Nov 24, 2009

Seputar Pemikiran Filsafat Tekhnologi

(Kritikan Andrew Feenberg Terhadap Heidegger dan Albert Borgmann)

Oleh : Yunan Syahpora

Filsafat Tekhnologi tergolong masih baru dalam dalam ranah filsafat kontemporer. Dimana wacana filsafat dan science kini mulai menjadi sebuah disiplin ilmu yang diminati 10 tahun belakangan ini. Seperti eksistensialisme menjadi trend bahkan diklaim oleh Sartre sebagai sebuah filsafat yang menjadi tren era 80-an , filsafat Tekhnologi kini menjadi trend seiring dengan perkembangan era tekhnologi dan digitalisasi yang menyentuh dihampir segala aspek kehidupan manusia. Beberapa filsuf yang cukup mempunyai pengaruh di ranah filsafat tekhnologi diantaranya adalah Heidegger , Don Ihde, Jaques Ellul, Andrew Feenberg hingga para filsuf tekhnologi kontemporer baru yang juga turut mewarnai khazanah pemikiran filsafat tekhnologi yang menarik untuk ditelaah lebih jauh. Seperti pada wacana kritikan Andrew Feenberg terhadap Heidegger dan Albert Borgmann yang terkenal dengan ungkapan “Focal Things” (atau yang hal hal yang memusatkan) dan Kierkegaard menyangkut dengan “Enframing” (pembingkaian). Heidegger pernah mengunggkap bahwa Teknologi adalah suatu penyingkapkan kebenaran . Bukan hanya itu saja Heidegger berpendapat tentang teknologi, yang mempunyai perbedaan antara teknologi moderen dan teknologi kuno. Yang pertama yaitu teknologi modren bukanlah seni tangan (Work Of Craftmanship), namun suatu penyingkapkan yang kemudian membedakan antara seni dan tekhnologi. adapun yang menbedakan teknologi modren dan teknologi kuno adalah teknologi tidak melibatkan suatu yang mengemukakan ke-hadapan dalam arti poiesis, yakni perbuatan sendiri seperti menulis puisi, sedangkan teknologi kuno mempunyai sifat –sifat mencipta yang puitis. Dalam buku “The Question Concering Tochology” Heidegger tidak banyak membahas bagaimana menghadapi bahaya pandangan tersebut, akan tetapi dapat di simpulkan bahwa ada 2 hal, yang pertama pertanyaan kritis terhadap teknologi untuk menyadari ketersembunyian dan penyikapan kebenaran dapat membatasi pandangan bahwa dunia seluuhnya adalah persediaan semata – mata. Dalam kata Heidegger sendiri bahwa “relasi yang bebas dengan teknologi”. Yang kedua pengayaan penyikapan teknologi atau pandangan alternatif dari Get – stell dilakukan dengan menghidupkan kembali Techne sebgai seni yang dapat membendung pemakaman tentang dunia melulu sebagai persediaanya(standing reserve). Sementara lebih menyoroti pada “focal things” atau hal-hal yang memusatkan. Borgman memberikan contoh yang menyangkut dengan tungku perapian modern yang memusatkan orang tidak pada urutan kerja yang membuat orang berusaha menghadirkan tungku perapian secara tradisional seperti mengumpulkan kayu bakar dan lain sebagainya. Termasuk alat microwave dan makanan siap saji yang secara efisien dapat dihadirkan secara cepat namun menurut kritikan dari Andrew Feenberg seorang Filsuf Canada membuat manusia dihadapkan pada keringnya arti humanisme. Hal yang samapun ia mengkritik Heidegger dengan efisiensi produk tekhnologi yang tidak selesai dipecahkan oleh Heidegger sendiri menyangkut dengan ketergantungannya pada tekhnologi. Pada Andrew Feenberg, objek kajian Borgman mengenai “paradigma perangkat” hanya dilihat dari sudut efisiensinya saja namun tidak melihat sejauh mana akibat apa yang ditimbulkan oleh “paradigma perangkat” tersebut. Misalnya makanan cepat saji yang dengan begitu cepat disediakan dan begitu instan sehingga meretas ruang dan waktu. Orang kemudian hanya mempunyai sedikit waktu untuk bersosialisasi. Begitupun dengan pertimbangan kalori dari makanan cepat saji yang tersedia sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia pertimbangan akan nilai gizinya kadang terabaikan. Itulah sekiranya yang menjadi objek kritikan yang dilontarkan oleh Andrew Feenberg.


Nov 9, 2009

DIBALIK KULIAH EPISTEMOLOGY PROF. DR PARK HEE YOUNG

By Yunan Syahpora
Ada pengalaman yang cukup mengesankan ketika mendapat kuliah dari Prof Dr Park Hee Young selama hampir dua minggu menyangkut dengan epistemology. Dalam kapasitasnya sebagai dosen tamu dari Hankuk University Korea Selatan. Beliau cukup memberikan perspektif baru mengenai cara pandang epistemology dan metode pengajaran yang sistematis mengenai epistemology kepada angkatan 2009 program pasca sarjana Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat Ugm. Meski dengan aksen inggrisnya yang masih kental korea, namun beliau berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan dengan pendekatan sejarah cerita-cerita mitos hingga sampai ke wacana pemikiran filsafat terkini versi Eropa melalui penuturan pengalaman beliau selama kuliah di Sorborn University Prancis.
Awal pertemuan kuliah epistemology dari Prof Park diawali dengan pengenalan alfabeth Yunani dan Latin yang sengaja dilibatkan oleh seluruh peserta kuliah. Kesan yang tertangkap dari pendekatan awal kuliah yang dimulai dengan metode seperti ini tidak lain adalah bagaimana setiap Mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya tidak hanya memahami filsafat dalam pengertian secara tekstual melainkan konsep pikir dari para mahasiswanya seolah dibangun dengan landasan yang sangat Yunani karena ada beberapa analogi yang tujuannya menjernihkan istilah istilah lingusitik hingga ke hermeneutik maupun yang berangkat dari mitologi hingga ke yang logis. Tema-tema epistemology Prof Park cukup banyak dipaparkan dengan analogi maupun symbol-simbol (alphabet) yunani kesemuanya berbanding lurus dengan materi kajian beliau menyangkut dengan epistemology.
Dalam sesi lain contoh yang sering diangkat ketika terlihat beliau cukup kerepotan dalam menjelaskan maksud sesungguhnya yang terkandung dalam pengertian epistemologis. Sehingga pada tahap ini terlihat Prof Park berupaya merambah keranah publik kehidupan anak-anak muda dengan dinamika percintaan dan berbagai permasalahannya yang dihadapi. Ini semua dimaksudkan agar wacana epsitemologi dapat dengan mudah dicerna dalam pengertian yang lebih sederhana. Namun tidak keluar dari konteks yang tetap berhubungan dengan tema-tema epistemologis. Kesan yang tampak disini ada beberapa kali analogi melalui cerita yang sering dipakai, sebagai contoh semisal dengan kata-kata Mr Park: “When Boy Met Girls…or if a girlfriend while waiting his boyfriend in Caffe”.
Dengan pendekatan ala anak muda ini Prof Park Hee Young tampak berupaya keras agar apa yang ia sampaikan mengenai epistemology dapat dipahami oleh para mahasiswanya meski kendala utama bahasa namun kelas filsafat 2009 cukup antusias dan komunikatif dalam tiap sesi kuliah berlangsung. Setelah Hampir dua minggu kuliah epistemology dari Guru Besar dibidang filsafat ini beliau mengakhiri dengan ujian lisan dengan meminta tiap mahasiswa untuk membuat artikel singkat seputar Mitology hingga ke Logika dalam hubungannya dengan perkembangan epistemology. Kemudian artikel (Disertasi, dalam bahasa beliau) diminta untuk dijelaskan secara lisan satu persatu dengan menggunakan bahasa inggris.
Dari rangkaian kuliah epsitemologi secara keseluruhan yang cukup menjadi kesan pada kelas Filsafat angkatan 2009 ini adalah keakraban dan kesehajaan yang tampak ketika setelah usai pemaparan materi kuliah. Pada suatu kesempatan rasa ingin tahu dari sebagian dari teman dengan pertanyaan mengyangkut dengan budaya Korea, pengalaman belajar beliau di Prenacis hingga menanyakan info untuk beasiswa Filsafat ke luar negeri terpaksa dilanjutkan di kantin. Dan tak terduga ekspresi sang Prof dibidang epistemology ini pun larut dengan suasana santai dan riang seolah kesan yang tampak beliau sangat familiar dengan tiap mahasiswa ketika tugas utamanya telah selesai dijalankan. Dan kamipun ekspresif bahkan akan selalu mengenang cara bertutur bahasa inggrisnya dengan aksen koreanya yang cukup kental membuat tiap sesi dalam perkuliahan menjadi segar dengan celoteh humor, sebab ada saja salah pengertian dari bahasa yang kadang-kadang antara penanya dan yang menjawab mempunyai maksud yang berlainan atau sendiri sendiri. But At Least We Love It… Prof.. 


