Dec 6, 2010

TUBUH DALAM WACANA FILSAFAT

Seberapa pentingkah makna tubuh dalam hidup manusia? Apakah karena dianggap sebagai sesuatu yang niscaya pada diri manusia atau memang telah ada dari “sana-nya”, sehingga terkadang manusia merasa tidak perlu lagi mempermasalahkan konsep 'tubuh' yang sebenarnya merepresentasi diri setiap orang melalui citra personalitasnya masing-masing?. Dan bukankah dari tubuh juga seperangkat nilai yang melekat pada diri tiap orang menjadi ukuran penilaian secara apriori maupun aposteriori dalam perspektif etis maupun estetis.? Bagi para Filsuf tubuh pun harus dianalisis hingga sampai keakar-akarnya. Dan memang konsep 'tubuh' selalu diperbincangkan dari zamannya era mitologis hingga ke zamannya era tekhnologis. Bagi filsuf idealis seperti Plato, tubuh konkrit bukan hal yang penting. Justru, tubuh dianggap sebagai penghalang tercapainya kemurnian jiwa. Plato berkata bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa dan jiwa bagaikan terpenjara dalam tubuh . Jika manusia terlalu memberi perhatian terhadap tubuh, maka hakikat keabadian hidup, yang terletak pada alam kejiwaan yang abstrak, akan sulit dicapai. Diskursus mengenai tubuh dewasa kini mendapat tempat untuk dikaji dalam berbagai perspektif bidang keilmuan. Dari bidang Seni, filsafat, ekonomi, hukum, agama, budaya, politik, sastra hingga ke etika dan dimensi teknologih canggih pun tak ketinggalan untuk menganalisis tubuh dengan berbagai pendekatan objek formalnya. Sokrates, filsuf besar Yunani, mempertegas usaha ini dengan semboyannya yang sangat terkenal, Kenalilah dirimu sendiri. Pelacakan terhadap tubuh dan kebertubuhan secara mendalam telah telah dianalisis sejak jaman Yunani Kuno. Para kaum Epicurean, percaya bahwa "kebahagiaan tubuh adalah diatas segala-galanya namun, masih lebih utama adalah kebahagiaan mental". Aliran Orpheus, mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (The Body is The Tomb Of The Soul). Meskipun tak populer, aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Socrates, dan Plato. Pada abad ke 20, teori hasrat pada pengalaman manusia, digambarkan oleh Marleau-Ponty, bagaimana desire dan pleasure menstrukturkan pengalaman kita bukan saja diri kita tapi dunia kita. Artinya, desire dan pleasure merupakan suatu kesatuan di dalam pengalaman hidup kita beserta pemikiran dan tubuh (Mind dan Body). Sebenarnya, adalah Gabriel Marcel yang berbicara soal ketubuhan (Embodiment). Marcel menolak dualisme Cartesian, pemisahan antara mind dan body dengan alasan bahwa dualisme tersebut menghancurkan persatuan diri (self) dan tubuh (body).
