Aug 6, 2009

CATATAN PERJALANAN KE WEDA HALMAHERA TENGAH (BAG. I)


Oleh
Syahyunan Pora & Wildan

Kali ini sedikit goresan tulisan yang terdokumentasi dalam catatan perjalanan saya dalam setiap kesempatan melakukan penelitian ataupun menjadi enumerator adalah sebuah kabupaten yang ada di Pulau Halmahera. Tepatnya Halmahera Tengah dengan Weda sebagai Ibukota Kabupatennya. Pada kesempatan kali ini kami bertiga yang sama-sama dari fakultas sastra unkhair, memulai sebuah perjalanan yang cukup melelahkan dalam rangka mengumpulkan database profil budaya maupun potensi wisata Halmahera Tengah termasuk wisata sejarah. Bersama dua rekan tersebut yaitu Umi Barjiah dan Wildan kami memulai perjalanan di pagi hari dengan mengambil rute lewat jalur laut. Jam 4.30 pagi kami bertolak dari pelabuhan Bastiong menggunakan Speed boat yang juga ditumpangi oleh sekitar 20-an penumpang laiinnya yang akhirnya mengantarkan kami disebuah pulau yang bernama Pulau Gita. Dari Pulau Gita ini kami langsung melanjutkan perjalanan darat dengan mengambil jalan pintas yang dalam istilah orang-orang Maluku Utara umumnya dengan menyebut “potong payahe”. Dan memang rute perjalanan darat ini melewati sejumlah kecamatan dan Desa yang salah satunya juga disebut diatas.
Transportasi laut KM Kieraha Masih menjadi andalan perhubungan Masyarakat Halteng
cuma sayang rutenya memakan waktu yang cukup lama jika dari Ternate ke Weda
Namun dengan melewati rute perjalanan darat ini merupakan suatu tantangan tersendiri. Dengan memakan waktu sekitar 5 jam untuk menuju Weda, medan yang kami lewati melalui jalan untuk menuju Weda pas pada saat musim penghujan sehingga dengan jalan berkelok kelok dan dikiri kanan menganga jurang-jurang yang dalam serta bukit yang terjal sesekali buat kami yang bukan orang yang berasal dari daerah sekitar ataupun yang terbiasa mobile dalam kondisi seperti ini kadang-kadang menyiutkan nyali kami bertiga. Sebab dalam membelah perut Halmahera dengan mengambil jalan pintas memang menjadi satu-satunya alternatif untuk tidak memakan waktu yang lebih banyak. Meskipun dengan kondisi medan dengan jalan yang hampir sembilan puluh persen belum beraspal atau sudah beraspal namun kondisinya sangat rusak parah jika pada musim penghujan. Tak ayal banyak kecelakaan yang sering terjadi pada jalan Trans Halmahera ini dan membuat fatal bagi para pelintas melalui jalur ini. Dan alternatif jalan melalui Gita ke Weda dengan memotong jalur pintas Halmahera ini meski relatif dekat jika dibandingkan dengan melalui jalur Ternate-Sofifi lalu kemudian mengikuti jalur Trans Halmahera yang melewati Beberapa kecamatan dan Desa di Halamhera Timur lalu kemudian sampai ke Weda Halmahera Tengah.
tepian Jalan saat masuk ke weda selalu menghampar pesisir pantai yang menawan  
Perkembangan terbaru jalan lintas Propinsi ini dikabarkan telah banyak mengalami perbaikan setelah administrasi ibu kota pemerintahan Halmahera Tengah mulai dioperasikan di Weda setelah sekian lama bahkan jauh sebelum Maluku dimekarkan menjadi dua propinsi wilayah administratif Halmahera Tengah dengan berbagai urusan kepemerintahan termasuk instansi-instansi Pemerintah Daerah banyak yang beroperasi di Tidore. Akhirnya sekitar 5 atau 6 Jam dengan kondisi jalan pada musim hujan seperti itu membuat kami tiba di Weda dengan Mobil Kijang Model lama itu dengan hampir semua penumpang yang berjumlah 6 orang dalam kondisi lelah dan mabuk Darat.
Wilayah pemerintahan Kabupaten Halteng saat ini sesuai Perda Kabupaten Halteng nomor 03 tahun 2005 dibagi dalam 6 (enam) kecamatan dengan 33 desa. Berdasarkan persentase perkembangan desa tahun 2005, desa swakarya 54,55%, dan desa swasembada 45,45%, (Halteng Dalam Angka, 2003). Wilayah pemerintahan kabupaten Halteng dibagi dalam 6 kecamatan;
1. kecamatan Weda Tengah Ibu Kota Weda ( 5 Desa)
2. kecamatan Weda Selatan Ibu Kota Wairoro (5 Desa)
3. kecamatan Weda Utara Ibu kota Sagea (7 Desa)
4. kecamatan Patani Ibu Kota Kepai ( 6 Desa)
5. kecamatan Patani Utara Ibu Kota Tepeleo (5 Desa)
6. kecamatan Pulau Gebe Ibu Kota Kapaleo ( 5 Desa).