Sep 14, 2009

FROM YOGYA WITH RAMADHAN STORY

Ada sesuatu yang terasa memberatkan hati ketika harus memulai lagi sebuah ritme kehidupan baru dengan adaptasi lingkungan yang baru pula. Dalam catatan ringan ini sengaja kutuangkan tentang bagaimana beratnya ketika harus rehat sejenak dengan kehidupan keluarga yang telah diakrabi bertahun-tahun dalam rangka untuk sekolah lagi. 
saat menjemput seorang kawan yang juga mau bergabung di Yogya
gambar diambil dibandara Adisucipto

Dan biarkanlah gambar yang bicara ketika memulai dengan lingkungan dan suasana yang baru untuk sekedar mengapresiasi betapa hidup dengan lingkungan yang baru ini selalu tidak mudah ketika baru saja akan dimulai. Menjadi berat dan sedikit menyesakkan dada ketika harus berpisah dengan keluarga disaat bulan ramadhan.
saat sahuran diwarung makan setelah tiba di Yogya
meski dengan menu maupun dengan keadaan yang seadanya.

Pada saat seperti ini biasanya menjadi moment yang termesra dalam keluarga ketika bulan puasa, dimana hampir semua keluarga akan berkumpul dan menunaikan ibadah puasa bersama. Namun berbeda dengan sebagian orang lainnya, pada moment seperti ini justru mereka harus berpisah sejenak dengan keluarga. Sebab awal perkuliahan dalam semester baru sudah harus dimulai bertetapata dengan awalnya bulan puasa.
pagi hari pertama di Monjali, Karangjati siap-siap untuk daftar ulang

Teringat seorang rekan yang harus meninggalkan keluarganya disaat seminggu sebelum lebaran, sebab sudah harus mendaftar ulang untuk menyatakan kesediaan sekolah disaat waktu-waktu yang terasa tidak tepat. Dan betapa berat rekan tersebut ketika harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil disaat suasana gembira dalam menyambut hari raya lebaran.
mulai menata kamar dan perabotannya setelah mendapat
Kontrakan Di Jl Kaliurang-KarangWuni

Inilah yang kemudian menjadi patokan sebagian teman-teman yang juga harus meninggalkan keluarga disaat waktu yang sama pula. Periode tahun ajaran 2009/2010 kami berdelapan mendapat kesempatan untuk menempuh studi di yogya dengan rincian 7 orang mahasisw a menepuh jenjang master dan seorang doktor.
mulai menyusuri jalan-jalan di Yogya dengan berjalan kaki

Namun yang akan diuraikan dalam catatan ringan ini lebih pada upaya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru disaat-saat waktu yang serasa kurang pas pada saat akan mulai kuliah pada semester baru.
menanti buka puasa ditengah jantung kota Jogya

Dan selanjutnya interpretasi gambarlah yang akan menceritkan saat-saat awal kami tiba di Yogya dan memulai dengan kesibukan-kesibukan yang baru.  

akhirnya buka juga dijalan walau sekedar dengan menghilangkan dahaga


Sesi lain ketika di FIB UGM


sesi lain ketika berbuka di kontrakan, lihat menunya..mesti sabar..

Aug 13, 2009

APRESIASI FILOSOFIS TERHADAP ARTEFAK SEJARAH TERNATE MELALUI UNGKAPAN KATA DAN SEJUMLAH “TANDA” (Sebuah Essay)

Oleh
Syahyunan Pora, S.Fil

Apa yang terdengar mengenai istilah “Semiotik”, “Metafora”, “Analogi” bahkan sampai ke isyarat lisan maupun bahasa semafor, semuanya hanya dapat saya simpulkan dengan : “tanda-pertanda, atau bisa juga dengan tanda-tanda”. Berbeda kemudian jika tanda-tanda itu tidak dipahami lagi sebagai sesuatu yang bermakna dalam kehidupan kita. singkatnya tanda-pertanda atau tanda-tanda merupakan suatu cara untuk menandai ciri tertentu untuk dikenali, dimengerti, dipahami,dimaklumi atau bisa juga menyingkap makna apa yang tersirat dibalik suatu tanda tersebut. Kita seringkali tanpa sadar menandai sesuatu dengan keadaan alam yang sedang berpancaroba.

Misalkan, “Dulu sewaktu masih di sekolah dasar dulu, benteng Santa Lucia atau benteng Kalamata masih jauh dengan air laut alias belum terkena abrasi” atau “Oo..Ngana datang dulu tu, Sweering bo’long jadi” atau “cewek yang bertahi lalat dibibir itu pertanda cerewet”. Arti yang menandakan kata ”Sweering” yang belum jadi itu, bisa saja mengandung arti dengan Ternate yang belum semarak dan seramai kini, (sebab belum ada kosentrasi warga pada sebuah tempat sebagai tempat santai disore ataupun malam hari) sementara maksud kata dari “Sweering” itu sendiri berasal dari asal kata bahasa Belanda “Zweering” yang berarti tapal batas yang memagari/menghalangi (pada konteks abrasi pantai). Dari arti makna kata yang tersirat maupun yang tersurat mengandung multi tafsir arti dari berbagai pengandaian diatas. Pertama: ukuran waktu masa lalu dan masa kini yang menandai situs sejarah tersebut untuk selalu menjadi perhatian khusus bagi instansi ataupun dinas terkait sebab ancaman abrasi pantai yang lama-kelamaan dapat meruntuhkan sejarah benteng tersebut. Kedua: Apakah makna kata Sweering atau Zweering yang kini menjadi identik dengan tempat santai warga Ternate di Sore hari maupun malam hari sudah selayaknya dimapankan sebagai sebuah trademark yang menghilangkan identitas lokalitas etnik sebuah tempat?. Misalkan menyematkan nama sebuah tempat yang sedikit mengandung arti sejarah ataupun ada nilai apresiatif didalamanya. Seperti Taman Dodoku Ali, Pasar Gamalama ataupun lapangan Ngara Lamo.

Dan sepanjang pengetahuan bersama mengenai sejumlah nama tempat, entah itu nama jalan ataupun ruang-ruang publik lainnya di Kota ini masih banyak yang belum teridentifikasi dengan nama-nama yang mengandung rasa apresiasi terhadap lokalitas etnik maupun yang bernuansa Sejarah. Sehingga tidaklah mengherankan dengan ekses tempat santai berupa Sweering ataupun Tapak II, III atau yang lainnya akan menjadi sesuatu kata yang familliar bagi warga Kota Ternate untuk menyematkan sebagai trademark ruang-ruang publik tersebut yang lama- kelamaan bisa mengandung arti negatif. Persoalannya kemudian akan menjadi lain (latah) dan bisa dibilang tidak kreatif jika hal sepele ini mengaburkan identitas hanya karena sebuah tanda dari nama-nama yang ada. Misalnya ada sebuah tempat di Halbar (Halmahera Barat) yang kini mulai dikenal oleh hampir sebagian besar warga Jailolo dengan sebutan Alun-Alun. Ketika orang menyebut alun-alun bukankah kata itu lebih familiar dan mengandung makna pada istilah kata yang berasal dari bahasa Jawa?. Sementara konteks kekinian yang ada pada budaya dan bahasa kita sendiri mungkin masih banyak yang belum termaknai dengan nama-nama ataupun istilah yang berangkat dari budaya sendiri (Hibua Lamo, dll misalnya).

Dalam kasus ini, akan berbeda jauh jika mau dikorelasikan dengan konteks nama Falajawa, Kampung Makasar atau dengan yang lainnya, yang kebetulan juga ada di Ternate. Sebab kronologis sejarahnya justru lebih kental menautkan sejarah Ternate masa lalu dan Ternate masa kini yang berhubungan dengan ekspansi, koloni maupun remah-remah yang melekat pada identitas Ke-Moloku Kieraha-an sebagai sebuah kerajaan. Sebagai putra daerah seringkali saya merasa malu, ketika ada seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Jakarta dan sempat bertandang ke situs-situs sejarah Ternate, misalnya seperti Benteng Oranye yang tampilannya sudah tidak sesuai dengan wujud aslinya karena pemugaran yang terkesan asal-asalan, begitupun dengan benteng-benteng lainnya yang dilengkapi dengan Taman Bermain. Sama halnya dengan pertanyaan yang kerap kita dengar seperti ”Dimanakah prasasti atau tugu yang menandai atau sebagai simbol kedatangan para gujarat arab atau bangsa-bangsa eropa yang pertama kali menginjakan kaki pertama kali di Jazirah tul Muluk ini. Misalnya jika memang pendaratan pertama kali bangsa-bangsa Eropa menginjakkan kakinya di Ternate ini dimulai dari pantai Talangame (Bastiong kini) lantas? Dimanakah Tugu atau Prasastinya sebagai sebuah penanda! Atau jangan-jangan saya yang keliru mengartikan tanda bahwa wanita yang bertahi lalat di bibir itu cerewet plus judes. Sebab bisa jadi tahi lalat itu sebagai tanda penghias bibir, dan dimanapun letaknya niscaya tetap indah dipandang mata selama nokhtah hitam itu masih tetap diatas bibir. Berbeda kemudian jika itu menjadi buah bibir yang dapat melecehkan harkat dan martabat seseorang sebab tanda-tanda fisik sekalipun kecil bentuknya, kadang-kadang tanpa sadar, sering kita memaknai itu dengan ungkapan yang sarkastis maupun yang rasialis....sehingga kritik pun telah berbuah pencemaran nama baik.....Naudzuubilahi mindzalik..