Bagi Marcel dengan meniadakan tubuh artinya meniadakan diri. Jadi pernyataan “saya berfikir” tidak dapat dipisahkan dari adanya ketubuhan, maka “saya ada” tidak dapat dipisahkan dengan adanya tubuh saya . meskipun dalam filsafat, rasionalitas manusia mendapat kedudukan yang tinggi pada era modern, namun tubuh yang dikonsepsikan oleh Plato kemudian membawanya pada konsepsi negara ideal yang dianalogikan dengan tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, para pemimpin (analog dengan rasio). Kedua, para prajurit (analog dengan kehendak). Ketiga, para petani dan tukang (analog dengan tubuh) . Perbincangan tentang tubuh merupakan perbincangan yang tak akan berakhir selama manusia masih menjadi makhluk yang bertubuh. Bahkan bisa dikatakan bahwa dari begitu banyak ragam perbincangan tentang manusia, perbincangan tentang tubuhnya merupakan perbincangan yang paling kontroversial. Hal ini jika kita arahkan analisis kita menyangkut dengan tubuh perempuan. Pada tubuh perempuan lah yang kerap diidentikan dengan sejumlah metafora estetika. Semisal ungkapan hiperbolik pada tubuh perempuan seperti bunga-bunga yang indah seperti mawar, magnolia, azalea, dahlia, anggrek bulan juga melati. Berbagai wacana tentang perlawanan untuk merebut makna kebertubuhan secara individu maupun secara massal banyak dilakukan oleh kelompok muda yang merasa risih dengan cara-cara lama dalam memperlakukan tubuh yang dicontohkan oleh para pendahulu mereka. Bahkan secara radikal mereka berani melakukan tindakan “perusakan” terhadap tubuhnya sebagai bentuk penegasan indentitas subyektifnya kepada orang lain. Hal ini terlihat dalam tindakan mendekorasi tubuh semisal tatto dan tindik di puting susu (nipple piercing), bahkan ada yang sampai melakukan tindik di hidung, lidah, bibir, alis, pusar, bahkan sampai pada alat kelaminnya (safety pins). Mereka menyadari betul bahwa dengan membangun gaya yang berbeda dari orang lainlah maka mereka akan bisa mengambil jarak dan mengkonsumsi tubuhnya sendiri secara otentik. Fenomena untuk tampil beda kaum modern sebagai bentuk penegasan identitas diri dan subyektivisme atas tubuh dan kebertubuhan, mendapatkan muaranya pada arus perkembangan fashion. Inilah era pemujaan, pemanjaan dan peremajaan atas tubuh sekaligus sebagai sebentuk perlawanan melalui fashion. Baudrillard mengungkapkan bahwa fashion ini mengendalikan orang muda zaman sekarang, sebagai perlawanan bagi setiap bentuk perintah, perlawanan tanpa ideologi, tanpa tujuan. Pandangan terakhir terhadap tubuh tidak lagi hanya mempersepsi tubuh sebagai sekedar pemberian Tuhan dan menjadi kendaraan bagi jiwa, malah secara radikal tubuh diperlakukan sebagai materi biasa belaka dan tak ubahnya seperti plastik dan bionik. Pada tubuh ini juga debat panjang mengenai teori-teori mutakhir masyarakat konsumsi sebenarnya dimulai dari benih pencitraan manusia atas tubuh yang dimilikinya. Bagai sebuah keniscayaan tubuh pada kaum wanitalah yang sebenarnya melahirkan gerakan besar sejarah feminisme dan teori gender yang hingga kini masih hangat untuk diperdebatkan. Ekses-ekses konstruksi budaya patriakhi tersebut lama-kelamaan mengikat dan merendahkan kedudukan perempuan sebagai pribadi manusia . Dalam dunia patriakhi Jawa, misalnya, seorang perempuan baru “diakui keberadaannya” dalam masyarakat bila ia menjalankan perannya untuk masak (memasak), macak (berdandan), dan manak (melahirkan).
Konstruksi budaya semacam ini jelas mengisolir peran perempuan pada ranah domestik. Tugasnya hanya berkisar pada tempat-tempat seperti, dapur, meja rias, dan ranjang. Sementara, laki-laki bebas untuk bersentuhan dengan peran-peran publik. Padahal sesungguhnya tubuh bukanlah satu-satunya ukuran manusia untuk menyatakan diri sebagai sempurnanya ciptaan tuhan tanpa dilengkapi oleh jiwa dan pikiran. Tanpa penyelarasan dari kedua faktor tersebut manusia tidak akan menjadi manusia apalagi sebagai individu yang tidak sekadar eksis namun juga berintegrasi dengan kehidupan sosialnya. Meski tak bisa melepas diri dari citra personalitas seseorang melalui kebertubuhannya, namun tubuh hanyalah media yang idealnya akan bernilai dan bermakna jika tiap orang sadar dan tahu sejauh mana tubuh-tubuh itu harus diperlakukan.