘hanya’ berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih . Didorong oleh empirisme dan verifikasi, positivisme mulai berkembang dan mempengaruhi ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu psikologi dengan munculnya mazhab behaviorisme. Seiring eksperimen yang mulai marak dilakukan, behaviorisme mulai menelaah perilaku yang terobservasi. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sains sehingga harus dihindari. Konsekuensi dari paham ini adalah ilmu psikologi condong ke arah ilmu alam. Pengingkaran terhadap “kedalaman” individu, keterkaitan antara kesadaran dan dunia, serta hubungan antara manusia, langgam komunitas dan habitat kehidupannya mengakibatkan ilmu psikologi menjadi sangat dangkal secara substantif. Ilmu psikologi menjadi sangat kering, dan tidak mampu menjelaskan banyak hal menyangkut manusia. Reduksi yang dilakukan terlalu dalam sehingga kritik terhadap kecenderungan positivistik ini mulai bermunculan baik dari dalam ilmu psikologi secara khusus maupun kepada ilmu-ilmu sosial secara umum. Metodologi sebagai tolok ukur pengetahuan digugat melalui banyak metode baru yang diajukan oleh mazhab-mazhab baru yang bermunculan. Mulai dari psikologi gestalt hingga pendekatan fenomenologis ala Merleau Ponty mengajukan keberatan atas behaviorisme dan positivismenya. Demikian juga perkembangan dari ilmu-ilmu sosial dimulai oleh ilmu filsafat, ternyata sangat dipengaruhi oleh kritik kepada positivisme. Salah satu kritik terhadap positivisme diajukan oleh filsuf Feyerabend dengan konsepnya Anything Goes