sebagaian besar pulau Halmahera yang termasuk dalam wilayah kabupaten Halteng adalah berupa daerah perbukitan dan pegunungan, yaitu seluas 177.179,35 Ha atau 69,99 % dari luas wilayah. Daerah perbukitan sebagian besar tersebar merata di kecamatan Weda, yaitu seluas 176.706,35 Ha, sedangkan daratan terjal atau daerah pegunungan terdapat di sekitar gunung Batu Sulat. Berdasarkan jenis komoditas utama yang dapat dikembangkan, maka kabupaten Halmahera Tengah dikelompokkan menurut ketinggian <> 40 %, yaitu seluas 182.927,06 Ha atau 72,05 % dari luas wilayah. Daerah tersebut sebagian besar di kecamatan Weda dengan fisiografi berupa perbukitan dan pegunungan, (Potensi dan Peluang Investasi Halteng, 2007: 2). Kabupaten Halteng terletak antara 0°45’ Lintang Utara sampai 0°15 Lintang Selatan, dan 127° 45’ - 129° 26’ Bujur Timur. Secara geografis daerah Halteng dibatasi oleh; wilayah Kabupaten Halmahera Timur di sebelah Utara, wilayah Kabupaten Halmahera Selatan di sebelah selatan, Kota Tidore Kepulauan di sebelah Barat, dan Provinsi-provinsi Irian Jaya Barat di sebelah Timur. Daerah Halteng merupakan daerah pantai karena kurang lebih 80% Desa/Kelurahan berada di daerah pantai sedangkan 20% lainnya berada di daerah pegunungan.
Gambar ini diambil dari atas puncak lokasi Kantor Bupati Halteng,
sebagian menampakan Kota dan Teluk Weda 
Enam kecamatan yang ada di kabupaten Halmahera Tengah 5 di antaranya berada di daratan Halmahera, sedangkan pulau Gebe berada di pulau Gebe yang terletak di sebelah Timur pulau Halmahera. Luas daratan Halmahera Tengah 2.539,1128 km², sedangkan luas daratan berdasarkan wilayah pemerintahan, yaitu kecamatan Weda 797,4992 km², kecamatan Weda Selatan 237,4568 km², kecamatan Weda Utara 627,6478 km², kecamatan Pulau Gebe 200,0819 km², kecamatan Patani 466,7469km², dan kecamatan Patani Utara 209,6802 km². Penduduk Penduduk kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2005 berjumlah 44.361 jiwa yang terdiri dari 22.093 (49,80%) laki-laki dan 22.268 (50,20%) perempuan. Jika dibandingkan dengan luas wilayah daerah Halmahera Tengah, maka rata-rata penduduk per km² adalah 20 jiwa per km², (Kab. Halteng, 2007). Kecamatan yang memiliki jumlah terbesar penduduk di daerah Hamahera Tengah adalah kecamatan Patani Utara yang berjumlah sebanyak 8. 492 jiwa, sedangkan kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah kecamatan Weda Selatan yang hanya berjumlah 5.322 jiwa. Ditinjau dari kepadatan penduduk, maka kecamatan Patani Utara menjadi salah satu kecamatan yang paling padat penduduknya dengan jumlah 160 jiwa per km², menyusul pulau Gebe, 73 jiwa per km², sedangkan yang paling jarang penduduknya adalah kecamatan Weda Utara, yaitu 7 jiwa per km².