ETNISITAS DAN INTEGRASI SOSIO KULTURAL MASYARAKAT TRANS SUBAIM HALMAHERA TIMUR


Oleh
Syahyunan Pora

Sejak pertama kali dibuka lokasi transmigrasi subaim pada Tahun 1982 yang saat itu diprakarsai oleh Pemerintah Kab Dati II Halteng, yang mana otonomi daerahnya masih dibawah propinsi induk yaitu Propinsi Maluku. Pelaksananya dalam hal ini adalah Dinas Transmigrasi Kabupaten. Gelombang pertama saat Transmigrasi Subaim baru pertama dibuka sekitar 500-an hingga 700-an per KK warga trans yang didatangan dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Diantaranya dari Jawa Timur, yang meliputi Jember,Banyuwangi dan Madura, Jawa Tengah, Cilacap, Kebumen dan Banyumas dan dari Jawa Barat sebagian besar dari Sukabumi Dan sebagian kecilnya dari Tasikmalaya. Selain dari warga transmigran yang berasal dari Pulau Jawa ada juga Transmigran Lokal (Translok) yang berasal dari suku Tidore dan Maba.Sesuai dengan data informan warga Trans SP1 Desa Bumi Restu, Pak Darmiyanto, yang juga salah seorang transmigran asal Cilacap Jawa Tengah mengatakan, pada gelombang pertama transmigran yang berasal dari jawa ketika pertama kali didatangkan oleh pemerintah belum secara keseluruhan mendapatkan lahan.Baru pada gelombang II bersamaan dengan Transmigran lokal lahan persawahan dan perkebunan mulai digarap. Hingga kini Satuan Pemukiman (SP)1 yang telah dimekarkan menjadi Mekar Sari dan Bumi Restu yang dihuni oleh warga transmigran kurang lebih 3000 Jiwa penduduk. Dengan rincian data yang diperoleh dari Kantor Desa Bumi Restu sebanyak 1820 jiwa penduduk sementara Desa Mekar Sari berjumlah 1255 jiwa penduduk dengan masing-masing data yang diperoleh bersumber pada thn 2008. Dengan jumlah penduduk yang berasal dari suku bangsa yang beragam dalam satu wilayah pemukiman transmigrasi interaksi sosial sesama warga tidak bisa dielakan dengan berbagai konsekuensi plus-minusnya. Pada kegiatan sosial yang melibatkan semua suku dari warga trans di Bumi Restu sering melibatkan beragam suku di saat kegiatan kerja bakti bersama untuk membangun rumah-rumah Ibadah misalnya, ataupun kerja sama dalam mengolah hasil panen. Meski ketika awal penempatan warga di lokasi trans ini dengan berbagai suku pernah menjadi tarik ulur dalam hal penggarapan usaha perkebunan maupun pertanian. Yang masih menurut informan Pak Darmiyanto mengandung potensi konflik saat pertama kali daerah transmigrasi ini baru dibuka. Sebab keinginan membuka lahan usaha untuk persawahan (lahan Basah, seperti bercocok tanam padi) sebagian besar diinginkan oleh warga pendatang dari Suku Jawa sementara dari warga translokal yang kebanyakan berasal dari suku asli lebih menginginkan untuk bercocok tanam untuk menggarap lahan kering atau tanaman pangan. Namun potensi konflik sesama warga trans ini kemudian tidak berlanjut dengan inisiatif tokoh

masyarakat setempat untuk menengahi permasalahan ini sehingga kini tidak sedikit sesama warga Trans yang berasal dari suku aslipun dapat menggarap sawah sama halnya dengan para warga trans pendatang yang kini sudah banyak yang mahir dalam bercocok tanam di lahan yang kering. Seperti mengolah perkebunan Kelapa, Kakao dan Pala. Interaksi budaya relatif masih dipertahankan dari sesama warga pendatang dari berbagai suku yang berasal dari Jawa. Hal ini masih dapat dilihat dari berbagai macam kegiatan dalam perayaan hari hari besar agama maupun hari-hari besar nasional. Bahkan masih dianggap kental budaya jawa yang mewarnai keseharian warga trans Subaim. Dimana pada saat tertentu ketika ada hajatan keluarga berupa acara perkawinan di lokasi Trans ini hampir 80% sajian kebudayaan jawa melalui seni tari dan pegelaran wayang semalam suntuk, maupun atraksi dolanan jaranan kepang ataupun kuda lumping masih sering digelar. Walau kini frekuensinya berkesenian yang dapat mengikat toleransi kegiatan kebudayaan sesama warga pendatang maupun penduduk asli/warga trans lokal sedikit berkurang. Ini disebabkan oleh kondisi ekonomi warga yang pada 3 tahun belakangan ini sementara menurun karena hasil produksi dibidang pertanian wargapun ikut terkena dampak konflik horisontal. Sama halnya ketika dibukanya area pertambangan di areal sekitar lokasi Trans Subaim tidak sedikit warga yang turut beralih profesi dari petani ke buruh tambang ataupun disektor lain seperti menjadi pedagang umumnya. Namun kemudian akibat krisis global sehingga banyak karyawan/buruh tambang yang di PHK, bisa dikatakan lahan sawah aktif yang awalnya digarap secara serius kini banyak yang terbengkalai atau menjadi bongkor sekitar 40%. Dalam interaksi kebudayaan, warga pendatang lebih permisif untuk menerima budaya-budaya lokal dari penduduk asli Halmahera seperti dari suku Tidore, Maba dan Tobelo. Kebalikan dari suku asli yang masih relatif tertutup untuk menerima kebudayaan warga pendatang khususnya dalam bentuk kesenian dan tradisi adat yang juga berfungsi sebagai kontrol sosial sesama warga trans yang berasal dari suku jawa meski organisasi budaya atau bisa dikatakan sebagai lembaga adat itu tidak berfungsi secara organisatoris maupun terstruktur. Pengecualiannya apabila terjadi kawin silang antara suku asli dan suku pendatang maka kebudayaan dari kedua suku tersebut cenderung lebur dalam interaksi kebudayaan yang sama. Hal ini dimungkinkan oleh keturunan yang dilahirkan dalam wilayah trans masih dominan dikuasai oleh warga pendatang atau suku yang berasal dari jawa, termasuk dalam penguasaan bahasa. Mayoritasnya suku jawa pada daerah Transmigrasi Subaim dari SP1 hingga SP6 boleh dikatakan mencapai 80%, sehingga tidak menutup kemungkinan ada hal-hal yang menyangkut dengan kegiatan budaya maupun kegiatan-kegiatan sosial lainnya dapat mempengaruhi secara tidak langsung hingga ke etos kerja ke warga trans lainnya termasuk warga trans lokal yang berasal dari suku asli.

Hal ini juga disampaikan oleh Kepala Desa Mekar Sari, Pak Sutrisman yang juga dijadikan sebagai informan. Bahwa kini kegiatan sosial budaya yang melibatkan berbagai suku dalam satu lokasi trans sudah mulai lebur dengan sedikit banyaknya pengetahuan bertani di Sawah yang juga sudah dimiliki oleh suku yang berasal dari warga trans lokal. Misalnya orang Tidore dan orang Maba. Indikasi ini diperkuat dengan mulainya warga dari suku asli (trans lokal) sudah sedikit banyak memiliki sawah. Sementara dari warga trans atau dari suku Jawa sendiri tidak sedikit yang terlanjur menjual area persawahannya untuk beralih ke profesi lain (indikasinya tertarik dengan penghasilan yang lebih besar kemudian beralih profesi ke Buruh tambang di Pertambangan nikel yang baru dibuka). Dengan tingkat keuletan yang tinggi serta keseriusannya dalam menggarap lahan persawahan memberikan implikasi penguasaan sumber daya ekonomi di lokasi Trans Subaim ini lebih didominasi oleh Suku Jawa umumnya dibidang pertanian dan perkebunan. Sebagian kecil dari Suku Sunda. Bisa saja cara pandang kebudayaan menurut etos kerja setiap warga transmigran yang berasal dari suku Jawa ketika sesampainya di daerah Trans, mereka sudah jauh-jauh hari dibekali dengan motifasi yang kuat untuk mau merubah nasib. Sehingga bisa dikatakan ketika ada warga dari suku jawa yang mau mengikuti program pemerintah sebagai peserta transmigrasi kedaerah-daerah yang baru dibuka, meski jauh dari tanah leluhurnya. Bisa dikatakan bahwa filosofi hidup suku Jawa dengan ungkapan ” Mangan Ora Mangan Ngumpul”(makan tidak makan kumpul) yang sudah teratanam kuat dalam kebudayaan Jawa itu sendiri, kini perlahan-lahan mulai tergerus oleh perubahan zaman.





