Dec 6, 2010

TUBUH DALAM WACANA FILSAFAT

Seberapa pentingkah makna tubuh dalam hidup manusia? Apakah karena dianggap sebagai sesuatu yang niscaya pada diri manusia atau memang telah ada dari “sana-nya”, sehingga terkadang manusia merasa tidak perlu lagi mempermasalahkan konsep 'tubuh' yang sebenarnya merepresentasi diri setiap orang melalui citra personalitasnya masing-masing?. Dan bukankah dari tubuh juga seperangkat nilai yang melekat pada diri tiap orang menjadi ukuran penilaian secara apriori maupun aposteriori dalam perspektif etis maupun estetis.? Bagi para Filsuf tubuh pun harus dianalisis hingga sampai keakar-akarnya. Dan memang konsep 'tubuh' selalu diperbincangkan dari zamannya era mitologis hingga ke zamannya era tekhnologis. Bagi filsuf idealis seperti Plato, tubuh konkrit bukan hal yang penting. Justru, tubuh dianggap sebagai penghalang tercapainya kemurnian jiwa. Plato berkata bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa dan jiwa bagaikan terpenjara dalam tubuh . Jika manusia terlalu memberi perhatian terhadap tubuh, maka hakikat keabadian hidup, yang terletak pada alam kejiwaan yang abstrak, akan sulit dicapai. Diskursus mengenai tubuh dewasa kini mendapat tempat untuk dikaji dalam berbagai perspektif bidang keilmuan. Dari bidang Seni, filsafat, ekonomi, hukum, agama, budaya, politik, sastra hingga ke etika dan dimensi teknologih canggih pun tak ketinggalan untuk menganalisis tubuh dengan berbagai pendekatan objek formalnya. Sokrates, filsuf besar Yunani, mempertegas usaha ini dengan semboyannya yang sangat terkenal, Kenalilah dirimu sendiri. Pelacakan terhadap tubuh dan kebertubuhan secara mendalam telah telah dianalisis sejak jaman Yunani Kuno. Para kaum Epicurean, percaya bahwa "kebahagiaan tubuh adalah diatas segala-galanya namun, masih lebih utama adalah kebahagiaan mental". Aliran Orpheus, mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (The Body is The Tomb Of The Soul). Meskipun tak populer, aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Socrates, dan Plato. Pada abad ke 20, teori hasrat pada pengalaman manusia, digambarkan oleh Marleau-Ponty, bagaimana desire dan pleasure menstrukturkan pengalaman kita bukan saja diri kita tapi dunia kita. Artinya, desire dan pleasure merupakan suatu kesatuan di dalam pengalaman hidup kita beserta pemikiran dan tubuh (Mind dan Body). Sebenarnya, adalah Gabriel Marcel yang berbicara soal ketubuhan (Embodiment). Marcel menolak dualisme Cartesian, pemisahan antara mind dan body dengan alasan bahwa dualisme tersebut menghancurkan persatuan diri (self) dan tubuh (body).
Bagi Marcel dengan meniadakan tubuh artinya meniadakan diri. Jadi pernyataan “saya berfikir” tidak dapat dipisahkan dari adanya ketubuhan, maka “saya ada” tidak dapat dipisahkan dengan adanya tubuh saya . meskipun dalam filsafat, rasionalitas manusia mendapat kedudukan yang tinggi pada era modern, namun tubuh yang dikonsepsikan oleh Plato kemudian membawanya pada konsepsi negara ideal yang dianalogikan dengan tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, para pemimpin (analog dengan rasio). Kedua, para prajurit (analog dengan kehendak). Ketiga, para petani dan tukang (analog dengan tubuh) . Perbincangan tentang tubuh merupakan perbincangan yang tak akan berakhir selama manusia masih menjadi makhluk yang bertubuh. Bahkan bisa dikatakan bahwa dari begitu banyak ragam perbincangan tentang manusia, perbincangan tentang tubuhnya merupakan perbincangan yang paling kontroversial. Hal ini jika kita arahkan analisis kita menyangkut dengan tubuh perempuan. Pada tubuh perempuan lah yang kerap diidentikan dengan sejumlah metafora estetika. Semisal ungkapan hiperbolik pada tubuh perempuan seperti bunga-bunga yang indah seperti mawar, magnolia, azalea, dahlia, anggrek bulan juga melati. Berbagai wacana tentang perlawanan untuk merebut makna kebertubuhan secara individu maupun secara massal banyak dilakukan oleh kelompok muda yang merasa risih dengan cara-cara lama dalam memperlakukan tubuh yang dicontohkan oleh para pendahulu mereka. Bahkan secara radikal mereka berani melakukan tindakan “perusakan” terhadap tubuhnya sebagai bentuk penegasan indentitas subyektifnya kepada orang lain. Hal ini terlihat dalam tindakan mendekorasi tubuh semisal tatto dan tindik di puting susu (nipple piercing), bahkan ada yang sampai melakukan tindik di hidung, lidah, bibir, alis, pusar, bahkan sampai pada alat kelaminnya (safety pins). Mereka menyadari betul bahwa dengan membangun gaya yang berbeda dari orang lainlah maka mereka akan bisa mengambil jarak dan mengkonsumsi tubuhnya sendiri secara otentik. Fenomena untuk tampil beda kaum modern sebagai bentuk penegasan identitas diri dan subyektivisme atas tubuh dan kebertubuhan, mendapatkan muaranya pada arus perkembangan fashion. Inilah era pemujaan, pemanjaan dan peremajaan atas tubuh sekaligus sebagai sebentuk perlawanan melalui fashion. Baudrillard mengungkapkan bahwa fashion ini mengendalikan orang muda zaman sekarang, sebagai perlawanan bagi setiap bentuk perintah, perlawanan tanpa ideologi, tanpa tujuan. Pandangan terakhir terhadap tubuh tidak lagi hanya mempersepsi tubuh sebagai sekedar pemberian Tuhan dan menjadi kendaraan bagi jiwa, malah secara radikal tubuh diperlakukan sebagai materi biasa belaka dan tak ubahnya seperti plastik dan bionik. Pada tubuh ini juga debat panjang mengenai teori-teori mutakhir masyarakat konsumsi sebenarnya dimulai dari benih pencitraan manusia atas tubuh yang dimilikinya. Bagai sebuah keniscayaan tubuh pada kaum wanitalah yang sebenarnya melahirkan gerakan besar sejarah feminisme dan teori gender yang hingga kini masih hangat untuk diperdebatkan. Ekses-ekses konstruksi budaya patriakhi tersebut lama-kelamaan mengikat dan merendahkan kedudukan perempuan sebagai pribadi manusia . Dalam dunia patriakhi Jawa, misalnya, seorang perempuan baru “diakui keberadaannya” dalam masyarakat bila ia menjalankan perannya untuk masak (memasak), macak (berdandan), dan manak (melahirkan).
Konstruksi budaya semacam ini jelas mengisolir peran perempuan pada ranah domestik. Tugasnya hanya berkisar pada tempat-tempat seperti, dapur, meja rias, dan ranjang. Sementara, laki-laki bebas untuk bersentuhan dengan peran-peran publik. Padahal sesungguhnya tubuh bukanlah satu-satunya ukuran manusia untuk menyatakan diri sebagai sempurnanya ciptaan tuhan tanpa dilengkapi oleh jiwa dan pikiran. Tanpa penyelarasan dari kedua faktor tersebut manusia tidak akan menjadi manusia apalagi sebagai individu yang tidak sekadar eksis namun juga berintegrasi dengan kehidupan sosialnya. Meski tak bisa melepas diri dari citra personalitas seseorang melalui kebertubuhannya, namun tubuh hanyalah media yang idealnya akan bernilai dan bermakna jika tiap orang sadar dan tahu sejauh mana tubuh-tubuh itu harus diperlakukan.

