Jan 13, 2010

TELAAH SASTRA LISAN TERNATE

Oleh : Syahyunan Pora

Sastra lisan adalah salah satu genre sastra, yang juga merupakan representasi dari teks budaya. Sebagai teks budaya, sastra lisan menjadikan dirinya “Guru” kebudayaan bagi proses pencerahan. Sebagai guru kebudayaan, sastra lisan dapat menjadikan dirinya sebagai sumber kearifan, paling tidak kearifan lokal (local wisdom). Dengan menggunakan bahasa sebagai medium pengucapannya, sepanjang sejarah, sastra tidak saja merekan pergumulan dan pergolakan manusia, tetapi dengan “caranya sendiri” menjadikan dirinya sebagai salah satu sumber pencerahan. Tanpa menggurui sastra menjadi guru bagi kebajikan, bagi kearifan. Ia mengetuk dan menyapa manusia ketika manusia “tercerabut” dari akar kemanusiaanya: kejujuran, kesantunan, cinta sesama sayang lingkungan dan semangat kebersamaan. Dengan caranya sendiri, sastra menuntun manusia untuk bertindak secara bertanggung jawab, sejalan dengan hati nurani, dan berdasarkan asas asas kemanusiaan. 
Ungkapan dalam cara bertutur Sastra lisan kerap tidak mudah dipahami jika hanya menangkap suatu hal yang tersurat saja. Sementara pemaknaan dari suatu hasil karya sastra membutuhkan interpretasi yang ketat namun dinamis ,agar makna yang terkandung didalamnya dapat memberikan sebuah pedoman bagi masyarakat sebagai sebuah pandangan hidup yang tersirat dari sejumlah tradisi lisan dengan medium sastra maupun tradisi dan budaya yang telah mengakar lama dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Pemaknaan dari sebuah hasil karya sastra entah itu berupa Karya sastra tertulis maupun sastra lisan dalam suatu masyarakat tertentu tidak bisa lepas dari cara pandang masyarakat tersebut mengenai hidup dan kehidupan yang pada intinya dapat memanusiakan manusia. Dalam konteks inilah ranah filsafat menjadi penting dalam menelaah berbagai cara pandang manusia menyangkut dengan tradisi maupun kehidupan masyarakat tersebut, sebab ciri telaah kefilsafatan dapat memberikan sebuah pemahaman kritis dan komprehensif melalui nilainilai yang terkandung dalam sebuah tradisi maupun kebudayaan. Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan sebuah tradisi melalui sastra lisan adalah suatu cara atau mekanisme dalam .Menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut menyangkut dengan pandangan hidupnya yang diyakini . Filsafat menetapkan ide-ide dan idealisme sedangkan mengapresiasikan budaya dalam dunia pendidikan merupakan usaha dalam merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku dan membina kepribadian manusia ( Noor Syam : 1988 ). Salah satu representasi dari kebudayaan adalah sastra lisan, dengan cara menyebarkan nilai-nilai kebebersamaan, koeksistensi, dan penghayatan atas keberagaman. Nilai-nilai kemanusiaan ini tergambar dalam “dalil moro”. Dalil moro adalah salah satu bentuk sastra lisan Ternate yang terepresentasi dalam bentuk pantun. Namun tidaklah pantun semata yang menjadi sumber lisan dari sebuah cara bertutur orang-orang Ternate yang akan diangkat dalam makalah telaah filosofis sastra lisan Ternate ini, namun masih banyak ungkapan filsosofis yang tertuang dalam tradisi dan kebudayaan lisan Masyarakat Ternate.