Aug 10, 2009

KOMUNITAS SENIMAN TERNATE MENGENANG “SI BURUNG MERAK” W.S RENDRA

Bertempat di Benteng Kalamata Ternate, sejumlah Komunitas Seniman dan Pemerhati Sastra Ternate pun tak ketinggalan turut mengenang Maestro sastrawan dan penyair besar Indonesia W S Rendra. Acara yang diprakarsai oleh komunitas seni dan pemerhati sastra maupun budaya Maluku Utara ”MATAHATI” menampilkan monolog dan pembacaan karya-karya puisi W.S Rendra. Dalam kesempatan mengenang sang Burung Merak itu, turut ambil bagian dalam hajatan tersebut adalah komunitas seniman Vala Art Ternate, Rastara No Ate, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Unkhair dan tampak juga tak ketinggalan beberapa Dosen Jurusan Sejarah Universitas Khairun Ternate.
Acara yang biasanya menjadi agenda seni tiap sabtu sore dalam tajuk secangkir kopi Matahati ini dikemas dalam satu paket untuk mengenang Si Burung Merak W.S Rendra yang mengambil tempat di Benteng Kalamata Ternate Sabtu Sore 8/8/09. Pada kesempatan pertemuan rutin sabtu sore itu, agenda ”bacarita” secangkir Kopi Matahati membahas topik tentang ”Tong Pe Budaya, Sapa Yang Faduli” dan kemudian dilanjutkan dengan teatrikal Matahati dan Sketsa (Sanggar Kreasi Teater Sastra) yang dipentaskan oleh Bahtiar, Arifin, Mamat, Mujahid serta monolog tunggal yang dibawakan oleh Syahyunan Pora, Staf Pengajar Fakultas Sastra Unkhair Ternate.
Dalam sesi lanjutan, komunitas seni yang hadir pada kesempatan itu seperti Fala Arts dan Rastara No Ate, memberikan kesan mengenai pengalaman mereka terhadap sosok Rendra yang juga sempat bersua dengan beberapa komunitas seniman dan pemerhati Sastra di daerah ini beberapa waktu lalu saat HNNB eringatan Legu Gam atau Pesta Budaya Rakyat Ternate.
Tampak kesan yang disampaikan oleh beberapa anggota komunitas seni di Ternate ini menimbulkan keharuan tersendiri, ketika masing-masing menyampaikan pengalaman mereka saat bertemu langsung dengan Sang Maestro yang semasa hidup dikenal akrab kepada hampir semua kelompok seniman, para sastrawan maupun teatrikawan dan beberapa kelompok penyanyi bahkan pengamen jalanan. Is dan Uce dari Fala Art Ternate juga memberikan kesan yang sama dalam menangkap sosok besar seorang Rendra yang masih tetap bersahaja dan tetap intens dalam dunia Seni dan Sastra yang ia geluti sampai akhir hayatnya.
Selamat Jalan Abang...Semangat serta Idealismemu akan selalu terjaga dan tetap menjadi cambuk dan cermin kepada kita, agar kita selalu kreatif dan kritis membedah fenomena zaman dalam frame sosial, budaya maupun Politik walau hanya lewat jalan berkesenian dan ekspresi kebudayaan.
Dan dengan harapan besar, kita juga mampu mengaktualisasikan nilai-nilai positif berkebudayaan dan berkesenian sesuai dengan harkat dan martabat Bangsa Indonesia. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya serta teriring salam dari Komunitas Seni dan Pemerhati Sastra Ternate. Semoga keluarga yang ditinggalkan selalu mendapat kekuatan dan Hidayah dari Allah SWT ..AMIN




Aug 6, 2009

CATATAN PERJALANAN KE WEDA HALMAHERA TENGAH (BAG. I)


Oleh
Syahyunan Pora & Wildan

Kali ini sedikit goresan tulisan yang terdokumentasi dalam catatan perjalanan saya dalam setiap kesempatan melakukan penelitian ataupun menjadi enumerator adalah sebuah kabupaten yang ada di Pulau Halmahera. Tepatnya Halmahera Tengah dengan Weda sebagai Ibukota Kabupatennya. Pada kesempatan kali ini kami bertiga yang sama-sama dari fakultas sastra unkhair, memulai sebuah perjalanan yang cukup melelahkan dalam rangka mengumpulkan database profil budaya maupun potensi wisata Halmahera Tengah termasuk wisata sejarah. Bersama dua rekan tersebut yaitu Umi Barjiah dan Wildan kami memulai perjalanan di pagi hari dengan mengambil rute lewat jalur laut. Jam 4.30 pagi kami bertolak dari pelabuhan Bastiong menggunakan Speed boat yang juga ditumpangi oleh sekitar 20-an penumpang laiinnya yang akhirnya mengantarkan kami disebuah pulau yang bernama Pulau Gita. Dari Pulau Gita ini kami langsung melanjutkan perjalanan darat dengan mengambil jalan pintas yang dalam istilah orang-orang Maluku Utara umumnya dengan menyebut “potong payahe”. Dan memang rute perjalanan darat ini melewati sejumlah kecamatan dan Desa yang salah satunya juga disebut diatas.
Transportasi laut KM Kieraha Masih menjadi andalan perhubungan Masyarakat Halteng
cuma sayang rutenya memakan waktu yang cukup lama jika dari Ternate ke Weda
Namun dengan melewati rute perjalanan darat ini merupakan suatu tantangan tersendiri. Dengan memakan waktu sekitar 5 jam untuk menuju Weda, medan yang kami lewati melalui jalan untuk menuju Weda pas pada saat musim penghujan sehingga dengan jalan berkelok kelok dan dikiri kanan menganga jurang-jurang yang dalam serta bukit yang terjal sesekali buat kami yang bukan orang yang berasal dari daerah sekitar ataupun yang terbiasa mobile dalam kondisi seperti ini kadang-kadang menyiutkan nyali kami bertiga. Sebab dalam membelah perut Halmahera dengan mengambil jalan pintas memang menjadi satu-satunya alternatif untuk tidak memakan waktu yang lebih banyak. Meskipun dengan kondisi medan dengan jalan yang hampir sembilan puluh persen belum beraspal atau sudah beraspal namun kondisinya sangat rusak parah jika pada musim penghujan. Tak ayal banyak kecelakaan yang sering terjadi pada jalan Trans Halmahera ini dan membuat fatal bagi para pelintas melalui jalur ini. Dan alternatif jalan melalui Gita ke Weda dengan memotong jalur pintas Halmahera ini meski relatif dekat jika dibandingkan dengan melalui jalur Ternate-Sofifi lalu kemudian mengikuti jalur Trans Halmahera yang melewati Beberapa kecamatan dan Desa di Halamhera Timur lalu kemudian sampai ke Weda Halmahera Tengah.
tepian Jalan saat masuk ke weda selalu menghampar pesisir pantai yang menawan  
Perkembangan terbaru jalan lintas Propinsi ini dikabarkan telah banyak mengalami perbaikan setelah administrasi ibu kota pemerintahan Halmahera Tengah mulai dioperasikan di Weda setelah sekian lama bahkan jauh sebelum Maluku dimekarkan menjadi dua propinsi wilayah administratif Halmahera Tengah dengan berbagai urusan kepemerintahan termasuk instansi-instansi Pemerintah Daerah banyak yang beroperasi di Tidore. Akhirnya sekitar 5 atau 6 Jam dengan kondisi jalan pada musim hujan seperti itu membuat kami tiba di Weda dengan Mobil Kijang Model lama itu dengan hampir semua penumpang yang berjumlah 6 orang dalam kondisi lelah dan mabuk Darat.
Wilayah pemerintahan Kabupaten Halteng saat ini sesuai Perda Kabupaten Halteng nomor 03 tahun 2005 dibagi dalam 6 (enam) kecamatan dengan 33 desa. Berdasarkan persentase perkembangan desa tahun 2005, desa swakarya 54,55%, dan desa swasembada 45,45%, (Halteng Dalam Angka, 2003). Wilayah pemerintahan kabupaten Halteng dibagi dalam 6 kecamatan;
1. kecamatan Weda Tengah Ibu Kota Weda ( 5 Desa)
2. kecamatan Weda Selatan Ibu Kota Wairoro (5 Desa)
3. kecamatan Weda Utara Ibu kota Sagea (7 Desa)
4. kecamatan Patani Ibu Kota Kepai ( 6 Desa)
5. kecamatan Patani Utara Ibu Kota Tepeleo (5 Desa)
6. kecamatan Pulau Gebe Ibu Kota Kapaleo ( 5 Desa).