Nov 21, 2010

JOGJA

Pulang ke kotamu ada setanggkup haru dalam rindu….Masih seperti dulu….(Kla Project) 
Setelah tanggal 26 Oktober serta 3 dan 4 November saat meletusnya gunung merapi yang terletak di antara Propinsi Jawa Tengah dan Jogjakarta yang  erupsinya turut menguji rasa kebersamaan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara itu.  Kini,  disaat saya memposting tulisan ini tanggal 21 November 2010, kota Jogja  kembali perlahan-lahan mulai bergeliat hidup. Hampir satu bulan erupsi gunung merapi yang cukup mencengangkan tidak hanya dirasakan oleh warga pendatang, melainkan warga asli pun dibuat tegang dengan bencana alam tersebut. Jogjakarta kota klasik yang menjadi ikon budaya diantara kota-kota lain di Indonesia telah menjadi urat nadi pendidikan bagi sebagian warga yang menimba ilmu di kota gudeg ini . namun ada yang lain saat erupsi merapi tanggal 4 November 2010 itu terjadi, yang membuat Jogja  diguyur hujan abu vulkanik terutama di lintasan jalan Kaliurang  yang menjadi salah satu jalan utama untuk menghubungi sejumlah desa-desa dilereng merapi. Di Jalan ini pula dua minggu lebih lamanya menjadi zona bahaya yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB) sebagai daerah zona terlarang bagi radius 20 KM dari puncak merapi. Para tetangga yang masih sempat bertahan saat itu mengatakan mungkin 100 tahun atau bahkan lebih, erupsi merapi dengan dampak yang menyemburkan abu vulkaniknya dan menutupi hampir keseluruhan kota Jogja ini, baru pertama kali inilah mereka rasakan. Sebagai warga pendatang yang juga menimba ilmu di kota ini, Jalan Kaliurang cukup mempunyai kesan tersendiri ketika pertama kali datang di Kota ini dalam rentang waktu diantara tahun 92 hingga 2001, begitupun disaat kembali lagi dalam menempuh jenjang pendidikan berikutnya  di tahun 2009 hingga saat ini, Jalan Kaliurang masih menjadi  pilihan hunian saya dalam menghabiskan sisa-sisa waktu diluar perkuliahan untuk menetap sementara. Semasa kuliah di S1 beberapa teman saya berasal dari desa-desa yang wilayahnya menjadi Zona bahaya ancaman merapi. Diantaranya Purwobinangun, Hargobinangun dan cangkringan menjadi tempat pelesiran akhir pekan saya bersama dengan teman-teman saya yang memang berasal dari sana. Alam pedesaannya yang rata-rata subur dengan udaranya selalu  segar selalu menggoda saya untuk menghabiskan akhir pekan saya di lereng sekitar Merapi itu. Namun ketika bencana itu datang beberapa wilayah yang saya sebutkan diatas tampak seperti Desa mati bahkan lebih tragis lagi seperti daerah bekas zona perang dengan sisa-sisa bangunan yang roboh dengan sejumlah barang yang tiba-tiba menjadi rongsok akibat tak sempat diselamatkan. Awan panas yang juga merenggut nyawa sang kuncen, Mbah Maridjan, memang selalu menjadi momok yang menakutkan setiap kali erupsi terjadi. Kini setelah badai itu mulai berlalu tentu banyak harapan yang disandarkan di pundak pemerintah untuk menata kembali kehidupan baru bagi para warga yang menghuni di lereng merapi. Pro kontra sebagian warga dengan relokasi tentu harus ditindak-lanjuit secara bijak. Sebab bukan hanya pada persoalan pindah-memindah melainkan lebih pada falsafah hidup mereka yang telah tertanam turun-temurun dalam tumbuh kembang bersama merapi. Selain itu perhitungan ekonomis dari sebagian warga yang membangun usaha mereka bertahun-tahun diatas sana tentu juga menjadi perhatian  serius bagi pemerintah. Tidak hanya pemerintah lokal yang dibebani atas tanggung jawab ini melainkan pemerintah pusat pun harus turut bahu-membahu membantu para korban merapi.

Oct 13, 2010

FILSAFAT SEJARAH DALAM REFLEKSI ANTARA SPEKULATIF & KRITIK

Oleh : Syahyunan Pora
Dialektika tentang filsafat sejarah hingga kini selalu menimbulkan perdebatan tersendiri antara para filsuf sejarah dan ahli sejarah. Apakah pengertian tentang devinisi sejarah hanya memberikan gambaran masa lalu dengan sebuah  ivent atau moment tertentu saja? Atau apakah sejarah itu bergerak secara siklis, linier atau bisa malah chaotik dan dialektis. Dan lebih rumit lagi apa yang paling mendasar untuk membedakan antara sejarah filsafat, filsafat sejarah dan pengertian tentang sejarah secara an sich itu sendiri. Untuk mendapatkan suatu gambaran yang tepat mengenai pemahaman kita terhadap filsafat sejarah yang sesungguhnya, maka tinjauan sejarah tidak bisa melepaskan diri dari asas ataupun metodologi filsafat sebagai pisau analisanya . Dalam judul diatas terdapat kata kunci antara spekulatif dan kritik  sebagai media untuk menjembatani filsafat sejarah yang pertama-tama harus diuraikan dulu kata spekulatif yang kadang disalah tafsirkan oleh kaum awam mengenai arti spekulatif itu sendiri. Ada pemahaman umum mengenai pengertian spekulatif yang kerap dipahami sebagai analogi dari kata spekulan, yang untung-untungan, dalam transaksi bisnis perniagaan, atau juga spekulatif diartikan tindakan “berjudi” yang tanpa perhitungan maupun dasar alasan yang tepat. Meski pada muara pengertian spekulatif mempunyai keterarahan pada sebuah konteks yang penuh dengan keraguan. Dalam ranah filsafat kata “spekulatif” menyiratkan ketidak puasan terhadap apa yang diperoleh melalui pencerapan pengetahuan. Sehingga pada tingkatan tertentu kata apriori sebenarnya identik dengan maksud spekulatif dalam pemahaman saya. dalam ruang lingkup filsafat sejarah spekulatif, objek materialnya menyoal tentang proses sejarah. Filsafat sejarah spekulatif tidak dengan sendirinya menerima masa lalu sebagai satu-satunya gambaran kita tentang definisi sejarah. Sehingga banyak pertanyaan yang diajukan akan selalu berkorelasi dengan pola-pola tertentu. Sementara pada filsafat sejarah kritis objek materialnya ilmu sejarah itu sendiri sementara objek formalnya adalah ciri konseputal, logis dan dapat dipertanggung jawabkan. Memang pada dasarnya filsafat sejarah kritis selalu menitik beratkan pada data. Dan pada data sejumlah fakta akan terungkap yang menyangkut dengan kenyataan sejarah, namun apakah dengan sejumlah fakta yang tersaji itu sudah cukup jika penelusuran tentang fakta-fakta sejarah itu hanya berhenti pada satu titik. Itulah kemudian yang menjadi pokok persoalan ketika sejarah filsafat spekulatif hadir dengan sejumlah pertanyaan mengenai linieritas, siklis maupun yang dialektis dalam tataran filsafat sejarah. Sementara pada filsafat spekulatif Jika sejarah an sich dijadikan sebagai sebuah konsep bangun ilmu, maka linieritas maupun siklisitas sejarah selalu mengandung gerak. Entah itu gerak maju, mundur ataupun tetap. Ada keterpautan lebih jauh menyangkut konsep sejarah jika dilihat dari sudut pandang filsafat. Dimana pemahaman manusia tentang sejarah akan selalu bertaut dengan deterministik maupun yang indeterministik. Misalnya keterlibatan pola-pola sejarah dalam tinjauan filsafat bisakah menjadi sebuah “jaminan” menyangkut dengan arah perkembangan  sejarah, berikut dengan kehidupan manusia yang ada didalamnya, dan  akankah pula selalu berakhir dengan sesuatu yang lebih baik? Ataukah malah sebaliknya?. Polemik inilah yang kemudian ingin sintesiskan dengan filsafat Sejarah ala ciptaan Hegel dengan definisi roh subjektif-nya, roh objektif hingga ke roh mutlak. Dimensi sejarah merupakan jantung Filsafat Hegel. Roh objektif  menurut Hegel adalah akal budi sementara roh subjektif adalah kenyataan. Sementara dialektika adalah konsep pertentangan menuju kesatuan di mana seluruh proses yang terjadi selalu mengalami pertentangan sebelum akhirnya menuju ke sebuah kesatuan. Dialektika sebagai proses terdiri dari 3 tahapan, tahapan pertama adalah tesis, kemudian tahapan kedua sebagai negasi disebut antitesis dan akhirnya tahapan ketiga disebut sintesis sebagai kesatuan atau yang mendamaikan kedua tahapan sebelumnya. Dalam sintesis tahapan pertama dan kedua tidak ditiadakan tetapi diangkat ke tahapan yang lebih tinggi. Hegel sendiri menggunakan bahasa Jerman “Aufheben” yang mempunyai 3 arti yaitu menyangkal, menyimpan dan kemudian mengangkat. Dalam filsafat contoh dari dialektika adalah proses dari “ada”(tesis), “ketiadaan” (antitesis), “menjadi” (sintesis). Di sini pertentangan terjadi antara “ada” dan “ketiadaan” kemudian terjadi proses aufheben sehingga dihasilkan “menjadi” yang berarti sebagian ada dan sebagian tidak ada. Idealisme Hegel baru akan sampai ke taraf yang paripurna bila roh subjektif dan Roh Objektif melakukan identifikasi timbal balik di dalam roh mutlak. Dan proses inilah yang dinamakan dengan proses Sejarah menurut Hegel.

