Dec 30, 2008

SERUAN FILSUF KEPADA BUMI DAN MAKHLUK SEKALIAN ALAM


Berdialektika dengan Ilmu seperti mematok tapal batas yang tipis antara kenyataan dan harapan. Mencoba mengkorelasi hukum alam dengan teori-teori yang bersifat sementara walau kadang pada akhir penyimpulan nilai keilmiahannya masih perlu dipertanyakan. Narasi pembuka ini hanya pengantar untuk mempertanyakan apakah benar tingkat depresi yang paling berat akan selalu jatuh pada bagian pencernaan? Ataukah minuman Teh hanya menguntungkan bila disajikan dipagi hari. Agar selalu menetralkan pencernaan?. Friedrich Nietzsche seorang filsuf yang terlanjur di cap sebagai ”filsuf edan” dan yang memvonis kematian Tuhan pernah mengatakan dalam Bukunya ”Ecce Homo” bahwa tiap-tiap makanan dan minuman mempunyai tingkatannya sendiri-sendiri. Dalam arti bahwa persoalan gizi yang terkandung dalam makanan lebih ditentukan oleh iklim atau cuaca sebuah tempat. Selanjutnya Nietzsche meminta untuk cobalah membuat daftar tempat dimana selama ini, orang-orang berbakat, orang-orang cerdik cendekia, orang-orang yang baik budi bahasanya, mereka semua mendiami tempat atau alam yang memiliki udara kering dan langit yang unggul. Paris, Florence, Athena, Yerusalem, Mekkah, dan sebagian Asia.. sejumlah tempat dari nama-nama ini cenderung membuktikan bahwa para jenius atau para cerdik cendekia kerasan hidup dan selalu lahir dari kondisi udara yang unggul dan langit yang selalu cerah. Namun kini jika dikorelaksikan dengan awal milenium ini, hipotesis sang filsuf bisa saja gugur dengan sendirinya, meskipun teori-teori tersebur belum diuji kebenarannya.Sebab pada masa sekarang ini iklim cenderung mengglobal, efek dari peningkatan produktifitas manusia dibidang sains dan tekhnologi semakin meningkat. Manusia dihadapkan pada pemanasan global, efek rumah kaca sampah-sampah industri serta tata kehidupan masyarakat yang hidup dengan tanpa etika lingkungan. Kepedulian kita terhadap lingkungan saat ini adalah harga mati untuk anak cucu kita kelak. Sebab dengan kebiasaan kita yang selalu peduli dengan tempat di sekitar kita tinggal akan selalu berimbas pada lingkungan yang kita diami. Lingkungan yang bersih dan selalu respek kepada alam akan tercermin pada kepribadian dan kualitas hidup tiap orang. Sehingga tidaklah berlebihan jika kaum Romantisisme yang dalam sejarah aliran filsafat selalu berkaca pada alam pernah mengatakan ”KATAKAN DIMANA KAMU TINGGAL, MAKA AKU AKAN MENGATAKAN KEPADAMU SIAPAKAH KAMU” 


Syahyunan Pora