sebagaian besar pulau Halmahera yang termasuk dalam wilayah kabupaten Halteng adalah berupa daerah perbukitan dan pegunungan, yaitu seluas 177.179,35 Ha atau 69,99 % dari luas wilayah. Daerah perbukitan sebagian besar tersebar merata di kecamatan Weda, yaitu seluas 176.706,35 Ha, sedangkan daratan terjal atau daerah pegunungan terdapat di sekitar gunung Batu Sulat. Berdasarkan jenis komoditas utama yang dapat dikembangkan, maka kabupaten Halmahera Tengah dikelompokkan menurut ketinggian <> 40 %, yaitu seluas 182.927,06 Ha atau 72,05 % dari luas wilayah. Daerah tersebut sebagian besar di kecamatan Weda dengan fisiografi berupa perbukitan dan pegunungan, (Potensi dan Peluang Investasi Halteng, 2007: 2). Kabupaten Halteng terletak antara 0°45’ Lintang Utara sampai 0°15 Lintang Selatan, dan 127° 45’ - 129° 26’ Bujur Timur. Secara geografis daerah Halteng dibatasi oleh; wilayah Kabupaten Halmahera Timur di sebelah Utara, wilayah Kabupaten Halmahera Selatan di sebelah selatan, Kota Tidore Kepulauan di sebelah Barat, dan Provinsi-provinsi Irian Jaya Barat di sebelah Timur. Daerah Halteng merupakan daerah pantai karena kurang lebih 80% Desa/Kelurahan berada di daerah pantai sedangkan 20% lainnya berada di daerah pegunungan.
Gambar ini diambil dari atas puncak lokasi Kantor Bupati Halteng,
sebagian menampakan Kota dan Teluk Weda 
Enam kecamatan yang ada di kabupaten Halmahera Tengah 5 di antaranya berada di daratan Halmahera, sedangkan pulau Gebe berada di pulau Gebe yang terletak di sebelah Timur pulau Halmahera. Luas daratan Halmahera Tengah 2.539,1128 km², sedangkan luas daratan berdasarkan wilayah pemerintahan, yaitu kecamatan Weda 797,4992 km², kecamatan Weda Selatan 237,4568 km², kecamatan Weda Utara 627,6478 km², kecamatan Pulau Gebe 200,0819 km², kecamatan Patani 466,7469km², dan kecamatan Patani Utara 209,6802 km². Penduduk Penduduk kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2005 berjumlah 44.361 jiwa yang terdiri dari 22.093 (49,80%) laki-laki dan 22.268 (50,20%) perempuan. Jika dibandingkan dengan luas wilayah daerah Halmahera Tengah, maka rata-rata penduduk per km² adalah 20 jiwa per km², (Kab. Halteng, 2007). Kecamatan yang memiliki jumlah terbesar penduduk di daerah Hamahera Tengah adalah kecamatan Patani Utara yang berjumlah sebanyak 8. 492 jiwa, sedangkan kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah kecamatan Weda Selatan yang hanya berjumlah 5.322 jiwa. Ditinjau dari kepadatan penduduk, maka kecamatan Patani Utara menjadi salah satu kecamatan yang paling padat penduduknya dengan jumlah 160 jiwa per km², menyusul pulau Gebe, 73 jiwa per km², sedangkan yang paling jarang penduduknya adalah kecamatan Weda Utara, yaitu 7 jiwa per km².

FOLKLOR WEDA, PATANI DAN MABA

Patani, Weda, dan Maba berasal dari folklor (cerita rakyat) Gamrange, yaitu cerita tiga negeri. Ketiga nama ini adalah nama yang diberikan seorang ayah pada anak-anaknya, satu hari sebelum ia meninggal. Anak yang pertama diberi nama Wobon, artinya pertama atau anak sulung. Anak kedua diberi nama Fyatani, artinya ciong (cium) atau tengah, dan yang ketiga diberi nama Boworo/ Woro, yang berarti penghabisan. Selain pemberian nama, ayahnya juga memberikan bekal ilmu pengetahuan yang disampaikan melalui bentuk simbol pada ketiga anaknya. Wobon diberi tombak dan parang sebagai simbol laki-laki yang berarti kejantanan, yang dimaknai tanggung jawab. Fyatani diberikan ilmu agama, yang berarti pengetahuan tentang agama, yang dimaknai sebagai anak atau masyarakat yang ahli agama, dan Woro dibekali dengan kecerdasan, yang berarti seorang pemimpin, dan dimaknai sebagai orang atau masyarakat yang memiliki pengetahuan ilmu pemerintahan.
Talaga Weda diyakini sebagai cikal bakal dari Weda Kini dengan berbagai kisah yang bernuansa mitis
Dalam tataran yang lebih luas, jika nama ini disusun berdasarkan strukturnya dan dibaca secara heuristik maka akan menjadi, “sulung, ciung, habis (Woro)”, yang berarti “Hai anakku yang sulung (semua anaknya) marilah kita cium supaya habis”. Kalimat ini kemudian menjadi sebuah pengantar terhadap nasib yang akan menimpa ketiga anak ini pada kehidupan selanjutnya. Tetapi, ungkapan kasih sayang ibunya ternyata bukan petunjuk terhadap nasib baik yang akan dialami ketiga bersaudara ini. Dalam perjalanan kehidupan ketiga anak ini dilalui dengan penuh duka, yaitu perpisahan diantara mereka di tengah hutan. Melalui peristiwa ketujuh inilah cikal-bakal lahirnya teluk Weda, dan tanjung Patani yang diawali oleh terpisahnya ketiga bersaudara ini di tengah hutan, setelah ibunya juga meninggal. Kini mereka hidup tanpa ayah, dan ibu, dan akhirnya di tengah hutan mereka juga terpisah. Wobon sangat berduka, sebab kedua adiknya Fyatani dan Woro tidak lagi bersamanya. Di tengah kesedihannya Wobon kemudian bermimpi bertemu ibunya.

“Wobon tidak usah kamu bersedih dan tidak usah kemana-mana mencari saudaramu itu karena suatu saat nanti di tempatmu ini (Maba) akan banyak orang bersamamu. Tidak usah kamu pikirkan saudara-saudaramu karena mereka tidak meninggal atau hilang. Suatu saat nanti kamu akan bertemu mereka. Jika kamu sudah mendengar kabar mereka maka pergilah cari saudaramu itu”, (Faaroek, 2003: 19-20).

Muatan peristiwa kedelapan menjadi titik pusat (klimaks), dan menjawab peristiwa yang akan terjadi selanjutnya, yang berlawanan dengan konteks peristiwa sebelumnya yang dialami oleh ketiga orang bersaudara untuk selalu bersama, dan menyangi (perpisahan di tengah hutan). Konteks peristiwa yang saling berlawanan ini melahirkan suatu kehidupan baru yang lebih kompleks melalui suatu daerah yang bernama Halmahera Tengah. Orang-orang datang dari berbagai tempat untuk mencari nafkah, dan hidup bersama dalam ikatan persaudaraan. Peristiwa ini menjadi penggerak peristiwa selanjutnya untuk memasuki peristiwa kesembilan, tempat orang-orang yang mulai berdatangan ke pulau Halmahera, yang menjadi sumber informasi bagi Wobon, yaitu mengetahui dimana sekarang saudara-saudaranya berada. Fyatani hidup seorang diri di Tanjung Patani dan Woro hidup seorang diri di Teluk Weda. Tanjung dan teluk yang dimaksud adalah Tanjung Patani, dan Teluk Weda sekarang.

BERSAMBUNG





Jul 28, 2009

STANZA D’ AMOR

Aku tidak akan mengajakmu untuk berpacaran
tetapi ijinkanlah aku untuk menyayangimu dengan tanpa tersakiti atau memendam rasa cinta ini dengan sekadar bersikap seolah tak ada isyarat-isyarat hati yang telah menautkan dua jiwa dari dustanya lidah.
Aku tlah berbohong jika tidak kuakui rasa ini meski dengan begitu rapat kau simpan keistimewaan itu diantara kita.

Padamkan segera kobaran asmara ini Tuhan
Dari tautan rasa cinta yang sudah saling terlanjur
Antara kasmaran dan rindu,
Antara sayang dan Pamrih dan antara berbagi dan kecewa
Adakah ukuran pengorbanan dari tiap kata cinta yang harus diucapkan?

By: Yunan Syahpora
Sesaat Menjelang Dini
Ternate, Januari 2009





SEKELUMIT TENTANG FILSAFAT MOLOKU KIE RAHA

Oleh
Syahyunan Pora S.Fil

Membahas filsafat Moloku Kie Raha tidak bisa lepas dari membahas tradisi kelisanan yang mengandung nilai-nilai filosofis sebagai pegangan dan pandangan hidup orang-orang maluku utara umumnya. Bagaimana cara pandang Masyarakat Utara mengenai alam sekaligus berhubungan dengan Tuhan. Konsepsi ke-Tuhan-an dalam sudut pandang pemikiran orang-orang Ternate mempunyai makna dengan kosa kata ”Jou” atau setara dengan suatu Dzat yang tertinggi ataupun yang ditingikan bila ditelisik menurut pemahaman sosio-antropologis maupun sudut pandang teologis. Keeratan akan filsafat hidup orang Maluku Utara tampak akrab pada penghargaan mereka terhadap alam secara makro maupun mikro. Dimana alam dipahami sebagai sumber penghidupan yang tidak saja memenuhi kebutuhan lahiriahnya , melainkan kehidupan batiniahnya pun turut melingkupi dalam sudut pandang filsafat yang kosmos sentris itu. Sehingga pada tataran filsafat praktis pengejawantahan dari filsafat tersembunyi itu kerap hadir dari sejumlah mitologis maupun folklor yang sarat dengan pesan-pesan moral maupun cinta terhadap kebijaksanaan hidup itu sendiri.
Tradisi lisan yang menjadi panutan beratus-ratus tahun lamanya tidak hanya mengajarkan etika bertutur kata namun juga menyiratkan penghormatan ke sesama manusia dengan hubungan imanennya yang sekaligus berpaut dengan hubungan transendental. Sehingga ada tradisi yang hampir termaknai dengan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan masyarakat maluku utara. Dan ini dipahami tidak hanya sebagai bagian dari budaya ataupun adat istiadat. Pada sisi kultural Ron Gunung (Kololi Kie) pada waktu dahulu yang sering dilakukan oleh khususnya orang –orang Ternate, kegiatan itu menyiratkan penghargaan terhadap alam meski tak bisa dinafikan ada gunung yang dijadikan objek sebagai simbol dari ”Journey of Mistic” dimana ketika berada di wilayah atau kawasan gunung maka perilaku atau pun sikap seseorang harus dijaga. Rasionalisaasi atas simbol mistik dari gunung yang sering dijadikan objek itu memberikan pedoman hidup betapa besarnya perhatian terhadap lingkungan termasuk mencegah dari pengrusakan-pengrusakan alam akibat dari ulah tangan jahil manusia itu sendiri. Pada kololi kie itu sendiri ada semangat kebersamaan yang mesti dijaga meski dalam keadaan yang bersusah payah harus dipikul bersama. Filsafat Moloku Kie Raha dengan bentuk implementasinya telah terwujud dalam konsepsi ”Jou Sengofa Ngare” dan bentuk-bentuk lain yang relevan dengan doktrin ajaran islam. Seperti Malam Rorio, Siloaloa, Joko Kaha, Makan Saro, Rorasa yang hingga kini masih mengental dalam setiap upacara pernikahan, kelahiran hingga kematian. Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar karena menyangkut pada usaha menelusuri asal usul kejadian tentang manusia dan hubungannya dengan sang pencipta seperti tersirat pada bunyi pantun rakyat :

”Toma Ua Hang Moju, Toma Limau Gapi Matubo,
Koga Idadi sosira?
(Pada suatu waktu dari masa, diatas puncak
yang tinggi (Gunung) apa yang terlebih
dahulu terjadi (mendahului lainnya)?”

Dengan mencermati isi pertanyaan tersebut, maka terlihat jelas ada kandungan filsosofis yang dapat diartikan, ”Toma Ua Hang Moju” mengarah pada waktu yang material dan ruang yang temporal (bersifat sementara) dalam arti bahwa waktu yang material dan ruang yang temporal berada diluar kosmos karena adanya ”Ua Hang Moju”.(Drs Mudaffar Syah/Ternate Bandar Jalur Sutera:2001:86) Konsep filsafat yang berdimensi metafisik dan mengarah pada pertautan antara Manusia dan Sang Penciptanya. Dalam konsep Islam makna ini lebih terarah pada Hablum Minallah namun jika dirasionalisasikan pada tahapan filsafat praktis maka makna ini akan mengarah pada Hablum Minannas. Pada segi Pemerintahan Filsafat Moluku Kie Raha lebih tercermin pada keutamaan atau ”arrëte” dalam istilah Yunani dimana Aristoteles sejak abad 4 SM, di Yunani telah menisbatkan hal yang sama dimana keutamaan harus dipunyai oleh setiap orang.
Tidak penting apakah orang itu adalah seorang tukang kayu, seorang tukang batu atau seorang politisi yang terpenting dimiliki oleh orang itu adalah arete atau keutamaannya. Maksud dari keutamaan itu adalah ketika ia seorang tukang kayu maka keutamaan seorang tukang kayu adalah apa ?..., begitupun keutamaan-keutamaan yang lain yang juga harus dimiliki oleh setiap orang yang diberi amanah atau disematkan pada profesi maupun jabatan tertentu. Maka keutamaanya lah yang harus diutamakan.
Dalam segi pemerintahan jika menilik maksud keutamaan dari filsafat politik, mengutip Bernard H.M. Viekke dalam ”Nusantara a History Of Indonesia” disebutkan bahwa sejak abad 10 telah ada struktur Negara yang modern dikawasan Moloku Kie Raha. Semua ini terjadi karena relasi multi-etnik akibat jalinan perdagangan rempah-rempah yang terbentuk jauh sebelum era Kristus (Global Touch).
Untuk mengakomodir jalannya roda pemerintahan dalam bentuk kerajaan Sultan memberi amanah melalui tanggung jawab yang diemban dari berbagai kelompok maupun etnis untuk bertanggung jawab sesuai dengan titah jabatan yang diemban. Kaum minoritaspun diakomodir untuk melengkapi struktur yang ada dalam pemerintahan kerajaan dengan ”Job Description”-nya masing-masing. Sehingga untuk etnik cina, arab ataupun warga lokal masing-masing mempunyai peran yang seimbang dalam Pemerintahan Kerajaan Moloku Kie Raha. Dalam disertasinya Christian Frans Van Frassen dalam ”Ternate de Malukken en de Indonesiche Archipel, Leiden 1987” mengungkapkan sistem pemerintahan saat itu merupakan sebuah tatanan sosial yang demokratis, karena sangat egaliter dan akomodatif melalui dengan lembaga-lembaga adat yang ada dalam kerajaan.
Disini dapat dilihat bahwa lembaga adat yang tertinggi adalah Bobato 18 dan Kolo Lamo. Sedangkan di dalam Negeri Kerajaan masing-masing lembaga adat tertinggi adalah Sultannya sendiri sebagai personifikasi dari Kolo Lamo yang mengandung arti ”Merangkul seluruhnya”. Pemerintahan dalam Negeri disebut dengan Tau Raha. Pada zaman Hindia Belanda Tau raha disebut Komisi 4. Tau Raha diketuai oleh Jougugu, dengan Tuli Lamo sebagai Sekretaris Kerajaan. Singkatnya cermin kultur politik yang berkembang saat ini tak bisa lepas dengan sistem perpolitikan yang ada saat itu. 
Bukan pada trik ataupun intrik politiknya, sebab jika berbicara mengenai wacana politik maka faktor kepentingan selalu membuntutinya dari belakang namun pada falsafah politik itu sendiri ada pembelajaran politik yang sudah lama tertanam dalam pemikiran serta kultur dari Masyarakat Maluku Utara sendiri. Sehingga boleh jadi Status acap kali menunjuk kedudukan dan ini lebih terarah pada maksud untuk menjadi seorang pemimpin. Sehingga, tak mengherankan jika menyangkut dengan kepemimpinan dalam ranah budaya orang-orang Maluku Utara pada umumnya memang dari dulu sudah sarat dengan kepentingan politik. Tapi pertanyaan selanjutnya : ”Apakah hanya dengan politik hidup kita harus tercerai-berai?” Mudah-mudahan pertanyaan itu dapat dijawab melalui keutamaan hidup setiap orang pada saat sementara mengarungi samudera politik yang luas, dan filsafat bisa menjadi Bahtera yang dapat mengantarkan tujuan hidup khalayak pada kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik lagi.




Jul 20, 2009

Underwear G-String Diantara Etika Dan Estetika Fashion

Oleh
Yunan Syahpora

Apakah underwear seseorang dapat mencerminkan gaya hidup atau bahkan status sosial bagi orang yang mengenakannya? Ataukah Underwear yang "Super Minimalist" ini bila dikenakan oleh seorang wanita hanya karena ia menyukainya lalu dapat merepresentasikan bahwa yang mengenakan pakaian dalam jenis ini memiliki nilai-nilai estetika ataupun argumen etika karena memang Ia secara sadar mengenakan bahkan menikmatinya. Pertanyaan pembuka ini mungkin terdengar naif atau bahkan mengada-ada. Namun jika dilihat dari trend fashion saat ini sesuatu yang tersembunyipun semisal celana dalam atau bra seorang wanita seolah menjadi pertimbangan mutlak sebelum ia menjatuhkan pilihan untuk memilih underwear apa yang akan ia kenakan. Persoalannya kemudian bagaimana jika pilihannya jatuh pada CD (celana dalam) yang super seksi semisal G-String atau Thong.

Meski hanya untuk dinikmati sendiri. Bukan berarti bahwa kecenderungan para wanita yang selalu memahamkan diri pada trend yang life stylish atau yang fashionable kini sudah tidak merasa canggung lagi untuk memperlihatkan CD apa yang mereka kenakan. Jika tidak menyinggung dengan perilaku menyimpang dalam wacana psikologi dengan istilah eksibisionis tentu sesuatu yang kita anggap waras akan perlu dianalisa lagi. Embel-embel lainnya adalah adat dan budaya ketimuran kita yang masih menjadi pertimbangan tersendiri. Model pakaian atau busana luar sejenis T-Shirt ketat berlengan pendek dan berdada rendah (you can see) yang selalu dipadu dengan Jeans ketat model hipster agar terlihat casual dan seksi tentunya. Namun seringkali paduan busana yang dikenakan oleh para wanita/Pria pengusung model minimalis ini tak jarang menjadi bumerang ketika mereka harus beraktifitas dengan leluasanya sehingga ketika pada posisi tertentu seperti ketika duduk atau jongkok misalnya tak jarang underwear yang mereka kenakan akan menyembul dan memberikan kesan tersendiri bagi lawan jenis atau pun sesama jenis ketika sempat menangkap pemandangan tersebut. Persoalan kemudian beriring dengan konteks etika dan estetika, seperti pertanyaan pembuka diatas Apakah underwear seseorang dapat mencerminkan gaya hidup atau bahkan status sosial bagi orang yang mengenakannya? Entahlah secara sadar ataupun tak sadar pemandangan seperti ini sudah mulai lazim dijumpai dimana-mana.Dan bagaimana jika dalam posisi duduk atau jongkok tersebut pakaian dalam yang bersangkutan menyembul atau nampak tanpa disengaja? Terserah mungkin ada yang menganggap persoalan fashion atau gaya hidup berbusana tidak termasuk pada pakaian dalam setiap orang, sehingga meskipun ada pakaian dalam yang terlihat ketika orang tersebut dalam posisi tertentu sehingga menimbulkan kesan seksi maupun yang tak seksi karena bukan CD yang berjenis super mini atau bahkan yang G-String sekalipun, bukanlah sesuatu yang perlu untuk diperdebatkan. Namun konstruksi sosial dalam cara pandang budaya ketimuran kita cenderung menjastis seseorang dengan apa yang ia atau kita kenakan. Di Paris para wanitanya sangat menomor satukan underwear sebagai life style mereka, karena ada anggapan status sosial seseorang dapat dilihat dari CD atau pakaian dalam yang ia kenakan. bahkan tak hanya sampai disitu. Paduan underwear yang digunakannya pun harus selaras dengan apa yang menjadi paduan bra ataupun yang lainnya (Stocking). Model casual dari T-Shirt dan Jeans Hipster adalah idola para remaja sekarang untuk tidak dikatakan sebagai model busana yang berjenis eksibisionis sebab pada busana ini, cenderung pakaian dalam dari orang yang mengenakannya cenderung terseruak keluar. Seorang istri dalam kolom Kokiers KCM (Kompas Cyber Media) pernah berkomentar bahwa ada saat tertentu, ia dengan senang hati akan mengenakan CD G-stringnya untuk ”show time” pada suami tercintanya, sebab disaat mengenakannya ada kesan nakal dan sedikit binal. Maklum menurutnya pencitraan bagi seorang wanita yang menggunakan CD seperti ini lebih banyak ia tahu dari fillm-film barat yang kebanyakan oleh para wanita bule yang mengenakannya. Padahal tidak tentu bahwa wanita bule yang menggunakan CD yang bertipe inipun tak langsung harus di jastis cacat secara moral ataupun tipe penggoda dan yang berkategori nakal. Setali tiga uang para istri dan wanita karir yang berbagi ide dalam kolom kokiers tersebut rata-rata merasa bahwa citra yang kemudian mewakili tipikal seseorang saat pertama kali mengenakan G-String selalu menimbulkan perasaan Horny atau kurang lebih selalu dihinggapi perasaan genit dan berkesan ”nakal”. Korelasinya mungkin type CD ini yang tak biasa sehingga cenderung dihinggapi perasaan tersebut. Ada pula yang terpaksa atau coba-coba mengenakan G-String ketika mendapat bonus saat ia membeli underwear yang tidak berjenis G-String. Sementara yang lainnya mendapat hadiah dari teman dekat saat ultah atau hari-hari spesialnya atau memang ada yang dengan keseadaran penuh membutuhkannya karena sehari-hari ia mengenakan underwear berjenis ini. diluar dari keinginan ataupun kebutuhan untuk mengoleksinya semuanya tetap sama, selalu menyiratkan kesan nakal ketika pertama kali mengenakannya atau imej yang tak biasa jika terlihat oleh orang-orang disekitarnya. Sebab underwear ini memang tidak seperti ketika mengenakan underwear yang konvensional. Lebihnya masih banyak yang belum merasa komfortable atau nyaman sebab merasa terganjal dengan modelnya yang revolusionis itu. Dengan sedikit pemaparan diatas bisakah ditarik satu kesimpulan apakah moralitas seorang wanita yang mengenakan CD yang berjenis tersebut bisa dianggap atau di cap bukan perempuan baik-baik? Jika ada yang sudah terbiasa mengenakan CD berjenis G-String dan dengan sengaja atau tanpa sengaja tersembul di tempat-tempat umum seperti lagi bersantai di Cafe atau naik kenderaan roda dua maupun empat. Apakah kecenderungan umum dari budaya kita serta-merta akan memberikan penilaian lebih pada segi estetikanya ataukah pada segi etikanya. Atau dengan kata lain jika seorang wanita didapati terlihat mengenakan G-String yang tersembul dari Jeans Hipsternya yang memang sengaja diekploitasi oleh tren model barat yang menganggap bagian tubuh tersebut merupakan sesuatu yang dianggap indah dan tak tabu lagi untuk diperlihatkan kepada khalayak. Maka bisakah penilaian awam dapat menyimpulkan bahwa wanita tersebut sangat open minded ? atau bahkan memberi kesan bahwa wanita tersebut mudah diajak kencan..? dan bagaimana pula jika yang mengenekan CD berjenis G-String ini adalah seorang wanita yang (maaf) berjilbab dan memang benar-benar dengan tanpa sengaja terlihat menyembul tali CD G-Stringnya ketika disaat sedang duduk santai di tempat-tempat terbuka. Lagi-lagi penilaian sebagai laki-laki dalam menangkap kesan seperti itu akan membias dengan syak wasangka yang berbalut hipokrit jika tak secara elegan untuk menanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan. Meskipun kemudian konsekuensi dari jawaban yang akan dilontarkan mungkin tidak terduga sama sekali atas reaksi dari pertanyaan kita. Sebab yang pasti ranah privasi yang bersangkutan merasa terusik dengan pertanyaan kita. Berbeda kemudian jika yang bersangkutan lebih open minded, dan menganggap bahwa pertanyaan kita bukanlah sesuatu yang akan berimbas pada moral sipenanya dan yang ditanya, sehingga hal yang sama jika ditanyakan pada pasangan kita jika ia pun mengenakan CD berjenis G-String ini, maka dengan singkat ia akan menjawab ”Karena memang Kamu Suka Sih”.