Sep 3, 2010

BACK TO BLOG

Mungkin sudah Sebulan lebih kegiatan memposting blog terabaikan semenjak posting terakhir dengan materi piala dunia 2010 di Africa. Terasa ada sesuatu yang hilang ketika rutinitas ini harus mandeg dengan suasana liburan panjang yang membuat vakum dalam kegiatan tulis-menulis diblog ini. Lainnya apologi tersendiri dan alasan klasik bagi bloger adalah karena Facebook yang cukup menyita waktu dengan berbagai magnet jejaring sosialnya. Namun lebih dari itu aktivitas privat yang seolah memberikan jawaban tersendiri waktu kegiatan menulis diblog hanya merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi yang memposisikan blog sebagai media belajar dan mengasah analisa keadaan sosial secara individu maupun kolektif yang kemudian di tuangkan dengan tanpa pertimbangan profit atau keuntungan finansial bagi bloger amatiran seperti saya. Kenapa? Saya memposisikan diri dalam rutinitas memposting blog semampu waktu saya disela-sela mengejar jam kuliah dengan seabreg tugas-tugasnya. Target saya seminggu dua kali atau tiga kali dalam memposting tulisan-tulisan terbaru saya yang rata-rata bermaterikan tentang filsafat. Namun kemudian ada pertanyaan kepada saya, kenapa pada 2 postingan terakhir saya seolah-olah telah keluar dari alur yang saya tetapkan sebagai blog yang membahas mengenai tema-tema filsafat?. Pertama saya melihat tema filsafat tidak melulu pada pembahasan mengenai tokoh/filsuf, buah pemikiran, ataupun sejarah hidup filsuf yang bersangkutan. Lebih jauh saya memandang filsafat mempunyai objek formal dan objek matrial dengan sangat beragam dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dan itu tak bisa dipisahkan untuk dianalisa atau minimal ditilik menurut sudut pandang filsafat. Sehingga pada satu materi terkahir dalam edisi sepakbola piala dunia. Saya coba mengkorelasikan antara filsafat dan sepak bola yang sebenarnya mempunyai keterikatan erat dengan kehidupan kita, jika kita mau untuk sedikit berupaya menggali nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam semangat spotifitasnya olah raga. Dan akhirnya lahirlah tulisan dengan judul Soccer Philosophy. Sederhanya blog yang terlanjur saya patenkan dengan nama Philosophy Café ini, tetap akan saya isi dengan tulisan-tulisan yang memandang filsafat, tidak semata berkaitan pandangan orang secara an sich menurut artifak filsafat yang harus dipertautkan dengan sejarah, tokoh, maupun buah pemikirannya. Namun itupun tidak menjadi sesuatu yang dapat saya elak, karena kecenderungan filsafat untuk frame dunia timur seolah “harus” seperti itu, dan sekali-kali atau bahkan berkali-kali saya pun tidak segan untuk mengulas dan kemudian menjadikan bahan postingan di blog ini. Apalagi dari keseluruhan materi yang saya postingkan dalam blog saya ini rata-rata bersumber dari tugas-tugas individu saya dalam perkuliahan. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan-tulisan saya maupun beberapa artikel interpretatif dari artikel bahasa inggris masih jauh dari sempurna. Namun untuk sebuah proses pembelajaran sekiranya waktu yang ada dan media blog yang tersedia, bukanlah hal yang keliru untuk dapat dilakukan oleh siapa saja. Faktor lainnya adalah ketika saya berkesempatan untuk berlibur sekaligus mudik lebaran di kampung halaman di Ternate yang kemudian membuat sedikit terlupakan dalam memposting artikel-artikel terbaru di blog ini. Magnetisme silahturahim dengan keluarga besar maupun teman-teman lama tak kuasa diabaikan begitu saja. Apalagi pada saat-saat saya balik selalu pada moment bulan ramadan dan itu tidak sedikit menggoreskan cerita yang terasa sayang untuk tidak dibagi secara face to face maupun melalui tulisan yang kemudian akan saya usahakan postingkan juga di blog ini. Faktor lainnya lagi, kenapa kekurang-produktifan saya dalam menulis diblog ini saat saya di Ternate ketimbang di Yogya? Jawabannya akses internet disini belum maksimal dalam kecepatannya , meski secara kuantitas sudah banyak penyedia layanan internet di kota ini dan bisa dibilang cukup banyak, namun beragam dengan fasilitas (akses) yang tersedia. Akhirnya kita sendirilah yang harus memutuskannya…alias No Pain No Game..

Apr 30, 2010

MANUNGGALING KAWULA GUSTI

MANUNGGALING  KAWULA GUSTI

(Pantheϊsme Dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa)

Judul Asli: Pantheisme En Monisme

(In The Javaansche Soeloek-Litteratuur)

Pengarang: P.J. Zoetmulder

Penerjemah: Dick Hartoko

Reviewer : Syahyunan Pora

P.T Gramedia-Jakarta

1990, xiii+456 hlm.


Sebuah buku dari hasil disertasi Petrus Josephus Zoetmulder yang diterjemahkan oleh Dick Hartoko dengan judul aslinya Pantheisme En Monisme setebal 368 halaman ini memberikan sebuah konsepsi baru terhadap cara pandang orang Jawa tentang kebersatuan Manusia dengan sang Pencipta dalam konteks Manunggaling Kawula Gusti. Membaca pengantar awal dari buku ini yang dipaparkan oleh Dick Hartoko yang juga seorang rohaniawan dan budayawan, bisa dikatakan telah sedikit membuka cakrawala bagi pemula yang ingin lebih jauh menggeluti tema-tema filsafat jawa yang cukup kompleks dengan menggali nilai-nilai filsafat dari sejumlah manuskrip kuno yang terdapat pada serat centini maupun sastra suluk jawa.  

Oleh karena buku ini merupakan bagian dari Studi Filsafat, maka sesuatu yang tidak mengherankan ketika Dick Hartoko membuka pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang mempunyai ciri khas kefilsafatan: masih relevankan buku ini diterbitkan ulang dengan memuat tema seperti ini? : apakah yang mereka tulis ini masih berharga pada zaman kita? (hal:Vii).  Dalam bab I buku ini sebagaimana yang diulas  Zoetmulder tak ketinggalan pertanyaan mendasar mengenai sebab musabab dari sesuatu yang ada,menjadi representasi pertanyaan yang coba didekati dengan persolan klasik sejumlah filsuf Yunani, seperti Thales, Anaximander maupun Parmanides dengan abstraksi yang paling tinggi terhadap sebuah pertanyaan menyangkut dengan hakekat manusia. Meski ujungnya akan mencapai pada suatu kesatuan, keesaan dari segala sesuatu yang ada, namun kebersatuan itu menjadi telaah konsep yang kompleks mengingat ada devinisi-devinsi Panthaisme dan Monisme yang oleh penulis berusaha untuk menyingkap terlebih dahulu apa sesungguhnya arti dari kedua devinsi tersebut.

Acuannya kemudian dipakai pengertian monisme yang diutarakan oleh Rudolf Eisler bahwa monisme adalah “kecenderungan untuk mengembalikan kejamakan dalam suatu bidang ke suatu kesatuan atau menerangkan keanekaan yang berpangkal pada suatu prinsip yang tunggal” (hal 2)[1]. Sementara Lalande juga memberikan penjelasan mengenai Monisme adalah “segala sistem filsafat yang berpendapat bahwa segala sesuatu dapat dikembalikan kepada kesatuan”[2]. Sementara oleh pengarang sendiri Panthaisme didefinisikan “bahwa teori yang mengajarkan bahwa segala sesuatu itu Tuhan”(hal 2). Diskursus mengenai sejumlah devinsi menyangkut panthaisme dan Monisme akhirnya disintesiskan oleh Zoetmulder “bahwa segala sesuatu yang berpangkal pada Tuhan akan dikembalikan juga pada  Tuhan”.

Disini pengarang[3] sebenarnya ingin menyampaikan pengertian monisme  dengan kalimat yang sederhana bahwa Tuhan terlebur dalam  dunia, sebab dunia merupakan ada yang tunggal dan mutlak. Meski demikian pengertian baku sepanjang sejarah menyangkut suatu pandangan yang monistis-pantaisitis pun tak dielak oleh Zoetmulder bertolak dari Tuhan dan bertolak dari Dunia (Hal.3). analogi lain dari pandangan ini oleh pengarang juga diibaratkan seperti pengertian antara jiwa dan badan, beriringan dengan ungkapan sejumlah pandangan yang terdapat pada Mazhab atau pandangan hidup Masyarakat Timur (India) ada hakikat Tuhan yang dapat diraih terutama pada tingkatan Brahmana. Oleh konsep ini juga Spinoza dipakai pendapatnya tentang “natura-naturans” dan “natura-naturata, sumber keilahian Tuhan yang terpancar dan terbentang dalam dunia sebagai wujud dari emanasinya. Penyatuan antara konsep Tuhan dan Dunia maupun manusia itu sendiri, sepanjang buku ini coba dijelaskan oleh Muelder dengan pendekatan berbagai filsuf dari barat  maupun timur mengenai konsep Ada dan ide-ide penyatuan Tuhan dengan kreasi manusia dalam pandangan pantheisme dan monismenya. “Creatio Et Nihilo” salah satunya (Tuhan menciptakan Dunia dengan tidak memakai bahan apapun juga yang sebenarnya telah ada sebelumnya) menjadi dialektika tentang sejauh mana otoritas Sang Transenden atau Tuhan dalam merepresentasi “diri” lewat keber-ada-aa-Nya. “Dari Thomas Aquinas dengan ada yang tiada berhingga, maupun  Parmanides dengan “ens-est, non est-non est”.

Sebenarnya hanya menjadi tolok ukur bagi Moelder untuk menyatakan secara tegas bahwa ada perbedaan antara Sang Khalik dan mahkluk ciptaannya. Walaupun kemudian upaya penyatuan ke-Arah “Manunggaling Kawula Gusti” memungkinkan untuk hal itu, namun dengan berbagai Rule of Game Manusia dalam pemahamannya tentang materi dan metode kearah penyatuan. Dalam penekanan bahwa Tuhan juga sebenarnya mempunyai semacam tanggung jawab dalam menciptakan alam berserta segala isinya, sebenarnya menyiratkan bahwa dalam bahasa islampun “Kun Faya Kun”—jadi,  maka jadilah- (jika saya mencoba menganalogikan konsep ini) mempunyai dimensi nilai yang sepertinya sama. Sebab  manusia cenderung memahami konteks itu sebatas letter lech-nya saja, sehingga wujud keterhubungan dengan Tuhan seolah berdiri sendiri. Tanpa ada kesinambungan yang saling bersinergis. Disinilah agnotisisme barat mendapat bentuk, sementara pendekatan secara pantheis-monistis menjadi dialektika rasional yang  membumi namun berwajah sangat humanistik. Pendapat ini ditekankan oleh J Carp dengan menegaskan bahwa “ Tuhan tidak ada kaitan apapun dengan Dunia” (hlm. 11) yang oleh J Carp ia membagi ranah yang imanensi dan transendensi terkait menurut hakikatnya.

Pada Moelder konsep ini sebenarnya hanya berhubungan dengan istilah saja sebab menurutnya secara atau tidak sadar  konsep ada secara univok diterapkan baik terhadap Tuhan maupun terhadap buah ciptaanNya. Untuk membandingkan pemikiran Pantheisme barat dan Timur (India) A.S Geden membedakan bahwa Pantheisme dalam pandangan India sangat beresensi mistik, dimana keharmonisan alam menjadi tema sentral yang sebenarnya merepresentasikan “keber-ada-an Tuhan, dan pandangan ini umumnya menjadi pandangan yang tergeneralisir pada kebudayaan Timur. Sementara pada kebudayaan Barat, teori emanasi menjadi topik yang menarik dalam system pemikiran filsafat Barat. Meski kemudian pemahaman Pantheistik dan monistik dalam kebudayaan timur lebih mengarah kepada suatu pandangan yang menyangkut dengan keyakinan hidup. Atau dengan kata lain lebih dari sekadar pemikiran yang bersifat reaksional rasionalistik. Pada titik sentral pemikiran ini upaya maupun usaha yang mengarah ke “Manunggaling” antara Tuhan yang mutlak dan Manusia dengan hidup dan kehidupannya menurut pemahaman keyakinan Jawa coba diurai oleh Zoetmulder, yang memang arahannya akan menuju kepada pemikiran metafisik.



Dimana Pantheistik Jawa dihadapkan pada manusia dengan Tuhan yang tidak sekadar ada, tetapi dengan serta merta “Ber-manunggaling”. Untuk memudahkan pemahaman ini kiranya tidak berlebihan jika saya menganalogikan dengan konsep emanasinya Plotinus maupun para kaum Neo Platonisme. Pada Bab II buku ini, selanjutnya panthaisme dan Monisme coba dikorelasikan dengan Pandangan Islam, karena tradisi sufistik dalam Islam mempunyai nilai yang sama namun dalam pendekatan yang berbeda. Perbedaan yang saya maksudkan adalah bentuk Panteisme dan Monisme Jawa sudah mempunyai ranah yang berbeda karena ada kultur Jawa yang bermain disana meski domain islam yang datang “terpaksa” menghadirkan nuansa baru dari serapan nilai-nilai Hinduisme melalui agama. Agama disini cenderung menjadi sesuatu yang religious pada tahap-tahap berikut perkembangan dan penyebarannya. Meski pada mulanya religiusitas dari agama sarat beban mistik yang tidak salah jika saya berasumsi itu adalah bagian dari pemahaman awal mengenai konsep Pantheisme dan Monsime Jawa.

Zoetmulder menyodorkan semacam komparasi atas pemahaman islam tentang Tuhan yang monoteisitk versus pemikiran Panteistik yang menurut Pengarangnya sendiri akan menggiring setiap Muslim pada dosa syirik, sebab ada nuansa pemikiran  kemanunggaling Allah dengan Dunia (hlm 21). Dalam konteks ini ada sedikit keterbatasan mengenai konsep yang dipaparkan oleh pengarang mengenai Pantheisme dalam islam. Dimana dijelaskan ada ayat Misterius S. 28, 88, (kullu sai’iin halikun illa waghahu” (hlm 21) yang kemudian diterjemahkan dengan “segala sesuatu sirna kecuali wajahNya”. Dalam pemahaman saya[4], jika konteks ayat yang dijelaskan tanpa merunut konteks ayat sebelumnya, maka  akan memberikan pengertian yang keliru. Berbeda jika maksud “misterius” itu kemudian hanya ingin dipaksa untuk mencari tema Pantheistik. Sama halnya  pada S, 50,16, (Kami lebih dekat padanya daripada urat nadinya sendiri) pada Mc Donald ditafsirkan sebagai “expression Of Implicit Pantheism” atau dalam ungkapan bahasa filosofis “Imanential Monism[5]. Terlihat disini bahwa referensi yang dipakai oleh Pengarang dalam mengkorelasi Pantheisme dengan Dunia Islam masih sangat mengacu pada Frame Barat. Semacam paradok ketika monoteistik islam dikomparasi dengan beberapa ayat yang diinterpretasikan mengandung nilai-nilai Phanteistik tanpa merujuk pada sesuatu yang kasuistik yang ada pada Dunia Islam itu sendiri.