FOLKLOR WEDA, PATANI DAN MABA

Patani, Weda, dan Maba berasal dari folklor (cerita rakyat) Gamrange, yaitu cerita tiga negeri. Ketiga nama ini adalah nama yang diberikan seorang ayah pada anak-anaknya, satu hari sebelum ia meninggal. Anak yang pertama diberi nama Wobon, artinya pertama atau anak sulung. Anak kedua diberi nama Fyatani, artinya ciong (cium) atau tengah, dan yang ketiga diberi nama Boworo/ Woro, yang berarti penghabisan. Selain pemberian nama, ayahnya juga memberikan bekal ilmu pengetahuan yang disampaikan melalui bentuk simbol pada ketiga anaknya. Wobon diberi tombak dan parang sebagai simbol laki-laki yang berarti kejantanan, yang dimaknai tanggung jawab. Fyatani diberikan ilmu agama, yang berarti pengetahuan tentang agama, yang dimaknai sebagai anak atau masyarakat yang ahli agama, dan Woro dibekali dengan kecerdasan, yang berarti seorang pemimpin, dan dimaknai sebagai orang atau masyarakat yang memiliki pengetahuan ilmu pemerintahan.
Talaga Weda diyakini sebagai cikal bakal dari Weda Kini dengan berbagai kisah yang bernuansa mitis
Dalam tataran yang lebih luas, jika nama ini disusun berdasarkan strukturnya dan dibaca secara heuristik maka akan menjadi, “sulung, ciung, habis (Woro)”, yang berarti “Hai anakku yang sulung (semua anaknya) marilah kita cium supaya habis”. Kalimat ini kemudian menjadi sebuah pengantar terhadap nasib yang akan menimpa ketiga anak ini pada kehidupan selanjutnya. Tetapi, ungkapan kasih sayang ibunya ternyata bukan petunjuk terhadap nasib baik yang akan dialami ketiga bersaudara ini. Dalam perjalanan kehidupan ketiga anak ini dilalui dengan penuh duka, yaitu perpisahan diantara mereka di tengah hutan. Melalui peristiwa ketujuh inilah cikal-bakal lahirnya teluk Weda, dan tanjung Patani yang diawali oleh terpisahnya ketiga bersaudara ini di tengah hutan, setelah ibunya juga meninggal. Kini mereka hidup tanpa ayah, dan ibu, dan akhirnya di tengah hutan mereka juga terpisah. Wobon sangat berduka, sebab kedua adiknya Fyatani dan Woro tidak lagi bersamanya. Di tengah kesedihannya Wobon kemudian bermimpi bertemu ibunya.

“Wobon tidak usah kamu bersedih dan tidak usah kemana-mana mencari saudaramu itu karena suatu saat nanti di tempatmu ini (Maba) akan banyak orang bersamamu. Tidak usah kamu pikirkan saudara-saudaramu karena mereka tidak meninggal atau hilang. Suatu saat nanti kamu akan bertemu mereka. Jika kamu sudah mendengar kabar mereka maka pergilah cari saudaramu itu”, (Faaroek, 2003: 19-20).

Muatan peristiwa kedelapan menjadi titik pusat (klimaks), dan menjawab peristiwa yang akan terjadi selanjutnya, yang berlawanan dengan konteks peristiwa sebelumnya yang dialami oleh ketiga orang bersaudara untuk selalu bersama, dan menyangi (perpisahan di tengah hutan). Konteks peristiwa yang saling berlawanan ini melahirkan suatu kehidupan baru yang lebih kompleks melalui suatu daerah yang bernama Halmahera Tengah. Orang-orang datang dari berbagai tempat untuk mencari nafkah, dan hidup bersama dalam ikatan persaudaraan. Peristiwa ini menjadi penggerak peristiwa selanjutnya untuk memasuki peristiwa kesembilan, tempat orang-orang yang mulai berdatangan ke pulau Halmahera, yang menjadi sumber informasi bagi Wobon, yaitu mengetahui dimana sekarang saudara-saudaranya berada. Fyatani hidup seorang diri di Tanjung Patani dan Woro hidup seorang diri di Teluk Weda. Tanjung dan teluk yang dimaksud adalah Tanjung Patani, dan Teluk Weda sekarang.

BERSAMBUNG





0 komentar: