Mar 21, 2010

DISEBABKAN OLEH KEDALAMAN PERTANYAAN FILSAFAT

Oleh Syahyunan Pora

Sekitar abad 4 sebelum masehi Socrates selalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada siapa saja yang konon ia temui dijalan, dikedai-kedai minum bahkan hingga sampai ke pasar-pasar  dengan hiruk pikuk para kaum sofis yang menjual kebenaran dengan imbalan materi. Metode yang paling ampuh menurut pengikut Socrates adalah dengan jalan bertanya, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan itu kerap membuat lawan bicaranya gelagapan tak urung mereka malu sebab sebelumnya dengan angkuh mengklaim bahwa mereka tahu apa-apa yang mereka bicarakan. Bahkan tak jarang sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila yang konon ceritanya Socrates kerap berjalan-jalan ditengah kota disiang hari yang terik dengan memegang obor. Syahdan dari metode pertanyaan tersebut adalah cikal bakal metode kritisnya tesis-antitesis- dan sintesisnya Hegel. Lalu kemudian mendapat sentuhan dari beberapa Filsuf sosial maupun Filsuf Ekonomi yang akhirnya melahirkan dialektika materialism yang dimatangkan oleh Marx dan lenin. Pertanyaan selanjutnya masihkah metode tersebut efektif jika diarahkan pada konteks kekinian? Lalu bagaimana jika harus menjawab apa keutamaan seseorang yang menganggap professional dibidangnya. Sebab dengan Arete atau keutamaan itu kata Socrates manusia mampu merengkuh Eudamonia (kebahagiaan) dengan apa yang ia tahu. Sementara keutamaan itu dalam konteks zaman yang semakin permisif ini cenderung melahirkan  berbagai disiplin ilmu yang ranah aplikatifnya bisa melampaui berbagai bidang. Ada pengajar yang diangkat menjadi staf ahli dalam bidang pemerintahan, atau berbelot ke dunia politik karena mendapat kesempatan dibidang itu meski kemudian dengan berbagai alasan bahwa tujuan itu yang pada intinya ada sumbangsih pemikiran yang juga sebenarnya berasal dari ilmu yang ia tekuni selama ini. Pertanyaannya kemudian lalu arête yang dmaksudkan oleh Socrates apakah telah melenceng dari maksudnya yang sebenarnya? Walau menyinggung Tentang keutamaan itu sebenarnya terilhami juga dari kerja seorang Bidan yang kebetulan menjadi Profesi ibunya yang bernama Xantype. Ia melihat bagaimana ibunya membantu proses kelahiran seorang manusia ke Dunia, kelak ia pun berjanji pada dirinya sendirinya untuk  membantu manusia untuk melahirkan pemikiran baru ke Dunia. Meski di akhir hayatnya metode yang ia gunakan itupun  merenggut nyawanya sendiri. Ia dituduh meracuni kaum muda dengan pemikiran-pemikiran yang berawal dari metode Meautika Tekhne atau tekhnik pembidanan tersebut. Ia lebih memilih hukuman mati dengan cara meminum racun.  idealisme seorang Socrates tak tergadaikan oleh materi seperti para kaum sofis yang sempat hinggap sezaman dengan filsuf yang tercatat dalam sejarah Yunani sebagai seorang bijak yang buruk rupa. kaum sofis ini sempat disebut juga oleh Socrates dalam  pertemuan bersama murid-muridnya  sebagai para pelacur intelektual sebab dengan kata-kata, mereka selalu memutar balikkan fakta sehingga sebuah kesalahan bisa menjadi kebenaran begitupun sebaliknya. Kembali pada konteks kekinian masihkah nilai filsafati dari seorang Socrates yang kemudian sebagian ajarannya dilanjutkan oleh muridnya Plato dapat memberikan sebuah perspektif baru tentang kebenaran yang diyakini oleh setiap orang . Ataukah sejarah filsafat dari seorang tokoh Socrates itu hanya menjadi sebuah legenda yang bernuansa mitos bahkan sebagian mensinyalir  tokoh Socrates hanya fiktif belaka ini hanya basa-basi retoris tingkat tinggi?. Atau mempelajari filsafat karena ada prestise tersendiri sebab sesuatu yang jarang selalu mempunyai nilai tawar yang tinggi?. Jika sebatas itu saja filsafat sebagai ilmu ini dipahami maka  matilah filsafat, sebab tanpa disadari ia telah  menggali kuburannya sendiri. Atau menjadi ilmu tapal batas yang tersendiri ketika praktisi filsafat hanya mampu memesonakan kaum  awam hanya dengan kisah bijak yang berseliweran dibalik awan dan kemudian takzim dengan permenungannya sendiri tentang apa-apa saja yang ada dibalik bumi.