Meski pada pada literatur yang diacu adalah mengupas tentang Dunia Islam dari buku “Moslem World”, namun setidaknya ada hadist yang dikomparasikan dalam bentuk riwayat yang kemudian dapat dianalisis secara kritis tentang sejauh mana kerangka pantehistik dan monisme islam. Mengingat buku ini adalah bagian dari sebuah penelitian maka mencari sebuah sintesis melalui proses dialektika mutlak adanya dalam tradisi penelitian itu sendiri. Selanjutnya dalam Bab II ini juga tahap-tahap perkembangan nilai pantheistic dalam Islam didekati dengan pendekatan sufistik. Tuhan dan Allah menjadi kabur dalam batasan pembahasan “kemanunggaling”-nya islam, yang kemudian disinyalir oleh Pengarang adanya Tuhan yang tunggal, yakni Allah. Padahal islam sendiri sangat tegas membatasi konsep ke Tuhanan sebagai “roh yang mutlak” tanpa ada peng-ada-an maupun pengandaian. Sederhananya Allah adalah suatu keniscayaan bagi setiap muslim seperti pada kalimat tiada Tuhan selain Allah. Mediasi sufistik dengan ungkapan Bahasa yang metaforis melalui ucapan Al-Hallaj “Anna Al Haq” (Akulah kenyataan yang tertinggi) lalu pengakuan para sufi menjadi ukuran bagi pengarang untuk meretas nilai panthaisme dalam islam kiranya menjadi tolok ukurnya.

Konteks Pantheistik dan monistik yang dipaparkan dengan merelasikan Islam melalui jalan-jalan para sufi, dilihat sebagai suatu penyatuan antara Tuhan dan Dunia sekaligus manusia memberikan sebuah kemungkinan syrik karena bernuansa Polytheisme. Dan ini menurut pengarang posisi Allah dalam Essay-nya Masignon[6] menimbulkan paradox tersendiri. Sebab para sufi dengan mudahnya mengambil jalan Pantheisme dengan tindak tanduk mereka yang sukar ditafsirkan oleh pengikutnya. Oleh Zoetmulder Para sufi yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam khususnya Islam Indonesia (hlm-25) dipetakan menjadi 3 tokoh sufi, yang pertama adalah Al Ghazali, kedua, Al Hallaj dan yang Ketiga adalah Ibnu- Al Arabi. Al- Ghazali, dalam karya-karyanya ditengarai cukup jelimet menurut beberapa literatur yang dipakai oleh Zoetmulder dalam melihat betapa terseretnya para pengikut Al Ghazali yang datang belakangan untuk sekadar menangkap alur pemikiran yang dituangkan dalam beberapa bukunya. Semisal karya fenomenal Ghazali Tahafut Al Falasifa yang menyerang Al Farabi dan Ibnu Sina, dengan mengagungkan rasionalisme yang kemudian melahirkan skeptisisme.

Tulisan Al Ghazali dengan ungkapan yang sangat sufistik menurut pengarang juga tak bisa mengelak dengan tema-tema Pantheisme, “bukan akal budi biasa yang merupakan sarana untuk mengetahui Allah serta hal-hal Ilahi, hal-hal Ilahi hanya ada gunanya untuk membuktikan betapa manusia itu tidak berharga melainkan pengetahuan langsung yang dituangkan oleh Tuhan (lewat) ma’rifat” (hlm-26), dan “bukan segumpal daging yang dapat diraih dengan panca Indra…melainkan semacam rahasia Ilahi yang tak dapat diraih oleh panca indra”. Pendekatan Zoetmulder dalam sudut pandang Pantheisitik lewat ungkapan bahasa sufistik-nya Al Ghazali masih perlu dianalisis secara ketat, sebab bisa saja makna panteistik yang kemudian tertera pada judul besar buku ini mengambil objek kajian yang berdimensi mistik , meski tak bisa dinafikan “manunggaling kawula Gusti” itu sendiri ada  nilai filsafat tersembunyi yang tidak melulu berdimensi mistik. Apalagi dengan sedikit menyitir bahwa karya Al Ghazali berikut pada “Ihya Ulumudin” dihargai hampir sederajat dengan Al Qur’an  (hlm-27).

Dalam hal ini ada subjektifitas atau nuansa psikologis dari sang pengarang yang memandang Alqur’an ibarat karya manusia yang dalam islam sendiri tak ada nilai sandingan dengan karya sastra buah karya manusia. Ada semacam pereduksian makna dari upaya menggali nilai Pantheisme islam jika objek kajian dari alqur’an itu sendiri tidak dibedah secara utuh sesuai dengan konteks bahasa islam sendiri, yaitu “Asbabun Nuzul”. Zoetmulder  seolah memaksakan nilai Pantheis dan monisme dengan mengkomparasi antara Tuhan, Allah, yang Ilahiah hingga ke Alam yang dibagi menjadi tiga bagian Alam (alam Al’Mulk, Al Gabarut dan Alam Al Malakut). Kesemuanya mendapat bentuk dalam pandangan sang pengarang sebagai sesuatu yang tumpang tindih jika nilai-nilai islam tidak mau disebut cukup kental mengandung nilai-nilai panthaisme.

Bagaimana, sesuatu yang mutlak dalam ukuran yang tak terbatas terepresentasi dari  yang Ada dan  bersumber dari dirinya dan ada yang berasal dari yang lain. Mungkin bisa dikatakan semacam paradoksal pemikiran dengan mengkomparasikan secara tidak ketat alur pemikiran Panthaisme dalam islam. analogi selanjutnya yang dijelaskan oleh Zoetmolder yang disebut sebagai sesuatu yang hiperbola atau kiasan yang melebih-lebihkan mungkin juga dapat merepresentasi dari Sufi kedua dari tiga sufi yang dipakai acuan sebagai para sufi yang berpengaruh dalam Dunia Islam. Pada ulasan mengenai Al Hajj ada pertanyaan yang disodorkan oleh Zoetmulder “apakah pandangan Al Hajj dikategorikan sebagai Pandangan yang pantheis ?” lalu diklarifikasi sendiri oleh pengarangnya bahwa dalam terminology Barat  hampir secara umum tema-tema mengenai pantheisme dijawab dengan positif (hlm-35), tidak jelas apakah pandangan ini dapat dikatakan sebagai suatu penerimaan terhadap tema pantheisme yang oleh Massignon diterjemahkan sebagai berikut “Allah menyampaikan firman-Nya, kedalam lubuk hati manusia dengan tiga cara yakni: a) lewat sebuah kata yang oleh jiwa dikenal sebagai sabda Tuhan, b) dengan rasa takut yang menjadikan lubuk hatinya berdiam diri, c) lewat suatu bahasa yang sekaligus merupakan kata dan jawaban tetapi orang beriman sendiri tidak tahu (apa yang dikatakannya)[7].

Sama halnya dengan Sufi terakhir Ibnu Arabi yang kesemuanya tak bisa dilepaskan oleh keterpengaruhan mereka dengan nuansa hinduisme, meski tak dijelaskan secara tegas, namun ada keterpengaruhan atas ungkapan hiperbola bahasa dan kiasan yang berlebihan melalui bahasa dengan ungkapan Tuhan dibalik analogi alam yang nyata maupun yang tidak nyata (alam maya)  bahkan yang khayali sekalipun. Pada bab-bab selanjutnya, keterpengaruhan pantheisme Islam coba direlasikan dengan ajaran Hindu yang menurut saya merupakan sebuah jembatan untuk menghubungkan jalan-jalan menuju ke monisme dan pantaisme Jawa. Tidak sekadar ajaran hindu dari Kitab Bhavadgita, tetapi ajaran-ajaran Upanishad dan sosok brahma menjadi personifikasi atas proses emanasi yang kemudian meretaskan nilai-nilai filsafat Hindu. Adapula alam mistik dengan balutan pemikiran kosmik, yang lagi-lagi dinyatakan oleh Zoetmulder mempunyai korelasi dengan praktik-praktik para sufi pada tahap awal islam diperkenalkan ke Dunia Timur atau tepatnya Indonesia dengan pandangan orang Jawa mengenai “Manunggaling Kawula Gusti”.