Jul 16, 2009

Dra. Rainannur A. Latif, M.Hum. Kembali Terpilih Sebagai Dekan Fakultas Sastra Unkhair

Setelah pemaparan Visi dan Misi calon Dekan Fakultas Sastra periode 2009-2013 pada tanggal 15 Juli 2009 kemarin. Yang menyertakan 3 kandidat masing-masing terdiri dari Drs Jusan Hi Jusuf, Msi dari Prodi Ilmu Sejarah, Dra Farida Maricar M.Hum dari Prodi Sastra Inggris serta Dra. Rainannur A. Latif, M.Hum dari Prodi Sastra Indonesia. Dilanjutkan keesokan harinya dengan pemungutan suara yang dilakukan oleh Senat Fakultas Sastra yang berjumlah 12 orang yang terwakili dari ketiga program studi yang ada di Fakultas Sastra dan Budaya Unkhair.
Hasil akhir dari perolehan suara yang melibatkan senat fakultas Sastrai ini memberikan keunggulan pada Dra. Rainannur A Latif M.Hum dengan perolehan suara sebanyak 9 suara sisanya 3 suara masing 1 suara diperoleh oleh dua kandidat yang lain sementara satu suara dinyatakan abstain oleh Panitia Pemilihan Dekan.
Dengan demikian terpilihnya lagi Dra. Rainannur A. Latif M. Hum ini maka sudah 2 periode Fakultas Sastra Unkhair Ternate kembali dipimpin oleh sosok Dekan yang cukup dikenal familiar dengan berbagai kalangan yang tidak hanya di lingkungan civitas akademika fakultas sastra ini, namun juga di tingkat Universitas dan di tingkat lokal sebagai sosok yang aktif diberbagai organisasi perempuan yang ada di Ternate. Dekan yang menempuh gelar S1 maupun S2-nya di Fak Sastra Unhas Makasar ini dikenal juga sangat peduli dengan kiprah Fakultas Sastra dan Budaya untuk tidak sekedar eksis sebagai ikon budaya di tingkat lokal, melainkan harapan besar kedepan Fakultas ini dapat berperan aktif dan memiliki kualitas sumber daya yang mumpuni di bidang ilmunya masing-masing.
Sehingga fakultas sastra kedepan dapat bersaing dalam dunia kerja bahkan mencetak alumni maupun tenaga dosennya yang berkualitas. Dengan idealisasi cita-cita inilah sang dekan beberapa kali saat penyampaian visi dan misi selalu menuntut kepada Rektor Baru Unkhair yang juga berasal Fakultas Sastra Dr Gufran Ali Ibrahim, Msi untuk memperhatikan fakultas sastra dengan beberapa ”tuntutan”; sehingga sang Rektor baru pun tak ketinggalan menyeletuk bahwa ini adalah Forum Visi dan Misi bukan forum dialog untuk menuntut kepada rektor, dengan gurauan khas sang rektor tersebut menambah riuh para undangan dengan suasana akrab yang berlangsung di LT II Aula Fak Sastra Unkhair. Setelah hasil dari pemilihan Dekan telah diketahui panitia langsung mengadakan syukuran kecil di Resto Floridas dengan melibatkan beberapa undangan dari Fakultas Tekhnik, Perikanan dan Ekonomi.




Jul 4, 2009

PREPARING FOR ELECTION NEW DEAN ON THE FACULTY OF LETTERS UNKHAIR TERNATE

By
Yunan Syahpora

After appointment new rector  Of Unkahir (Khairun University) Ternate from Drs Rivai Umar Msi to Dr Gufran Ali Ibrahim. Its Moment for faculty of letters will perform a the new dean election which its plan will be executed this month. Chief of electoral college entrusted to Wildan S.S , M.Hum assisted by some new literer. Information circulating among faculty, there are some candidate to raise the x'self for faculty of letters dean election is Dr Ridha Adjam, Drs Jusan Hi Yusuf M.Si and incumbent Dra Rainannur A Latif M.Hum. Hit the date of candidate registration till problem of discipline and role of Faculty Senate will be socialized furthermore.

For us any person who later lead the faculty of letters in the future is a personification leader which always listen carefully with the elementary problem in this faculty. Cause faculty of letters is faculty which in fact have the employment and also strong intellectual tradition to be made by a cultural ikon and local art to all its grad. Omit its own grad critical and creative to fill the existing vacancy. Beside that from existing condition the importance of civitas of academic person faculty of letters do not only hope from leader or dean. But expected participation together to move forward the faculty of letters and cultural to become icon not just to scale regional but also even national scale.
about information of this faculty of letters dean election. I will post next edition following complete with schedule and also information from committee of concerning step and readiness of all candidate in the new dean election.








Jun 17, 2009

PHILOSOPHY DISCUSSION IN FORTRESS

By
Yunan Syahpora


Philosophy area always give the challenge for beginner which wish to learn it. to learn it, we always use opportunity intentionally the time on Saturday evening in Kalamata Fortress Ternate . This activity in fact is the way of dissimilar to test how far student ability in mastering this science discipline. and after getting study almost one semester hence its test made by like this. test system which during the time according to me not too giving valid knowledge about student domination in this subject.
I realize full in teaching this subject ist all important is how the philosophy bases have to be comprehended in advance. before step to more complex other philosophy thopics. so that first of all, all student is in front introduced through four approach to recognize the philosophy farther. The first approach is approach of through definition. where according to this approach is philosophy have to be comprehended by student through definition congeniality etimological. what that philosophy does it mean according to greece Ianguage term or other language as like English, Arabic and also Indonesia literature. can might not only give the meaning and mean about Philos and Sophia is what according term of science.but what the opinion by each concept about that matter according student. the second approach to defin the philosophy for beginner. generally I teach according to approach branchedly, taking example what does it mean about , ontology, ethics, epistemologi, logic, metaphysics and also esthetics. Student given by a freedom have a notion as according to what they comprehend in advance. a while for third approach give to the student to concerning with the existing stream like rationalism, empirism, existecialism etc.. In fourth approach about philosophy figure. from ancient Greek philosophy history till philosophy of post modernism.
With this way, we will know how far philosophy knowledge of according to beginner student which wish to learn philosophy. In this session usually a lot of more opposing to student among religion and philosophy. And looks like need much time required for the discourse of this themes. at least with the method learn the philosophy like this the existence of more drawing near psychological link between and teacher and their student. that way instruct the education system not always dictated through formal test which cannot watch seriously hit how far ability analyse from students.



May 28, 2009

LET THE PICTURE WHICH SPEAK

By
Yunan Syahpora

At one particular opportunity when getting e-mail from a friend from Rusia which have profession as teacher. And just giving a little impression about around my daily activity who related with my Institution in Campus. So I think there is nothing wrong to post several pictures for explain like what she ask.

although our friendship dissociated by distance which far. but because sophisticated of Technologi in this time by internet is added by Facebook which epidemic to progressively make the distance likely non constraint again. Borrowing expression of word of Carl Sagan, a writer of astronomical science said the distance is something non we make it but what we feel more or less replying curious of a friend which now is elaborating its life in Aussy.

Maybe with the its longing expression circumstantial at past which have been overcome with, so that generate to feel the curious about like what nowadays and how circumstance of all Friends of Mind with its workdload everyday. Come up with to feel the curiously to myself which according to him he hear now acting educational, what that information even also got from interaction through Facebook. But rather freting of me when She rehear to My Sweet Hometown in Ternate (North Mollucas/Halmahera Island) a set profession as Lecturer in place which is in the eyes its possible not yet been touched by a civilization or have harsh but its in place I teach really come into contact with direct experiencedly.

Or Maybe My Place still minim of place building of lecturing activity. Finally with do not injure to feel our friendship through years duration, I try to present the pictures of concerning place where during the time I fill my day as instructor. There are some Building Lecture where my place teach which do not only in one University ( University Of Khairun ) but also In Ummu ( University Of Muhammadiyah Maluku Utara) hopefully like this a few curiously feeling hit where and like what my activity place is one day replied. And might not be proportional with its workplace which is complete with outspread view complete with physical plant of skyscraper. But for me, as far as I Feel with my Activity as a Lecturer Now, makes me happy and feel better than any other profession.


May 2, 2009

ROAD TO SUBAIM PART ONE


Subaim. Place name at one of this Subdistrict Wasile town is pertained special region in East Halmahera . Direct at least eight set of living resident, this area will become the sentra rice in regency, even include; cover the Middle Halmahera. BY transmigrant of Java origin which is each 1.000-2.000 people of every set of living recident ( SP=Satuan Pemukiman), the regional tilled till yield the paddy 20.665 year ton (2002). The amount represent result of crop of farm harvest 6.885 hectare.
Opportunity for the posting of a little story which coincidence at the same time with the duty of UN Supervisor for the SMA OF Muhammadiyah Subaim will be felt without effect if nothing a little appreciation of through this article which for me is a first experience and enough tire in split the forest of East Halmahera.

Weather Morning which less fraternize to start seen around inter island port becoming our departure place in Inter Island Port. Visible of black cloud start at the time Speedboat which we board go to the Sofifi, Capital Of Future of Provinsi of North Moluccas.
And just correctness after 30 minute in the middle of voyage from Ternate Go to that Jazirah Halmahera, Speedboad which we board a few experiencing of its problems that’s one machine is not running well caused bumping a wood which finally a little fox instruct our target.

unsolved by wave go out to sea and torrential rains which we experience of the our quartermaster speedboat try as calm as possible to overcome the ordinary small problem experienced. but because in the situation weather which not enable finally generate misgive among us which is about 10 passenger which also have the same duty that is as Team of Supervisor of UN SMA 2009 in HALTIM (East Halmahera) & HALTENG (Middle of Halmahera). When we arrive at port of sofifi. Although out of the target far from port which is gone to by a cause we not seen a marking to be able to close to dock sofifi but we grateful at weather which is like this, travelled distance which even relative near by sometime can generate the fatal problem of trivial things cause like availibility of compass often disregarded by all speedboad crew.