Nov 24, 2009

Seputar Pemikiran Filsafat Tekhnologi

(Kritikan Andrew Feenberg Terhadap Heidegger dan Albert Borgmann)

Oleh : Yunan Syahpora

Filsafat Tekhnologi tergolong masih baru dalam dalam ranah filsafat kontemporer. Dimana wacana filsafat dan science kini mulai menjadi sebuah disiplin ilmu yang diminati 10 tahun belakangan ini. Seperti eksistensialisme menjadi trend bahkan diklaim oleh Sartre sebagai sebuah filsafat yang menjadi tren era 80-an , filsafat Tekhnologi kini menjadi trend seiring dengan perkembangan era tekhnologi dan digitalisasi yang menyentuh dihampir segala aspek kehidupan manusia. Beberapa filsuf yang cukup mempunyai pengaruh di ranah filsafat tekhnologi diantaranya adalah Heidegger , Don Ihde, Jaques Ellul, Andrew Feenberg hingga para filsuf tekhnologi kontemporer baru yang juga turut mewarnai khazanah pemikiran filsafat tekhnologi yang menarik untuk ditelaah lebih jauh. Seperti pada wacana kritikan Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Albert Borgmann yang terkenal dengan ungkapan “Focal Things” (atau yang hal hal yang memusatkan) dan Kierkegaard menyangkut dengan “Enframing” (pembingkaian). Heidegger pernah mengunggkap bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran . Bukan hanya itu saja Heidegger berpendapat tentang teknologi, yang mempunyai perbedaan antara teknologi moderen dan teknologi kuno. Yang pertama yaitu teknologi modren bukanlah seni tangan (Work Of Craftmanship), namun suatu penyingkapkan yang kemudian membedakan antara seni dan tekhnologi. adapun yang menbedakan teknologi modren dan teknologi kuno adalah teknologi tidak melibatkan suatu yang mengemukakan ke-hadapan dalam arti poiesis, yakni perbuatan sendiri seperti menulis puisi, sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat –sifat mencipta yang puitis. Dalam buku “The Question Concering Tochology” Heidegger tidak banyak membahas bagaimana menghadapi bahaya pandangan tersebut, akan tetapi dapat di simpulkan bahwa ada 2 hal, yang pertama pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyikapan kebenaran dapat membatasi pandangan bahwa dunia seluuhnya adalah persediaan semata – mata. Dalam kata Heidegger sendiri bahwa “relasi yang bebas dengan teknologi”. Yang kedua pengayaan penyikapan teknologi atau pandangan alternatif dari Get – stell dilakukan dengan menghidupkan kembali Techne sebgai seni yang dapat membendung pemakaman tentang dunia melulu sebagai persediaanya(standing reserve). Sementara lebih menyoroti pada “focal things” atau hal-hal yang memusatkan. Borgman memberikan contoh yang menyangkut dengan tungku perapian modern yang memusatkan orang tidak pada urutan kerja yang membuat orang berusaha menghadirkan tungku perapian secara tradisional seperti mengumpulkan kayu bakar dan lain sebagainya. Termasuk alat microwave dan makanan siap saji yang secara efisien dapat dihadirkan secara cepat namun menurut kritikan dari Andrew Feenberg seorang Filsuf Canada membuat manusia dihadapkan pada keringnya arti humanisme. Hal yang samapun ia mengkritik Heidegger dengan efisiensi produk tekhnologi yang tidak selesai dipecahkan oleh Heidegger sendiri menyangkut dengan ketergantungannya pada tekhnologi. Pada Andrew Feenberg, objek kajian Borgman mengenai “paradigma perangkat” hanya dilihat dari sudut efisiensinya saja namun tidak melihat sejauh mana akibat apa yang ditimbulkan oleh “paradigma perangkat” tersebut. Misalnya makanan cepat saji yang dengan begitu cepat disediakan dan begitu instan sehingga meretas ruang dan waktu. Orang kemudian hanya mempunyai sedikit waktu untuk bersosialisasi. Begitupun dengan pertimbangan kalori dari makanan cepat saji yang tersedia sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia pertimbangan akan nilai gizinya kadang terabaikan. Itulah sekiranya yang menjadi objek kritikan yang dilontarkan oleh Andrew Feenberg.