Dalam konteks ini halaman 88 dalam Buku Zoetmulder terurai secara gamblang mengenai pandangan Monisme dan pantheis Jawa, “ketika membahas Monisme yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan Upanishad, sampai hari ini masih tersebar luas di Jawa” (hlm-88). Pada Bab IV buku ini pengarang mulai merambah ke ranah teks-teks suci sastra jawa kuno. Metode yang dipakai melalui objek kajian teks sastra ini diyakini oleh pengarang dapat membatasi tema monoteis dan panteisme dalam perspektif dan ortodoks dan kekinian. Pada tahapan ini Tuhan sangat simbolis dalam penggambarannya. Bisa jadi awal pemunculan Islam di jawa sangat lekat dengan teks-teks kuno yang cukup kental dengan nuansa Pantheistik-nya. Seperti halnya pada Bab sebelumnya Para sufi disinyalir  yang mula-mula memperkenalkan panthaisme dengan cara mereka sendiri. Tak melihat pada konteks religiusitasnya akan menangkap makna apa yang tersirat dalam sebuah ujaran ataupun bahasa tulisan, yang menyinggung tentang hakikat dasar akan nilai keislaman.

Tetapi Zoetmulder lebih menyoroti sejumlah analogi para sufi dengan pengandaian-pengandaian mereka melalui agama khsususnya Islam. pada Bab V &VI, akan terasa sukar bagi kapasitas awam yang coba menangkap ajaran “manunggaling” melalui teks Jawa (sastra suluk) jika kita tidak berangkat dari kesepahaman bahasa maupun budaya. Disini ada dikotomi antara yang ingin memahami ajaran penyatuan Manusia dan hakikat ke-Tuhanan secara an sich  pada cinta kasihnya kitab Ngasmara dan Asmaradana dan memilah secara clear dan distingly sejauh mana ada nilai-nilai Panthaisme dan Monisme yang tereram didalamnya. Sebab symbol melalui bahasa dalam kitab kuno tersebut perlu ditafsir dengan analisa yang terstruktur. Sementara pada bab VII, bisa dikatakan intisari dari buku ini mulai nampak dimana ada penggambaran dengan sejumlah antithesis dari yang saling berlawanan antara yang gaib dan yang berwujud, antara kebendaan dan unsur-unsur yang terkandung didalamnya mulai saling terkait satu sama lain. Secara sederhana yang ingin mau disampaikan oleh Zoetmulder pada bab ini bahwa ada keterpautan antara teks-teks kuno dengan inti ajaran sufi.

Beberapa diantara dari serat Centini dan Kinanti memuat tema ajaran islam yang mengandung petuah dan jalan kehidupan dari Nabi Muhammad S.A.W, yang menurut saya  cukup berat diartikan secara harafiah pada tanda kutip eski dan jawari, sebab tidak hanya bermuara pada teks metafisik yang spritualis namun ada pemahan mistik kejawen yang menjadi hubungan antara Pantheisme dalam perspektif  sang pengarang.

Teks Kinanti hal 167

Allah lan Muhammad iku/sedaya/pan maksih napi/mung sifat napsi kang ana/ ning dereng kahana yekti/ eski jenenge punika/ lan jawari namaneki/” (kinanti)

TERJEMAHAN[8]

Allah dan Muhammad masih dalam ketidakberadaan. Hanya sifat-sifat kodratNya “eski” dan ia sebut “jawari”

Pada bab ini juga tema sufistik dari Ibnu Arabi tak ketinggalan diacu oleh pengarang sebab objek kajian anatara islam dan jawa melalui sastra suluk (teks kuno jawa) coba dipadankan dengan rasionalisme “barat” melalui emanasi Plotinus. Thomas Aquinas bahkan Ibnu Sina. Padahal jika mencari sebuah pengertian dari maksud “emanasi” atau kebersatuan Tuhan dan wujud ciptaannya dalam “Manunggaling Kawula Gusti”, sebenarnya dalam serat centini dan kinanti bisa dikatakan bentuk dari emanasi itu sendiri. Sama hal dengan pemaparan yang tertuang pada bab VIII sampai IX penggambaran lebih dipertegas dengan teks-teks jawa yang tetap sama dengan petuah nilai didalamnya namun dengan konteks kalimat yang berbeda. Tapi yang dapat diulas sedikit disini bahwa Zoetmulder lebih ingin mempertegas pengertian Monisme dengan mengangkat judul “Monisme Radikal”. Maksud dari  judul ini, terlihat bahwa dengan gamblang dan tanpa tedeng aling-aling  pengarang ingin mengatakan bahwa di bab inilah  puncak dari mistis Jawa yang terdapat dari beberapa teks kuno (centini dan kinanti maupun yang terangkum dalam dandang gula-) dan ketegasan dari nilai Panteisme menjadi “sempurna” setelah monisme menjadi sintesis pada bab ini. (hlm-249).

Aneka perumpamaan dalam bab-bab terakhir pada buku ini  direpresentasikan dalam bentuk analogi Cermin dan wayang yang sebenarnya menjadi komparasi wujud  diri untuk mengukur sejauh mana kualitas diri dalam memahami ajaran-ajaran islam. ada sudut pandang yang berbeda ketika orang membaca buku ini, ibarat layar lebar yang terhampar didalam ruang bioskop setelah selesai menontonnya orang akan mempunyai pandangan masing-masing dengan hasil tontotannya. Sama halnya dengan buku ini, akan terasa mempunyai nilai kesakralannya jika teks-teks yang dikategorikan oleh Zoetmulder sebagai sastra suluk ini tidak dipandang sebagai suatu karya manusia saja dalam upaya “pengadaptasian” intisari kitab suci agama langit (islam,Kristen) maupun intisari dari ajaran cinta kasih kaum sufi hingga ke pantheistik-nya Hindu. Tetapi lebih dari itu ajaran-ajaran dalam berbagai serat itu masih kontekstual hingga kini. Petanda  melalui symbol yang beraneka ragam yang ditonjolkan pada bab XI, hanya merupakan bagian dari media untuk sampai pada kesempurnaan jiwa manusiayang pada bab sebelumnya ditegaskan oleh pengarang dengan Bab-nya yang berjudul : “Tuhan yang bersemayam dalam manusia” (hlm-213) Sama halnya pada Bab ajaran Para wali disini pengarang tidak sungkan lagi untuk merujuk beberapa Kitab dari para wali yang pada sejarah berkembangnya Islam di Jawa Peran Para Wali atau dikenal dengan Wali Songo ini tak bisa dinafikan.

Dan memang pokok masalahnya bukan pada penafikan atau tidaknya tiap ajaran yang disampaikan oleh para wali itu, melainkan lebih pada, bagaimana masyarakat pada saat itu dapat menggapai “ide-ide” absolute tentang Tuhan, yang pada saat bersamaan representasi Tuhan dalam inti ajaran Islam bertentangan bahkan jatuh dalam kesyirikan. Selaras dengan pengantar yang disampaikan oleh Penerjemah buku ini didepan. Oleh Dick Hartoko buku ini menjadi Khazanah baru untuk memperkaya referensi Filsafat, metafisika ataupun ontologi kita terutama para penikmat maupun mahasiswa Filsafat, meski buku ini telah lama dan pertama kali terbit Tahun 1935, namun Saya berasumsi bahwa jika bukan pada penerjemah yang mempunyai wawasan yang luas atau ada “maksud-maksud” tertentu yang membuat ada semangat ekstra dalam menerjemahkan buku ini, tentu buku ini tidak sampai pada saya dan ditinjau dengan ulasan-ulasan menurut perspektif saya yang masih belum dalam dan tajam dalam menganalisis sebagai sebuah review.

Namun patut dicungkan jempol sekirang tidak hanya satu ibu jari, bagi pengarang yang tidak berasal dari kultur maupun pandangan hidup sebagai orang Jawa, tetapi mampu mengurai esensi ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” dengan didukung berbagai referensi yang cukup terkait antara satu sama lain. Akhirnya pandangan kita terhadap dunia nyata ( mikrokosmos ) akan selalu tercermin pada kehidupan manusia dengan lingkungannya, tata kehidupan didalam masyarakat kita sendiri, serta tindak laku kita sehari-hari akan selalu bersumber dan bermuara pada kekuatan batin dan jiwa kita. 


[1] R. Eisler, Wörterbuch der philosophischen Begriffe, Berlin 1929-hlm 173

[2] A. Lalande, Vocabulaire Technique et critique de la philosphie, Paris 1926 I, hlm 484

[3] Oleh Dick Hartoko penulis disebut dengan Pengarang

[4] Reviewer

[5] Moslem World 7 (1917), hlm 17: D.B Mc Donald dalam Moslem World 18 (1928) hlm 6

[6] Indische Strömungen in der iIslamis chen der spekulativen theologen In islam 1928, Massignon

[7] Massignon, Al Hallaj, hlm 310

[8] Centini V, hlm 360


Apr 16, 2010

AKU YANG TERPERANGKAP DALAM KATA-KATA

(Sebuah Essay Absurd)
”Ya....Tuhan Aku terperangkap dalam kata-kata” begitulah Grafity yang terpampang marak di dinding kamar mandi sebuah Fakultas. Karena tidak hanya satu coretan yang tertulis maka ibarat pantun berbalas, tanggapan berantai datang dari siapa saja yang sehabis melepas hajat dikamar mandi itu. apa dan mengapa menjadi kalimat tanya yang selalu menyertai sejumlah coretan di dinding kamar mandi tersebut. Akhirnya entah siapa yang menulis kesimpulan dari coretan coretan yang meresahkan hati dan hampir memakan sebidang dinding itu. ia hanya menyimpulkan dengan ”We Born Between Piss and Shit, adakah ini perlu dimaknai?”. begitulah didalam sebuah kamar mandipun pertanyaan tentang eksistensi masih terus diperdebatkan. Dan apabila kemudian eksistensi diri itu mewujud dalam ”it” bukan ”I”, seperti Cogito Ergo Sum-nya Descartes tentu ilmu juga membutuhkan ruang untuk berevolusi. Namun realitas atau wujud (being) yang ada ini tidak meniscayakan sebagaimana halnya eksistensialisme sebagai suatu aliran. Jadi sebenarnya humanisme Sartre memutlakan eksistensi manusia sebagai suatu ke-”ada”-an yang tidak sekedar ada. Melainkan Existence Precedes Essence (eksistensi mendahului esensi), dengan demikian atesime dengan sendirinya adalah sebuah konsekuensi dalam eksistensialisme Sartre. Atau kasarnya bagaimana kita sampai pada tahap untuk menolak Tuhan jika eksistensinyapun masih dipertanyakan. Begitulah kira-kira menurut Jean Paul Sartre. Memang manusia itu sungguh arogan, karena melihat dirinya serba cukup. Atau jangan-jangan materialismelah yang selalu mengancam manusia hanya dengan dua kata melalui pisau bedah kapitalisme. Apa itu? ”ketinggalan Zaman” hingga hukum alampun kalang kabut dalam kesadaran manusia. Demi Masa, semoga kita selalu menjadi orang-orang yang beruntung.
 Oktober 1999
Kampus Filsafat
Syahyunan Pora 

TENTANG KEKEKALAN INDIVIDU

Adaptasi dari Buku Good life And immortality

Bab 21(The Justification For Personal Immortality)

Oleh Peter Anthony Bertocchi

Alih Bahasa : Syahyunan Pora

Kekekalan makhluk hidup cenderung menjadi diskursus bagi pertanyaan filsafat atas sejauh mana otonomnya manusia yang mampu berkuasa terhadap diri dan kehidupannya sendiri. Apakah konsep kekekalan dapat gugur dengan sendirinya ketika pemahaman tentang kematian atau berakhirnya alam ini jika hanya ditinjau dari segi fisik semata ? dan apakah kematian dapat menghapus teori tentang kekekalan itu sendiri? dan apakah sesungguhnya kekekalan itu sebenarnya? Sedikit mendekripsikan tentang ‘kematian’ merupakan tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis. berikut penulis mencoba mendeskripsikan Buku dari Peter Anthony Bertocci, yang menjadi tugas pembahasan Mata Kuliah Filsafat Agama, pada bab 21 dengan Judul Good life And immortality dengan sub bab “Pembenaran Terhadap Kekekalan Individu” (The Justification For Personal Immortality)  Dalam rangka untuk menjelaskan isu-isu  relevan dengan pemikiran kita tentang kematian  dan kelangsungan hidup manusia, hingga kini kita tetap bertahan mengenai  definisi dari  konsepsi manusia menyangkut dengan kekekalan . Apa yang ingin kita pertahankan disini adalah menyangkut dengan analisis terakhir sebagai sesuatu nilai yang paling berharga yang berhubungan dengan kelangsungan hidup tiap individu menyangkut dengan kekekalan. Yang  kami maksudkan adalah keteguhan pikiran setelah kematian fisik pada setiap individu yang ada sebelum jantung berhenti berdetak. Perubahan apa pun yang mungkin terjadi di Alam baqa sana, tidak akan menghancurkan identitas esensial dari yang bersangkutan. Apapun  perubahan yang di alami saat  menjalani kehidupan baru dengan mengintegrasikan hidupnya di masa lalunya. Pengalaman hidup kita sehari-hari terus disoroti dengan berbagai jenis dipertanyaan ini . Dari hari ke hari masing-masing dari diri kita terkungkung dalam situasi yang terbatas , dalam berhubungan dengan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.  Ketika salah satu diantara kita dihadapkan dengan  pengalaman yang berbeda secara radikal dari  masa lalu, ia dapat mempertahankan identitasnya dirinya sebagai secara bertahap dengan memilih dan menyerap apa yang bermakna bagi dirinya.  Dasar Kelangsungan hidup ini melalui  perubahan dan pertumbuhan adalah inti dari eksistensi tiap individu dalam kehidupan, dan itu akan menjadi dasar kekekalan individu di akhirat. Dalam kehidupan kini dan berikutnya, misalnya, seseorang merasa bernilai mungkin secara bertahap akan berubah, atau ia dapat mengembangkan kemampuan yang ia lakukan, bukan sekadar bermimpi bahwa ia mampu, namun ia mungkin akan kehilangan sebagian kemampuan, dan ia akan melupakan banyak hal. Namun, pada  yang sedemikian itu, jika seseorang tidak mampu mempertahankan kemampuan menalar, merasa, maupun keinginan-keinginan yang seharusnya, yang pada dasarnya  membentuk berbagai hal  ingatannya secara individu tentang siapakah ia sebenarnya. Maka tak ada kekekalan bagi dirinya. Rangkaian kejadian baru dan masalah-masalah akan terbuka baginya untuk harus dikenal sebagai sesuatu yang baru dan perlu di ketahui sebagai rangkaian masa lalu yang saling terkait. Sebagai individu yang berubah (tidak ada keraguan baginya secara mendasar selama waktu tertentu) ia harus tetap sadar dan tahu, bahwa dia telah berubah. Memang benar bahwa ada beberapa orang yang menyangkal bahwa kekekalan individu  telah tergantikan sebagai pengaruh kekekalan yang mereka sebut “kekekalan sosialitas”. Tetapi seluruh pengertian atas analisis ini  ternyata berlebihan dan membingungkan. Tidak dapat disangkal bahwa kehidupan seseorang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan orang lain, dan melalui mereka kehidupan ini terus berjalan sepanjang sejarah umat manusia. Pada pandangan ini, pengaruh individu seseorang terkait dengan kehidupannya didalam bermasyarakat, bagaimanapun tingkat kehidupan itu meski dalam tataran  mikroskopik, tetap memainkan peran bagi masa depan tiap individu.