Nov 9, 2009

DIBALIK KULIAH EPISTEMOLOGY PROF. DR PARK HEE YOUNG

By Yunan Syahpora
Ada pengalaman yang cukup mengesankan ketika mendapat kuliah dari Prof Dr Park Hee Young selama hampir dua minggu menyangkut dengan epistemology. Dalam kapasitasnya sebagai dosen tamu dari Hankuk University Korea Selatan. Beliau cukup memberikan perspektif baru mengenai cara pandang epistemology dan metode pengajaran yang sistematis mengenai epistemology kepada angkatan 2009 program pasca sarjana Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Ugm. Meski dengan aksen inggrisnya yang masih kental korea, namun beliau berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan dengan pendekatan sejarah cerita-cerita mitos hingga sampai ke wacana pemikiran filsafat terkini versi Eropa melalui penuturan pengalaman beliau selama kuliah di Sorborn University Prancis.
Awal pertemuan kuliah epistemology dari Prof Park diawali dengan pengenalan alfabeth Yunani dan Latin yang sengaja dilibatkan oleh seluruh peserta kuliah. Kesan yang tertangkap dari pendekatan awal kuliah yang dimulai dengan metode seperti ini tidak lain adalah bagaimana setiap Mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya tidak hanya memahami filsafat dalam pengertian secara tekstual melainkan konsep pikir dari para mahasiswanya seolah dibangun dengan landasan yang sangat Yunani karena ada beberapa analogi yang tujuannya menjernihkan istilah istilah lingusitik hingga ke hermeneutik maupun yang berangkat dari mitologi hingga ke yang logis. Tema-tema epistemology Prof Park cukup banyak dipaparkan dengan analogi maupun symbol-simbol (alphabet) yunani kesemuanya berbanding lurus dengan materi kajian beliau menyangkut dengan epistemology.
Dalam sesi lain contoh yang sering diangkat ketika terlihat beliau cukup kerepotan dalam menjelaskan maksud sesungguhnya yang terkandung dalam pengertian epistemologis. Sehingga pada tahap ini terlihat Prof Park berupaya merambah keranah publik kehidupan anak-anak muda dengan dinamika percintaan dan berbagai permasalahannya yang dihadapi. Ini semua dimaksudkan agar wacana epsitemologi dapat dengan mudah dicerna dalam pengertian yang lebih sederhana. Namun tidak keluar dari konteks yang tetap berhubungan dengan tema-tema epistemologis. Kesan yang tampak disini ada beberapa kali analogi melalui cerita yang sering dipakai, sebagai contoh semisal dengan kata-kata Mr Park: “When Boy Met Girls…or if a girlfriend while waiting his boyfriend in Caffe”.
Dengan pendekatan ala anak muda ini Prof Park Hee Young tampak berupaya keras agar apa yang ia sampaikan mengenai epistemology dapat dipahami oleh para mahasiswanya meski kendala utama bahasa namun kelas filsafat 2009 cukup antusias dan komunikatif dalam tiap sesi kuliah berlangsung. Setelah Hampir dua minggu kuliah epistemology dari Guru Besar dibidang filsafat ini beliau mengakhiri dengan ujian lisan dengan meminta tiap mahasiswa untuk membuat artikel singkat seputar Mitology hingga ke Logika dalam hubungannya dengan perkembangan epistemology. Kemudian artikel (Disertasi, dalam bahasa beliau) diminta untuk dijelaskan secara lisan satu persatu dengan menggunakan bahasa inggris.
Dari rangkaian kuliah epsitemologi secara keseluruhan yang cukup menjadi kesan pada kelas Filsafat angkatan 2009 ini adalah keakraban dan kesehajaan yang tampak ketika setelah usai pemaparan materi kuliah. Pada suatu kesempatan rasa ingin tahu dari sebagian dari teman dengan pertanyaan mengyangkut dengan budaya Korea, pengalaman belajar beliau di Prenacis hingga menanyakan info untuk beasiswa Filsafat ke luar negeri terpaksa dilanjutkan di kantin. Dan tak terduga ekspresi sang Prof dibidang epistemology ini pun larut dengan suasana santai dan riang seolah kesan yang tampak beliau sangat familiar dengan tiap mahasiswa ketika tugas utamanya telah selesai dijalankan. Dan kamipun ekspresif bahkan akan selalu mengenang cara bertutur bahasa inggrisnya dengan aksen koreanya yang cukup kental membuat tiap sesi dalam perkuliahan menjadi segar dengan celoteh humor, sebab ada saja salah pengertian dari bahasa yang kadang-kadang antara penanya dan yang menjawab mempunyai maksud yang berlainan atau sendiri sendiri. But At Least We Love It… Prof..