 




Mar 21, 2010

DISEBABKAN OLEH KEDALAMAN PERTANYAAN FILSAFAT

Oleh Syahyunan Pora

Sekitar abad 4 sebelum masehi Socrates selalu mengajukan beberapa pertanyaan kepada siapa saja yang konon ia temui dijalan, dikedai-kedai minum bahkan hingga sampai ke pasar-pasar  dengan hiruk pikuk para kaum sofis yang menjual kebenaran dengan imbalan materi. Metode yang paling ampuh menurut pengikut Socrates adalah dengan jalan bertanya, dengan berbagai pertanyaan yang diajukan itu kerap membuat lawan bicaranya gelagapan tak urung mereka malu sebab sebelumnya dengan angkuh mengklaim bahwa mereka tahu apa-apa yang mereka bicarakan. Bahkan tak jarang sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila yang konon ceritanya Socrates kerap berjalan-jalan ditengah kota disiang hari yang terik dengan memegang obor. Syahdan dari metode pertanyaan tersebut adalah cikal bakal metode kritisnya tesis-antitesis- dan sintesisnya Hegel. Lalu kemudian mendapat sentuhan dari beberapa Filsuf sosial maupun Filsuf Ekonomi yang akhirnya melahirkan dialektika materialism yang dimatangkan oleh Marx dan lenin. Pertanyaan selanjutnya masihkah metode tersebut efektif jika diarahkan pada konteks kekinian? Lalu bagaimana jika harus menjawab apa keutamaan seseorang yang menganggap professional dibidangnya. Sebab dengan Arete atau keutamaan itu kata Socrates manusia mampu merengkuh Eudamonia (kebahagiaan) dengan apa yang ia tahu. Sementara keutamaan itu dalam konteks zaman yang semakin permisif ini cenderung melahirkan  berbagai disiplin ilmu yang ranah aplikatifnya bisa melampaui berbagai bidang. Ada pengajar yang diangkat menjadi staf ahli dalam bidang pemerintahan, atau berbelot ke dunia politik karena mendapat kesempatan dibidang itu meski kemudian dengan berbagai alasan bahwa tujuan itu yang pada intinya ada sumbangsih pemikiran yang juga sebenarnya berasal dari ilmu yang ia tekuni selama ini. Pertanyaannya kemudian lalu arête yang dmaksudkan oleh Socrates apakah telah melenceng dari maksudnya yang sebenarnya? Walau menyinggung Tentang keutamaan itu sebenarnya terilhami juga dari kerja seorang Bidan yang kebetulan menjadi Profesi ibunya yang bernama Xantype. Ia melihat bagaimana ibunya membantu proses kelahiran seorang manusia ke Dunia, kelak ia pun berjanji pada dirinya sendirinya untuk  membantu manusia untuk melahirkan pemikiran baru ke Dunia. Meski di akhir hayatnya metode yang ia gunakan itupun  merenggut nyawanya sendiri. Ia dituduh meracuni kaum muda dengan pemikiran-pemikiran yang berawal dari metode Meautika Tekhne atau tekhnik pembidanan tersebut. Ia lebih memilih hukuman mati dengan cara meminum racun.  idealisme seorang Socrates tak tergadaikan oleh materi seperti para kaum sofis yang sempat hinggap sezaman dengan filsuf yang tercatat dalam sejarah Yunani sebagai seorang bijak yang buruk rupa. kaum sofis ini sempat disebut juga oleh Socrates dalam  pertemuan bersama murid-muridnya  sebagai para pelacur intelektual sebab dengan kata-kata, mereka selalu memutar balikkan fakta sehingga sebuah kesalahan bisa menjadi kebenaran begitupun sebaliknya. Kembali pada konteks kekinian masihkah nilai filsafati dari seorang Socrates yang kemudian sebagian ajarannya dilanjutkan oleh muridnya Plato dapat memberikan sebuah perspektif baru tentang kebenaran yang diyakini oleh setiap orang . Ataukah sejarah filsafat dari seorang tokoh Socrates itu hanya menjadi sebuah legenda yang bernuansa mitos bahkan sebagian mensinyalir  tokoh Socrates hanya fiktif belaka ini hanya basa-basi retoris tingkat tinggi?. Atau mempelajari filsafat karena ada prestise tersendiri sebab sesuatu yang jarang selalu mempunyai nilai tawar yang tinggi?. Jika sebatas itu saja filsafat sebagai ilmu ini dipahami maka  matilah filsafat, sebab tanpa disadari ia telah  menggali kuburannya sendiri. Atau menjadi ilmu tapal batas yang tersendiri ketika praktisi filsafat hanya mampu memesonakan kaum  awam hanya dengan kisah bijak yang berseliweran dibalik awan dan kemudian takzim dengan permenungannya sendiri tentang apa-apa saja yang ada dibalik bumi.



Jan 13, 2010

TELAAH SASTRA LISAN TERNATE

Oleh : Syahyunan Pora

Sastra lisan adalah salah satu genre sastra, yang juga merupakan representasi dari teks budaya. Sebagai teks budaya, sastra lisan menjadikan dirinya “Guru” kebudayaan bagi proses pencerahan. Sebagai guru kebudayaan, sastra lisan dapat menjadikan dirinya sebagai sumber kearifan, paling tidak kearifan lokal (local wisdom). Dengan menggunakan bahasa sebagai medium pengucapannya, sepanjang sejarah, sastra tidak saja merekan pergumulan dan pergolakan manusia, tetapi dengan “caranya sendiri” menjadikan dirinya sebagai salah satu sumber pencerahan. Tanpa menggurui sastra menjadi guru bagi kebajikan, bagi kearifan. Ia mengetuk dan menyapa manusia ketika manusia “tercerabut” dari akar kemanusiaanya: kejujuran, kesantunan, cinta sesama sayang lingkungan dan semangat kebersamaan. Dengan caranya sendiri, sastra menuntun manusia untuk bertindak secara bertanggung jawab, sejalan dengan hati nurani, dan berdasarkan asas asas kemanusiaan. 
Ungkapan dalam cara bertutur Sastra lisan kerap tidak mudah dipahami jika hanya menangkap suatu hal yang tersurat saja. Sementara pemaknaan dari suatu hasil karya sastra membutuhkan interpretasi yang ketat namun dinamis ,agar makna yang terkandung didalamnya dapat memberikan sebuah pedoman bagi masyarakat sebagai sebuah pandangan hidup yang tersirat dari sejumlah tradisi lisan dengan medium sastra maupun tradisi dan budaya yang telah mengakar lama dalam kehidupan Bangsa Indonesia. Pemaknaan dari sebuah hasil karya sastra entah itu berupa Karya sastra tertulis maupun sastra lisan dalam suatu masyarakat tertentu tidak bisa lepas dari cara pandang masyarakat tersebut mengenai hidup dan kehidupan yang pada intinya dapat memanusiakan manusia. Dalam konteks inilah ranah filsafat menjadi penting dalam menelaah berbagai cara pandang manusia menyangkut dengan tradisi maupun kehidupan masyarakat tersebut, sebab ciri telaah kefilsafatan dapat memberikan sebuah pemahaman kritis dan komprehensif melalui nilainilai yang terkandung dalam sebuah tradisi maupun kebudayaan. Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan sebuah tradisi melalui sastra lisan adalah suatu cara atau mekanisme dalam .Menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut menyangkut dengan pandangan hidupnya yang diyakini . Filsafat menetapkan ide-ide dan idealisme sedangkan mengapresiasikan budaya dalam dunia pendidikan merupakan usaha dalam merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku dan membina kepribadian manusia ( Noor Syam : 1988 ). Salah satu representasi dari kebudayaan adalah sastra lisan, dengan cara menyebarkan nilai-nilai kebebersamaan, koeksistensi, dan penghayatan atas keberagaman. Nilai-nilai kemanusiaan ini tergambar dalam “dalil moro”. Dalil moro adalah salah satu bentuk sastra lisan Ternate yang terepresentasi dalam bentuk pantun. Namun tidaklah pantun semata yang menjadi sumber lisan dari sebuah cara bertutur orang-orang Ternate yang akan diangkat dalam makalah telaah filosofis sastra lisan Ternate ini, namun masih banyak ungkapan filsosofis yang tertuang dalam tradisi dan kebudayaan lisan Masyarakat Ternate.